
"Tarian Naga Puspa" Arya muncul
di tengah-tengah mereka, pedangnya menyambar yang ada dalam jangkauannya. Beberapa pendekar langsung tumbang meregang nyawa.
"Serang terus" salah satu pendekar memberi perintah.
Gerakan pedang Arya semakin bervariasi dan sangat cepat. Dia mundur beberapa langkah kemudian kembali dengan cepat maju kembali menyerang dengan sekuat tenaga.
"Raungan Naga Puspa" beberapa pendekar Lembah Tengkorak kembali tumbang. Seakan kerasukan Arya terus menyerang dengan kecepatan yang tidak bisa dihadapi para pendekar tersebut.
Dengan kemampuan yang ditujukan Arya, nampak para pendekar tersebut nyalinya mulai menciut.
"Tinju Pelebur Jiwa" Tangan kiri Arya diselimuti aura merah menyala. Dia bergerak cepat kearah dua pendekar tersisa dan meninju tubuh salah satu pendekar tersebut.
Bughhhhh
Pendekar tersebut terpental jauh baru berhenti setelah membentur pohon lalu terjatuh ke tanah dan tidak bisa bergerak lagi.
Arya menoleh ke arah pendekar tersisa. Dengan cepat pedangnya menyentuh leher pendekar tersebut.
"Katakan dimana letak markas kalian atau pedang ini akan memotong lehermu" Aura merah darah mulai menyelimuti tubuh Arya membuat pendekar tersebut berlutut dan memohon ampun.
__ADS_1
"Markas Lembah Tengkorak terletak di balik gunung Sumbing tuan" tubuh pendekar tersebut gemetar ketakutan.
Semua orang yang melihat pertarungan Arya mematung tidak bisa bergerak. Arum pun terlihat ketakutan dan tidak berani menatap lama Arya.
"Ikat dia, dan kuburkan mereka dengan layak" Beberapa pria yang tadi menyerang Arum hanya bisa menuruti perintah Arya. Mereka sadar dengan kemampuan yang dimiliki Arya bahwa mereka bukan lawannya.
Arya menyarungkan kembali pedangnya.
Malam itu dilalui Arya dengan bermeditasi untuk memulihkan kembali tenaga dalamnya yang hampir terkuras habis akibat menggunakan pedang naga puspa sekaligus untuk menenangkan pikirannya.
Tubuh Arya tiba-tiba diselimuti aura merah. Arum yang berusaha mendekatinya untuk memberikan makanan segera menjauh, hawa panas yang dihasilkan aura merah tersebut membuat kulit Arum seperti melepuh.
"Kau semakin kuat bocah" Terdengar suara Naga Kreshna di dalam pikiran Arya.
"Jadi anda yang bernama Naga Kresna" Arya bertanya sopan.
"Benar, Akulah roh Pedang Naga Puspa, teruslah menjadi kuat atau kau akan mati sebelum mendapatkan Kitab Langit dan Bumi"
Arya Geni mengernyitkan dahinya,"Anda mengetahui tentang kitab itu?"
"Sebaiknya kau lupakan kitab itu Nak, tuanku terdahulu bahkan tidak mampu menguasainya"
__ADS_1
"Aku akan tetap mencarinya, apapun akan aku hadapi, aku harus menyelamatkan guruku"
"Kau memang anak yang menarik, baiklah kita lihat sampai mana perkembanganmu"
"Kau menyebutkan bahwa tuanmu pernah mempelajari kitab itu, apa kau tahu dimana keberadaan kitab itu sekarang?"
Naga Kresna tampak menarik napas sebelum berkata, "Kau pernah mendengar Negeri Parahiyangan"
Arya mengernyitkan dahinya karena baru pertama kali mendengar tempat tersebut. "Negeri Parahiyangan?"
"Sebuah tempat dimana semua ilmu kanuragan berasal, tapi sebaiknya kau tidak masuk ketempat itu karena kau akan menyesal"
"Tidak, tunjukkan saja tempatnya aku akan pergi ke sana" ujar Arya penuh semangat.
"Hutan tanpa batas, ahhh sial ingatanku tentang tempat itu sudah disegel sama Tantra sialan" Naga Kresna mendengus kesal.
"Hutan tanpa batas ya, terimakasih tuan atas petunjukmu"
Aura merah perlahan perlahan menghilang dari tubuh Arya. Dia membuka matanya dan menatap Arum yang masih ketakutan.
"Maaf telah membuat nona ketakutan" ujar Arya tersenyum ramah.
__ADS_1