Living Together With My Enemy

Living Together With My Enemy
Feeling Baik Tentang Freya.


__ADS_3

Tak lama spaghetti buatan Freya pun selesai dan sudah tersaji di meja makan kecil yang ada di dapur itu.


BIP...BIP...BIP...BIP...BIP...BIP.


Bunyi orang menekan tombol pintu.


Antara dua yang datang, Eldrick atau Bram.


Ceklek. Pintu terbuka.


Dan yang datang adalah Eldrick.


"Fe..apa kau sudah bangun?" Teriak Eldrick begitu pintu studio terbuka.


"Aku di dapur." Jawab Freya sambil berteriak.


Eldrick berjalan menuju ruangan pertama di studionya itu.


"Greg..!!!" Kaget Eldrick saat melihat sosok Greg sudah duduk manis di meja makannya.


"Hai El." Sapa Greg sambil menyengir kuda.


"Sedang apa kau disini?" Tanya Eldrick pada Greg dengan nada tidak suka. Tidak suka karena kedatangan Greg mengganggu rencananya yang hanya ingin berduaan dengan Freya menurut versi Eldrick.


"Dan kau, kenapa kau memasakkan spaghetti ku untuk orang lain?" Kini arah mata Eldrick menuju pada Freya.


"Wooah...apa menurut mu aku ini orang lain El?" Protes Greg.


"Jelas, kita kan tidak ada hubungan darah. Jadi kau orang lain bagi ku." Jawab Eldrick dengan gaya savage nya.


"Ish...!!! Kalau saja kau bukan anak Tuan Puth, sudah ku pukul kepala mu El sampai amnesia!!" Geram Greg dalam hati.


"Sudah lah, jangan berisik! Tidak baik ribut-ribut di depan makanan! Aku memasaknya banyak, jadi cukup untuk kita bertiga. Ayo sini sarapan." Ucap Freya menengahi perdebatan Eldrick dan Greg.


Mau tak mau Eldrick pun duduk di kursi meja makan dimana Greg sudah duduk lebih dulu disana.


"Pindah kau, aku disini." Usir Eldrick, karena ia ingin duduk di samping Freya.


Greg pun pindah ke kursi yang ada di sebelah tempat duduk yang baru ia duduki, tempat duduk yang berhadapan dengan Freya.


*****


Mansion Puth.

__ADS_1


Setelah kepergian Eldrick, Nyonya Puth langsung menghubungi Lala, asisten pribadinya.


"Halo Nyonya Puth." Jawab Lala dari seberang telepon.


"Halo Lala, aku ada sedikit pekerjaan untuk mu. Tolong kau pekerjakan seorang gadis di salah satu restoran kita, terserah yang mana saja, tapi gadis itu tidak boleh tau kalau itu restoran keluarga Puth dan gadis itu tidak boleh sampai tau kalau saya adalah mommy Eldrick, kamu paham kan maksud saya?"


"Ya Nyonya, saya paham maksud anda. Apa ada lagi Nyonya?"


"Tidak, itu saja. Nanti akan saya kirim data-data tentang gadis itu." Jawab Nyonya Puth.


"Baik Nyonya."


Panggilan pun berakhir.


Tak lama setelah Nyonya Puth mengakhiri panggilan teleponnya dengan Lala, Tuan Puth beserta Billy masuk ke ruang keluarga.


"Mana anak nakal itu? Apa sudah pulang?" Tanya Tuan Puth sambil mendudukkan dirinya di samping sang istri.


Nyonya Puth menganggukkan kepalanya.


"Apa yang dia minta dari mu? Apa dia minta uang? Atau minta apa gitu?"


Nyonya Puth menggelengkan kepalanya.


"Sejak kapan anak mu datang meminta uang. Kau seperti tidak tau anak mu saja, dia lebih suka membeli sesuatu yang dia inginkan dengan hasil keringatnya sendiri. Sedangkan kartu unlimited yang ku berikan padanya saja, tidak pernah ia gunakan." Jawab Nyonya Puth.


"El ingin aku memperkerjakan gadis yang El tolong di club di restoran."


"Lalu kau menyetujuinya?"


Nyonya Puth menganggukkan kepalanya.


"Sepertinya El jatuh cinta dengan gadis itu. Sudah lama aku tidak melihat sorot mata El yang berbinar-binar. Makanya aku tidak mau mengecewakannya."


"Kau tidak buat perjanjian apapun dengannya sebelum kau menyetujui akan memperkerjakan gadis itu di restoran mu?"


Nyonya Puth menggeleng.


"Aku tidak kepikiran sampai disitu. Aku terlalu senang saat melihat sorot mata El yang berbinar-binar yang pernah hilang dari dalam diri El selama bertahun-tahun."


Tuan Puth hanya menghela nafasnya. Padahal ia berharap istrinya bisa memberi syarat terlebih dulu pada Eldrick sebelum menyetujui permintaan sang anak. Syarat yang diinginkan Tuan Puth apalagi kalau bukan ingin anaknya itu menyelesaikan kuliah di tahun ini.


"Apa yang kau pegang itu Bill?" Tanya Nyonya Puth saat matanya tak sengaja melihat asisten sang suami memegang amplop coklat di tangannya.

__ADS_1


"Oh..ini laporan yang anda minta semalam Nyonya. Data-data tentang gadis yang Tuan Muda Eldrick tolong di club." Jawab Billy sambil memberikan amplop coklat itu pada Nyonya Puth.


Nyonya Puth pun mengambil amplop itu dari tangan Billy. Lalu mengeluarkan dua lembar kertas yang ada di dalam amplop.


"Oh iya Bill, tolong kau berikan biodata gadis ini pada Lala, agar Lala bisa segera memperkerjakan gadis ini." Ucap Nyonya Puth sambil mengeluarkan lembaran kertas dari dalam amplop.


"Baik Nyonya." Billy pun meninggalkan Tuan dan Nyonya Puth di ruang keluarga menuju ruang kerja Tuan Puth untuk mengirimkan biodata tentang Freya pada Lala.


Sedangkan di ruang keluarga, Nyonya Puth mulai membaca isi di lembar pertama. Di lembar pertama, berisi tentang biodata Freya sedangkan di lembar ke dua tentang kehidupan Freya beserta dengan foto Freya.


"Kasihan sekali gadis ini." Lirih Nyonya Puth saat membaca tentang biografi Freya.


"Sepertinya gadis ini gadis baik." Lirih Nyonya Puth lagi.


"Ya aku juga sependapat dengan mu. Entah kenapa feeling ku mengatakan kalau gadis ini akan membuat El berubah." Timpal Tuan Puth.


"Ya aku juga merasa seperti itu." Sahut Nyonya Puth.


"Aku ingin berkenalan langsung dengan gadis ini, untuk memastikan apa feeling ku tentang gadis ini." Gumam Nyonya Puth dalam hati.


*****


Studio Eldrick.


Setelah spaghetti yang ada di piring Eldrick, Freya dan Greg habis, kini mereka pindah tempat duduk di sofa ruang tamu.


Suasana hening sejenak, hanya mata yang saling menatap.


Bola mata Freya menatap Eldrick dan Greg yang sedari tadi saling melotot.


Pelototan Eldrick seolah mengisyaratkan meminta Greg untuk segera pergi dari studio nya. Sedangkan pelototan Greg mengisyaratkan kalau ia tidak mau pergi dari studio Eldrick sebelum Eldrick menjelaskan apa yang terjadi antara Eldrick dan Freya.


"Hey..kalian berdua, apa mata kalian tidak berair saling melotot seperti itu?" Tanya Freya yang sudah tidak tahan dengan suasana yang mencekam yang di ciptakan dua lelaki di hadapannya itu.


"TIDAK!!" Jawab Eldrick dan Greg kompak sambil sesaat menoleh ke arah Freya.


"Hish..." Sudut bibir Freya mencebik mendengar jawaban kompak dari dua lelaki itu.


Suasana pun kembali mencekam.


BIP...BIP...BIP...BIP...BIP...BIP. Bunyi orang menekan password pintu.


Greg tersenyum penuh kemenangan karena ia tau siapa yang datang. Siapa lagi kalau bukan Bram.

__ADS_1


Sedangkan reaksi Eldrick saat mendengar bunyi orang menekan password pintu, tubuhnya langsung lemas seketika. Ia juga tau siapa yang datang, karena hanya ada tiga orang yang tau kode password pintu studio Eldrick.


to be continued...


__ADS_2