
"Pedang Kilat Hitam" Tiba-tiba seorang pria muncul menyerang membuat Arya terpental beberapa meter.
"Sulit dipercaya kau mampu menahan ilmu pedang tertinggi milik jalak hitam"
Tubuh Gandana mengeluarkan aura hitam. Dia menatap tajam Arya.
Dia kembali melancarkan serangan cepat tidak memberikan waktu Arya bernafas.
Semakin lama serangan Gandana semakin cepat membuat Arya benar-benar merasa tersudut.
"Dia lebih cepat dari pendekar tadi"
Arya melompat mundur berusaha mengambil jarak dari Gandana.
"Ayo keluarkan semua kemampuanmu anak muda"
Gandana meningkatkan kecepatannya gerakan pedangnya semakin bervariasi dan sulit ditangkis. Sebuah sabetan pedang berhasil menembus pertahanan Arya beruntung hanya merobek baju Arya.
"Jurus Bisikan Kematian" Tubuh Gandana melesat tidak bisa diikuti oleh mata biasa. Arya tersentak tidak mampu mengikuti gerakan cepat lawan beruntung didetik terakhir berhasil sedikit membelokan arah pedang Gandana. Terlihat goresan pedang dipunggung Arya.
"Kau memang pemuda yang menarik, namun sekarang aku tidak akan bermain-main lagi nak" Ujar Gandana menatap tajam Arya namun dalam hati dia mengagumi kemampuan pemuda tersebut.
Arya menyadari dengan kondisi tubuhnya yang mulai mencapai batas akibat tenaga dalamnya sudah terkuras banyak setelah menggunakan pedang naga puspa terlalu lama.
__ADS_1
"Tamat Riwayatmu nak" Gandana menghilang dari pandangan Arya
"Sial, Apakah ini akhir hidupku?" Arya hanya bisa pasrah karena tidak mungkin lagi bisa menghindari serangan cepat yang mengarah ke arahnya.
Di saat Gandana mengayunkan pedangnya ke arah Arya tiba-tiba sekelebat bayangan putih mendekati Gandana dengan cepat.
"Naga Langit Murka" Tubuh Gandana terpental jauh. Tidak lama nampak sesosok perempuan berjubah putih dan memakai penutup wajah berwarna putih pula.
"Kau terlalu lemah sebagai pengguna pedang naga puspa Kakang"
"Kau .." Arya merasa penglihatannya menjadi gelap sebelum tubuhnya tumbang sebelum menyelesaikan perkataannya.
"Kau terlalu memaksakan kakang" gumam perempuan itu kemudian dia kembali fokus pada lawannya yang sudah bangkit kembali.
"Kurang ajar, beraninya kau menyerangku diam-diam"Gandana menatap penuh amarah kepada perempuan bergaun putih.
Tiba-tiba tubuh Mantili diselimuti aura biru bersamaan berubahnya suhu udara menjadi dingin.
Gandana menyadari perubahan perubahan perempuan tersebut dan dia merasa yakin ini bukan sesuatu yang baik bagi dirinya. Dengan sekuat tenaga dia mengayunkan pedangnya pada Mantili.
"Jurus Pedang Bisikan Kematian"
Crassssh
__ADS_1
Tubuh Mantili terbelah menjadi dua. Namun Gandana menjadi gelisah karena dia merasa terlalu mudah.
Perasaannya tidak salah tiba-tiba Mantili sudah muncul dari belakang dengan pedang menghunus.
Gandana tersentak namun dengan instingnya sebagai pendekar yang sudah lama malang melintang di dunia persilatan dia mampu berputar cepat dan berhasil menahan serangan cepat Mantili walaupun dia harus kembali terpental jauh kebelakang.
Seperti tidak ingin memberikan lawannya untuk bernafas, Mantili kembali melesat dengan cepat menyerang.
Gandana hanya mengumpat dalam hati setelah menyadari kecepatan Mantili jauh diatasnya.
"Hei gadis nakal cepat habisi dia!" Suara wanita dalam pikiran Mantili.
"Kau terlalu cerewet rubah putih mengganggu saja"
Mantili meningkatkan kecepatannya berkali-kali lipat membuat ketua jalak hitam itu langsung tersudut dan tanpa sadar telah membuka celah pertahanannya"
Mantili tersenyum sebelum mengayunkan pedangnya.
"Naga Langit Murka"
Trangggg
Pedang Gandana patah diikuti tuannya terbelah menjadi dua. Dengan matinya Gandana maka Perguruan Jalak Hitam telah lenyap dari dunia persilatan.
__ADS_1
Aura biru yang menyelimuti tubuh Mantili perlahan menghilang. Dia kembali menyarungkan pedangnya.
Mantili bergerak mendekati tubuh Arya yang terbaring tidak jauh darinya.