Legenda Pedang Naga Puspa

Legenda Pedang Naga Puspa
Bakat dan Potensi Yang Terkubur


__ADS_3

"Mari kita bicara ditempat lain!" ucap Ki Ranubaya pelan sambil melangkah pergi.


Arya Geni mengikutinya dibelakang. Setelah beberapa saat keduanya sampai ke salah satu tempat dimana ada sebuah batu besar yang menghadap langsung ke atas langit.


Ki Ranubaya duduk di atas batu besar tersebut kemudian mendongakkan kepalanya ke atas langit menyaksikan jutaan bintang-bintang yang berkedip menghiasi sang langit malam itu.


"Selama ini Eyang tidak melarang jalan yang kau pilih meski harapan itu tidak akan pernah hilang sampai kapanpun mengingat potensi dan bakat yang ada pada dirimu cukup besar" ucap Ki Ranubaya pelan sambil menoleh ke arah Arya Geni.


Arya Geni tertunduk dia sangat mengerti arah pembicaraan gurunya itu.


"Maaf kan aku Eyang" balas Arya Geni merasa bersalah.


"Seperti yang selalu aku katakan bahwa setiap manusia memiliki jalan kehidupan berbeda, Aku tidak akan membenci pilihan mu nak," ucap pria paruh baya itu pelan.


Pemuda itu hanya terdiam mendengar pernyataan pria paruh baya tersebut.


"Aku sudah memutuskan akan mengajak kamu untuk ikut turun gunung anggap saja sebagai hadiah ulang tahun mu!" ucap Ki Ranubaya pelan.


"Kakek serius!" balas Arya Geni terlihat antusias.

__ADS_1


Karena jika bener ini merupakan untuk pertama kali untuknya bisa melihat dunia luar karena semenjak kecil dia tidak pernah keluar dari lingkungan Perguruan Naga


"Apa Eyang pernah berbohong kepada mu?" ucap Ki Ranubaya.


Arya Geni menggelengkan kepalanya lalu bersujud beberapa kali mengucapkan terimakasih.


Ki Ranubaya tersenyum lebar matanya berlinang terharu kemudian kedua tangan nya mengangkat bahu cucunya itu.


"Apa kamu sudah menghapal kitab sastra yang dulu Eyang berikan?" tanya Ki Ranubaya.


Arya Geni mengeluarkan sebuah kitab sastra berisi syair-syair kemudian memberikannya. "Aku sudah menghapal semuanya Eyang" katanya tanpa ragu


"Berapa lama waktu yang gunakan?" tanya Ki Ranubaya.


"Pada hari itu juga aku langsung membacanya dan pada pagi harinya aku sudah tidak perlu melihat kitab untuk membacanya karena semuanya telah berada dalam ingatanku" jawab Arya Geni.


Ki Ranubaya tidak tahu apa yang harus diucapkan lagi begitu besar potensi dan bakat yang dimiliki pemuda ini. Bahkan semua ciri-ciri pendekar legenda bernama Mahasyura yang tertuang dalam catatan kuno miliki perguruan ada pada diri pemuda ini.


Mungkin hanya waktu yang akan mengeluarkan semua potensi yang dimiliki cucunya itu.

__ADS_1


*******


"Sampai kapan kamu akan pergi, Kakang?" ujar Wira.


Arya Geni tersenyum terus menepuk pundak temennya itu, "Kau jangan khawatir aku tidak akan lama setelah pertemuan para pendekar itu aku akan kembali langsung," katanya.


"Tapi aku merasa akan kehilangan kau selamanya," ujar Wira sedikit khawatir.


"Itukan hanya perasaan mu saja" timpal Arya Geni.


"Selama ini kau adalah sahabat sekaligus saudara ku satu-satunya aku berharap persaudaraan kita akan tetap kekal," ujar pemuda gempal itu mengepalkan kedua telapak tangannya.


"Sudahlah aku tidak suka yang dramatis, sebaiknya ayo antar aku keluar gerbang mungkin ketua besar sudah menunggu!" ucap Arya Geni sambil melangkah pergi.


"Kau tidak pernah merasakan perasaan ini" balas Wira sedikit kesal kemudian mengikuti di belakang.


"Kau terlalu berlebihan padahal aku cuma beberapa hari saja!" balas Arya Geni menggoda.


Di depan pintu gerbang nampak Ki Ranubaya sudah menunggu diantar oleh para murid dan para tetua Perguruan Naga Puspa

__ADS_1


"Maaf membuat Eyang lama menunggu!" ujar Arya Geni memberi hormat.


__ADS_2