LEGENDA PENDEKAR DUA DUNIA

LEGENDA PENDEKAR DUA DUNIA
33.BERTENGKAR DIPERAHU


__ADS_3

Wuuutttttt... dukkk!” Tubuh Lan lan terhuyung huyung hampir jatuh,ketika orang itu terpaksa menangkis tusukan tangannya yang datang secara bertubi tubi.


Akan tetapi hal itu justru membuat Lan lan makin marah dan dia menerjang lagi dan lagi.


“Adik Lan, jangan...!”


“Biarlah, Kak, . Dia kurang ajar sekali. Dia tentunya manusia busuk!” Dia meloncat dan mengirim pukulan


yang amat berbahaya karena dia menggunakan sepenuh tenaga nya.


Pukulan itu bersiut datang ke arah lambung tukang perahu, akan tetapi tiba-tiba tubuh tukang perahu


bergerak dan ternyata dia telah meloncati lewat bilik perahu ke bagian belakang perahu!


“Mau lari ke mana kau!” Lan lan mengejar, juga meloncati bilik itu dan dari atas dia sudah


mencengkeram dengan kedua tangannya.


Tapi si tukang perahu itu dengan tersenyum-senyum menyelinap ke bawah, menerobos melalui bilik


perahu, dikejar dan memutari tiang layar sambil tertawa-tawa. Sementara itu, semua pukulan dan


tendangan yang dilakukan oleh LAN LAN dengan kemarahan meluap-luap itu sama sekali tidak ada


hasilnya!


“Lan LAN ... tahan dulu...!” Lin Lin sibuk memegang tangan LAN LAN dan berusaha menahan gadis

__ADS_1


yang marah itu mengamuk.


“Kak, apakah kau tadi tidak mendengar omongan busuknya? Kalau aku tidak dapat memukul pecah


mulutnya, aku tidak akan puas!” Dia menarik lengannya secara tiba-tiba sehingga pegangan Lin Lin


terlepas dan kembali dia menendang sambil meloncat. Tendangan terbang yang berbahaya sekali,


mengarah tenggorokan si tukang perahu.


“Heiiittt... tendangan hebat!” Si tukang perahu mengelak sambil memuji dengan suara mengejek.


“Mampuslah...!” LAN LAN membalikkan tubuhnya saat tendangannya tidak mengenai sasaran, sambil


membalik, tubuhnya maju dan tangannya yang dikepal menghantam dada.


mengelak.


Dapat dibayangkan betapa jengkel hati LAN LAN . Perahu bergerak-gerak miring dan dia sudah


menyerang bertubi-tubi, namun tidak berhasil sama sekali. Biar pun kini dia maklum bahwa tukang perahu


itu ternyata lincah sekali, namun kemarahannya membuat dia tidak mengenal takut. Hatinya tidak akan terasa puas


sebelum dia berhasil merobohkan orang yang dibencinya itu.


“Adik Lan... ahhh, jangan! Lihat, perahu sudah miring... kita bisa celaka...!”

__ADS_1


Memang benar teriakan Lin Lin ini. Gerakan-gerakan dua orang yang berkejar-kejaran seperti tikus


dengan kucing ini membuat perahu kehilangan arah dan miring-miring.


“Ha-ha-ha, biarkanlah, nona Lin Lin . Kalau perahu terbalik, baru nona galak itu tahu rasa. Kau jangan


khawatir, tentu akan kutolong, tapi dia... biar kembung perutnya terisi penuh air, ha-ha-ha!”


“Jahanam busuk...!” LAN LAN hampir menangis dan kini dia mengeluarkan sepasang belatinya. “Engkau


harus mampus di tanganku!”


“Adik LAN ...!”


LAN lan yang sudah ‘mata gelap’ saking marahnya itu menyerang dengan dahsyat sekali, tidak peduli


akan perahu yang miring. Melihat datangnya dua sinar terang yang menyambarnya, tukang perahu secara


tiba-tiba merendahkan tubuh berjongkok dan tiba-tiba LAN LAN merasa kedua tangannya lemas karena


secara terduga dan tak tersangka sama sekali, dari bawah menyambar jari-jari tangan tukang perahu itu


memapaki gerakan tangannya dan siku tangannya telah ditotok sehingga tangannya yang lumpuh sperti kesetrum listrik,


tak mampu lagi memegang sepasang belatinya dan dengan gerakan kilat, sepasang senjatanya itu telah


dibuang ke dalam sungai oleh si tukang perahu. Sambil tertawa tukang perahu itu meloncat lagi melewati

__ADS_1


bilik dan berada di ujung perahu yang lain sambil menyeringai lebar.


__ADS_2