
Oughhh...!” Tiba-tiba Lin Lin menjerit, tubuhnya terguling masuk ke dalam jurang!
“Enci Lin...!” Lan lan menjerit.
Cepat dia menjatuhkan diri menelungkup, kemudian merangkak mendekati jurang yang hanya kelihatan
menghitam di dalam gelap.
Dapat dibayangkan, betapa gelisah hatinya. Sang puteri terjerumus ke dalam
jurang yang gelap!
“Enci Lin ..!” Dia berteriak ke bawah, ke arah sumur menghitam yang menganga di depannya. Sampai
lama tidak ada jawaban kecuali gema suaranya sendiri.
Akan tetapi selagi dia hendak memanggil lagi,
terdengar suara lemah dari bawah.
“Adik Lan...!”
Jantung Lan lan berdebar girang, akan tetapi bulu tengkuknya meremang juga. Terjerumus ke dalam
jurang segelap itu, benar-benarkah sang puteri masih hidup dan selamat?
Jangan-jangan yang memanggil
dirinya tadi adalah... arwahnya! Lan lan menggunakan tangan kiri mengusap tengkuknya yang
meremang,
lalu menjulurkan tubuh atasnya ke dalam sambil berteriak lagi, “Enci Lin .. di mana engkau...?”
“Aku di sini... aku selamat, Lin Lin . Untung ada pohon di sini yang menahan tubuhku. Tidak jauh, aku
dapat melihatmu dari sini, mungkin kau tidak dapat melihat karena di bawah gelap.
Lekas kau cari tali, tak
perlu panjang kurasa sepuluh kaki cukuplah...
aku dapat memanjat ke atas melalui tali...”
Girang sekali rasa hati Ceng Ceng.
Sekarang dia dapat menangkap suara puteri itu dan memang tidak jauh
di bawah.
Sepuluh kaki? “Enci, hanya sepuluh kaki, mengapa kau tidak meloncat saja?”
“Ah, tidak mungkin.
Pohon ini kecil, jika dipakai landasan meloncat mungkin tidak kuat.
Pula, begini gelap,
bagaimana aku dapat meloncat dengan tepat ke atas? Lekas cari tali...”
Lan lan bingung lagi. Ke mana harus mencari tali di dalam gelap seperti itu, apa lagi di dalam hutan?
Akhirnya dia mendapat akal baik.
Tanpa ragu-ragu lagi ditanggalkannya semua pakaiannya setelah dia
mengeluarkan perhiasan dan uang perak dan emas ke atas tanah.
Ditanggalkannya bajunya, celananya,
baju dalam dan ****** *****.
Kim Thian kaget melihat gadis ini telanjang didepan nya, namun dia memuji kecerdikan nya.
Tadi Kim Thian ingin menolong Lin Lin,tapi karena ada pohon yang dapat menahan tubuh Lin lin,dia diam saja.
Seluruh pakaiannya ditanggalkan hingga dia menjadi telanjang bulat sama sekali! Lalu, sambil merabaraba, dia sambung-sambungkan semua pakaian itu setelah digulungnya hingga merupakan gulungan kain
yang bersambung-sambung, yang kemudian, dengan tubuh telanjang bulat, dia bertiarap di tepi jurang,
menggulung-gulungkan kain itu sambil berteriak, “Enci Lin ... ini talinya...!”
“Ke sini, Lan Lan. Di sebelah sini...!” Terdengar jawaban dari bawah dan Lan lan mengulur tali ke arah suara itu.
Tak lama kemudian tali menegang, telah dapat terpegang oleh Lin Lin.
“Eh, dari mana kau memperoleh tali kain ini...?”
“Naiklah, enci. Ujung sini sudah kupegang erat. Hati-hati...“
Lan lan mengerahkan tenaganya menahan ketika Lin Lin mulai memanjat naik.
Tak lama kemudian, puteri itu sudah meloncat ke atas tanah.
Dia menubruk Lan lan dan keduanya saling
berpelukan dan menangis!
Menangis karena girang dan bersyukur bahwa Lin Lin selamat dari bahaya
maut yang mengerikan itu.
“Heiiiii...! Kau... kau... telanjang bulat...!” Tiba-tiba Lin Lin berseru kaget dan heran sambil meraba raba tubuh Lan lan .
Lan lan menggeliat kegelian dan memegang tangan Lin Lin .
”Itulah tali yang memancingmu keluar jurang, enci!”
Lin Lin tertawa, dan keduanya tertawa-tawa gembira ketika Lan lan mulai memakai lagi
pakaiannya yang tadi telah dipergunakan untuk menyelamatkan nyawa enci nya.
Kini dia merasa tubuhnya panas dingin kalau membayangkan betapa akan jadinya kalau hal itu terjadi di siang hari dan
kebetulan ada orang yang melihat dia bertelanjang bulat seperti seorang bayi tadi!
“Mari kita mencari tempat untuk beristirahat, enci. Malam terlalu gelap.
Melanjutkan perjalanan berbahaya
sekali, apa lagi kita sudah memasuki hutan di pegunungan.
Masih untung Thian melindungimu ketika kau
terjerumus tadi. Kalau tidak ada pohon itu, apa jadinya?”
“Ahhh, paling-paling mati, adikku! Dan agaknya hal itu jauh lebih baik dari pada jatuh ke tangan kepala rampok.”
__ADS_1
“Jangan putus asa, enci. Aku akan melindungimu dengan seluruh jiwa ragaku “
Mereka melanjutkan perjalanan, dan sekarang dengan sangat hati-hati.
Setelah mereka mendapatkan
sebuah tempat yang dianggap cukup menyenangkan, yaitu di bawah satu pohon yang diapit oleh batu-batu
gunung yang besar, keduanya berhenti dan duduk beristirahat di atas rumput, bersandar kepada batu gunung.
Mereka berusaha untuk melepaskan lelah dan beristirahat secukupnya.
“Tidurlah, enci Lin , biarlah aku menjaga di sini.”
“Hemm, dinginnya bukan main. Mana bisa tidur? Bagaimana kalau kita membuat api unggun?”
“Ahhh, berbahaya, enci. Api unggun itu akan menarik perhatian orang, dan pula dapat kelihatan dari tempat
jauh.”
Tubuh mereka memang dapat beristirahat, akan tetapi hati mereka selalu tegang dan siap siaga
menghadapi segala bahaya yang mungkin datang menimpa. Malam itu gelap bukan main, agaknya
bintang-bintang di langit dihalangi awan hitam.
Dalam keadaan segelap itu, di dalam hutan yang asing, apa lagi setelah mengalami hal-hal yang
mengerikan, kedua orang dara itu tentu saja merasa khawatir dan gelisah. Mereka duduk berhimpit an
bersandarkan batu, mata mencoba menembus kegelapan malam dan memandang ke kanan kiri, telinga
mereka dicurahkan untuk mendengar apa yang tak dapat dilihat mata.
Mereka selalu merasa seolah-olah diikuti oleh sesuatu, entah manusia, binatang atau setan! Bahkan ketika
sedang duduk di tempat itu, mereka merasa ada mata yang memandang mereka, ada sesuatu yang
memperhatikan mereka! Dapat dibayangkan betapa ngeri rasa hati mereka. Syanti Dewi adalah seorang
puteri yang selama hidupnya belum pernah melakukan perjalanan seorang diri seperti itu, apa lagi malammalam berkeliaran di dalam hutan gelap!
Ada pun Kan lan, biar pun ia seorang dara perkasa yang sejak kecilnya digembleng oleh kakeknya,
namun perjalanan seperti ini pun baru pertama kali dia alami bersama Lan lan itu.
Mereka makin berhimpitan, dan makin siap dengan jantung berdebar tegang sekali ketika di dalam
kegelapan malam pekat itu mereka seperti mendengar suara-suara yang aneh. Beberapa kali mereka
mendengar suara gerengan dari tempat agak jauh, suara lolong anjing, dan lapat-lapat seperti ada orang
bernyanyi! Mula-mula suara aneh itu seperti lewat terbawa angin lalu, akan tetapi kadang-kadang
terdengar dekat sekali, bahkan mereka seperti mendengar suara langkah kaki orang di sekeliling mereka!
Tentu saja semalam suntuk mereka tidak mampu tidur sama sekali. Dengan tinju terkepal kedua orang
dara itu duduk bersandar batu, seluruh urat syaraf mereka menegang karena mereka menduga bahwa
sewaktu-waktu tentu akan muncul musuh mereka. Mata dan telinga mereka siap dengan penuh perhatian
meneliti keadaan di depan, kanan dan kiri karena mereka tidak mengkhawatirkan musuh akan datang
menyerang mereka dari belakang yang terlindung oleh batu gunung yang besar dan tinggi. Akan tetapi,
Setelah sinar matahari pagi mulai mengusir embun dan kegelapan, keduanya bangkit berdiri. “Hayo kita
tinggalkan tempat yang menyeramkan ini, enci Lin ,” kata Lan lan , lega bahwa malam itu dapat
mereka lewatkan dengan selamat.
“Suara apakah semalam adikku ? Menyeramkan sekali!”
“Entahlah, mungkin kita salah memilih tempat. Mungkin di sini sebuah perkampungan siluman yang tentu
saja tidak tampak.”
Lin Lin segera bergidik, memegang tangan adik nya dan bergegas mereka melanjutkan
perjalanan menuju ke utara meninggalkan tempat menyeramkan itu. Tubuh mereka terasa letih dan
mengantuk, tetapi hati lega karena mereka dapat meninggalkan tempat itu.
“Haii... banyak bangkai anjing di sini...!” Tiba-tiba Lan lan berseru heran saat mereka keluar dari tempat
itu dan melihat belasan ekor anjing serigala telah menggeletak malang melintang dalam keadaan mati, ada
yang lehernya hampir putus, ada pula yang kepalanya pecah. Darah masih belum kering betul,
menunjukkan bahwa gerombolan serigala ini dibunuh orang semalam!
“Kalau begitu lolong anjing semalam bukanlah suara siluman, melainkan suara mereka ini!” bisik Lin Lin sambil menengok ke kanan kiri.
Juga Lan lan menoleh ke kanan kiri, depan belakang sambil memandang penuh selidik. “Heran sekali,
siapa yang membunuh mereka semalam? Aku mendengar suara orang, seperti orang bernyanyi...”
“Aku juga!” kata Lin Lin . Semalam ketika mendengar suara-suara itu, keduanya diam saja karena
merasa ngeri.
“Dan ada suara langkah-langkah kaki orang...”
“Benar, aku pun mendengarnya.”
“Hemmm, kalau begitu, kita masih terus dibayangi orang, enci.”
“Siapa dia gerangan?”
“Tidak peduli siapa, aku sama sekali tidak takut!” Lan lan menjadi penasaran dan sudah mencabut
sepasang pisau belatinya. Dengan mengangkat dadanya yang mulai membusung itu dia berteriak, “Heiii,
orang yang membayangi kami, hayo keluar kalau memang engkau seorang gagah! Kalau ada niat busuk,
mari kita bertanding sampai seribu jurus!”
Akan tetapi dara itu seperti menantang angin karena yang menjawabnya hanya bunyi angin berdesir yang
mempermainkan ujung-ujung ranting pohon. Setelah yakin bahwa di tempat itu tidak ada orang lain kecuali
mereka berdua, dua orang dara itu melanjutkan perjalanan ke utara. Akan tetapi, kembali mereka tertegun
ketika melihat bangkai dua ekor harimau yang besar juga.
Seperti juga gerombolan serigala tadi, dua ekor harimau itu belum lama dibunuh orang. Ketika Lan lan
__ADS_1
memeriksa, diam-diam dia terkejut dan kagum bukan main melihat bahwa dua ekor raja hutan itu mati
dengan kepala berlubang bekas tusukan jari tangan! Dapat dibayangkan betapa kuatnya orang itu, yang
membunuh dua ekor harimau itu hanya dengan jari tangan saja! Melihat kenyataan ini, hatinya agak jeri
juga dan dia tidak lagi mengulangi tantangannya di dekat bangkai gerombolan serigala tadi, tetapi cepat
mengajak Lin Lin melanjutkan perjalanan ke utara.
Pada tengah hari, tibalah mereka di tepi sebuah sungai! Girang hati mereka karena ternyata nasehat
penolong yang berpantun itu ternyata cocok! Mereka tidak mengenal daerah itu dan tidak tahu sungai
apakah itu, akan tetapi mereka tahu bahwa mereka sudah berada di daerah yang aman. Mereka harus
menyeberangi sungai itu dan melanjutkan perjalanan ke utara. Akan tetapi, tempat ini sunyi sekali. Sungai
itu mengalir tenang melalui hutan-hutan dan pegunungan.
Tanpa sepengetahuan mereka, dua dara itu telah tiba di kaki Pegunungan . Tentu saja lembah Sungai di pegunungan ini amat sunyi sehingga sukarlah bagi
mereka untuk mencari perahu agar dapat menyeberang. Tempat itu jauh sekali dari perkampungan
nelayan.
Akan tetapi, setelah mereka menyusuri sungai sampai jauh, dari jauh nampak sebuah perahu kecil di
pinggir sungai, sebuah perahu kosong! “Di sana ada perahu, adik Lan” Lin Lin berkata girang
sambil menuding ke depan.
Lan lan juga sudah melihatnya dan gadis ini memegang tangan kakak nya sambil berkata, “Enci
Lin , karena kita, terutama engkau, adalah orang-orang pelarian yang sedang dikejar-kejar musuh, maka
kurasa sebaiknya mulai saat ini engkau jangan menggunakan nama Lin Lin sebelum kita selamat di
kota raja Kerajaan Wu.”
Lin Lin mengangguk-angguk. “Engkau benar juga, adikku. Lalu nama apakah yang sebaiknya
kupergunakan?”
“Bagaimana jika namamu menjadi Sian Cu? She-nya boleh memakai she Lu.”
Sedang kan Kim Thian menyamar menjadi TUKANG PERAHU, dia selalu membawa perahu dan peralatan apa saja di dunia batin nya.
“Lu Sian Cu? Nama yang bagus sekali!” Lin Lin atau Sian Cu berkata girang.
“Dengan nama ini, kalau sekali waktu aku lupa dan menyebutmu enci Lin , biarlah disangka
menyebutmu Sian-ci (kakak Sian). Dan seperti engkau tahu, namaku adalah Lu lan . Kita berdua kini
mengaku sebagai gadis dari daerah perbatasan yang lari mengungsi ke timur.”
“Baiklah, adik... Lan, Ah, hampir aku menyebutmu lan lan yang bagiku terdengar lebih manis.”
“Nah, mari kita dekati perahu itu. Heran sekali, ke mana tukang perahunya?” Mereka melangkah lagi
mendekati perahu dan setelah tiba di dekat tempat di mana perahu itu tertambat di tepi sungai, tampak
seorang laki-laki sedang tidur di atas tanah, berbantal batu yang dilandasi kedua tangannya.
Laki-laki itu
tidur nyenyak, terdengar suara dengkurnya yang keras.
Kim Thian yang menyamar sebagai tukang perahu pura pura tidur lelap.
Ke dua gadis itu atau kini lebih baik disebut nama barunya yaitu Sian Cu, mendekati tukang
perahu yang sedang tertidur nyenyak itu dan memandang penuh perhatian. Dia seorang laki-laki bertubuh
sedang, cukup tegap dan tampak kuat karena agaknya biasa bekerja berat, pakaiannya bersih akan tetapi
telah terhias beberapa tambalan di dekat lutut dan siku, pakaian sederhana seorang petani atau nelayan,
semodel dengan yang dipakai dua orang gadis itu. Sukar ditaksir usia orang itu. Melihat bentuk mukanya,
dia kelihatan masih muda sekali, akan tetapi kumis dan jenggotnya yang hitam gemuk dan liar tak
terpelihara membuat muka itu kelihatan lebih tua. Model seorang nelayan bodoh yang sederhana dan
biasa hidup keras dan sukar!
Lan lan menggunakan ujung bajunya yang lebar untuk mengusap keringat dari dahi ke lehernya.
Rambutnya agak awut-awutan dan karena dia tidak memakai caping lagi, benda itu telah hancur ketika
dipakai melawan musuh yang lihai di malam hari yang lalu itu, mukanya yang putih halus dan cerah itu
agak coklat kemerahan oleh sinar matahari.
“Hei, tukang perahu...!” Lan lan berseru memanggil laki-laki yang sedang tertidur nyenyak itu.
Si tukang perahu tetap tidur mendengkur, sedikit pun tidak bergerak, juga dengkurnya tidak berubah, tanda
bahwa teriakan Lan lan itu sama sekali tidak mengganggu tidurnya.
“Paman tukang perahu...!” Lan lan berteriak lebih nyaring lagi.
Sekarang suara mendekur itu berubah agak perlahan, dan kumis liar di bawah hidung itu bergerak-gerak
lucu, akan tetapi kumis itu diam lagi dan dengkurnya kini menjadi bertambah keras! Lan lan yang
berwatak keras itu mulai jengkel hatinya.
“Heii, tukang perahu yang malas! Bangunlah...!” Dia berteriak nyaring dan mengomel, “Wah celaka,
bertemu seorang pemalas seperti kerbau!”
Tukang perahu itu menggerakkan kedua kakinya, menarik kedua tangan dari bawah kepala, mulutnya
komat-kamit akan tetapi kedua matanya masih terpejam dan terdengar dia bicara dengan suara ngelindur.
“...aduhh... siluman rase... ahhh... siluman ular...”
Dan dia lalu membalikkan tubuh, membelakangi dua orang dara itu, tidur mendengkur lagi lebih keras.
Lan lan membanting kaki kanannya, mukanya merah dan matanya terbelalak marah.
“Kurang ajar! Babi pemalas! Tidak bangun malah memaki-maki orang!”
“Sabarlah, Lan lan. Dia tidak memaki, dia sedang tidur dan tentu mimpi.”
“Biar pun sedang mimpi, jelas ia memaki kita. Dia menyebut siluman rase, siluman ular, bukankah itu
__ADS_1