Legenda Pedang Naga Puspa

Legenda Pedang Naga Puspa
Kabar Perguruan Naga Puspa


__ADS_3

Ki Kuncoro terlihat sedang duduk di kursi disebuah ruangan Perguruan Iblis Hitam. Dia nampak gelisah di atas kursi tersebut. Sesekali dia menggebrak meja menahan amarah sambil memejamkan matanya.


"Kemana perginya anak itu, bagaimana dia bisa berpikir untuk mencoreng wajahku" ucap Ki Kuncoro geram.


Tak lama berselang terdengar sebuah pintu ruangan diketuk.


"Ketua, aku ingin melaporkan sesuatu," ucap Jaladra pelan.


"Masuklah!" balas Ki Kuncoro bersemangat. Sejak perginya putri semata wayangnya, Ki Kuncoro selalu menunggu kabar keberadaan putrinya diruangan kerjanya.


"Apa kau sudah menemukan keberadaan Wuni?" ucap Ki Kuncoro.


Jaladra mengangguk ragu "Lingga mendapatkan kabar jika nona Wuni berada di daerah Karangsari namun..." Jaladra tidak melanjutkan ucapannya.


"Apa terjadi sesuatu pada putriku?"


"Beberapa orang melihat nona Sakawuni diserang oleh beberapa pendekar lentera merah." Jaladra menundukkan kepalanya, dia yakin ketuanya akan murka mengingat hubungan Iblis Hitam dan Lentera Merah.


"Apa katamu?" Kuncoro menggebrak mejanya. "Mereka sudah berani menyerang putriku, itu artinya mereka sudah menyatakan perang dengan aliran hitam."


"Ketua mohon untuk bersabar yang terpenting sekarang adalah menyelamatkan nona Sakawuni. Aku sudah mengutus Lingga untuk menjemput nona, semoga dia cepat menemukan nona Sakawuni." Jaladra menenangkan Ki Kuncoro.


"Bagaimana aku bisa bersabar ketika putriku diserang," suara Kuncoro meninggi.


"Jika ketua sendiri yang ingin menjemput nona aku akan menemani anda. Aku juga sudah menulis surat kepada ketua Sadewa di perguruan naga puspa untuk menyisir wilayah Karangsari."


Kuncoro menarik nafasnya perlahan, dia mencoba menenangkan diri. Meninggalkan perguruan saat beberapa perguruan aliran hitam yang tidak sejalan dengannya yang sedang mencoba menjatuhkan kekuasaannya bukan pilihan bijak. Apalagi Perguruan Jurang Neraka yang telah kecewa terhadapnya bukan tidak mungkin berpihak kepada mereka dan menyerang ketika dia meninggalkan perguruan.

__ADS_1


"Baiklah aku akan menunggu kabar darimu, pastikan putriku selamat."


"Aku akan berusaha Ketua." Jaladra menundukkan kepala sebelum melangkah keluar.


"Anak itu keras kepala, Mungkin karena ayah terlalu memanjakannya." batin Kuncoro.


Kuncoro teringat ayahnya yang selalu memanjakan Sakawuni dan selalu menuruti kemauan putrinya itu. Sehingga Sakawuni lebih menuruti kakeknya daripada dia ayahnya sendiri. Namun tidak sepenuh salah ayahnya juga dia yang terlalu obsesi dengan ilmu kanuragan menyebabkan Sakawuni kurang mendapatkan perhatian.


****


Sakawuni berjalan menjauh dari gua sambil mengumpat, matanya masih berair.


"Kakek, seandainya kakek tidak pergi mungkin ayah tidak berbuat semaunya." Sakawuni memutuskan duduk disebuah batu tidak jauh dari gua.


"Jika aku pergi sekarang sepertinya sangat berbahaya, mereka pasti masih mencariku."


"Syukurlah nona masih berada disini"


Sakawuni tersentak mendengar suara yang tiba-tiba dari belakangnya. Namun setelah melihat pemuda itu dia tidak menjawab melainkan melangkah masuk kedalam gua tidak menghiraukan pemuda itu.


"Nona aku mohon jangan salah paham, aku hanya berniat menolong nona" ujar Arya Geni setelah berada didalam gua.


"Sudahlah tidak usah dibahas aku bisa mengerti aku ucapkan banyak terimakasih karena tuan telah menolong saya" balas Sakawuni.


"Ahh itu aku ..." Arya Geni terlihat menggaruk kepalanya yang tidak gatal ketika ditatap wanita itu.


"Apa kau tinggal di hutan ini?" Tanya Sakawuni.

__ADS_1


"Aku hanya kebetulan lewat dan aku ingin mengunjungi salah satu perguruan disini," jawab Arya Geni.


"Maksudmu perguruan naga puspa?" Sakawuni menatap penuh selidik pemuda itu.


"Sepertinya nona mengetahui perguruan tersebut" ucap Arya Geni.


"Bukan hanya mengetahui bahkan perguruan ayahku dan perguruan naga puspa telah bersekutu" ujar Sakawuni.


Arya Geni tersentak kaget karena selama yang dia ketahui perguruannya itu tidak pernah bersekutu dengan perguruan manapun.


"Apakah tuan belum mendengarnya?" Sakawuni melihat raut wajah Arya Geni yang terkejut.


Arya Geni menggeleng pelan tanpa berkata sepatah kata pun.


Sakawuni nampak mengernyitkan dahi memandang pemuda itu sedikit aneh. Jika pemuda ini merupakan pendekar tentunya sudah pasti mengetahui kabar yang menggegerkan dunia persilatan tentang persekutuan perguruan naga puspa dan iblis hitam memang sudah lama menyebar di dunia persilatan.


"Jika berkenan tolong ceritakan semua yang nona ketahui," ucap Arya sambil menatap serius.


Sakawuni nampak menarik nafas sebelum bercerita, "Semuanya berawal ketika salah satu tetua perguruan naga puspa datang kepada perguruan iblis hitam meminta bantuan untuk membantunya mengambil alih posisi ketua perguruan,"


"Tetua Sadewa" Arya Geni tiba-tiba teringat nama itu.


"Benar dia orangnya, atas bantuan perguruan ayahku akhirnya dia dapat menduduki posisi ketua"


"Kakek Ranubaya apa yang terjadi dengannya?" tanya Arya Geni dengan nada bergetar karena emosinya tersulut.


"Yang aku dengar beberapa orang yang masih berpihak dengannya membawa lari sebelum terjadi penyerangan" Jawab Sakawuni.

__ADS_1


Arya Geni bisa bernapas lega karena kemungkinan besar kakeknya itu selamat.


__ADS_2