Legenda Pedang Naga Puspa

Legenda Pedang Naga Puspa
Kala Gondang


__ADS_3

(Perguruan Belibis Putih)


"Hahahaha sekarang hanya tersisa kau seorang diri, memohonlah padaku mungkin aku akan mengampunimu" Seorang pria berjalan santai diatas tumpukan puluhan mayat. Dia terlihat menjilat pedangnya yang berlumuran darah.


Dihadapannya seorang pendekar berlutut dengan luka disekujur tubuhnya. Nafasnya sudah tak beraturan menandakan staminanya telah habis.


Dia menatap dengan perasaan takut pria yang berjalan mendekatinya seperti melihat iblis.


"Siapa kau sebenarnya?" ucap pendekar tersebut terbata-bata dengan tubuh gemetar.


Pria itu menatap tajam pendekar yang berlutut, "Kau tau aku paling tidak senang dengan pertanyaan bodoh itu" Pria itu mengayunkan pedangnya detik berikutnya kepala pendekar tersebut terpisah dari tubuhnya.


Dia tersenyum kecil seolah menikmati setiap pembunuhan yang dilakukannya.


Namun senyuman tidak bertahan lama saat merasakan ada seseorang mendekatinya.


"Tidak salah ketua menjadikanmu sebagai pimpinan bayangan hitam, kau sangat mengerikan Kala Gondang" Seorang pria berjalan mendekatinya tersenyum ramah.


"Kau banyak bicara Paramitha, cepat katakan apa maksudmu menemuiku?"


Paramitha tersenyum kecut dia sudah memahami sifat arogan yang selalu ditujukan oleh salah satu pendekar yang diperhitungkan milik Lembah Tengkorak tersebut.

__ADS_1


"Ketua memintamu untuk membawakan kepala seorang pemuda, dan kali ini ketua tidak ingin mendengar kata gagal kau harus pastikan membunuh anak itu"


"Hahahaha kau merendahkan kemampuanku, Kala Gondang tidak pernah gagal dalam menjalankan misi"


Paramitha menggelengkan kepala melihat kesombongan yang ditujukan Kala Gondang.


"Satu hal lagi anak itu memiliki pedang naga puspa kau harus berhati-hati karena pedang itu sangat berbahaya"


"Pedang Naga Puspa? bagaimana bisa pedang itu sudah lama hilang bersama tuannya"


"Aku juga tidak mengerti bagaimana anak itu bisa mendapatkannya, tapi yang terpenting saat ini kau harus membunuh dan merebut pedang naga puspa dari tangannya"


Kala Gondang tersenyum penuh arti tidak perlu dijelaskan isi dalam benaknya.


Suara Paramitha meninggi bersamaan aura hitam menyelimuti tubuhnya dan menekan Kala Gondang.


Mendengar ancaman seperti itu membuat Kala Gondang bergidik.


"Katakan dimana aku dapat menemukan anak itu?"


Paramitha kembali menarik aura yang dikeluarkannya.

__ADS_1


"Kau masih ingat desa yang pernah kita hancurkan lima belas tahun lalu"


"Kumintir?"


"Benar anak itu berada di daerah sana"


"Baiklah, katakan kepada ketua aku akan membawa kepala anak itu sebagai hadiah"


Kala Gondang dalam satu hentakan sudah menghilang dari tempat itu meninggalkan Paramitha yang sedang menatap ngeri keadaan sekitarnya.


"Dia harus terus diawasi seiring ilmunya yang terus meningkat pesat. Sifat arogan dan tidak mudah diatur sangat berbahaya bagi rencana besar ketua"


...----------------...


"Pantas saja para penduduk tidak berani mendekati hutan ini"


Arya bergidik ngeri merasakan aura mistis setelah kakinya mulai melangkah memasuki hutan larangan yang dimaksud Ki Rangkuti. Hutan tersebut seolah memintanya tidak melanjutkan perjalanannya karena ada bahaya yang sedang mengancamnya.


Namun dia membuang semua rasa takutnya dan mulai melesat berpindah dari satu cabang pohon ke cabang lainnya tanpa kesulitan.


Meskipun Ki Rangkuti telah memberikan beberapa petunjuk namu dia tetap mengalami kesulitan karena belum sama sekali medan hutan larangan.

__ADS_1


Tiba-tiba terdengar beberapa kali ledakan-ledakan yang memekakkan telinga. Arya sendiri langsung berhenti sebentar untuk memastikan sumber suara tersebut, sebelum akhirnya dia melesat mencari sumber suara ledakan tersebut.


__ADS_2