
"Dimana aku?" Gumam Arya menyadari dirinya berada di ruangan yang asing.
"Ahhh syukurlah nak kamu sudah sadar"
Seorang nenek tua berjalan mendekati Arya dengan senyuman ramah.
"Nenek yang menolongku?" ucap Arya pelan.
"Benar nak, aku menemukan kalian hanyut di sungai kemudian membawanya kemari"
"Terimakasih nek" Arya terlihat menundukkan kepala.
"Tidak usah sungkan nak sudah sepantasnya sesama manusia kita harus saling tolong menolong"
Arya menatap kagum wanita tua itu. Kemudian dia menoleh ke arah Mantili yang masih terbaring disebelahnya.
"Keadaannya sangat mengkhawatirkan aliran darahnya tidak stabil dan beberapa oragan dalam mengalami kerusakan" ucap nenek tua yang bernama Nyai Marsinah itu.
"Apa nyawanya masih bisa tertolong nek?" Arya menatap iba.
Nyai Marsinah terlihat menghela nafas dan menggelengkan kepala lalu berkata pelan, "Aku tidak bisa menjamin tapi aku akan berusaha?"
"Terimakasih nek, aku tidak akan melupakan semua kebaikan nenek"
__ADS_1
...----------------...
Tiga Minggu berlalu Arya sudah merasakan kondisi fisiknya sudah kembali itu semua tidak terlepas dari bantuan Nyai Marsinah yang selalu membantunya dalam proses pemulihan.
"Apa sudah ada perkembangan dengan temanku? Nek" tanya Arya.
Nyai Marsinah menggeleng pelan "Sejauh ini tubuhnya mulai bereaksi terhadap obat-obatan yang aku berikan"
Arya terlihat menghela nafas panjang, ia merasa memiliki hutang budi karena sudah dua kali Mantili menyelamatkannya dari kematian yang hampir merenggutnya.
"Kamu jangan khawatir, melihat reaksi tubuhnya dia pasti selamat meskipun masih membutuhkan waktu yang lama"
"Semoga saja Nek" balas Arya pelan.
"Ahh mengenai itu, aku cuma merasa hidup tidak berguna dan lemah, jangankan melindungi orang lain untuk melindungi diri sendiri saja belum mampu" ucap Arya mengepalkan tangannya.
Nyai Marsinah menatap Arya dia merasa pemuda itu belum cukup jika harus menanggung beban hidup yang berat sendiri.
"Kau tidak perlu menyalahkan diri sendiri, masih ada waktu untuk memperkuat diri tinggal bagaimana keinginan dari diri kita untuk terus belajar ...
"Mari ikuti aku!" Melangkah keluar pondok.
Belum sempat Arya bertanya Nyai Marsinah sudah pergi meninggalkannya. Daripada penasaran Arya kemudian mengikutinya dibelakang
__ADS_1
Nyai Marsinah berjalan ke belakang pondoknya kemudian berhenti dihadapan dinding tebing.
Arya mengernyitkan dahi setahunya dibelakang pondok tidak ada apa-apa selain sebuah tebing yang tinggi, karena kebetulan pondok itu dibangun tepat dibawah tebing. Namun dia tidak berani bertanya lebih dulu selain hanya melihat apa yang akan dilakukan nyai marsinah.
Setelah berdiam diri beberapa saat terlihat Nyai Marsinah bergerak meraba-raba dinding tebing seperti mencari sesuatu.
Dia terlihat lega setelah menemukan sebuah batu yang menonjol. "Kau bisa membantuku menekan batu ini?" ujar Lasmini menunjuk sebuah batu yang terlihat menonjol.
Tanpa menunggu lama Arya langsung bergerak dan menekan batu yang menonjol itu sekuat tenaga.
Untuk beberapa saat tidak terjadi apa-apa setelah batu itu ditekan. Namun tiba-tiba dinding tebing bergetar bersamaan terbukanya sebuah pintu yang membuat mata Arya tersentak matanya melotot karena tidak pernah menyangka sedikitpun ada sebuah pintu rahasia di dinding tersebut.
"Hei nak apa kamu cuma diam saja"
Nyai Marsinah menyadarkan Arya dari rasa terkejutnya yang telah lebih dulu masuk ke dalam ruangan rahasia tersebut.
Arya semakin dibuat takjub ketika pertama kali masuk kedalam ruangan rahasia itu. Selain ruangannya cukup besar di setiap dinding ruangan terdapat beberapa ukuran seperti seseorang sedang berlatih pedang.
"Ukiran-ukiran itu sudah ada saat kami menemukan ruangan ini"
Nenek Lasmini kemudian menceritakan asal-usul dirinya. Menurut ceritanya dulu dia menemukan ruangan rahasia itu bersama suaminya bernama Ajisaka. Untuk mempelajari dan mengungkap rahasia gua tersebut maka keduanya sepakat untuk tinggal dan membangun rumah di luar gua.
Pada suatu hari suaminya berhasil menemukan rahasia besar didalam gua tersebut. Maka untuk membuktikan kebenarannya Ajisaka pamit untuk pergi ke suatu tempat dan meminta istrinya tidak ikut karena perjalanan sangat berbahaya.
__ADS_1
...----------------...