
Arya Geni mengernyitkan dahi ketika melihat kondisi perguruan Anggrek Merah yang sudah tidak terawat terlihat beberapa bangunan sudah ditumbuhi rumput sepertinya sudah lama ditinggalkan para penghuninya.
Suara-suara dentingan senjata beradu saat para murid perguruan berlatih tanding. Suara para murid yang sedang bertukar cerita berubah menjadi kesunyian yang mencekam.
"Apa yang terjadi? kemana mereka?" ujar pemuda itu terus berkeliling memeriksa setiap bangunan berharap dapat menemukan petunjuk.
Semua bangunan dia periksa, namun tidak menemukan tanda-tanda kehidupan, semua pendekar perguruan anggrek merah telah hilang bak ditelan bumi.
"Aneh apa yang membuat mereka menghilang begitu saja?" gumam Arya Geni bertanya-tanya karena tidak menemukan tanda-tanda bekas pertempuran di sekitar perguruan.
Pemuda itu melangkah masuk ke dalam sebuah ruangan milik ketua perguruan anggrek merah. Karena ruangan tersebut satu-satunya yang belum dia periksa.
Setelah berada di dalam ruangan ada sesuatu yang membuatnya menarik terdapat beberapa goresan didinding ruangan.
"Bekas sayatan pedang ini, aku yakin telah terjadi pertarungan singkat didalam ruangan ini," ucap Arya Geni setelah memeriksa beberapa goresan akibat pedang di dinding ruangan tersebut.
__ADS_1
Matanya tertuju kepada sebuah gulungan yang tergeletak di atas meja. Dia melangkah mendekatinya kemudian mengambil gulungan tersebut untuk dibacanya.
Didalam gulungan tersebut tersebut tertulis:
"Untuk muridku Mantili. Setelah kau merebut kembali kitab pusaka yang dicuri murid durhaka itu, cepatlah kembali karena aku takut mereka akan mengejar mu kalau mengetahui identitas aslimu."
Dugaannya tidak meleset sempat ada pertarungan singkat di dalam ruangan tersebut. Karena sebelum terjadi pertarungan Galuh Parwati sempat menulis surat untuk muridnya.
"Sepertinya ketua belum sempat mengirim surat ini. Lantas siapa mereka yang dimaksud ketua?" gumamnya pemuda itu.
Pemuda itu merasa dibuat bingung dengan teka-teki lenyapnya para pendekar anggrek merah. Dengan kemampuan yang dimiliki ketua perguruan anggrek merah dia meyakini orang yang mengalahkannya bukanlah orang sembarangan.
Dia bangkit kemudian melangkah keluar dari ruangan tersebut namun tiba-tiba dia tak sengaja menginjak sesuatu.
Arya Geni menoleh kebawah dan menemukan sebuah gulungan, dia segera mengambil gulungan tersebut dan membukanya.
__ADS_1
"Pasukan Bayangan Hitam sedang mencari keberadaan perguruan anda. Aku harap anda segera menarik para pendekar anggrek merah yang berada di dunia luar demi keselamatan mereka dan perguruan anda."
"Pasukan Bayangan Hitam, apa mungkin hilangnya para pendekar anggrek merah ada kaitannya dengan pasukan tersebut," ucap Arya Geni menaruh curiga.
Setelah memahami situasi yang dihadapinya sekarang. Dia bertekad mencari keberadaan pasukan bayangan hitam karena hanya mereka yang bisa menjawab teka-teki hilangnya para pendekar anggrek merah.
Dia menyimpan gulungan itu berharap dia bisa menanyakan tentang mereka pada kakeknya Ki Ranubaya, karena tujuan pertamanya setelah kembali ke dunia luar adalah kembali ke perguruan naga puspa.
Sebelum meninggalkan perguruan anggrek merah dia masuk ke dalam ruang penyimpanan kitab-kitab pusaka milik perguruan tersebut.
"Apa tujuan mereka menculik seluruh pendekar anggrek merah?" ujarnya setelah melihat ruangan penyimpanan terlihat masih sama seperti dulu saat pertama kali Galuh Parwati membawanya ke ruangan tersebut.
"Ternyata kitab ini masih ada" ucap Arya Geni mengambil salah satu kitab yang dulu belum sempat dia baca.
Setelah tidak ada lagi yang harus dilakukan pemuda itu memutuskan segera pergi meninggalkan perguruan anggrek merah. Dia melesat menggunakan ilmu meringankan tubuh berloncatan diantara cabang pohon ke cabang pohon lainnya menembus rimbunnya hutan larangan.
__ADS_1
Beruntung karena dulu sempat diberitahu jalan keluar dari hutan larangan oleh Galuh Parwati jadi dia tidak menemukan kesulitan berarti.
Tidak sampai setengah hari dia sudah keluar dari hutan larangan.