LEGENDA PENDEKAR DUA DUNIA

LEGENDA PENDEKAR DUA DUNIA
176.RUBAH EKOR 9.


__ADS_3

"Aku pergi mandi dulu ya?".kata Ling


,dia mengambil handuk bersih di lemari di kamar mandi. Ada juga cangkir obat kumur dan sikat gigi baru yang baru di ajari oleh Kim thian.


Ling juga ingin mandi air panas. Dia benar-benar kedinginan di lantai bawah sebelum nya.


Kim thian pun menghangat kan air bak mandi dengan Qi api nya, hal ini tidak pernah di pelajari oleh Ling di sekte malaikat.


Karena itu, dia tidak ragu-ragu. Dia bangkit dan berjalan menuju kamar mandi yang sudah di hangat kan oleh Kim thian sebelumnya.


Kim thian duduk di sofa sambil mengeluar kan si rubah, dia menyuruh si rubah berubah menjadi seekor rubah kecil. Rumah itu tidak terlalu kedap suara, dan jika suara di kamar mandi agak keras, itu bisa sampai ke ruang tamu.


Tak lama kemudian, dia mendengar suara gemericik air di kamar mandi.


Saat itu, pintu kamar mandi terbuka dan sesosok kecil berjalan keluar dengan lembut.


“Saudara Kim thian…” Suara lembut seorang gadis terdengar dari belakang nya.


Dia berbalik untuk melihat.


Ling berdiri di atas tikar di dekat pintu kamar mandi tanpa alas kaki. Dia hanya terbungkus handuk putih, tanpa pakaian dalam, dan rambut nya yang basah tersampir di bahunya. Dia menatapnya dengan mata rusa polosnya dengan linglung.


Dia bisa melihat kulit putihnya yang bersinar, tulang selangka yang indah, dan kakinya yang indah dan ramping.


“Sayang, saya tiba-tiba teringat bahwa saya tidak punya baju tidur untuk diganti,” kata wanita muda itu dengan nada lembut.


Kim thian pun mengambil baju tidur dari kain bulu dan memberikan nya ke pada Ling.


Ling mengangguk patuh. Setelah mengambil baju tidur, dia membuka handuk nya, lalu memakai baju tidur nya.


Mendengar suara-suara di ruang tamu, Ling berjalan keluar dan melihat Kim thian lagi mengelus elus rubah ekor sembilan yang sebesar kucing, bulu nya putih seperti salju dan mengkilap.


Ling langsung tertarik, dia mendatangi sambil menggosok rambut nya yang basah dengan handuk.


Si rubah berbaring di pangkuan Kim thian sambil tidur tiduran, punggungnya di elus elus oleh Kim thian, dia membiarkan gadis Ling yang berjongkok di depannya membelai perut si Rubah.


"Dapat dari mana ini,kurasa di negri ini hewan seperti ini sudah punah" ,tanya Ling.


"Aku mendapat kan nya di alam purba" ,jawab nya.

__ADS_1


"Alam purba? ,dimana itu?" .


"Di alam paling bawah" ,jawab Kim thian.


Tatapan Kim thian mendarat di bukit kembar Ling yang membungkuk sambil mengelus si rubah.


Baju tidur nya tampak sangat besar di tubuh nya yang kecil mungil.


Lengan bajunya digulung, memperlihatkan tangan nya. Itu jelas merupakan baju tidur, tetapi pada diri nya, itu menjadi rok yang secara kebetulan mencapai paha nya.


Perhatian Ling telah sepenuh nya terfokus pada si rubah, jadi dia tidak memperhatikan Kim thian yang mengintip bukit kembar nya.


Ling benar-benar tidak menyangka Kim thian memiliki rubah ekor sembilan yang lucu sekali ini.


Dia adalah orang yang begitu dingin. Dia tidak terlihat seperti seseorang yang menyukai binatang kecil.


“Apakah itu menyenang kan?” Hanya ketika suara yang dalam terdengar dari atas kepalanya, Ling menatap nya dan mengangguk sambil tersenyum.


Ketika si rubah kecil itu melihat Ling, ia bangkit dari pangkuan dan menggunakan kepalanya untuk menyentuh tangan Ling.


“Keringkan rambutmu,” kata Kim thian ketika dia melihat rambut nya masih basah.


Kim thian berdiri terpaku di sofa selama beberapa detik sebelum mengeluarkan hairdryer dan generator listrik.


Ling menggendong rubah kecil di tangannya sementara Kim thian berdiri di depannya dan membantu nya mengering kan rambut nya.


"Apa ini,aku baru kali ini melihat nya" ,tanya Ling.


"Ini pengering rambut" ,jawab Kim thian


Pengering rambut membuat sedikit terlalu banyak kebisingan. Karena itu, akhir nya tak satu pun dari mereka berbicara.


Tapi Ling merasa bahwa malam ini adalah yang paling bahagia yang dia rasakan selama beberapa ratus tahun yang kesepian..


Rambut gadis itu panjang dan lebat, dan terasa lembut di tangan nya. Warna nya hitam dan mengkilat seperti satin.


Tindakan Kim thian sangat lembut di dalam mengering kan rambut. Dari awal hingga akhir rambut nya di perlakukan dengan lembut, dia tidak menyakiti nya sama sekali.


Setelah mengeringkan rambutnya, Ling bertanya kepadanya, “Apakah ini boleh ku ambil? Apa namanya?”

__ADS_1


"Boleh sih,aku belum memberi nama,tetes kan darahmu ke dahi nya" ,perintah Kim thian yang di turuti oleh Ling, sehingga Ling pun terhubung dengan si rubah.


“Itu harus disebut Susu .” Ling merasa bahwa nama yang kontras pada anak rubah itu terdengar lucu.


“Kamu harus tidur. Kamu masih harus pergi ke sekte besok, ”kata Kim thian dengan nada yang tidak meninggal kan ruang untuk negosiasi.


Ling melihat waktu lagi. Itu sudah tengah malam.


Jam tubuhnya umumnya membuatnya terlalu lelah untuk membuka matanya pada pukul 10 malam. Semua orang yang dekat dengannya tahu bahwa tidak peduli betapa pentingnya masalah itu, itu tidak dapat menunda waktu tidurnya pada pukul 10 malam.


Tapi sekarang, dia secara ajaib tidak mengantuk sama sekali.


Meskipun dia tidak lelah, itu memang waktu nya untuk istirahat.


“Lalu, haruskah aku tidur di sini dengan mu?” Ling menepuk sofa empuk.


“Sofa terlalu sempit berdua,Pergi ke kamarku saja yuk.” kata Kim thian.


"Kursi ini sangat nyaman sekali,aku sekali sekali tidur disini ya?" ,pinta Ling.


"Baik lah,selamat tidur ya" ,sambil mencium pipinya.


“ selamat malam.” Ling bisa merasakan telinga nya masih sedikit panas. Dia menutupinya dan dengan cepat meringkuk di sofa dengan rubah di sisi nya.


Kim thian berjalan masuk ke kamar dan menutup pintu nya.


Meskipun Ling sudah membuka pintu dengan sangat hati-hati, gerakan kecil itu masih membangun kan pemuda yang berbaring di tempat tidur.


Kim thian berbaring di tempat tidur Springbad tanpa bergerak saat mata nya yang gelap menatap gadis yang menyelinap masuk melalui celah pintu.


Dia masih mengenakan baju tidur bulu longgar. Rambutnya yang lembut dan panjang menutupi bahunya, dan dia terlihat sangat patuh.


“Kenapa kamu tidak tidur?” Dia bertanya tiba-tiba tepat saat Ling hendak berjalan ke tempat tidur.


Ling tidak menyangka dia akan berbicara. Dia sangat terkejut dan ketakutan oleh suara yang tiba-tiba itu sehingga tubuhnya tampak gemetar.


“Saya mengalami mimpi buruk. Saya sedikit takut, dan sekarang saya tidak bisa tidur.” Nada suaranya menyedihkan.


Dia diam-diam membuat ruang untuknya. Setelah Ling berbaring, dia menarik selimut ke atas mereka.

__ADS_1


Mencium aroma harum yang berasal dari tubuh nya, Kim thian mengangguk puas dan menutup matanya sambil memeluk istri nya, sedangkan istri nya memeluk rubah.


__ADS_2