
"Mantili menghadap Guru" suara dari luar ruang perawatan.
"Masuklah" balas Galuh Parwati.
Tidak lama pintu terbuka dan muncul gadis muda berpakaian putih bersama seorang pria paruh baya yang semua rambutnya telah memutih.
"Selamat datang, maaf tidak menyambut kedatangan Kakang" ucap Galuh Parwati memberi hormat.
"Tidak perlu repot-repot, Nyai" balas pria paruh baya tersebut tersenyum hangat.
"Mantili biarkan kami berdua," ucap Galuh Parwati meminta muridnya untuk meninggalkan ruang perawatan.
"Baik Guru," Balas Arimbi sambil menundukkan kepala memberi hormat sebelum melangkah pergi meninggalkan ruang perawatan.
"Aku baru pertama kali melihat luka dalam seperti itu, semua aliran darahnya sangat kacau, beberapa urat nadinya terkoyak. Sudah aku coba mengalirkan energi milikku namun tubuhnya tidak merespon," ucap Galuh Parwati menjelaskan situasi yang terjadi.
Pria paruh baya itu menoleh pemuda yang sedang terbaring tidak sadarkan diri. Terlihat mengangkat kedua tangan sebahu dan mengarahkan ke tubuh. pemuda itu.
Tampak cahaya biru keluar dari kedua telapak tangannya meluncur ke dalam tubuh kemudian menyelimuti seluruh tubuh.
__ADS_1
"Ledakan tenaga dalam oleh kekuatan besar membuat aliran darah kacau dan beberapa urat nadinya terkoyak, sesuatu dalam tubuhnya yang membuat dia masih hidup sampai detik ini," ujar pria paruh baya itu setelah menarik energi miliknya.
"Apa yang dimaksud dengan sesuatu, Kakang?
"Aku belum tahu pasti yang jelas sesuatu itu berhasil melindunginya, sangat mustahil bagi seorang yang tidak memiliki tenaga dalam masih bisa bertahan cukup lama setelah terjadi ledakan tenaga dalam" balas pria paruh baya itu.
Galuh Parwati terdiam beberapa saat setelah mendapatkan penjelasan tersebut. Matanya menatap tubuh pemuda itu dengan prihatin.
"Kita harus menggabungkan energi milik kita untuk memperbaiki nadi dan aliran darahnya" Tambah pria paruh baya itu.
"Baiklah kita lakukan Kakang" balas Galuh Parwati.
Sekitar tiga jam keduanya untuk menyelesaikan penyaluran energi ke tubuh pemuda itu.
*****
"Banaspati, tidak mungkin bukankah raja api itu sudah disegel selama ribuan tahun kenapa bisa muncul kembali," balas Galuh Parwati terkejut.
"Sebelumnya aku juga tidak yakin, tapi dari ciri-cirinya sesuai dengan yang dijelaskan guruku dulu" ucap pria paruh baya itu menghela nafas.
__ADS_1
"Kita harus mencegah mahkluk itu bangkit atau Nuswantoro akan kembali mengalami kehancuran seperti ribuan tahun lalu, Kakang" ucap Galuh Parwati.
"Sepertinya itu sulit karena keberadaannya pun telah lenyap begitu saja setelah malam itu," balas pria paruh baya itu.
"Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang, apa kita akan menunggu Raja Api itu menghancurkan kita semua" ujar Galuh Parwati.
Pria paruh baya termenung beberapa saat sebelum berkata.
"Untuk sementara ini, kita masih memiliki kesempatan, karena wadah yang digunakan mahluk itu sepertinya masih belum siap menerima semua kekuatannya" balas pria paruh baya itu.
"Jadi apa rencana Kakang selanjutnya?" ucap Galuh Parwati
"Mencari wadah mahluk itu dan membunuhnya!" jawab pria paruh baya itu.
Galuh Parwati hanya terdiam ancaman kehancuran dunia persilatan semakin nyata. Munculnya mahluk bernama Banaspati seolah menjadi titik awal menuju kehancuran tersebut.
"Ketua ... ketua ... tuan muda telah sadar" ucap seseorang dari luar ruangan.
Galuh Parwati yang tengah larut dalam pikirannya langsung melangkah keluar.
__ADS_1
"Apa benar yang kau katakan barusan?" ucap Galuh Parwati.
"Benar Ketua" balas pendekar tersebut.