Legenda Pedang Naga Puspa

Legenda Pedang Naga Puspa
Rencana Tersembunyi Tungga Dewi


__ADS_3

Tungga Dewi tersenyum kemudian mengambil sebuah kitab lusuh dan meletakkannya didepan Arya.


"Dengan begini tuan muda tidak perlu membuang banyak tenaga bukan"


Arya tersentak dia masih tidak percaya kitab pusaka yang paling dicari oleh para pendekar dunia persilatan ada dihadapannya.


"Tidak aku tidak boleh cepat-cepat mengambil keputusan" gumam Arya dalam hati.


"Hahahaha, kitab ini memang bukan yang asli tapi aku jamin ini adalah kitab salinan kitab yang tuan muda cari" ujar Tungga Dewi mencoba meyakinkan Arya.


...----------------...


Di dalam salah satu ruangan terlihat Mantili tengah duduk sambil memegang pedangnya sangat erat wajahnya menunjukkan gelisah dan penuh kecemasan.


"Apa yang harus aku lakukan? aku memang bodoh seharusnya aku berterimakasih kepada kakang arya karena telah menyelamatkan aku waktu itu, bukan malah sebaliknya" gumam Mantili penuh penyesalan.


Tiba-tiba tubuhnya diselimuti aura biru bersamaan suhu didalam ruangan itu menjadi dingin.


"Wajahmu begitu mengkuatirkan gadis nakal" suara dalam pikiran Mantili.


"Jika tidak ingin membantuku lebih baik diam" balas Mantili kesal.


"Aku sudah memperingati tapi kau tetap menuruti nenek tua itu"


"Aku terpaksa melakukannya kalau bukan kalung pengikat jiwa ini aku sudah pergi dan tidak akan menuruti semua perintah jahatnya" Tidak terasa Mantili meneteskan air matanya meratapi nasibnya.


Rubah Putih (Roh Pedang Langit) menghela nafas dia tentu mengerti kesedihan tuannya itu. Tapi dia menyadari bahwa Mantili sudah terikat dengan kalung pengikat jiwa. Tubuh dan Jiwa Mantili berada dalam kendali perempuan berambut putih itu.


"Benar-benar nenek tua gila" gumam Rubah putih meluapkan kekesalannya.


"Rubah Putih aku ingin kau melakukan sesuatu" Mantili bergetar.


"Apa yang ingin kau lakukan, jika ingin melawan nenek tua itu aku tidak akan mengijinkan nya"

__ADS_1


"Aku harus membalas kebaikan Kakang Arya"


...----------------...


"Kenapa senior dengan sangat mudah melepaskan kitab yang sangat berharga ini, bahkan para pendekar dunia persilatan berebut ingin memilikinya"


Tungga Dewi tersenyum,


"Mudah saja pertama aku sudah tidak memerlukannya karena aku sudah menghapalkannya, ke dua kau sangat membutuhkan kitab ini daripada aku"


Arya terdiam apa yang dikatakan Tungga Dewi memang benar, tapi Arya merasa masih ada yang janggal.


"Baiklah aku akan mempertimbangkan, Namun apa yang harus aku lakukan untuk mendapatkan kitab ini?"


"Bagus kau memang cerdas tidak salah memilih, mudah saja pertama kau harus menikah denganku dan yang kedua kau harus tinggal disini"


Hampir muntah darah Arya mendengarnya.


"Hei nak apa aku terlihat bergurau?" Tungga Dewi menatap tajam Arya.


"Jika itu sarat yang senior inginkan, tolong lupakan saja" Arya berdiri dan melangkah pergi.


"Kau pikir bisa keluar seenaknya" Suara Tungga Dewi bergetar marah.


Suhu udara didalam ruangan berubah dingin.


Deggg


"Kekuatan ini sungguh mengerikan!"


Arya bergidik ngeri saat menatap perempuan berambut putih itu. Seluruh tubuhnya tidak bisa digerakkan.


"Sudah berada ditempatku sulit bagimu untuk kembali" Ancam Tungga Dewi melangkah mendekati Arya.

__ADS_1


"Apa tujuanmu sebenarnya kenapa kau melakukan semua ini" ujar Arya gemetar marah.


"Hahahaha tubuhmu adalah barang langka dengan bersetubuh denganmu aku akan mendapatkan ke abadian dan kekuatan tidak terbatas"


"Kurang ajar! Emangnya kau siapa berani seenaknya" Arya menatap tajam Tungga Dewi emosinya sudah tidak terkendali lagi.


"Aku adalah Dewi Kematian, dan sekarang kau sungguh terlambat karena berani melawan pun percuma nak" Tungga Dewi tersenyum penuh kemenangan.


"Kau sungguh licik dan benar-benar iblis" Tubuh Arya tiba-tiba diselimuti aura membunuh yang sangat pekat.


Bahkan Tungga Dewi segera mundur beberapa langkah mengambil jarak.


"Aura membunuh anak ini benar-benar pekat, aku harus berhati-hati".


"Tidak ada seorangpun yang bisa memperlakukan aku seenaknya"


Arya mencabut pedang yang mengeluarkan pamor kemerahan.


"Pedang naga puspa aku ingin melihat sampai dimana kau mampu menggunakannya" Tungga Dewi tersenyum mengejek.


Arya tidak menanggapi dia langsung melesat melancarkan serangan.


"Kuakui kemampuan pedangmu tidaklah buruk juga"


Arya terus meningkatkan kecepatannya namun semuanya seolah sia-sia karena setiap serangannya mampu dipatahkan dengan mudah oleh Tungga Dewi.


"Sial semua seranganku bisa dipatahkannya dengan mudah" umpat Arya.


"Kini giliranku" Tubuh Tungga Dewi menghilang dari pandangan.


"Tapak Cahaya Kematian" Tungga Dewi muncul dari belakang dengan telapak tangannya mengarah mengincar punggung Arya.


Arya memutar tubuhnya dengan cepat dan menggunakan pedang sebagai perisai untuk mengurangi efek serangan tersebut.

__ADS_1


__ADS_2