
Sakawuni melesat cepat diantara rimbunnya hutan di wilayah perguruan naga puspa. Terjalnya jalan yang dilewati serta bebatuan yang licin tidak menyurutkan nyalinya, dia terus berlari masuk hutan demi menghindari kejaran pendekar Lentera Merah.
Terbesit rasa penyesalan dalam hatinya saat teringat kembali pertengkaran dengan ayahnya yang merupakan anak dari ketua Perguruan Iblis Hitam. Sebuah perguruan terbesar aliran hitam di tanah Jawata.
Sakawuni melarikan diri karena ayahnya memaksanya menikah dengan murid paling berbakat perguruan Jurang Neraka. Ki Kuncoro ingin membangun kekuatan untuk menekan beberapa perguruan aliran hitam yang mulai merongrong kewibawaannya sebagai perguruan aliran hitam paling ditakuti.
"Seandainya kakek ada pasti ayah tidak bertindak semaunya" Umpat Sakawuni sambil menahan rasa sakit akibat luka sabetan pedang Ranajaya. Tetesan air matanya berjatuhan membasahi pipi gadis cantik itu, dia merasa bahwa ayahnya tega mengorbankan putri satu-satunya demi sebuah kekuasaan.
Harapan kembali muncul saat mendengar suara air terjun dikejauhan.
"Sepertinya mereka tidak mengejarku lagi," Sakawuni menoleh ke belakang sesat sebelum mempercepat langkahnya ke arah suara air terjun.
Mata Sakawuni makin berbinar-binar saat samar-samar melihat seorang pemuda sedang bersemedi dipinggir sungai. Dia yakin siapapun orangnya dia merupakan pendekar tingkat tinggi dunia persilatan karena berani bertapa di hutan yang mencekam ini.
"Semoga dia mau membantuku lepas dari kejaran pendekar Lentera Merah," gumamnya dalam hati.
Ketika jaraknya tinggal beberapa langkah ke pemuda tersebut tiba-tiba sebuah panah melesat kearahnya dan tepat mengenai perutnya. Tubuh Sakawuni roboh ke tanah terkena panah beracun.
Mereka masih terus mengejarku," Pandangan Sakawuni perlahan memudar sebelum dia tak sadarkan diri.
Pemuda itu membuka matanya yang terpejam dan menemukan tubuh Sakawuni yang tergeletak dipinggir sungai.
__ADS_1
Dengan gerakan secepat kilat dia sudah berada didekat gadis itu.
"Siapa wanita ini kenapa berada di wilayah perguruan naga puspa" Arya Geni mengernyitkan dahinya.
Namun tiba-tiba dia merasakan beberapa orang mendekat ke arah mereka.
Arya Geni segera menyambar tubuh gadis itu dengan cepat. Dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh hampir sempurna dia melesat secepat kilat masuk hutan dan menghilang.
Tidak lama setelah Arya Geni menghilang muncul empat orang muncul dari dalam hutan.
"Apa kau yakin dia terkena panah beracun milikmu?" para pendekar lentera merah terlihat mencari Sakawuni di setiap sudut sungai.
"Panahku memang mengenainya namun sepertinya ada yang membawanya pergi" ucap Soma sambil memandangi darah segar yang ada dibatu. "Dia membawa Sakawuni ke arah sana, cepat kejar sebelum jauh!" Perintah Soma pada pendekar lainnya.
****
"Sebenarnya aku mampu melenyapkan kalian tetapi nyawa wanita ini harus segera ditolong cepat" gumam Arya Geni meletakkan tubuh Sakawuni di sebuah batu yang bisa digunakan untuk tidur.
"Maaf nona aku terpaksa melakukan ini" Gumam Arya sambil merobek sedikit pakaian yang dikenakan Sakawuni. Dia memeriksa luka gadis itu dan mencabut panah beracun yang menancap diperutnya. Arya mencium ujung anak panah itu.
"Racun Kelabang Merah?" Dia mengambil pil obat dibalik bajunya dan memasukkannya ke mulut gadis itu.
__ADS_1
Dia menotok beberapa aliran darah gadis tersebut sebelum mengalirkan tenaga dalam untuk membantu tubuh gadis itu menyerap khasiat obat. Butuh beberapa saat untuknya mengalirkan tenaga dalam sebelum gadis muda itu memuntahkan beberapa kali cairan hitam. Dia baru berhenti setelah gadis tersebut sudah tidak memuntahkan cairan hitam lagi.
Dia menarik telapak tangannya dan mengatur nafasnya setelah apa yang dilakukannya ternyata cukup menguras tenaga dalam.
Racun kelabang merah Arya Geni pernah mendengarnya saat dia berada di perguruan anggrek merah.
Galuh Parwati pernah membahasnya ketika ada salah satu pendekar anggrek merah mendapatkan luka racun tersebut. Racun Kelabang Merah sangat ditakuti karena bisa membunuh orang dalam hitungan jam. Racun itu akan menyiksa orang yang terkena sebelum menghentikan seluruh organ tubuh.
"Apa mungkin yang menyebabkan pendekar anggrek merah tewas saat itu adalah perbuatan mereka?" gumam Arya Geni.
Arya menatap wajah gadis itu dia merasa lega karena gadis itu sudah terlihat tenang. Wajahnya yang pucat sudah tidak nampak lagi. Dia menyandarkan tubuhnya ke dinding gua dan mulai memejamkan matanya untuk beristirahat.
****
Sebuah pukulan keras membangunkan Arya Geni dari tidur lelapnya. Malas-malasan dia membuka matanya yang masih terasa berat sambil memegang perutnya yang terasa sakit.
"Apa yang kau lakukan terhadapku ketika aku tidak sadarkan diri? jawab!" Sakawuni membentak Arya Geni yang sedang mencerna situasi.
"Apa kau tidak bisa membangunkan orang dengan cara yang lebih lembut?" Arya nampak kesal dengan cara gadis tersebut membangunkannya.
"Jawab aku! apa yang kau lakukan ketika aku tidak sadarkan diri." Sakawuni nampak memegangi pakainya yang sudah robek dibagian perutnya. Air matanya menetes dari bola matanya.
__ADS_1
Belum sempat Arya Geni menjawab gadis tersebut sudah melangkah pergi keluar gua meninggalkannya sendirian.
"Gawat sepertinya dia salah paham" gumam Arya Geni bangkit untuk mengejar Sakawuni.