Legenda Pedang Naga Puspa

Legenda Pedang Naga Puspa
Desa Yang Aneh


__ADS_3

"Tuan, kusarankan kau tidak memasuki desa ini. Pergilah cari desa lain." Kata seorang penjaga gerbang desa mengehentikan langkah seorang pemuda yang akan berniat memasuki desa tersebut.


Pemuda itu mengerutkan dahinya, "Jika situasinya memungkinkan, aku tidak keberatan mencari desa lain namun ..." Dia menunjuk ke atas, langit diselimuti awan hitam sehingga menjadi gelap menandakan sebentar lagi akan turun hujan.


Arya Geni bisa melihat pandangan para penjaga ini bukan memusuhi atau curiga, melainkan ada rasa peduli. Meskipun dia tidak menanyakan alasan para penjaga itu memintanya mencari desa lain, dia bisa menembak bahwa itu dilakukan demi kebaikannya.


"Tuan, anda tidak menger- ..." Seorang penjaga belum selesai bicara saat seorang penjaga lain menghentikannya.


"Apa kau tidak peduli anak dan istrimu lagi? Jika dia tidak mau mendengar setelah kita mengingatkan, biarkan saja" Penjaga yang menghentikan rekannya itu memandang Arya Geni "Masuklah ke dalam, tapi jangan pernah mengatakan bahwa kami memperingatkan mu untuk tidak masuk ke desa ini"


Arya Geni mengangguk pelan. Dia memasuki desa selain untuk berteduh harus memastikan apa yang terjadi didalam desa ini. Karena cara pandang dua penjaga sudah bisa ditebak bahwa ada yang salah dengan desa ini.


Hujan pun turun diikuti oleh angin kencang, jalanan desa begitu sepi tidak ada seorang warga yang terlihat.

__ADS_1


Walaupun perasaan gak enak setelah mendapat peringatan dari penjaga desa ditambah lagi keadaan desa yang begitu sunyi tidak membuat dirinya khawatir. Dia akan menghadapi apapun yang terjadi karena yang lebih penting mencari tempat berteduh dan mengisi perutnya yang mulai keroncongan.


Beberapa saat kemudian dia sampai pada sebuah kedai sederhana. Kedai itu nampak sepi seolah tidak ada kehidupan, sepertinya tidak ada tamu selain dirinya.


Lelaki tua yang duduk dimeja tamu menaikkan alisnya ketika seorang pemuda masuk ke dalam kedai. Lelaki itu seolah tidak mengharapkan Arya Geni masuk kedalam kedainya.


"Silahkan tuan, sepertinya anda kehujanan sebaiknya anda berganti pakaian terlebih dahulu" Kata lelaki tua itu mengajak pemuda itu ke belakang kedai yaitu rumahnya.


Lelaki itu menunjukkan salah satu kamar untuk Arya Geni.


"Silahkan berganti pakaian dulu tuan, aku akan menyiapkan makanan diruang tamu." Lelaki itu menjelaskan.


Arya Geni memasuki kamar tersebut untuk berganti pakaian, lelaki tua itu juga telah memberikan handuk dan pakaian kering untuk dirinya.

__ADS_1


Setelah beberapa saat Arya Geni meninggalkan kamar setelah berganti pakaian. Dia menuju ruang tamu yang dimaksud untuk menyantap makanan. Perutnya terasa begitu lapar karena memang belum memakan apapun setelah dia keluar dari hutan larangan.


"Baru ada sup hangat, aku akan memasak yang lain, mohon tunggu sebentar ..." Pemilik rumah tersebut baru meletakkan sepanci sup di meja ruang tamu saat Arya Geni memasuki ruangan.


Arya Geni mengangguk pelan, dia mengambil satu mangkok kosong dan mengisinya dengan sup hangat. Dia menikmati sup untuk menghangatkan tubuh.


Lelaki itu kembali membawa beberapa hidangan, namun semua hidangan yang dibawanya berupa sayuran tidak ada daging ataupun ikan.


"Maaf tuan muda, hanya ini yang bisa saya hidangkan aku tidak memiliki daging atau tuak" ucap lelaki tua itu.


Arya Geni tersenyum ramah, "Tidak perlu dipermasalahkan tuan, semua hidangan ini lebih dari cukup" balas Arya Geni sambil mengambil piring kosong dan mulai mengisinya dengan nasi ditambah sayuran kemudian menyantap hidangan.


Setelah selesai menyantap hidangan Arya Geni menoleh lelaki tua itu yang sedang merenung.

__ADS_1


__ADS_2