
Arya mengernyitkan dahi ketika mendapati dirinya di suatu tempat yang dipenuhi kabut yang sangat pekat, bahkan jarak pandangnya hanya beberapa meter. Bau belerang menyengat membuat nafasnya terasa sesak.
"Kau memang lemah!! bangunanlah dan buktikan bahwa kau pantas jadi tuanku atau ku bakar hidup-hidup!!"
Tiba-tiba suhu udara disekitar Arya meningkat cepat.
Arya tersentak ketika mendengar suara yang tidak asing ditelinganya.
"Naga Kreshna? Apa itu kau?" Tanya Arya setelah teringat sebuah suara yang selalu hadir dipikirkannya saat dia sedang menggunakan pedang naga puspa.
"Cepat ulurkan tanganmu bodoh! Akan aku perlihatkan bahwa aku bukan besi karatan seperti yang kau katakan"
Arya berjalan ke arah suara tersebut. Terlihat sebuah aura merah pekat membentuk tangan dengan posisi bersiap berjabat tangan. Arya mengulurkan tangannya menyambut jabat tangan aura merah tersebut.
•••••••••
"Kuakui kemampuanmu menarik anak muda, tetapi aku tidak punya banyak waktu." Ranajaya menunduk mengambil pedang naga puspa dan memegangnya. Dia mengamati pedang tersebut dengan takjub.
"Sepertinya ini pedang pedang pusaka, akan sangat berguna untukku kelak." Ranajaya melangkah mendekati Sakawuni yang sedang berdiri sudah menggenggam pedang mengarah kepadanya.
"Kau pikir dengan luka ditubuhmu bisa melawanku." Ranajaya tersenyum sinis.
Tiba-tiba raut wajah Ranajaya berubah cepat, dia merasakan tenaga dalamnya keluar dengan kecepatan yang mengerikan. Dia mencoba menahan tenaga dalamnya agar tidak keluar lebih banyak tapi tidak berhasil. Dia melemparkan pedang naga puspa dari tangannya.
"Pedang pusaka apa yang digunakan anak ini." Belum selesai rasa terkejut Ranajaya melihat tenaga dalamnya terserap keluar tiba-tiba pedang naga puspa melayang ke udara.
Aura merah yang sangat pekat menyelimuti pedang naga puspa membuat Ranajaya dan Sakawuni memandang pedang itu dengan heran.
Tidak berselang lama pedang naga puspa melesat cepat kearah Arya. Aura merah naga puspa mulai menyelimuti tubuh Arya.
__ADS_1
"Siapa anak ini sebenarnya?" Ranajaya merasakan bahwa ini bukan sesuatu yang baik untuknya.
Pedang naga puspa menempel ditangan kanan Arya. Tidak lama Arya bangkit dan menatap sekelilingnya.
"Tubuhku ringan sekali, apa yang terjadi denganku?"
Ranajaya tersentak kaget melihat Arya dapat bangkit kembali. Dia memandang tubuh Arya yang diselimuti aura merah darah.
Arya menatap Ranajaya dengan tatapan dingin. Kini dia ingat bahwa dia sedang dalam pertarungan dengan Ranajaya.
"Kau selalu membuatku terkejut anak muda, baiklah kali ini aku pastikan kau mati ditanganku"
Tubuh Ranajaya melesat ke arah Arya dengan cepat. Tiba-tiba tubuhnya kembali hilang dari pandangan Arya dan beberapa detik kemudian muncul dari arah belakang Arya.
"Pedang pemusnah raga" Serangan cepat Ranajaya hampir mengenai tubuh Arya. Namun tiba-tiba tubuh Arya menghilang dengan cepat.
Ranajaya melompat sambil memutar tubuh menahan serangan Arya namun tubuhnya terpental mundur. Nampak mulutnya memuntahkan darah segar.
"Darimana anak ini mendapat kekuatan sebesar ini" Ranajaya sudah mengalirkan tenaga dalam ke pedangnya saat menahan serangan Arya namun tetap dia terpental mundur.
Ranajaya kembali meningkatkan kecepatannya untuk menyerang Arya, namun kali ini Arya tampak mudah menghindarinya dan beberapa serangan balik Arya dapat mengenai tubuh Ranajaya.
Ranajaya mundur beberapa langkah sambil mengatur nafasnya yang mulai tidak beraturan. Dia hampir telah menggunakan seluruh tenaganya untuk menyerang Arya namun semuanya dapat dipatahkan Arya dengan mudah.
"Aku harus segera menyelesaikan pertarungan ini atau rasa sakit ini akan menghancurkan kepalaku"
Tubuh Arya melesat secepat kilat ke arah Ranajaya. Aura merah ditubuhnya semakin membesar.
"Baiklah kita lihat seberapa tinggi sebenarnya kekuatanmu" Ranajaya merapal jurus siap menyambut serangan Arya.
__ADS_1
Tiba-tiba raut wajah Ranajaya berubah saat Arya sudah berada didekatnya. Dia sangat mengenali jurus yang digunakan Arya.
"Pedang pemusnah raga" Jaka terpental beberapa meter dan baru berhenti ketika membentur sebuah pohon hingga tumbang. Jurusnya tidak dapat menandingi jurus yang digunakan Arya.
Tiba-tiba tubuh Arya sudah berada dihadapan Ranajaya. Pria itu menatap Arya penuh ketakutan wajahnya pusat pasi bahkan rasa takutnya mengalahkan rasa sakit yang dideritanya.
Arya mengangkat tubuh Ranajaya kemudian menyandarkan dibawah pohon. Dia mengambil sebuah pil obat dari balik bajunya kemudian memasukkan ke dalam mulut Ranajaya. Tentu pria itu sempat menolak namun dia tidak bisa berbuat apa-apa selain menelannya.
Arya memegang bahu Ranajaya. Tidak lama hawa dingin mulai masuk ke tubuh Ranajaya. Beberapa detik kemudian Ranajaya merasa tubuhnya lebih baik.
"Kenapa kau tidak membunuhku" ujar Ranajaya menatap pemuda itu kebingungan.
"Aku tidak memiliki alasan untuk membunuhmu" Balas Arya dingin sambil melangkah ke arah Sakawuni.
Ranajaya mengernyitkan dahi selain menggunakan punggung pedang saat menyerangnya pemuda itu juga tidak membiarkan dirinya terbunuh.
"Anak muda kau berasal dari perguruan naga puspa, kepada siapa kau memihak?"
Arya menghentikan langkahnya dia memutar tubuhnya kembali. "Apa maksudmu?" tanya Arya menatap tajam Ranajaya penuh selidik
"Jika kau pendukung tetua Ranubaya maka kita berada di pihak yang sama"ucap Ranajaya pelan menunggu reaksi Arya Geni.
"Apa yang kau ketahui tentang kakeku?" Arya menatap penuh selidik.
"Jadi kau adalah cucu tetua Ranubaya yang hilang dua belas purnama lalu?" Ranajaya merasa lega karena ternyata pemuda itu berada di pihaknya.
"Kau mengetahui keberadaan kakeku?" tanya Arya serius.
"Jika kau bersedia aku akan mengantarmu menemuinya" jawab Ranajaya.
__ADS_1