
mengikuti kakek itu menyelinap di antara pohon-pohon gelap. Sang puteri menyerahkan segenggam
perhiasan berharga kepada gadis yang lebih muda yang sepertinya adik nya untuk membantu membawanya sebagai bekal.
Dengan perhiasan
di kantung baju yang lebar, dan pedang disembunyikan di bawah baju, mereka bergerak di bawah pohonpohon.
Sementara itu Kim Thian mengikuti dari atas pohon ke pohon,dia tertarik dengan kedua gadis ini.
Sang putri telah mendapatkan kembali pedangnya setelah dicabut dari perut penyerangnya tadi
dan dibersihkan darahnya pada pakaian korban.
Akan tetapi, di mana-mana mereka bertemu dengan pihak musuh dan beberapa kali terpaksa mereka
terpaksa membuka jalan darah dan merobohkan musuh untuk dapat melanjutkan usaha mereka melarikan
diri.
Namun, kakek itu sedapat mungkin menghindarkan diri dari pertempuran, memilih lowonganlowongan untuk keluar dari dalam hutan tanpa diketahui musuh.
Akhirnya, setelah matahari pagi tersembul di antara daun-daun pohon, mereka bertiga telah berhasil lolos
dan keluar dari dalam hutan di mana masih berlangsung perang yang amat hebat itu.
Suara pertempuran
masih terdengar jauh di luar hutan. Baru saja hati ketiga orang pelarian itu merasa lega karena dapat lolos,
dan memasuki sebuah hutan kecil di antara perbukitan yang hanya kadang-kadang saja menyelingi
gundukan perbukitan, tiba-tiba terdengar bentakan keras dan lima orang sudah berdiri di depan mereka
__ADS_1
dengan golok terhunus di tangan!
“Ha-ha-ha-ha, sudah kuduga tentu akan ada yang menyelinap ke sini! Eh, kakek tua, apakah kalian ini
anggota rombongan puteri... ehhhh! Kalian berdua ini begini tampan, persis perempuan...
heiiii, bukankah
kalian perempuan?” Seorang di antara mereka yang bertubuh tinggi besar bermuka hitam bermata lebar
menunjuk dengan goloknya ke arah muka kedua putri itu.
“Ahhhh, dia puteri itu! Tidak salah lagi! Aku pernah melihatnya, dia Puteri !” tiba-tiba terdengar
teriakan seorang tinggi kurus bermuka kuning. Mendengar ini, lima orang itu cepat maju mengurung.
“Ha-ha-ha-ha, benarkah itu, kawan? Kalau begitu, kita telah berhasil menjebak kakap dalam jaring kita! Haha-ha, tuan muda tentu akan memberikan hadiah banyak sekali kepada kita.
Tangkap dia!” teriak si muka
Si muka hitam dan si muka kuning sudah menggunakan golok mereka untuk menerjang kakek itu,
sedangkan tiga orang teman mereka menubruk kedua putri itu
“Plak-plak, dess!”
Tiga orang itu tersungkur karena kedua putri itu sudah memukul dan menendang dua orang, sedangkan
Si putri sendiri merobohkan seorang dengan sebuah tendangan kilat.
“Tranggg...! Cringgg...!”
Kakek itu berhasil menangkis dua batang golok lawan, biar pun dia terkejut sekali karena ketika dia
__ADS_1
menangkis, dia merasa betapa dua kali pedangnya tergetar hebat, tanda bahwa si muka hitam dan si muka
kuning itu memiliki tenaga dalam yang kuat sekali!
Melihat tiga orang temannya tersungkur dan meloncat kembali, si muka hitam tertawa.
“Ha-ha-ha, kiranya
memiliki kepandaian juga si puteri dan pelayannya...!”
“Mulut busuk! Aku bukan pelayan!” bentak yang lebih muda yang marah sekali dan dia sudah menghunus
pedangnya, demikian pula Sang putri..
“Ha-ha-ha-ha, tangkap mereka, jangan sampai mereka terluka. Sang Puteri boleh untuk tuan Muda, akan
tetapi si cantik liar itu untukku saja, ha-ha-ha!”
“Keparat!” si kakek sudah menggerakkan pedangnya menyerang dan dapat ditangkis oleh si muka hitam.
Segera terjadi pertandingan yang seru sekali antara si kakek dikeroyok dua orang yang ternyata
memiliki ilmu silat yang tangguh juga.
Tiga orang anak buah mereka itu sudah mencabut golok dan kini menyerang sang putri dan adik nya itu.
Akan tetapi karena mereka tidak berani melukai, sedangkan dua orang dara itu melawan mati-matian, tentu
saja tiga orang itu menjadi kewalahan, betapa pun lihai ilmu silat mereka.
ke dua gadis itu mulai mendesak
dengan pedangnya dan tiga puluh jurus kemudian, dia sudah merobohkan seorang pengeroyok dengan
__ADS_1
bacokan pedangnya yang hampir memisahkan kepala dari tubuh lawan itu!