
"Maap Ketua tidak menyadari kedatangan anda" ucap Arya Geni sambil memberi hormat.
Galuh Parwati tersenyum hangat, "Maap mengganggu istirahat tuan Muda, aku hanya ingin memastikan keadaan anda" ucapnya.
"Keadaan ku semakin membaik karena ramuan yang anda berikan Ketua" ucap Arya Geni.
"Syukurlah aku turut senang mendengarnya" ucap Galuh Parwati.
"Kebaikan anda dan perguruan Anggrek Merah sangat besar saya tidak tahu bagaimana harus membalasnya" ucap Arya Geni.
"Tidak perlu sungkan tuan muda, aku hanya menjalankan kewajiban sesama manusia untuk saling membantu,"balas Galuh Parwati.
Galuh Parwati memberikan ramuan yang dibawanya.
"Terimakasih" ucap Arya Geni sebelum meminum ramuan tersebut.
Wanita berambut putih itu terlihat merenung.
"Apa ketua memikirkan sesuatu?" ucap Arya Geni setelah melihat perubahan wajah wanita itu.
"Saya hanya menyesal karena tidak bisa memenuhi tuan untuk mempelajari ilmu kanuragan" ucap wanita terlihat menyesal.
__ADS_1
Terlihat Arya Geni menghela nafas dan tersenyum, "Semuanya sudah takdir dulu saya telah berjanji menjauhi dunia persilatan dan ilmu kanuragan, dan sekarang ketika saya ingin memiliki mimpi baru namun karena luka dalam ini mengubur kembali mimpi itu, saya tidak pernah mempermasalahkannya mungkin sudah jalan saya" balas Arya Geni.
Galuh Parwati melihat sorot mata pemuda itu menunjukkan rasa penyesalan.
"Kakek Astagina telah pergi menemui seorang, saya berharap orang itu bisa menyembuhkan luka dalam, Tuan Muda" ucap Galuh Parwati.
Arya Geni meneteskan air mata terharu ternyata masih ada orang yang membantu dirinya walaupun tidak ikatan dan pertemuan sebelumnya.
"Semoga mahakuasa membalas kebaikan kalian" balas Arya Geni terharu.
*****
Satu purnama berlalu Arya Geni menjalani hari-harinya dengan ramuan-ramuan pemberian Galuh Parwati, untuk menekan luka dalam yang belum sembuh.
Meski keadaannya sedang mengalami luka dalam namun tidak mengurangi ketampanan wajahnya tak sedikit beberapa murid perguruan sengaja mencuri perhatiannya dan berusaha mendekatinya.
"Kakang, guru meminta saya untuk memberikan ramuan ini" ucap seorang gadis muda memberikan ramuan yang dibawanya.
"Terimakasih, Nona" balas Arya Geni tersenyum ramah.
"Sama-sama tuan, kalau begitu saya pamit lagi" ucap gadis muda itu menundukkan kepala dan melangkah pergi.
__ADS_1
"Nona maukah menemani saya"
Mantili menghentikan langkahnya jantungnya tiba-tiba berdebar. Dia memutar tubuhnya kembali.
"Maksud tuan muda?" ucapnya gugup.
"Kalau tidak keberatan bolehkah menemani saya ngobrol sebentar" balas Arya Geni.
Mantili mematung antara percaya dan tidak percaya merasa berada di alam mimpi. Disaat semua murid perguruan mencoba mendekati pemuda tampan itu dan tidak mendapatkan respon sama sekali. Justru dirinya mendapat keberuntungan bisa berdekatan secara langsung.
"Boleh Tuan muda" ucap Arimbi sedikit malu.
Arya Geni tersenyum ramah sebelum berkata, "Silahkan!" dia mempersilakan gadis muda itu untuk duduk.
Terlihat Mantili beberapa kali mencuri lihat ketika pemuda itu sedang meminum ramuan yang diberikannya tadi. Dia berusaha menguasai diri karena perasaan dihatinya semakin besar ketika menatap wajah tampan pemuda itu.
"Aku dengar kau sudah sejak kecil berada di perguruan ini" Arya Geni membuka percakapan.
"Benar Kakang, menurut guru saya diselamatkan ketika seluruh desa tempat saya tinggal hancur oleh para perampok" jawab Mantili.
Arya Geni tersentak teringat kembali masa lalu nya ketika dia terbangun di antara reruntuhan bangunan dan kobaran api yang menghanguskan desanya.
__ADS_1
"Apa nama des ..."
Belum sempat ia melanjutkan ucapannya terlihat seseorang datang menghampiri keduanya.