
Arya Geni melesat secepat kilat mengejar salah satu perampok yang memiliki kemampuan lebih tinggi.
"Sial! Kenapa bocah iblis ini mengincarku!" jerit pimpinan perampok yang kini dikejar Arya Geni.
Tanpa kesulitan berarti Arya Geni berhasil melumpuhkan pimpinan perampok tersebut dengan beberapa gerakan sederhana. Perbedaan kekuatan dan kecepatan keduanya yang begitu jauh membuat perampok tersebut tidak dapat memberikan perlawanan.
"Apa yang kau ing .." Arya Geni memberikan satu pukulan diperut, membuat pimpinan perampok kehilangan kesadaran.
Arya Geni memandang puluhan perampok yang berlarian ke berbagai arah kemudian menghela nafas panjang dan menggelengkan kepala. "Seandainya tenagaku tidak terkuras, setidaknya aku bisa menghabisi lebih banyak dari mereka .."
Arya Geni segera menyalurkan tenaga dalam untuk memulihkan kondisi tubuhnya setelah menggunakan pedang naga puspa membuat tenaganya terkuras banyak. "Ternyata benar kata guru supaya aku tidak menggunakan pedang ini terlalu lama"
Pada saat yang sama puluhan warga desa mematung melihat pemandangan mengerikan dihadapan mereka. Puluhan pasang mata menatap pemuda yang dipenuhi noda darah penuh ketakutan.
Mereka tidak menyangka pemuda tersebut membantai puluhan perampok hanya sendirian.
"Tuan pendekar apakah anda baik-baik saja" Salah satu warga berlari ke arah pemuda itu.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja!" balas Arya Geni.
"Syukurlah kalau begitu, sebaiknya tuan kembali ke rumahku untuk mengganti pakaian tuan" ujar lelaki itu.
Arya Geni tidak menolak karena dia juga perlu membersihkan tubuhnya karena bau anyir darah.
Sebelum pergi Arya Geni meminta para warga untuk menguburkan para mayat perampok karena takut kalau dibiarkan bergeletakan begitu saja akan menjadi sumber penyakit.
Tidak ada satupun warga yang menolak mereka berkerjasama untuk mengumpulkan mayat-mayat tersebut dan menguburkannya dengan layak.
"Tuan ini peta yang anda minta" Sesosok pemuda memberikan sebuah gulungan berisi peta wilayah desa tersebut.
"Terimakasih Seto" balas Arya Geni kemudian melangkah pergi masuk ke dalam sebuah ruangan.
"Sampai kapan kau akan pura-pura pingsan?" bentak Arya Geni kepada pimpinan perampok yang berhasil disandera nya.
Melihat pimpinan perampok tersebut masih diam dan menutup mata, Arya Geni menginjak kaki kanan lelaki tersebut dengan keras membuat beberapa jari kaki sandera itu mengeluarkan suara yang terdengar seperti tulang yang hancur.
__ADS_1
"Arrgghhhh!" Sandera tidak bisa menahan rasa sakitnya.
Arya Geni menyumpal mulut lelaki itu dengan kain karena teriakan tersebut cukup menarik perhatian.
Melihat sandera tersebut berhenti berteriak, Arya Geni melepaskan kain dari mulut lelaki itu, "Jika tidak ingin lebih menderita, cepat katakan apa yang ingin kuketahui atau kau akan menyesalinya..." sambil membuka sebuah gulungan.
Lelaki tersebut bisa merasakan Arya Geni mengatakan ancaman dengan nada begitu dingin serta napsu membunuh yang tidak disembunyikan sedikitpun, membuat mentalnya jatuh seketika.
Sinar mata Arya Geni berubah menjadi lebih dingin, membuat tubuh pria itu semakin bergetar ketakutan. Dia merasa tidak ada pilihan lain selain memberikan informasi yang dibutuhkan pemuda itu, dan tidak hanya menandai lokasi markas lembah tengkorak yang dia ketahui pada peta. Dia juga bicara tanpa henti tentang rahasia lembah tengkorak yang dimiliki oleh kelompok mereka serta rincian jumlah perampok yang ada di setiap markas. Pria itu bicara seolah ini terakhir kalinya dia bisa bicara seumur hidupnya.
Selepas mendapatkan semua informasi yang diinginkan, kemudian pria tersebut dikirim ke penjara desa.
"Jadi tuan pendekar akan pergi sendirian?" Sudarta menggelengkan kepalanya kepalanya setelah mendengar rencana nekad Arya Geni.
"Untuk menyelesaikannya maka harus menyelesaikan dari sumbernya!" Balas Arya Geni.
Meski benar tetap saja Sudarta tidak setuju karena tindakan Arya Geni merupakan tindakan yang terlalu berani dan berbahaya. Namun dia tidak bisa berbuat apa-apa bahkan mencegah pemuda tersebut.
__ADS_1