
Perjalanan dari dusun itu menuju ke kota Peking memakan waktu sehari. Di sepanjang perjalanan, para
pedagang garam itu tentu saja membebaskan dua orang dara itu dari memikul garam dan hanya apa bila
mereka melewati dusun-dusun saja kedua orang dara itu harus memikul garam.
Menjelang sore, tibalah rombongan ini di depan pintu gerbang kota Peking. Semua orang menjadi tegang
hatinya ketika mereka tiba di pintu gerbang itu dan terpaksa harus berhenti karena akan dilakukan
pemeriksaan oleh para penjaga pintu gerbang yang dikepalai oleh seorang perwira komandan yang tinggi
besar, galak dan brewok. Kebetulan sekali ketika rombongan pedagang garam yang berjumlah sembilan
belas orang ini tiba, di pintu gerbang itu tiba pula rombongan pedagang garam dari lain daerah yang
jumlahnya dua puluh orang lebih sehingga keadaan di situ menjadi ramai sekali.
“Haiiii!” Sang komandan yang melompat ke atas sebuah meja berteriak dengan tangan di pinggang,
lagaknya keras dan angkuh sekali. “Kalian harus masuk seorang demi seorang! Setiap keranjang akan
diperiksa, juga setiap orang akan diperiksa baik-baik karena dikhawatirkan ada penyelundup! Kalau kami
dapat menangkap seorang saja penyelundup, kalian semua akan dihukum berat!”
Si kumis tebal sudah menyelinap dan mendekati komandan itu, berbisik perlahan sambil menyerahkan
sebuah kantung berisi uang. “Maafkan, tai-ciangkun, kami tergesa-gesa sekali. Lihat, ada rombongan
pedagang garam lain, kalau kami kalah dulu, tentu akan jatuh harga garam. Ini sedikit tanda terima kasih
untuk tai-ciangkun dan kalau kami sudah menjual habis garam kami, tentu akan ditambah lagi...“
Perwira komandan itu menyambar kantung uang dan berkata kereng, “Hemm... kalian akan kuperbolehkan
lewat lebih dahulu, tetapi tetap harus diperiksa! Keadaan sekarang gawat!”
Si kumis tebal telah mundur dan wajahnya pucat. Kalau sampai diperiksa dan ketahuan bahwa dua orang
di antara mereka adalah wanita, tentu akan terjadi keributan, apa lagi kalau sampai sang puteri dikenal!
Pada saat itu, terjadi keributan di bagian rombongan pedagang garam yang dua puluh orang lebih itu.
Seorang pedagang garam yang mukanya hitam dan bopeng bekas penyakit cacar, berteriak-teriak dan
mencak-mencak, “Hayaaa... celaka... siapa yang menaruh ular-ular ini di keranjangku...? Tentu pedagang
garam dari barat, keparat...!”
Terjadilah gaduh dan ribut karena memang mendadak muncul banyak sekali ular-ular besar kecil di tempat
itu! Lan lan yang bermata tajam tadi melihat betapa pedagang garam yang bermuka hitam bopeng itu
telah mengeluarkan bungkusan kain kuning dari dalam keranjang dan agaknya ular-ular itu keluar dari
bungkusan itulah! Dan selagi lan lan termenung, tiba-tiba dia melihat betapa kaki si bopeng
menendang seekor ular kecil. Ular itu melayang ke atas dan... mengenai dada komandan yang berdiri di
atas meja. Tidak ada orang yang melihat gerakan ini kecuali lan lan. Si komandan berteriak-teriak dan
mengebut-ngebutkan pakaiannya.
__ADS_1
“Basmi semua ular...!” teriaknya kepada para anak buahnya. “Hayo kalian segera maju, jangan memenuhi
tempat ini!” Teriaknya kepada rombongan si kumis tebal.
Menggunakan kesempatan selagi keadaan kacau balau itu, Ke dua putri itu sudah
memanggul pikulan masing-masing dan dengan desakan dari si kumis tebal mereka cepat memikul
keranjang garam memasuki pintu gerbang.
“Haiii, diperiksa dulu... eihhh, celaka...!” Komandan yang berteriak itu kembali terkejut karena ada seekor
ular hijau yang melayang dan mengenai mukanya, hampir menggigit hidungnya!
ke dua putri itu dapat lolos dengan cepat, kemudian dilindungi oleh para temannya, kedua
orang dara itu melepaskan pikulan dan tergesa-gesa berjalan memasuki kota Peking, Karena dia tidak
memikul garam, maka setelah keadaan gaduh di pintu gerbang itu mereda dan semua pedagang diperiksa,
dalam rombongan itu tidak lagi terdapat dua orang wanita ini dan mereka tidak dipanggil karena tidak ada
penjaga yang menyangka bahwa dua orang yang berjalan pergi tanpa membawa pikulan itu adalah
anggota rombongan pedagang garam. Apa lagi karena semua penjaga tadi sibuk membunuhi ular-ular itu
sehingga perhatian mereka terpecah.
Semalam suntuk itu kedua orang dara itu melarikan diri. Mereka maklum bahwa kalau mereka tidak cepatcepat meninggalkan kota Pe king ,keadaan mereka masih terancam bahaya besar, sungguh pun sampai
saat itu tidak ada yang mencurigai mereka.
Dengan mudah mereka telah lolos dari Peking keluar dari pintu sebelah utara dan menempuh perjalanan
di sepanjang malam yang gelap tanpa arah tujuan tertentu kecuali hanya satu keinginan, yaitu melarikan
hanya tahu bahwa mereka melarikan diri menuju ke timur. Dengan melihat letaknya bintang, mereka dapat
mengarahkan kaki menuju ke timur.
Pada kesokan harinya, mereka beristirahat sebentar di sebuah hutan, makan roti kering yang mereka bawa
sebagai bekal dari pemberian para pedagang garam, minum air jernih yang mereka dapatkan di hutan itu,
lalu berbaring di atas rumput melepaskan lelah.
“Aihhhhh... bukan main nyamannya rebah begini...,” Sang Puteri mengeluh nikmat. “Dan roti
kering tadi, betapa lezatnya, air jernih itu juga menyegarkan sekali. Belum pernah selama hidupku aku
dapat menlkmati makan-minum dan tiduran seperti ini!”
Mendengar ini, Lan lan tertawa bebas sampai kelihatan deretan gigi dan lidahnya. Karena di situ tidak
ada orang lain, maka dia tertawa sebebasnya. Mendengar ini, Lin Lin memandang heran. ”Eh, kau
kenapa, adik lan? Mengapa tertawa segembira itu?”
“Aku geli mendengarkan ucapanmu tadi, dan mungkin aku tertawa karena merasa lega dan
gembira telah terbebas dari bahaya. Ucapanmu tadi membuat aku teringat akan dongeng tentang raja yang
tidak suka makan dan tidak dapat tidur....”
__ADS_1
“Raja itu meninggalkan istana karena merasa jengkel, dan di tengah hutan dia melihat seorang petani
mencangkul tanah lalu makan dengan lahapnya. Raja lalu membantu si petani, mencangkul tanah untuk
mendapatkan semangkok nasi dan lauknya yang hanya terdiri dari ikan asin, dan minumnya yang hanya
terdiri dari air jernih. Setelah dia selesai bekerja keras sampai tangannya lecet-lecet dan tubuhnya lelah
bukan main, dia memperoleh makan minum itu dan menikmatinya seperti belum pernah dirasakannya
selama hidupnya! Persis seperti keadaanmu ini! Engkau adalah seorang puteri raja yang tiap hari makan
hidangan yang serba mahal, sekarang makan roti kering minum air jernih, tidurmu bukan di dalam kamar
indah dan berlandaskan kasur tebal melainkan di hutan, di atas rumput, namun engkau merasa nikmat
sekali! Hi-hik, bukankah lucu ini?”
Lin Lin tertawa juga. “Kau samakan aku dengan raja di dalam dongeng? Jangan begitu, ah! Dia sih
pemalas, kalau aku kan tidak! Tetapi aku pun heran sekali mengapa aku dapat menikmati ini semua.
Pengalaman ini telah membuka mataku, adik ku, bahwa yang dikatakan enak atau tidak enak,
menyenangkan atau tidak menyenangkan, bahagia atau tidak bahagia , bersukacita atau berduka, sama sekali bukanlah bergantung kepada keadaan di luar,
melainkan kepada hati sendiri,dari suasana hati kita sendiri, dari pikiran kita sendiri, dari diri kita sendiri! Kepada hati dan kepada tubuh, pendeknya bergantung kepada diri
sendiri apakah mau bersuka cita atau kah berduka, jika hatinya ingin bersukacita ,maka bersukacitalah kita, lain bila kita berpikir yang sedih sedih terus, begini kek, begitu kek yang akhir nya membuat kita bersedih terus, kecuali kita mau membuang kesedihan kita dan mau menyisakan sukacita saja.
"Terkejutlah Kim Thian mendengar kata kata putri ini, ia merasa kagum dengan pikirannya yang dewasa. "
“Lezatnya makanan bukan berada di mangkok, baik buruknya sesuatu bukan ada di depan kita, melainkan
di dalam diri kita sendiri. Pikiranku sekarang sedang lega karena lepas dari bencana, tubuh lelah dan perut
lapar. Tentu saja segala makanan dan minuman terasa lezat sekali! Rumput ini jauh lebih nikmat ditiduri
dari pada segala macam kasur bulu karena sekarang tubuhku sedang lelah sekali. Jadi kalau begitu...
pernyataan bahwa ini enak itu tak enak, ini baik itu tak baik, bukan kenyataan sebenarnya, melainkan
pendapat hati yang dipengaruhi oleh keadaan waktu itu.” lanjut putri Lin lin.
“Hemm... lalu bagaimana?” Lan lan mengerutkan alisnya yang berbentuk bagus, matanya memandang
dengan sinar gembira karena dia mulai dapat menangkap yang dimaksudkan dalam ucapan kakak nya itu.
“Kalau begitu... sejatinya tidak ada yang baik atau buruk di dunia ini. Kita sendiri yang menentukan! Dan...
ahh, aku jadi bingung sendiri menghadapi kenyataan yang jelas ini! Biasanya kita selalu dipermainkan oleh
pikiran sendiri yang suka mengada-ada saja!”
Lan lan sudah tidak dapat menjawab karena dia hampir tidak dapat menahan kantuknya, hanya
mengangguk lemah dan menutupi mulut dengan jari tangan menahan mulut yang ingin menguap saja. Tak
lama kemudian, kedua orang dara itu telah tertidur pulas di bawah pohon, berlandaskan rumput yang
lunak. Tubuh yang lelah menuntut istirahat setelah perut yang lapar diisi kenyang.
Matahari telah naik tinggi ketika kedua orang dara itu terbangun dan mereka menjadi terkejut melihat
__ADS_1
bahwa hari telah siang. Mula-mula Lin Lin yang terbangun lebih dulu. Dia terbangun seperti orang
kaget dan bangkit duduk, menggosok kedua matanya dan mengeluh lirih. “Uuhhh, kiranya hanya mimpi...,