
Arya terpental jauh menghancurkan dinding ruangan. Dia bangkit tangannya mengusap darah dari sudut bibirnya.
"Kurang ajar kemampuan wanita itu sangat kuat"
"Bagaimana apa kamu sudah menyerah?"
"Menyerah bukan sifatku" Arya kembali bergerak menyerang.
"Percuma saja, hasilnya akan tetap sama"
Kali ini Arya menyerang dengan membabi buta ia mengeluarkan semua kemampuan yang dimiliki.
"Apa hanya ini kemampuanmu?" Tungga Dewi meningkatkan kecepatan.
Arya terkejut dia tidak mampu mengikuti kecepatan Tungga Dewi yang meningkat pesat. Hanya dalam waktu singkat sudah terdesak beberapa kali pedang Tungga Dewi berhasil melukai tubuh Arya.
"Aku sudah berbaik hati kepadamu tapi kau menolaknya, hanya kematian yang pantas untukmu"
Tiba-tiba pola serangan Tungga Dewi berubah membuat Arya tidak mampu mengikuti pola serangan tersebut mengakibatkan celah pertahanannya terbuka lebar.
"Tapak Penghancur Tulang" Tubuh Tungga Dewi menghilang dari pandangan.
Arya kembali terpental jauh membentur dinding ruangan sampai hancur.
"Aku sudah mau berbaik hati kepadamu, namun kau malah menolaknya!"
Tungga Dewi menatap tajam sambil berjalan mendekati Arya yang memegang dadanya yang terasa sesak dan dari mulutnya beberapa kali memuntahkan darah.
"Naga Langit Murka"
Tungga Dewi terkejut terpaksa melangkah mundur dan menggunakan pedangnya untuk menahan serangan dadakan tersebut.
Ukhhh
Tungga Dewi terpukul mundur beberapa langkah.
Wajahnya mengeras sorot matanya tajam menatap Mantili yang berdiri dihadapannya.
__ADS_1
"Kau tahu akibat perbuatanmu ini!"
"Menjadikanmu sebagai guru adalah kesalahan terbesar dalam hidupku" balas Mantili bergetar.
"Nona tidak perlu berbuat sejauh ini, sebaiknya segera pergi dari sini!"
"Maaf ini sebagai bentuk permintaan maafku karena telah membawa kakang kepada iblis itu" Sorot mata Mantili menunjukkan penuh penyesalan.
"Kau tidak perlu minta maaf karena aku yakin kau melakukannya karena terpaksa"
Tubuh Tungga Dewi perlahan diselimuti aura hitam.
"Kau tahu hukuman bagi seorang pengkhianat" Tungga Dewi menjentikkan jarinya.
Akhhhh
Mantili memuntahkan darah bersamaan hancurnya kalung dilehernya.
"Rubah Putih saatnya" Tiba-tiba tubuh Mantili mengeluarkan kekuatan besar bersamaan dengan aura biru yang mulai menyelimuti tubuhnya.
"Kakang maafkan aku" Mantili melesat menyambut serangan tersebut.
Hanya dalam beberapa detik sudah keduanya terlibat dalam pertarungan sengit.
Ketika kedua senjata mereka bertemu mampu menghasilkan gelombang kejut luar biasa dahsyat bahkan efek serangan keduanya menghancurkan benda-benda yang dilaluinya.
Setelah bertukar ratusan jurus kekuatan keduanya terlihat masih seimbang.
"Cihh ... Iblis rubah itu benar-benar merepotkan!" umpat Tungga Dewi yang belum berhasil menyentuh Mantili.
"Energi kehidupanmu semakin menipis cepat segera akhiri pertarungan ini" ucap rubah putih dalam pikiran Mantili.
"Baiklah mari kita akhiri pertarungan ini" Aura yang menyelimuti Mantili semakin pekat.
"Bagaimana mungkin kekuatannya bertambah kuat"
Tungga Dewi menyadari perubahan kecepatan muridnya yang terus meningkat bahkan dirinya agak kesulitan mengimbangi gerakan cepat Mantili.
__ADS_1
"Tapak Penghancur Jiwa" Setelah melihat celah pertahan terbuka lebar tangan kiri Mantili bergerak menghantam tubuh.
"Gawat aku terlambat" Tungga Dewi cepat menggerakkan tangan kirinya juga untuk menahan serangan tersebut.
Duarrrrrr
Keduanya sama-sama terpental jauh.
Arya melangkah mendekati Mantili yang sudah terbaring.
"Nona kenapa melakukan ini?" Arya berusaha meraih tubuh Mantili dan memeriksanya.
"Maafkan aku kakang" ucap Mantili pelan sebelum muntah darah lalu kedua matanya tertutup.
Di sisi lain Tungga Dewi juga terluka parah.
****
"Sebaiknya kau menyerah keparat!"
Teriak para pendekar telaga tujuh warna yang sedang mengejar Arya.
"Sial mereka semakin dekat " Arya mendengus kesal. Dia menggunakan sisa-sisa tenaganya untuk terus berlari dari kejaran para pendekar telaga tujuh warna yang semakin dekat.
Suasana yang gelap membuat cukup kesulitan dan karena tidak mengetahui tempat dia tidak menyadari arah bahwa arahnya menuju sebuah jurangan.
Degggg"
Arya tersentak ketika pijakan kakinya tidak menyentuh tanah, detik kemudian tiba-tiba tubuhnya meluncur jatuh ke dalam jurang.
"Sayang sekali mereka jatuh ke dalam jurang" ujar salah satu pendekar menyesal.
"Hei bukan ini lebih baik kita tidak perlu repot-repot membunuhnya toh mereka sendiri jatuh ke dalam jurang dengan dalamnya jurang ini sangat mustahil mereka bisa selamat" balas yang lainnya.
"Sebaiknya kita kembali!" Perintah Dewi Kenanga.
"Baik ketua!"
__ADS_1