Legenda Pedang Naga Puspa

Legenda Pedang Naga Puspa
Lembah Tengkorak Mulai Bergerak


__ADS_3

Arya mengernyitkan dahinya ketika pertama kali terbangun, ia mendapati dirinya berada didalam kamar cukup asing baginya.


Tidak berselang lama pintu kamar terbuka bersamaan dengan munculnya seorang wanita yang tidak asing.


"Syukurlah kakang sudah bangun" Arum terlihat berbinar, cepat-cepat dia mendekat dengan membawa segelas air putih.


"Arum dimana ini?" tanya Arya penasaran.


"Kakang berada dirumah pamanku, tiga hari lalu ada seorang wanita bergaun putih membawa kakang kesini"


Arya mengernyitkan dahinya mencoba mengingat kembali pertarungannya dengan ketua jalak hitam yang hampir menewaskan dirinya tersebut, sebelum akhirnya muncul sebuah bayangan putih yang berhasil menyelamatkannya.


"Kemana wanita itu pergi?"


Arum mengambil gulungan dari balik bajunya kemudian menyerahkannya kepada Arya.


"Telaga Tujuh Warna?" Arya mengernyitkan dahinya setelah membaca gulungan tersebut, wanita itu meminta menemuinya di telaga tujuh warna.


"Apa kamu mengetahui dimana letak telaga itu?"


"Sepertinya aku baru mendengarnya, kita tunggu pamanku datang mungkin ia mengetahuinya"

__ADS_1


...----------------...


...[ Markas Lembah Tengkorak ]...


"Brukkkk" Suara meja digebrak


"Ini sudah kelewatan! Kehilangan setengah pasukan berarti kita juga sudah kehilangan setengah kekuatan kita"


Aura hitam meluap dari dalam tubuh Maheswara membuat beberapa benda bergetar efek kekuatan ketua lembah tengkorak tersebut.


Paramitha satu-satunya orang yang ada dalam ruangan tersebut hampir tidak bisa bernafas akibat tekanan kekuatan mengerikan dari dalam tubuh Maheswara.


Menyadari pendekar terbaiknya kesulitan akhirnya Maheswara menarik kembali kekuatannya.


"Kau harus membereskan pemuda itu dan mengambil senjata pusaka yang dibawanya"


"Baik ketua"


...----------------...


"Telaga Tujuh Warna" Raut wajah Ki Rangkuti langsung berubah seperti ketakutan setelah mendengar Arya menanyakan tempat tersebut.

__ADS_1


"Apa tuan muda tidak salah menyebutnya"


"Tidak paman, wanita itu memintaku menemuinya di tempat itu" Arya kemudian mengambil gulungan dan menunjukkannya kepada Ki Rangkuti.


Ki Rangkuti mengambil nafas panjang sebelum kemudian berkata pelan,


"Bagi sebagian dari kami tempat itu hanya sebuah mitos yang berkembang dikalangan penduduk, sebuah telaga yang airnya bisa berubah diwaktu-waktu tertentu namun aku sendiri percaya bahwa tempat itu benar-benar ada dan nyata bukan tanpa alasan dulu ayahku tanpa sengaja menemukan tempat itu ketika ia tersesat saat mencari kayu bakar dihutan namun setelah kembali ayahku sering kerasukan sebelum akhirnya meninggal secara mengenaskan"


Ki Rangkuti menarik napas setelah bercerita.


Tapi sebaiknya tuan pendekar mengurungkan niatnya untuk pergi ketempat itu karena akhir-akhir ini dalam hutan larangan kami menyebutnya sering terdengar suara petir disertai kilatan cahaya, aku khawatir ada sesuatu yang sangat berbahaya disana"


Arya mengernyitkan dahinya, jika memang tempat itu sebegitu menakutkan kenapa malah wanita itu memintanya menemuinya ditempat paling dihindari itu. Daripada membuat penasaran Arya bertekad akan pergi kesana.


Setelah berpamitan Arya Geni langsung pergi ke dalam hutan yang ditujukan Ki Rangkuti.


"Dia adalah seorang pendekar tidak seperti kita jadi jangan pernah berharap lebih" ujar Ki Rangkuti membuyarkan lamunan Arum.


"Ini tidak seperti yang paman pikirkan" Nampak terlihat wajah manisnya berubah merah kemudian menunduk.


"Tatapanmu dan apa yang kau lakukan beberapa hari ini merawatnya sudah menunjukkan bahwa kau memiliki perasaan kepada pemuda itu, kau sudah mengetahui kehidupan para pendekar berbeda dengan kita" Ujar Ki Rangkuti sebelum melangkah pergi masuk kedalam rumahnya.

__ADS_1


"Aku mengerti dan paham, tapi kenapa semakin aku ingin melupakannya justru wajahnya selalu muncul dalam pikiranku" gumam Arum.


__ADS_2