
Dengan ber pakaian seperti dua orang petani sederhana, dua orang gadis itu terus
melarikan diri.
Mereka dengan sangat terpaksa melumuri pipi yang halus putih itu dengan lumpur untuk menyembunyi kan wajah
cantik mereka setelah memperoleh kenyataan bahwa penyamaran itu dapat diketahui oleh para
penghadang sehingga hampir saja mereka tertangkap.
Sukarlah bagi mereka untuk dapat meloloskan diri dari para perampok itu.
Puteri Lin Lin yang pernah mendengar tentang ini mengerti akan bahaya yang
mengancam mereka, maka dia selalu menganjurkan kepada lan lan untuk berhati-hati.
Pada suatu senja, pelarian mereka membawa mereka ke sebuah dusun.
Mereka menanti di luar dusun
sambil bersembunyi, dan setelah cuaca menjadi gelap, barulah mereka berani memasuki dusun itu.
Sedang kan Kim Thian yang selalu setia mengikuti mereka di atas pohon sambil memakan buah buahan hutan.
Bau masakan dan bumbu terbawa uap masakan yang sedap membuat mereka tidak menahan diri.
Telah beberapa hari lamanya mereka hanya makan daun-daun dan daging panggang tanpa bumbu.
Kini perut mereka terasa lapar sekali ketika hidung mereka mencium bau yang amat gurih dan sedap itu,
dan berindap-indap keduanya memasuki warung yang berada di pinggir dusun. Warung itu ternyata cukup
besar dan ketika keduanya masuk, di situ terdapat tujuh orang tamu yang pakaiannya agak kotor dan tujuh
orang ini semua membawa topi caping bundar lebar yang kini mereka taruh di atas meja.
Ketika dua orang gadis ini memasuki warung dengan muka kotor berlumpur dan muka tunduk,
mereka berhenti bicara, melirik sebentar akan tetapi melihat bahwa yang masuk hanyalah
dua orang petani
muda yang agaknya baru pulang dari sawah karena pakaian dan mukanya kotor, tujuh orang itu
melanjutkan pembicaraan mereka.
Mereka adalah orang-orang kasar dan jujur dan berani bicara keras
begitu melihat keadaan aman.
Lin Lin memesan makanan dan makan bersama lan lan tanpa bicara, akan tetapi mereka berdua
tertarik sekali oleh percakapan antara tujuh orang itu.
“Kabarnya sang puteri lenyap...”
Kata-kata ini yang membuat mereka terkejut dan memaksa mereka mendengarkan dengan penuh
perhatian.
“Ahhh, kasihan sekali kalau begitu. Dan bagaimana dengan rombongan utusan kaisar?”
“Entahlah, kabar nya banyak yang tewas.
__ADS_1
Akan tetapi pasukan penjemput dari kerajaan Wu lalu tiba dan
musuh dapat dihalau pergi.
Hanya celaka nya, sang puteri tidak ada lagi...”
“Aihh, jangan-jangan dia tertawan musuh”
“Mungkin sekali...”
“Aduh kasihan!”
“Kalau saja kita dapat menolong nya...”
“Wahh, orang-orang pedagang garam macam kita ini bagaimana bisa menolongnya?
Untuk memasuki kota
Peking saja kita tentu harus mengeluarkan banyak biaya untuk menyuap penjaga, baru kita akan boleh
masuk.”
“Memang celaka, dan hanya di kota itu garam kita akan laku dengan harga tinggi.”
Dua putri ini saling pandang dan sinar mata mereka berseri.
Mereka juga harus melalui
kota Peking . Dan men dengar kan percakapan antara pedagang pedagang
garam itu,
agak nya mereka itu tak dapat di sangsikan lagi adalah orang-orang yang berpihak kepada
Kerajaan Guang dan Kerajaan Wu.
dan sedang ber jalan sambil ber cakap-cakap di lorong dusun yang gelap dan sunyi,
tiba-tiba berkelebat
bayangan dua orang dan tahu-tahu dua orang ‘pemuda’ yang tadi makan di warung telah berdiri di depan mereka.
“Para paman harap berhenti sebentar!” lan lan berkata.
Mendengar suara wanita, karena lan lan menggunakan suara asli nya, tujuh orang itu tertegun dan
mencoba untuk melihat lebih jelas lagi di tempat gelap itu.
“Kami sudah mendengar percakapan paman bertujuh dan kami percaya bahwa paman sekalian akan suka
membantu kami untuk melewati kota Peking kata pula lan lan .
“Apa... apa maksudmu... tuan... eh, nona...?” seorang di antara mereka yang berkumis tebal ber tanya
bingung karena dia masih ragu-ragu.
Melihat pakaian nya, dua orang itu adalah pria, akan tetapi suaranya
seperti wanita!
“Paman, lihatlah baik-baik. Aku adalah seorang wanita, dan dia ini bukan lain adalah Puteri Lin Lin ,
dari Kerajaan Guang yang kalian bicarakan tadi.”
__ADS_1
Tujuh orang itu terkejut bukan main.
Cepat mereka memandang ke arah Lin Lin yang membuka caping
dan tiba-tiba mereka menjatuhkan diri berlutut di depan puteri itu!
“Maafkan kami... hamba tidak mengetahui...”
Lin Lin cepat berkata, “Harap paman semua bangkit berdiri.
Jika sampai kelihatan orang tentu dicurigai.”
Mendengar ini, mereka cepat bangkit berdiri.
Mereka adalah pedagang-pedagang garam yang berhutang
budi kepada Pemerintah Guang ,karena mereka diijin kan untuk mengangkut garam dari Guang yang
mereka jual di daerah pedalaman.
Dari Pemerintah Guang mereka tidak pernah mengalami gangguan, maka tentu saja mereka merasa
terlindung dan di dalam hati mereka ber simpati kepada kerajaan ini dan sebalik nya,
mereka sering kali mengalami gangguan dari para anak buah para perampok, maka tentu saja mereka sangat membenci para perampok ini.
“Paman, tolonglah kami agar dapat lewat kota Peking. Kami hendak melarikan diri ke ibukota Kerajaan Wu,” kata putri lin Lin.
“Tentu saja hamba senang sekali kalau dapat menolong paduka berdua.
Marilah paduka berdua ikut bersama
hamba ke tempat peristirahatan rombongan pedagang garam di kuil tua.”
Kedua gadis itu mengikuti mereka dan ketika mereka tiba di dalam kuil tua yang kini diterangi
dengan api-api penerangan lilin, tampak oleh mereka bahwa jumlah rombongan pedagang garam itu ada
tujuh belas orang!
Ketua mereka adalah si kumis tebal tadi, maka begitu mendengar bahwa Sang Puteri Guang yang mereka dengar diboyong ke Shanghai dan di tengah jalan rombongan puteri itu diserbu
gerombolan pemberontak,
mereka segera berlutut menghaturkan selamat dan dengan senang hati mereka
ingin membantu dan melindungi puteri ini melewati Peking dengan selamat.
“Kota terakhir di bawah kekuasaan perampok ini terjaga kuat sekali,” kata si kumis tebal.
“Jalan satu-satunya bagi sang puteri agar dapat lolos dengan selamat hanya dengan menyamar menjadi seorang
di antara kita, menyamar sebagai pedagang garam dan bersama rombongan kita memikul garam
memasuki kota.”
Semua orang menyatakan setuju dan dengan tergesa-gesa dibuatlah dua stel pakaian pedagang garam
untuk dipakai ke dua Putri ini,, juga mereka diberi masing-masing sebuah caping lebar bundar
itu beserta sebuah pikulan terisi dua keranjang garam.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali
__ADS_1
rombongan itu berangkat meninggalkan dusun tanpa membangkitkan kecurigaan penduduk yang tidak
tahu bahwa rombongan tujuh belas orang itu kini telah menjadi sembilan belas!