
Tak sampai setengah jam menunggu akhirnya Sarah datang kembali menghampiri Freya.
"Maaf Nona membuat anda menunggu lama." Ucap Sarah.
"Tidak pa-pa."
"Selamat Nona Freya, anda diterima bekerja di restoran ini. Dan anda kami tempatkan di bagian administrasi."
"Kasir?"
Sarah menggeleng sambil tersenyum.
"Bukan Nona. Melainkan di bagian kantor untuk mengurus pembukuan restoran." Jawab Sarah.
"Oh.." Freya membulatkan mulutnya, sepertinya ia belum sadar dengan jawaban yang di berikan Sarah.
Satu detik..
Dua detik..
Tiga detik..
"Apa tadi anda bilang? Bagian kantor?" Tanya Freya kaget. Kini ia sadar dengan ucapan Sarah.
"Iya Nona. Apa ada yang salah?" Tanya Sarah.
"Apa anda tidak salah menempatkan saya? Saya ini masih kuliah, jadi saya tidak bisa bekerja full time."
"Iya Nona, saya tau dan saya juga sudah memberi tahu Nyonya Lala. Dan Nyonya Lala tidak keberatan dengan hal itu." Jawab Sarah.
"Nona Freya akan bekerja mulai pukul lima sore sampai restoran ini tutup pukul sebelas malam. Apa Nona Freya tidak keberatan?"
Freya menggeleng.
"Tidak. Saya tidak keberatan."
"Jadi Nona siap bekerja di restoran ini mulai besok?" Tanya Sarah.
"Siap. Saya siap." Jawab Freya mantap.
"Baik lah. Besok kami akan memberikan id card anda yang juga di gunakan untuk scan absen. Jadi sekarang Nona Freya bisa pulang dan mempersiapkan diri untuk besok."
"Baik Nyo.."
"Nona Sarah. Saya masih single Nona." Sarah langsung memotong kata-kata Freya saat Freya ingin memanggilnya dengan sebutan Nyonya.
"Ah.. iya Nona Sarah."
Freya dan Sarah pun saling berjabat tangan sebelum Freya meninggalkan tempat itu.
*****
Tak terasa langit pun gelap, tanda hari sudah malam.
Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Freya belum juga kembali ke studio Eldrick.
Dan itu membuat Eldrick semakin gelisah, apalagi sejak tiga jam lalu, Eldrick tidak bisa melacak keberadaan Freya.
"Kemana dia. Kenapa belum pulang juga?! Lala bilang, Freya sudah pulang dari tiga jam lalu. Tapi kenapa sampai sekarang dia belum sampai disini?" Ucap Eldrick bertanya-tanya pada dirinya sendiri sambil mondar-mandir di ruang tamu.
Berjam-jam Eldrick menunggu Freya pulang dan berjam-jam pula Eldrick bertanya-tanya pada dirinya sendiri tentang alasan Freya menolaknya saat di belakang kampus tadi, tapi selama itu juga Eldrick tak kunjung menemukan jawabannya.
Sekarang malah ditambah Freya yang tak kunjung pulang dan keberadaannya tak bisa di lacak dan itu membuat otak Eldrick hampir meledak.
Tak bisa lagi menunggu dengan rasa khawatir dalam dada. Eldrick pun memutuskan untuk pergi mencari Freya.
Dia mengambil jaket dan kunci motornya lalu berjalan keluar dari ruang tamu.
Baru saja ia keluar dari ruang tamu, tiba-tiba saja bunyi tombol pintu menghentikan langkahnya.
__ADS_1
Eldrick menerka-nerka siapa yang datang. Apakah kedua teman laknatnya atau kah itu Freya.
Ceklek. Pintu pun terbuka. Muncul lah Freya dari balik pintu dengan raut wajah lelahnya.
Melihat Freya yang membuka pintu, Eldrick pun bernafas lega.
"Dari mana saja kau?! Kenapa ponsel mu tidak aktif?"
Freya tak menghiraukan Eldrick dan terus melangkahkan kakinya menuju kamar.
"Freya!!" Teriak Eldrick saat Freya melintas di hadapannya tanpa menjawab pertanyaannya.
Freya yang sudah di depan pintu kamar pun menghentikan langkah kakinya.
"Aku lelah, mau istirahat." Jawab Freya tanpa berbalik menghadap Eldrick.
Tak terima Freya menghiraukan dirinya, cepat-cepat Eldrick menarik tangan Freya sebelum Freya memutar handle pintu kamar.
"Kau kenapa? Kenapa kau seperti ini pada ku, Fe? Katakan, apa yang membuat mu tiba-tiba seperti ini? Apa aku ada salah pada mu? Katakan Fe, jangan seperti ini." Ucap Eldrick.
"Aku lelah El, jadi biarkan aku istirahat." Balas Freya sambil menyentak tangan Eldrick dari tangannya.
"Kau pikir kau saja yang lelah? Aku juga lelah Fe mencari jawaban atas perubahan sikap mu ini!! Otak ku hampir meledak memikirkan penyebab kau berubah drastis pada ku? Apa karena permasalah dapur kemaren atau karena aku membawa mu berputar-putar kemaren, makanya kau begini?"
"Aku bilang aku lelah. Jadi jangan mengajak ku berdebat dulu." Jawab Freya.
Freya pun memutar handle pintu kamar dan masuk ke dalam kamar.
Eldrick masih bersikeras ingin mendengar penjelasan Freya, dia pun mengekori Freya dari belakang.
Tau Eldrick mengekorinya, cepat-cepat Freya masuk ke dalam kamar mandi. Selain untuk membersihkan tubuhnya sekaligus untuk menghindari Eldrick.
Tapi bukan Eldrick namanya kalau tidak gigih untuk menunggu Freya keluar dari dalam kamar mandi.
Hampir satu jam Freya berada dalam kamar mandi, saat tubuhnya sudah merasa menggigil baru lah Freya keluar dari dalam kamar mandi dengan menggunakan bathrobe.
Ceklek. Freya membuka pintu kamar mandi.
"Sedang apa kau disini?" Bentak Freya.
"Menurut mu?" Eldrick malah balik bertanya.
"Keluar kau! Aku ingin ganti baju." Usir Freya.
"Ada ruang ganti disana. Kau bisa mengganti baju mu disana."
"Aku tidak percaya pada mu, nanti kau mengintip!"
"Kalau memang aku mau seperti itu, sejak kau ada di studio ku sudah ku pasang kan kamera tersembunyi."
Freya memutar bola matanya malas mendengar jawaban Eldrick.
Mau tak mau Freya berjalan menuju ruang ganti, ia langsung menutup dan mengunci pintu ruang ganti lalu mengganti pakaiannya.
Lama Freya di dalam ruang ganti untuk menghindari Eldrick.
Dor.. Dor.. Dor. Eldrick menggedor pintu ruang ganti karena sudah hampir dua puluh menit Freya tak kunjung keluar.
"Mau kau yang buka atau aku yang buka!" Teriak Eldrick.
"Shiiit!! Apa sih mau nya!!" Geram Freya karena Eldrick tak kunjung menyerah.
Mau tak mau Freya pun membuka pintu ruang ganti.
"Apa sih mau mu sebenarnya?!" Bentak Freya begitu pintu ruang ganti terbuka.
"Penjelasan."
"Apa yang harus ku jelaskan?!"
__ADS_1
"Alasan mu menolak ku! Aku merasa itu tak masuk akal!"
"Tak masuk akalnya dimana? Bukan kah wajar kalau seorang perempuan menolak laki-laki karena laki-laki itu playboy. Terus kau mau alasan yang masuk akal gimana lagi?"
"Aku bukan playboy. Makanya aku merasa alasan mu itu tidak masuk akal."
"Percaya diri sekali kau! Kalau kau memang bukan playboy, kenapa kau meminta ku menjadi kekasih mu disaat kau masih memiliki kekasih?" Tanya Freya dengan tatapan mengintimidasi.
"Siapa yang bilang kalau aku punya kekasih?" Eldrick balik bertanya.
"Apa kau bodoh! Kalau memang aku punya kekasih, tidak mungkin aku berani mengajak mu tinggal disini." Kata Eldrick lagi.
"Bisa saja kan kekasih mu itu tidak ada di negara ini, makanya kau berani mengajak ku tinggal disini. Sekarang katakan sudah berapa wanita yang pernah kau bawa kesini?"
"Tiga." Jawab Eldrick jujur.
Jelas saja jawaban Eldrick membuat bola mata Freya membelalak.
"Yang pertama mommy ku, yang kedua si wanita pengkhianat dan yang ketiga kau." Lanjut Eldrick.
Freya mengernyitkan keningnya saat Eldrick mengatakan wanita si pengkhianat.
"Siapa wanita si pengkhianat?" Tanya Freya penasaran.
"Kau tidak perlu tau dan kita tidak perlu membahas dia."
"Kenapa? Apa dia wanita yang tak bisa kau lupakan makanya kau tidak mau membahas dia?"
"Jangan sok tau kau! Aku sudah melupakan dia!"
"Bohong! Kau belum bisa melupakan dia! Kalau memang kau sudah melupakan dia, harusnya pembicaraan tentang dia terlihat biasa saja, tapi ini... Wajahmu memerah seketika. Apa kau terlalu mencintai dia?" Tanya Freya menyelidik.
"Sudah ku bilang jangan sok tau! Aku tidak mau membahas dia karena aku merasa kita tidak perlu membahas masa lalu ku. Yang perlu kita bahas sekarang adalah tentang kita, tentang masa depan kita."
"Apa wanita itu Maia?" Todong Freya langsung.
Mata Eldrick membelalak saat mendengar Freya menyebut nama Maia.
"Kau... Dari mana.."
"Apa kau kaget aku tau nama Maia?" Potong Freya.
"Apa ada yang memberitahu mu tentang dia?"
Freya menggelengkan kepalanya.
"Aku tau nama Maia, karena sudah dua kali aku mendengar mu menyebut nama itu saat kau menginggau."
"Tidak mungkin! Tidak mungkin aku menyebut nama si pengkhianat itu dalam mimpi ku!!"
"Lalu menurut mu, dari mana aku tau nama itu, hah?!"
"Pasti ada yang memberitahu mu tentang Maia. Katakan siapa orangnya?!"
Freya menarik nafasnya dalam-dalam untuk mengumpulkan kesabaran.
"Kalau kau tidak percaya aku tau tentang nama Maia dari bibir mu sendiri, ya sudah. Lagipula aku tau dari mana itu tidak penting. Tapi yang jelas aku tau persis kau masih sangat mencintai wanita itu dan kau berniat menjadikan ku pelampiasan saja, benarkan dugaan ku?"
Eldrick menggelengkan kepalanya.
"Kau salah Fe. Aku sudah tidak memiliki perasaan apa-apa dengan si pengkhianat itu. Bagaimana bisa aku terus mencintai wanita yang sudah mengkhianati ku dan hamil dengan laki-laki lain?!" Jawab Eldrick.
"Dan kau juga salah, aku sama sekali tidak kepikiran menjadikan mu pelampiasan ku, baik pelampiasan perasaan atau pun pelampiasan hasrat ku. Aku meminta mu menjadi kekasih ku, karena memang aku menyukai mu dan..."
"Dan apa?"
"Dan membantu ku untuk mengubah mimpi buruk ku menjadi mimpi indah." Jawab Eldrick sambil tertunduk.
"Setiap malam aku selalu memimpikan wanita si pengkhianat itu sedang bercumbu dengan laki-laki lain, buat ku itu adalah mimpi buruk. Aku tidak tau ke kenapa aku terus memimpikan hal itu. Aku pernah menanyakan hal itu pada psikiater dan jawaban psikiater hanya dua, antara aku masih sangat mencintainya atau karena aku terlalu membencinya. Aku yakin, kalau aku sudah tidak memiliki perasaan apapun padanya, jadi bisa di pastikan itu terjadi karena aku terlalu membencinya. Psikiater pun menyarankan ku untuk membuka hati ku untuk memaafkannya, dan kau tau, hampir enam tahun aku melakukannya tapi aku tidak bisa. Bahkan karena hal itu, aku jadi sangat membenci perempuan-perempuan gatal yang mencoba mendekati ku. Tapi entah kenapa saat dengan mu, aku merasa sesuatu yang beda. Sampai akhirnya aku menyadari kalau aku sudah menyukai mu dan aku membutuhkan mu untuk mengobati luka hati ku. Aku sadar, kalau aku tidak akan mampu mengobati luka hati ku. Aku butuh bantuan mu Fe."
__ADS_1
to be continued...