
"Ha-"
"Kenapa lama sekali menjawab telepon ku? Apa paman Billy sengaja, hah!!" Omel Eldrick begitu Billy menggeser tombol hijau.
Billy hanya bisa menghela nafasnya.
"Dasar bocah tengik, tidak ada sopan-sopannya.!" Umpat Billy dalam hatinya.
Seandainya bukan atas perintah Tuan Puth, mana mau Billy menjawab telepon si pembuat onar itu.
"Maaf Tuan Muda, saya tidak mendengar." Jawab Billy beralasan.
"Ada apa Tuan Muda menghubungi saya? Apa Tuan Muda berbuat onar lagi?" Tanya Billy to the point.
"Memangnya kalau saya menghubungi paman karena saya berbuat onar, hah?!" Protes Eldrick.
"Saya ingin meminta nomor ponsel Freya." Ucap Eldrick to the point.
Mendengar itu, bukan hanya Billy yang mengernyitkan kening, bahkan Tuan Puth juga mengernyitkan keningnya. Apa Eldrick tidak memiliki nomor ponsel Freya makanya Eldrick meminta ponsel Freya pada Billy. Begitulah tanda tanya dalam hati Billy dan Tuan Puth.
"Bu-" Baru saja Billy ingin menanyakan alasan kenapa Eldrick meminta nomor ponsel Freya, Eldrick langsung memotong pertanyaan Billy.
"Aku tidak memiliki nomor Freya. Jadi cepat lah berikan nomornya." Potong Eldrick dan langsung menodong Billy.
"Ta-"
"Apa lagi? Apa paman Billy mau mengatakan tidak memiliki nomor ponsel Freya? Jangan membohongi ku paman, kalau kau tidak mau aku membuat kekacauan." Ancam Eldrick.
Dari tempatnya berdiri di depan Billy, Tuan Puth menganggukkan kepalanya seolah memberi kode pada Billy untuk memberikan nomor ponsel Freya.
"Baik lah Tuan Muda, akan saya kirimkan." Jawab Billy pasrah.
Tanpa mengucapkan kalimat terimakasih atau sepatah kata lainnya, Eldrick langsung mengakhiri panggilan teleponnya.
Billy menghela nafasnya kasar begitu Eldrick menutup teleponnya tiba-tiba.
"Cepat kirimkan nomor ponsel gadis itu, lalu tanya pada Trent apa yang sebenarnya terjadi." Perintah Tuan Puth begitu panggilan berakhir.
Billy pun mengirimkan nomor ponsel Freya pada Eldrick.
Setelah pesan terkirim, Billy pun menghubungi Trent.
"Halo Tuan Billy." Jawab Trent dari seberang telepon.
"Apa Tuan Muda El bertengkar dengan nona Freya?" Tanya Billy to the point.
"Saya kurang yakin Tuan, tapi yang jelas saat Tuan Muda El pulang ke studio, Nona Muda tidak ada di studio dan itu membuat Tuan Muda El kebakaran jenggot."
"Apa nona Freya tau kode password studio Tuan Muda?" Tanya Billy lagi. Ia curiga kalau Freya tak ada di dalam studio karena Freya tidak tau kode password studio Eldrick.
"Mmm..saya kurang tau, tapi sepertinya.." Trent menggantung kalimatnya.
__ADS_1
"Sepertinya apa?"
"Mmm...sepertinya tidak Tuan."
Billy menghela nafasnya.
"Kau tetap awasi Tuan Muda apapun yang akan ia lakukan."
"Baik Tuan Billy."
Billy pun mengakhiri panggilannya.
"Sepertinya..." Baru saja Billy ingin memberi laporan, tiba-tiba Tuan Puth menyela kata-kata Billy.
"Ya saya tau. Kan kau menyalakan pengeras suara, jadi saya juga mendengar apa yang di katakan Trent." Sela Tuan Puth.
Billy menghela nafasnya sambil tersenyum kecut.
"Ayah dan anak sama saja." Gumam Billy dalam hati.
"Ayo kita pulang, aku sudah sangat merindukan istri ku." Ucap Tuan Puth. Tuan Puth pun keluar terlebih dahulu dari ruang kerja Billy.
"Baik Tuan."
Billy pun membereskan meja kerjanya, lalu berdiri dari tempat duduknya dan keluar dari ruang kerjanya menyusul Tuan Puth yang sudah lebih dulu berdiri di depan lift khusus.
Kembali ke studio musik Eldrick.
Tuuut...Tuuut... Tuuut.
Panggilan pertama, Freya tidak menjawab panggilannya.
Tak putus asa, Eldrick pun kembali menghubungi Freya.
Panggilan ke dua pun sama, Freya juga tidak menjawab panggilan Eldrick.
Eldrick kembali menghubungi Freya.
Hasilnya sama Freya juga tak menjawab panggilan Eldrick.
"Aaargh!!!?" Teriak Eldrick frustasi.
Karena Freya tak menjawab-jawab panggilannya, terpaksa Eldrick melacak keberadaan Freya dari gps.
"Dimana ini? Ini jauh dari studio dan kampus?" Gumam Eldrick saat melihat titik merah yang menunjukkan keberadaan Freya.
Penasaran dengan tempat itu, Eldrick pun keluar dari studio musiknya. Ia berjalan mendekati mobil hitam yang terparkir di depan studionya. Siapa lagi pemilik mobil itu kalau bukan Trent.
Melihat Tuan Mudanya berjalan mendekati mobilnya, Trent membangunkan Asher yang tertidur di kursi penumpang sebelahnya.
"Ash...bangun, Tuan Muda mendekat." Ucap Trent sambil menepuk pundak Asher. Setelah itu, cepat-cepat Trent membuka kaca mobilnya.
__ADS_1
Tanpa basa-basi Eldrick langsung menyodorkan ponselnya pada Trent.
"Alamat siapa ini? Dan kenapa Freya ada di alamat ini?" Tanya Eldrick dengan nada mengintimidasi.
Trent mengambil ponsel itu dari tangan Eldrick lalu membaca alamat yang tertera di titik merah.
"Mm, sepertinya ini alamat rumah orangtua Nona Muda, Tuan Muda." Jawab Trent.
"Apa!!! Kenapa dia bisa ada disana? Dan kenapa kalian tidak memberitahu ku kalau Freya ada disana, hah!!" Bentak Eldrick emosi.
"Maaf Tuan Muda, fokus kami hanya pada pengamanan anda, itu perintah mutlak dari Tuan Besar." Jawab Trent.
"****!" Umpat Eldrick sambil menendang ban mobil Trent.
"Kalau terjadi apa-apa pada Freya disana, awas kalian! Aku akan mencelakakan diri ku sendiri, biar tamat riwayat kalian!!!" Ancam Eldrick.
Eldrick pun pergi meninggalkan mobil Trent dan berlari menuju motornya yang ia parkir di depan studio musiknya.
Eldrick pun naik ke atas motornya, menyalakan mesin motor lalu mengendarai motornya dengan kecepatan penuh menuju titik merah di mana Freya berada.
*****
Di rumah mama Freya.
Freya terbangun karena mendengar nada dering panggilan masuk di ponselnya.
Ia pun beranjak dari tempat tidur lalu berjalan mendekati meja belajar dimana ia meletakkan tasnya, lalu mengambil ponselnya yang ada di dalam tasnya.
Nampak lah nomor tak dikenal di layar ponselnya.
"Nomor siapa ini?" Gumam Freya.
Freya pun mencoba mengingat-ingat nomor yang sedang menelponnya, manatau nomor dari orang yang ia kenal tapi ia lupa menyimpan nomor itu.
Sayangnya, ia tidak mengingat nomor yang sedang melakukan panggilan ke nomornya itu.
Freya pun enggan menjawab panggilan itu sampai akhirnya panggilan itu berakhir dengan sendirinya.
Setelah panggilan berakhir, Freya pun berniat melanjutkan tidurnya kembali. Namun baru selangkah ia melangkah dari tempatnya berdiri, ponselnya kembali berdering. Nomor tak dikenal yang sama yang kembali menghubungi Freya.
"Siapa sih ini? Apa jangan-jangan ini nomor baru pemilik kos?" Gumam Freya bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Jantung Freya pun berdegup kencang karena pemikirannya sendiri.
Ia takut kalau itu nomor pemilik kos yang ingin menanyakan keberadaan Freya dan menagih uang kos, padahal jatuh tempo masih ada beberapa hari lagi.
Dan karena pemikirannya itu juga, Freya pun memilih untuk tidak menjawab panggilan nomor itu.
Tanpa Freya sadari, nada dering Freya itu memancing buaya darat naik ke lantai atas.
Buaya darat itu siapa lagi kalau bukan Nick, ayah sambung Freya.
__ADS_1
to be continued...