Living Together With My Enemy

Living Together With My Enemy
Kenangan Pahit Yang Tertinggal.


__ADS_3

"Kenapa kau mengikuti ku, kau tidur disana!" Perintah Freya sambil menunjuk sofa ruang tamu.


"Aku kau lupa kalau aku belum mandi. Aku ingin mandi dulu, aku tidak bisa tidur kalau belum mandi." Jawab Eldrick.


Freya pun memberi jalan pada Eldrick.


"Kau mandi lah dulu, aku tunggu disini." Ucap Freya.


Eldrick pun berjalan berlalu dari hadapan Freya menuju kamarnya. Sedangkan Freya duduk di sofa untuk menunggu Eldrick.


*****


Tak sampai lima belas menit Eldrick pun keluar dari dalam kamar.


Melihat Eldrick masuk ke ruang tamu, Freya pun berdiri dari tempat duduknya.


Freya pun melintasi Eldrick tanpa sepatah kata.


Melihat Freya melintas di hadapannya tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun, Eldrick langsung menarik tangan Freya.


"Apa kau tidak melupakan sesuatu?"


"Apa?"


Eldrick memanyunkan bibirnya agar Freya ingat akan ciuman selamat tidur.


Melihat Eldrick memanyunkan bibirnya, Freya pun ingat kalau dirinya harus memberikan ciuman selamat tidur untuk Eldrick.


Freya menghela nafasnya, ingin menolak tapi rasanya percuma, Eldrick pasti akan memaksanya. Mau tak mau Freya pun mendaratkan bibirnya di bibir Eldrick.


Cup. Freya mendaratkan bibirnya hanya sekedar menempel.


"Hei, kenapa seperti itu? Itu bukan ciuman tapi hanya sekedar kecupan!!" Protes Eldrick.


"Apa kau mau ku ingatkan lagi perbedaan ciuman dan kecupan, hah?!" Lanjut Eldrick.


"Aku lelah El, jadi aku mohon padamu jangan mengajak ku berdebat malam ini. Aku masuk dulu." Pamit Freya.


Melihat wajah lesu Freya, Eldrick pun jadi tidak tega untuk memaksa Freya memberikan ciuman selamat malam.


"Fe.." panggil Eldrick saat Freya sudah sampai di depan pintu kamar.


"Apalagi sih El?" Geram Freya sambil memutar tubuhnya.


Eldrick pun berjalan mendekati Freya.


Cup. Satu kecupan mendarat di kening Freya.


"Selamat malam, semoga tidurmu nyenyak malam ini." Ucap Eldrick sambil mengelus rambut Freya.


Mata Freya membelalak, jantungnya berdegup kencang mendapat perlakuan lembut dari Eldrick.


"Sudah sana masuk." Ucap Eldrick saat melihat Freya malah terbengong.


Dan suara Eldrick itu berhasil membuat Freya sadar dari lamunannya.


Freya menganggukkan kepalanya lalu memutar tubuhnya dan membuka pintu kamar. Freya pun masuk ke dalam kamar dan menutup pintu kamar lalu menguncinya, ia pun bersandar di pintu sambil memegang dadanya


"Kenapa jantung ku seperti ini? Apa jantung ku bermasalah?" Gumam Freya.


"Ingat Freya, Eldrick sudah memiliki kekasih, kau tidak boleh jatuh cinta padanya!!" Gumam Freya lagi. Ia mengingatkan dirinya untuk tidak menaruh hati pada Eldrick.


Freya membuang nafasnya kasar untuk menata hatinya, setelah itu baru lah ia berjalan mendekati ranjang dan naik ke atas ranjang untuk mengistirahatkan tubuhnya.


Sedangkan di ruang tamu Eldrick juga sedang bersiap untuk mengistirahatkan tubuhnya, tapi sebelum itu ia menghubungi sang mommy terlebih dahulu agar sang mommy tidak lupa dengan janjinya yang akan memperkerjakan Freya di salah satu restorannya.


"Halo sayang, ada apa menghubungi mommy malam-malam begini?" Tanya Nyonya Puth dari seberang telepon.


"Apa mommy sudah menyuruh Lala untuk mengurus semuanya untuk Freya?" Tanya Eldrick tanpa basa-basi.


"Sudah sayang, tenanglah."

__ADS_1


"Bagus lah kalau begitu."


"Apa kau menghubungi mommy hanya untuk menanyakan hal itu El? Apa kau tidak mau menanyakan kabar mommy?"


"Aku rasa mommy dalam keadaan baik-baik saja, karena suami posesif mu itu selalu memberikan yang terbaik untuk mu."


"Dasar anak nakal. Mommy sangat merindukan mu El, datanglah ke mansion."


"Jangan berlebihan mom, El kan baru ke mansion kemaren."


"Cih.. kau saja datang tidak sampai setengah jam kemaren. Mommy ingin kau menginap sehari-dua hari di mansion."


"Ya.. ya.. nanti El akan menginap di mansion, tapi kalau suami mommy yang posesif itu sedang tidak ada dirumah."


"Kau..." Belum sempat Nyonya Puth melayangkan protesnya, Eldrick sudah menyela lebih dulu.


"Sudah yah mom, El lelah, El istirahat dulu." Sela Eldrick.


Eldrick pun mengakhiri panggilannya dan meletakkan ponselnya di atas meja.


Setelah itu barulah ia membaringkan tubuhnya di sofa.


*****


Di Mansion Keluarga Puth.


"Untuk apa Eldrick menghubungi mu?" Tanya Tuan Puth setelah melihat istrinya meletakkan ponsel di atas nakas.


"Hanya untuk menanyakan apa aku sudah mengurus pekerjaan untuk gadis itu."


"Dasar anak itu. Sepertinya anak kesayangan mu itu benar-benar sudah jatuh cinta pada gadis itu. Kau tau sayang, kalau hari ini anak mu sudah menjadi superhero untuk gadis itu, El sudah memenjarakan ayah tiri gadis itu."


"Benarkah?" Tanya Nyonya Puth, ada rasa kaget bercampur senang saat ia mendengar informasi yang diberikan suaminya.


Tuan Puth menganggukkan kepalanya.


"El benar-benar membanggakan." Puji Nyonya Puth.


"Membanggakan apanya, hari ini juga anak kesayangan mu itu bolos kuliah hanya untuk mengisi acara di sebuah kafe. Apa dia tidak bosan menjadi mahasiswa abadi? Sudah dua tahun dia memperpanjang masa aktif status mahasiswanya, kalau tahun ini El tidak lulus juga maka ini adalah tahun ketiganya. Kalau begini terus, kapan aku akan pensiun dan menghabiskan waktu bersama mu." Gerutu Tuan Puth.


"Ya mudah-mudahan saja."


"Jangan terlalu keras pada El sayang, El itu anak kita satu-satunya. Dari pada kau keras pada El, bagaimana kalau kau keras pada ku saja. Aku sudah lama tak merasakan hentakan yang keras dari mu." Goda Nyonya Puth.


Wajah Tuan Puth yang tadi sempat kesal karena mengingat ulah anak semata wayangnya, tiba-tiba saja berubah drastis. Tuan Puth tersenyum penuh arti mendengar ucapan istrinya yang menggoda, ia tau persis kode yang di berikan istrinya itu.


"Apa kau serius sayang? Apa kau tidak menyesal memintaku menghentak mu dengan keras? Nanti baru setengah perjalanan, kau sudah mengibarkan bendera putih?"


"Aku serius sayang. Lakukanlah, aku sangat merindukan hentakan itu."


Tanpa basa-basi lagi, Tuan Puth pun langsung menindih istrinya. Dan malam itu Tuan Puth menghentak keras istrinya, sesuai kemauan sang istri.


*****


Kembali ke studio musik Eldrick.


Waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari.


Freya terbangun karena merasa lapar.


Ia pun keluar dari dalam kamar dan masuk keruang tamu yang terhubung dengan dapur.


Ia membuka kulkas untuk mencari sesuatu yang bisa di makan.


"Ini saja lah." Ucap Freya saat melihat buah apel dalam kulkas.


Freya pun mengambil apel itu lalu mengambil air minum untuk ia bawa ke dalam kamar.


Dengan apel dan gelas yang berisi air minum di tangannya, Freya pun berjalan hendak keluar dari ruang tamu.


"Mai...Maia.." Eldrick kembali menyebutkan nama Maia dalam mimpinya.

__ADS_1


Freya memutar tubuhnya saat mendengar Eldrick mengigau memanggil-manggil nama wanita lain.


Dan itu membuat api kecemburuan Freya kembali berkobar. Freya yang kesal dan cemburu langsung mempercepat langkah kakinya untuk masuk ke dalam kamar.


BRAAAK. Freya membanting pintu kamar.


"Menyebalkan!!!!!!" Kesal Freya sambil melempar buah apel yang ada di tangannya.


Rasa laparnya seketika hilang karena emosi.


Freya pun berjalan menuju ranjang sambil menghentak-hentakkan kakinya, lalu meletakkan gelas yang berisi air minum yang ia bawa dari dapur ke atas nakas dengan kasar, setelah itu Freya pun naik ke atas ranjang dan membaringkan tubuhnya kasar.


Ia cemburu, sangat sangat cemburu.


Meninggalkan Freya yang sedang cemburu. Ada Eldrick yang terbangun saat mendengar Freya membanting pintu kamar.


Eldrick mendudukkan dirinya dan menjambak rambutnya kasar.


"Kenapa wanita pengkhianat itu selalu muncul dalam mimpi ku!! Pergilah kau wanita pengkhianat dari otak ku!!!" Geram Eldrick saat mengingat akan mimpinya yang barusan.


Mimpi yang sama setiap malamnya, mimpi dimana ia melihat Maia sedang bercumbu dengan laki-laki lain, dan dalam mimpi itu, Eldrick menangis sakit hati sambil menyebut nama Maia di sebuah jembatan.


"Apa yang harus aku lakukan agar wanita sia•lan itu tak lagi muncul dalam mimpi ku?!" Lirih Eldrick. Selama ini ia sudah mati-matian mengubur semua kenangan tentang mantan kekasihnya itu, menghilangkannya dari pikirannya, tapi usahanya selalu sia-sia karena wajah sang mantan selalu hadir dalam mimpinya.


Mungkin karena Eldrick terlalu membenci Maia, makanya Eldrick selalu memimpikan hal yang paling menyakitkan yang sudah Maia lakukan padanya.


Eldrick tidak sadar kalau setiap ia bermimpi tentang Maia, Eldrick selalu menyebut nama Maia, yang kedengarannya seolah-olah Eldrick sangat merindukan Maia.


Eldrick berdiri dari tempat duduknya dan berjalan ke dapur untuk mengambil minum, ia tenggak air satu gelas sampai tandas lalu meletakkan gelas itu dengan kasar di atas meja.


"Aku butuh kamu Fe, bantu aku menghilangkan kenangan pahit itu dari dalam diri ku." Lirih Eldrick.


Sepertinya Eldrick sudah menyadari akan perasaannya pada Freya, hanya saja kenangan pahit yang Maia tinggalkan terlalu kental sehingga membuat hati Eldrick ikut menjadi pahit untuk menerima cinta yang baru.


*****


Keesokan paginya.


Waktu sudah menunjukkan pukul 7.30 pagi.


Freya yang masih kesal dengan Eldrick memutuskan untuk pergi kuliah terlebih dahulu, ia pun tidak membangunkan Eldrick. Padahal pagi ini mereka ada kelas yang sama.


Eldrick mengerjapkan matanya karena mendengar nada dering di ponselnya, tanda ada panggilan masuk. Ia meraba meja ruang tamu, dimana ia meletakkan ponselnya.


Tanpa melihat siapa yang melakukan panggilan, Eldrick langsung menggeser tombol hijau.


"Hemh..." Jawab Eldrick.


"Tuan Muda, pagi ini anda ada kuliah pagi." Ucap Trent dari seberang telepon. Selain menjadi bodyguard, Trent, Asher dan Damian juga harus tau jadwal kuliah Eldrick agar bisa mengingatkan Eldrick setiap harinya.


"Ya, aku tau." Jawab Eldrick malas.


"Kalau anda tau kenapa anda masih tidur Tuan Muda?"


"Kenapa kau cerewet sekali Trent!!! Kau sama saja seperti Tuan Besar mu, cerewet!! Ini belum jam nya untuk aku bangun, karena Fe belum membangunkan ku."


"Bagaimana Nona Muda mau membangunkan anda, Tuan kalau Nona Muda saja sudah pergi dari setengah jam yang lalu."


Mendengar itu, Eldrick langsung membuka matanya lebar.


"Apa kau bilang? Freya sudah keluar dari setengah jam yang lalu?! Jangan becanda kau!!"


"Saya serius Tuan Muda, kalau anda tidak percaya, anda periksa saja sendiri."


Eldrick pun menutup teleponnya dan berdiri dari tempat duduknya. Ia berjalan menuju kamar untuk memastikan ucapan Trent.


Kosong. Kamar itu kosong. Tidak ada lagi Freya disana.


"Shiiit!!" Umpat Eldrick.


"Awas kau Fe, berani-beraninya kau pergi tanpa membangunkan ku!!" Ucap Eldrick lagi geram.

__ADS_1


Eldrick pun melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


to be continued...


__ADS_2