
Terlihat di sebuah kedai empat pemuda dari pakaian yang dikenakannya mereka seperti para pedagang yang sedang beristirahat.
Keempat pemuda tersebut nampak sedang terlibat sebuah percakapan yang serius tentang kemunculan pendekar muda yang menghancurkan para perampok yang meresahkan mereka selama ini.
"Dari kabar yang aku dengar pemuda itu masih berusia belasan tahun namun kemampuannya seperti ketua padepokan menengah!" Ujar salah satu dari mereka menjelaskan.
"Yang mencolok darinya yaitu pedang nya yang memiliki gagang kepala naga" tambah yang lainnya.
"Benar aku juga pernah mendengarnya kisah pahlawan pendekar itu memang pantas mendapatkan penghargaan"
"Hei tua renta enyah dari sini"
Sontak semua orang yang ada didalam kedai menoleh ke arah suara keributan diluar.
Terlihat diluar pemilik kedai sedang mengusir sesosok pria paruh baya berpakaian lusuh.
"Maaf aku hanya meminta sedikit saja perutku sudah beberapa hari tidak terisi" ujar pengemis itu memohon.
Namun bukan jawaban yang diterima oleh pria paruh baya itu malahan suatu yang tidak pernah diperkirakan sebelumnya.
Bughhhh
Sebuah tendangan mendarat diperut membuat pria paruh baya itu langsung terjungkal ke belakang.
"Pergi dari sini sebelum kesabaran ku habis!" bentak pemilik kedai mengacungkan tangannya meminta pria paruh baya itu untuk pergi.
Dengan terhuyung sambil memegang perutnya yang sakit pria paruh baya itu melangkah pergi meninggalkan kedai tersebut.
Pria paruh baya itu berjalan sempoyongan dan pada akhirnya dia menyandarkan tubuhnya ke sebuah batang pohon.
"Apa aku mengganggu istirahat Kakek" Sebuah suara mengejutkan pria paruh baya itu.
Pria paruh baya itu menoleh ke arah datangnya suara. Nampak seorang pemuda tersenyum ramah sedang menatapnya.
__ADS_1
Selama beberapa saat pria paruh baya itu hanya menatap pemuda tersebut tanpa sepatah kata pun keluar dari mulutnya.
"Aku lihat kakek sedang membutuhkan makanan, aku harap ini bisa membantu!" Pemuda tersebut memberikan sebuah bungkusan berisi makanan.
Pria paruh baya itu tanpa basa-basi terlebih dahulu langsung mengambil bungkusan tersebut dan membukanya kemudian melahap makanan tersebut.
Dari cara makannya memang pria paruh baya tersebut menunjukan seperti telah berhari-hari tidak makan.
"Kakek, pelan-pelan tidak akan ada yang merebutnya darimu ..." Arya Geni tersenyum tipis melihat kakek tersebut.
Setelah melahap habis semua makanan yang diberikan Arya Geni, kakek itu menghela nafas lega, "Terima kasih, kau sungguh menyelamatkan aku..."
"Namaku Darmasyura, bisa kutahu nama anak muda?" Kakek tua itu batuk pelan sebelum mengenalkan diri.
"Namaku Arya Geni, Kek" Arya Geni memperkenalkan diri dan memberi hormat.
"Aku ingin membalas kebaikan anak muda, sayang aku tidak memiliki apa-apa untuk diberikan..." Darmasyura terlihat menyesal.
"Kakek tidak perlu memikirkannya, aku menolong bukan demi mengharapkan sesuatu." Arya Geni menggeleng pelan.
Darmasyura terbelalak dia tidak menyangka dalam situasi sekarang masih ada sesuatu pemuda yang bermurah hati seperti Arya Geni.
"Terimakasih Nak" balas Darmasyura.
Arya Geni tersenyum ramah,
"Tidak perlu sungkan Kek"
"Darimana kau bisa memiliki senjata berbahaya" ucap Darmasyura tiba-tiba.
Arya Geni sedikit tersentak bagaimana bisa kakek tersebut bisa mengetahui dia membawa senjata.
"Semua orang pasti bisa menebak sesuatu yang terbungkus kain putih dipunggungmu adalah sebuah senjata" ujar Ki Darmasyura seperti mengetahui pikiran Arya Geni.
__ADS_1
"Soal itu aku tidak bisa menjelaskannya Kek" balas Arya Geni.
"Aku akan memberikan penawaran kepada mu" Kata Ki Darmasyura pelan.
"Sebuah penawaran?" Arya Geni mengernyitkan dahi.
Ki Darmasyura menarik nafas panjang sebelum berkata, "Dengar Nak, pedang yang kau bawa sangat berbahaya bagi dirimu dan untuk dunia persilatan, jika kau bersedia aku akan mengajarkan kau ilmu tingkat tinggi dengan menukarnya dengan pedang itu untuk aku hancurkan"
Arya Geni menatap pria paruh baya itu penuh selidik dia tidak sepenuhnya percaya pada orang yang baru dikenalnya itu.
"Kau mencurigaiku Nak," ucap Ki Darmasyura menatap dingin bersamaan aura membunuh sangat pekat meluap dari tubuhnya yang langsung mengintimidasi.
Arya Geni tersentak ketika ada kekuatan aneh yang menekannya membuat pergerakannya langsung terkunci. Dia berusaha mengalirkan energi milikinya agar tetap memiliki kesadaran.
"Kau mengerti bukan perbedaan kekuatan kita, aku bisa saja dengan mudah merebut pedangmu dengan mudah" ucap Ki Darmasyura.
Arya Geni menelan ludah melihat kekuatan mengerikan kakek tua itu. Bahkan dia sendiri tidak bisa mengukur seberapa besar kekuatan yang dimiliki kakek tua itu yang jelas berkali-kali lipat diatasnya.
Arya Geni menyadari jika memang kakek itu berniat mengambilnya dengan kekuatan sebesar itu tidak akan sulit.
"Maaf kek, aku tidak bisa memenuhinya, aku sudah berjanji untuk menjaganya walaupun nyawaku sendiri sebagai taruhannya" balas Arya Geni tanpa ragu dia sudah bertekad untuk mempertahankannya.
Ki Darmasyura menghela nafas dan menggeleng pelan, dia bisa melihat tekad besar yang dimiliki pemuda itu.
"Baiklah aku tidak akan memaksa, tetapi jika suatu saat kau berubah menjadi iblis aku sendiri yang akan membunuhmu!" Kata kakek tua itu dengan nada mengancam, kemudian bangkit hanya dengan satu hentakan dia melesat secepat kilat menghilang dari pandangan.
Sayup-sayup terdengar kakek itu berkata.
"Aku tidak akan melupakan kebaikanmu Nak"
"Terimakasih Kek" Arya Geni menundukkan kepala memberikan hormat.
Dia kemudian melangkah pergi melanjutkan perjalanan. Kejadian itu menyadarkan dirinya bahwa dengan kemampuannya sekarang dia masih belum cukup kuat untuk bisa menjaga amanah yang diberikan gurunya. Kalau bukan pria paruh baya itu merupakan orang baik mungkin pedang naga puspa sudah berpindah tangan. Maka dia harus segera menjadi kuat karena bukan tidak mungkin diluar sana masih banyak pendekar yang memiliki kekuatan setara dengan Ki Darmasyura.
__ADS_1
Ki Darmasyura tidak sepenuhnya pergi dari tempat itu dia masih mengawasi Arya Geni dari atas pohon. "Kau memiliki pendirian yang kuat, kuharap kau tidak mengecewakan harapanku terhadap dirimu, Nak" ucapnya sebelum melesat menghilang.