LEGENDA PENDEKAR DUA DUNIA

LEGENDA PENDEKAR DUA DUNIA
32.NAIK PERAHU


__ADS_3

Kini tukang perahu itu menghentikan suara dengkurnya, sepasang matanya bergerak-gerak lalu kelopak


matanya terbuka. Dua orang dara itu kaget melihat sepasang mata yang bersinar tajam sekali, tetapi


tukang perahu itu mengejapkan matanya beberapa kali seperti belum sadar benar.


“Paman, bangunlah. Kami hendak menyewa perahumu itu!” kata Lin Lin sambil menuding ke arah perahu.


Suaranya lunak dan halus dan memang puteri ini memiliki watak yang jauh lebih halus dari pada adik nya Lan lan yang keras hati dan jujur.


Tukang perahu itu mengeluh dan bangkit duduk, menggosok-gosok matanya dan ketika dia menurunkan


kedua tangan memandang dua orang gadis itu, tiba-tiba dia melompat berdiri dengan mata terbelalak,


Hemm, kau galak sekali, nona. Aku bilang bahwa kalian menyeberang ke sana dan melanjutkan


perjalanan mengungsi, berarti kalian mencari mati. Di seberang sana hanya terdapat hutan-hutan yang liar


dan tak terbatas luasnya, gurun-gurun pasir yang tak bertepi, dan pegunungan yang sukar sekali dilalui


manusia selain penuh dengan binatang-binatang buas dan siluman-siluman jahat! Dan kalian hendak


menyeberang ke sana? Eh-ehh...!” Dia lalu memandang tajam kepada dua orang gadis itu, pandang mata


penuh selidik. “Benar-benarkah... eh... kalian ini manusia, bukan siluman-siluman?”


“Mulut busuk!” Lan lan membentak marah, tidak membiarkan Lin Lin mencegahnya lagi karena dia


sudah marah bukan main. “Kalau kami berdua siluman, maka engkau adalah siluman babi !”


Tukang perahu itu melongo, kemudian tertawa. “Ha-ha-ha, kau pandai juga membadut, nona! Masa yang


begini dikatakan siluman babi!”


“Paman, harap jangan main-main. Kami berdua sudah melakukan perjalanan jauh yang amat melelahkan,


bahkan semalam kami tidak tidur sebentar pun. Sekarang kami ingin melanjutkan perjalanan. Terus terang


saja, kami berniat pergi ke Kota Raja “


Wahhhh...? Mimpikah aku? Ataukah benar-benar kalian dua orang gadis dusun ini hendak pergi ke kota


raja? Tahukah kalian berapa jauhnya kota raja itu? Kalian harus melalui sedikitnya enam propinsi dan


ratusan kota! Mengapa kalian dua orang gadis dusun di perbatasan hendak pergi ke tempat sejauh itu?”


“Kami berdua hanya ingin menyeberang, dan engkau begini cerewet! Tukang perahu macam apa sih


engkau ini?” Lan lan sudah membentak lagi.


Namun Lin Lin segera berkata, tidak memberi kesempatan kepada si tukang perahu untuk menanggapi


kegalakan Lan kan , “Kami mempunyai seorang bibi di sana. Paman, kalau benar di seberang


merupakan daerah yang amat berbahaya dan sukar dilalui maka kami harap kau suka menolong kami dan


memberi tahu jalan mana yang harus kami tempuh agar kami dapat sampai ke kota raja dengan selamat.”


Tukang perahu itu menggaruk-garuk belakang telinganya. “Terus terang saja, aku sendiri belum pernah


pergi ke kota raja. Akan tetapi menurut keterangan yang kuperoleh, jalan satu-satunya ke kota raja hanya


menggunakan jalan air, menurutkan aliran Sungai Besar sampai ke kota besar,


kemudian melalui jalan darat ke utara sampai Sungai lgi dan mengambil jalan air lagi menurutkan


aliran Sungai ke timur sampai ke kota besar lgi, baru menggunakan jalan darat ke utara


menuju ke kota raja. Akan tetapi letaknya amat jauh dan kiranya akan menggunakan waktu berbulan bulan!”


Lan lan sudah mengerutkan alisnya. Turun semangatnya mendengar keterangan yang


membentangkan kesukaran perjalan itu, akan tetapi Lin Lin berkata, “Terima kasih, paman. Engkau baik


sekali dan kami akan menggunakan petunjuk itu untuk melanjutkan perjalanan. Lalu bagaimana kita dapat


mencapai Sungai besar?”


“Dari tempat ini dapat berperahu mengikuti aliran sungai sampai ke dusun , dari sana terdapat


jalan menuju ke Sungai kecil, menyeberangi Sungai kecil dan melalui jalan darat ke


timur baru lah akan mencapai Sungai BESAR .”


“Ah, terima kasih. Kuharap paman sudi membawa kami ke dusun itu.”


“Hemmm...”


“Kami akan membayar sewanya, berapa saja yang kau minta, paman.”

__ADS_1


“Sikapmu halus dan baik sekali, nona. Siapakah namamu?”


“Namaku Lin lin, paman,” jawab Lin Lin sambil menunduk supaya tidak tampak perubahan air


mukanya.


“Baiklah, Lin Lin Aku suka mengantarkan engkau ke kota terdekat yang jaraknya cukup jauh dari sini, makan


waktu hampir sehari semalam. Akan tetapi dia itu siapa namanya?” Dia menuding kepada Lan lan .


Tentu saja Lan lan sudah marah memandang dengan mata mendelik, akan tetapi dia didahului oleh


Lin Lin .


“Dia adalah adikku, namanya Lan lan .”


“Aku hanya mau menyeberangkanmu ke kota terdekat , nona Lin Lin , bahkan tanpa dibayar apa pun. Tetapi


dia itu, hemm...Lan lan terlalu galak dan sikapnya tak menyenangkan, maka...”


“Cerewet! Kalau engkau tidak mau aku pun tidak membutuhkan bantuanmu, manusia sombong! Kalau aku


melemparmu ke dalam sungai dan membawa perahumu, kau mau bisa apa?”


“Adik Lan , jangan begitu...!” Lin Lin membujuk adik nya, lalu berkata kepada si tukang perahu.


“Paman, kau maafkan adikku yang masih kekanak-kanakan. Kalau aku pergi, dia pun harus ada di


sampingku. Harap kau suka memaafkan dan membawa kami berdua ke kota terdekat.”


Tukang perahu itu bersungut-sungut. “Baiklah, akan tetapi hanya dengan satu janji.”


“Janji apa?” Lin Lin bertanya dan Lan lan sudah siap, kalau si tukang perahu minta janji yang kurang


ajar, tentu akan dihantamnya dan dilemparkannya ke sungai!


Tukang perahu itu tertawa. “Nah, silakan naik ke perahu. Perahu ini kecil dan tentu saja kurang enak,


jangan nanti kalian menyalahkan aku.” Sambil berkata demikian, tukang perahu mengambil buntalannya


dan menaruhnya di kepala perahu agar ruangan tengah yang terlindung anyaman bambu itu dapat dipakai


oleh kedua orang gadis itu.


Mereka memasuki perahu dan meluncurlah perahu itu ke tengah sungai didayung oleh si tukang perahu


yang mulai dengan gayanya yang terang-terangan hendak menghukum Lan lan yang dianggapnya


ujung sana, masak nasi untuk kita bertiga. Aku akan memancing ikan untuk lauknya.”


Lan lan mendelik, akan tetapi jawilan jari tangan Lin Lin membuat dia tidak membantah dan


dengan bersungut-sungut dia mengerjakan perintah tukang perahu itu. Awas saja kau, pikirnya geram.


Nanti kalau kami tidak membutuhkan lagi perahumu, akan kutampar mukamu dan kucabuti kumis dan


jenggotmu. Biarlah sekarang dia mengalah. Melakukan pekerjaan yang diperintahkan seorang tukang


perahu miskin yang kurang ajar. Sialan!


Akan tetapi tukang perahu itu ternyata pandai sekali mengail. Sebentar saja dia telah mendapatkan dua


ekor ikan yang sebesar betis. Dia melontarkan ikan-ikan itu kepada Lan lan sambil berkata, “Bersihkan


ikan-ikan itu, beri bumbu. Garam dan lain-lain bumbu ada di poci sebelah kiri itu, dekat kakimu, lalu


panggang di atas arang membara. Awas, jangan sampai api menyala, nanti hangus dan tidak enak!”


Lagakmu, Lan lan memaki di dalam hatinya. Kau kira aku tidak tahu caranya masak dan memanggang


ikan? Akan tetapi karena dia dan kakaknya membutuhkan perahu itu, bukan hanya perahu itu akan tetapi


tukang perahunya karena mereka berdua tidak tahu bagaimana caranya mengemudikan perahu, dia


menahan kemarahannya dan mulai melakukan pekerjaan tanpa banyak mengeluarkan suara.


Lan lan adalah seorang dara yang sejak kecil digembleng ilmu silat oleh kakek nya. Wataknya keras,


pemberani dan di samping ini, juga harus diakui bahwa dia terlalu dimanja oleh kakek nya. Selama


tinggal bersama kakek nya yang merupakan seorang pendekar yang lumayan terkenal, dia diperlakukan dengan hormat


oleh semua orang. Terutama sekali dia adik Nya Lin Lin ,


dia makin dihormati. Tidak pernah ada orang yang berani memandang rendah kepadanya, karena


kedudukannya dan juga karena orang maklum akan ke pandaian nya. Akan tetapi sekarang, dia bukan saja


dipandang rendah, bahkan diperintah oleh si tukang perahu seperti seorang pelayan saja layaknya!

__ADS_1


Dapat dibayangkan betapa mendongkol dan mengkal rasa hatinya sehingga ketika mereka bertiga makan,


hanya si tukang perahu dan Lin Lin yang dapat menikmatinya sedangkan Lan lan tidak dapat


menikmati makanan itu karena hatinya mendongkol sekali. Sikap tukang perahu itu benar-benar


menggemaskan hatinya. Setiap gerak-geriknya seolah mengejeknya, setiap kata-katanya seakan


menyindirnya! Mulut yang cengar-cengir itu, dengan kumis yang bergerak-gerak, seperti selalu


mentertawakan padanya! Bedebah benar!


Akan tetapi, melihat sikap Lin Lin yang selalu bersabar ,Lin Lin dapat menahan kemarahannya dan


ditambah oleh kelelahan tubuhnya karena malam tadi sama sekali tidak tidur, malam hari itu dia dapat tidur


nyenyak bersama Lan lan. Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali suara tukang perahu itu sudah


berteriak-teriak membangunkan mereka.


“Nona Lan , bangun! Sudah siang!” teriaknya. Suaranya nyaring dan bukan hanya Lan lan yang


bangun, juga Lin Lin .


Ah, ternyata mereka dikepung oleh beberapa perahu.


Si tukang perahu mengambil kantung yang dibawa Lan lan , membuka untuk melihat isinya yang hanya uang tembaga, juga dia


memegang toya dan melihat-lihat benda itu seperti lagi menimbang-nimbang. Kemudian dia berkata, “Wah,


penawarannya masih jauh berkurang, sobat! Bagaimana kalau ditambah nyawamu?” Dia lalu melontarkan


kembali kantung uang dan toya.


Lan lan terkejut. Betapa beraninya si tukang perahu! Dan dia melihat betapa semua orang di beberapa


perahu itu merubung dan melihat toya dan kantung uang, seolah-olah ada sesuatu yang aneh pada kedua


benda itu. Terdengar teriakan lirih dari rombongan itu,


Si tukang perahu hanya tersenyum, lalu menggunakan dayungnya untuk meluncurkan perahunya lewat di


antara beberapa perahu yang telah minggir itu, melempar senyum mengejek ke arah mereka, dan kemudian


berkata ke dalam perahu, “Nona Lin Lin , keluarlah, tidak ada bahaya lagi sekarang.”


Lan lan langsung membanting panci terisi bubur panas. Dia meloncat bangun dan menudingkan


telunjuknya kepada si tukang perahu. “Keparat, mulutmu busuk sekali! Berani kau melemparkan kantungku? Phuahh, tidak tahu diri, tukang perahu jembel busuk!”


Si tukang perahu mengangkat hidungnya. “Hemm, gadis dusun yang galak! Lalu apa maumu, daripada kita dikepung dan dibunuh, kan lebih baik mengorbankan jantungmu yang hanya berisi beberapa keping uang tembaga.


, maka engkaulah yang untung dan aku yang rugi besar!”


“Jahanam...!” Lan lan tidak dapat menahan kemarahannya lagi. Dia telah menerjang untuk menampar


pipi orang itu. Biar kurontokkan giginya, pikirnya dengan marah.


“Wuuuttttt...!”


Tamparan yang dilakukan dengan cepat sekali dan disertai tenaga sakti yang kuat itu hanya mengenai


angin. Terkejutlah Lan lan karena tidak disangkanya sama sekali bahwa tukang perahu itu memiliki


gerakan sedemikian cepatnya, dapat mengelak dari tamparannya. Padahal tamparan itu dilakukan secara


tidak terduga dan cepat sekali sehingga jaranglah ada yang dapat mengelakkan begitu mudah! Dia menjadi


penasaran sekali dan menerjang lagi, kini tidak lagi menampar, melainkan memukul secara bertubi-tubi


dengan kedua tangannya!


“Wuuut-wuuut-wuuut-wuuutt...!”


Semua pukulannya adalah jurus-jurus pilihan dan disertai tenaga sakti yang amat kuat, namun


semuanya dapat dielakkan secara mudah oleh si tukang perahu, bahkan situkang perahu tidak pernah bergeser dari tempatnya ,hanya menggoyang kan badan nya ke kiri dan ke kanan, maka semua pukulan Lan lan luput terus.


“Adik Lan , jangan...!” Lin Lin berseru.


“Biar!” ,jawab Lan lan membantah dengan marah. “Dia kurang ajar, harus kupukul manusia jahanam ini!”


“Eh-eh-ehhh, beginikah engkau membalas budi orang?” Tukang perahu itu tersenyum sambil mengejek.


“Ditolong balasnya memukul? Ini namanya diberi air susu dibalas dengan air tuba! Benar-benar gadis galak


yang tidak mengenal budi!”


“Setan sungai kau!” Sekarang Lan lan menubruk maju, kakinya menendang dan tangannya menyusul

__ADS_1


dengan tusukan jari tangannya ke arah perut tukang perahu.


__ADS_2