
Terdengar teriakan keras.
Sigadis muda melihat kakeknya juga telah berhasil merobohkan si muka kuning
yang terbabat hampir putus pinggangnya,
akan tetapi betapa kagetnya ketika dia melihat bahwa kakeknya
juga terluka parah pada pundak kirinya sehingga bajunya penuh darah.
“Kongkong...!” Teriaknya sambil menangkis dua batang golok yang menyerangnya.
", jaga sang puteri...!” kakek itu berteriak.
“Wuuuutttt... singgg...!” Golok itu menjadi sinar terang meluncur cepat sekali dari atas membacok ke arah
kepala si kakek.
Si muka hitam ternyata marah sekali melihat saudaranya tewas dan kini dia
mengerahkan tenaga untuk membalas dendam.
“Tringggg... augghhh...!” Tubuh kakek itu tersungkur dan dia bergulingan.
Kim Thian menonton semua itu dari atas pohon,dia belum turun tangan sebab dia melihat kedua gadis itu tidak terancam bahaya.
Ketika menangkis tadi, rasa nyeri menusuk pundak kirinya yang terluka sehingga dia kehilangan tenaga
dan hanya dengan jalan menjatuhkan diri saja dia terbebas dari bacokan golok.
Si muka hitam mengejar
dan menghujankan bacokan.
Namun kakek itu dengan sigapnya bergulingan sambil mengangkat pedang
beberapa kali menangkis, lalu dengan teriakan keras dia sudah meloncat bangun dan segera terjadi
pertandingan mati-matian antara kedua orang itu.
“Kakek terluka... bantulah dia, adik ku!” Sang putri berkata sambil pedangnya membacok ke arah
lawan yang dapat ditangkis oleh lawan itu.
“Tidak, kita bereskan dulu dua ekor anjing ini!” gadis muda itu berseru.
Dia mengerti bahwa puteri itu bukanlah lawan kedua orang yang cukup lihai ini, karena sang putri tidak berbakat didalam berlatih ilmu silat dan juga sifat malasnya sehingga kalah jauh dari dia, maka ia cepat memutar
pedangnya.
Kemarahan melihat kakeknya terluka menambah semangat dara ini.
Dengan putaran pedang
secepat kitiran, akhirnya ia berhasil menendang roboh seorang lawan.
Tendangan dengan ujung sepatu
yang tepat mengenai sambungan lutut sehingga orang itu berlutut tanpa mampu berdiri kembali.
“Singggg...!” Pedang di tangan Sang putri menyambar.
“Tranggg...!”
Orang yang sudah berlutut itu berusaha menangkis, namun karena kedudukannya yang tidak baik,
tangkisannya membuat goloknya terpental dan terlempar.
__ADS_1
“Wuuttt...! ******!” pedang sigadis muda sudah menyambar dan merobek tenggorokannya.
Orang itu mengeluarkan suara seperti babi disembelih dan roboh terjengkang, darah muncrat-muncrat dari
lehernya yang coba ditutupinya dengan telapak tangan.
Melihat ini, Sang putri me loncat mundur dan
membuang muka dengan penuh kengerian.
Hampir dia muntah-muntah menyaksikan pemandangan yang
mengerikan hatinya ini.
Si gadis yang lebih muda mengamuk dan menekan lawan yang tinggal seorang lagi itu.
Orang itu kini menjadi panik
karena kedua orang kawannya telah tewas. Setelah menangkis tiga kali dan selalu tangannya tergetar
sehingga goloknya hampir terlepas, dia berteriak, meloncat ke belakang hendak lari.
“Robohlah...!” Teriak gadis itu Dengan gerakan indah dia melontarkan pedangnya ke depan.
Pedang itu
meluncur seperti anak panah dan menancap di punggung orang itu, menembus sampai ke dada.
Dengan
teriakan keras orang itu roboh terguling.
“Kongkong...!” Si gadis muda dan kakaknya menjerit ketika melihat kakeknya terhuyung, lalu kakek itu roboh di atas mayat si
muka hitam yang baru saja dirobohkan dan ditewaskan.
karena kena bacokan golok si muka hitam yang mengenai dadanya sehingga dada itu terobek lebar!
“Kongkong...!” Kedua putri itu berlutut dan memangku kepala kakeknya.
Wajahnya pucat dan matanya
terbelalak penuh kegelisahan menyaksikan keadaan kakeknya yang telah terluka hebat dan seluruh
pakaiannya berlepotan darah itu.
Kakek itu membuka matanya, memandang kepada ke dua cucunya yang juga
sudah datang berlutut di dekat adik nya “Lan lan , kau... kau selamatkan puteri Lin Lin kakak mu.. harus.
Sekarang
juga... pergilah kau ke kota raja... jumpai di sana Puteri siang , dia sahabat mendiang ibumu.
Lindungi
puteri dengan nyawamu ..
menghentikan kata-katanya karena napasnya telah terhenti.
“Kongkong...!”
Lan lan memeluk kepala kakek itu, kemudian dia mengangkat mukanya.
Dia tidak menangis, walau
pun ada dua butir air mata di pipinya yang pucat. “Engkau benar, kongkong!.
__ADS_1
Engkau gugur sebagai orang gagah, kongkong! Dan aku akan melanjutkan
kegagahanmu.”
Dia melepaskan pelukannya dan dengan hati-hati dia merebahkan tubuh kakeknya itu di
antara mayat-mayat lima orang lawan tadi.
“Marilah, enci. Kita harus cepat pergi dari sini sebelum musuh datang!”
“Tapi... tapi jenazah kakek...”
“Tidak apa! Kongkong akan tahu bahwa kita tidak sempat menguburnya.
Biarlah semua orang melihat
bahwa kongkong tewas di antara musuh-musuhnya dalam tugas sebagai seorang kakek yang perkasa!
Marilah...!” Sekuatnya lan lan berusaha menahan tangis karena sesungguhnya hatinya perih sekali
harus meninggalkan mayat kakeknya seperti itu.
Namun dia tahu bahwa kalau dia terlambat, musuh akan
datang dan dia akan sukar sekali me nyelamat kan sang puteri.
Puteri Lin Lin menahan isak, mengeluar kan sehelai kalung dan sambil berlutut mengalung kan benda
itu di leher kakek nya “Ini adalah kalung ku sendiri, biarlah sebagai tanda terima kasihku...” Dia terisak
dan lengannya disambar oleh lan lan lalu diajaknya puteri itu melarikan diri.
Hampir saja lan lan
tadi menangis melihat sikap puteri itu, dan dengan mengeraskan hati dia setengah menyeret kakaknya karena kalau dia menurutkan hati dan ikut menangisi jenazah kakeknya, keadaan mereka bisa
berbahaya sekali.
Demikianlah, dengan menyamar sebagai dua orang petani yang melarikan diri karena terjadi perang, Kedua putri itu melewati perbukitan dan pegunungan dan hutan-hutan lebat menuju ke timur,
dan Kim Thian terus mengikuti mereka secara diam diam karena tertarik .
Tentu
saja perjalanan itu sukar bukan main bagi mereka berdua, seperti dua ekor ikan kecil yang dilepas di
tengah lautan.
Mereka tidak mengenal jalan. Satu-satunya yang mereka ketahui hanyalah bahwa kota raja.
Kerajaan Wu yang berada jauh sekali di timur!
Mereka membawa bekal banyak perhiasan berharga, namun apa artinya semua itu kalau mereka selama
belasan hari tidak pernah bertemu dengan orang lain?
Mereka terpaksa harus me makan binatang buruan yang di panggang tanpa bumbu dan
daun-daun muda atau pupus nya, ter kadang mereka menangkap ikan untuk di makan.
Minum nya dari air sungai dan mereka selalu dalam keadaan waspada dan gelisah karena mereka
maklum bahwa sebelum tiba di kota raja, mereka selalu akan terancam bahaya karena pihak musuh yang terus menerus mengejar tanpa henti.
Musuh seakan akan memiliki mata dewa yang bisa mengetahui keberadaan mereka berdua.
Namun rupa nya pengejaran terhadap kedua gadis ini di pecah pecah dalam kelompok dua orang.
__ADS_1
Kim Thian membunuh mereka tanpa sepengetahuan kedua gadis ini.