Living Together With My Enemy

Living Together With My Enemy
Pulang Ke Rumah.


__ADS_3

"Fe..." Panggil Mike.


Freya pun menoleh ke arah Mike.


"Hai Fe." Sapa Mike saat sudah sampai di hadapan Freya.


"Hai Mike."


"Mmm, Aku mau minta maaf masalah..."


"Ah..sudah lah lupakan." Cepat-cepat Freya memotong kata-kata Mike karena tau apa yang ingin di bicarakan Mike.


Ada apa kau memanggil ku?!" Tanya Freya to the point.


"Kau mau pulang?"


Freya menganggukkan kepalanya.


"Kenapa?"


"Ayo ku antar." Tawar Mike.


"Tidak usah Mike. Aku bisa pulang sendiri." Tolak Freya halus.


"Tidak pa-pa, ada sesuatu yang juga ingin ku katakan padamu."


"Apa? Katakanlah disini."


"Aku tidak bisa mengatakannya disini. Bagaimana kalau kita bicarakan di kos-an mu."


Freya menggigit bibir bawahnya, tidak mungkin ia memberitahu Mike kalau dirinya sudah tidak tinggal di kos-an itu lagi dan akan pulang ke studio Eldrick. Lagi pula, Freya juga tau apa yang ingin dikatakan Mike.


"Kenapa? Apa ada masalah?" Tanya Mike yang merasa aneh dengan ekspresi wajah Freya.


Freya menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya kasar. Ia pun pura-pura tersenyum sambil menatap Mike.


"Tidak ada apa-apa. Sebenarnya, aku ada rencana ke suatu tempat. Jadi, kapan-kapan saja yah kalau mau ke kos-an ku." Jawab Freya.


"Kalau gitu biar ku antar." Mike masih kekeh berusaha mengantar Freya.


"Tidak usah Mike." Jawab Freya sambil menepuk pundak Mike.


"Aku duluan yah." Ucap Freya lagi sambil berjalan meninggalkan Mike.


"Tapi Fe...."


Freya tak menjawab ataupun memutar tubuhnya, ia hanya melambaikan tangannya pada Mike sambil terus berjalan.


*****

__ADS_1


Kini Freya sudah sampai di depan studio Eldrick. Sialnya, ia tidak bisa membuka studio Eldrick karena tidak tau kode password studio Eldrick.


Mau bertanya pada Eldrick pun, tapi ia tak punya nomor ponsel Eldrick.


Freya melihat jam yang ada di layar ponselnya. Sudah pukul setengah empat, itu tandanya sudah setengah jam dirinya menunggu Eldrick di depan pintu.


"Bagaimana ini, atau besok saja ku ambil barang-barang ku?!" Gumam Freya.


"Baik lah. Besok saja ku ambil." Freya pun berdiri dari duduknya di depan pintu studio.


Ia pun melangkah ke jalan besar untuk mencari taksi yang akan mengantarnya ke rumah sang mama.


Tak ada yang mengawasi Freya karena tiga bodyguard bayangan Eldrick sedang fokus mengawasi sang pewaris tahta yang sedang mengisi acara. Karena ini acara yang menghadirkan orang banyak, jadi tiga bodyguard bayangan Eldrick harus ketat menjaga Eldrick, takut-takut ada yang ingin mencelakai Eldrick karena tau siapa Eldrick yang sebenarnya.


Eldrick pun tidak meminta orang untuk mengawasi Freya, karena yakin setelah pulang kuliah, Freya akan langsung pulang ke studionya. Tapi Eldrick tidak ingat kalau ia belum memberitahu Freya kode password studionya.


Setelah perjalanan tiga puluh menit dari studio Eldrick menuju rumah mama Freya, akhirnya taksi yang mengantar Freya ke rumah mamanya tiba di depan rumah sang mama.


Freya pun memberikan sejumlah uang sesuai tarif taksi, lalu keluar dari dalam taksi.


Ia menatap rumah berlantai dua milik sang mama yang tidak terlalu besar tapi juga tidak terlalu kecil, tapi jika di bandingkan dengan mansion milik orangtua Eldrick, mungkin rumah mama Freya hanya lah sebesar ruang tamu di mansion orangtua Eldrick.


"Ayo Fe, kamu bisa." Freya menguatkan dirinya sendiri sebelum melangkahkan kakinya memasukki rumah mamanya itu.


Sesampainya di halaman rumah, ada mobil sang mama terparkir di halaman rumah.


"Apa mama di rumah?" Gumam Freya.


"Pasti si gi•la Nick yang ada di rumah." Lagi-lagi Freya bergumam.


Karena sudah sampai di halaman rumah, Freya pun memilih untuk melanjutkan langkah kakinya di banding harus kembali pulang ke studio Eldrick. Hatinya masih sangat panas kala mengingat Eldrick menyebut nama Maia, apalagi Freya juga sudah membaca buku harian Eldrick. Ia merasa Eldrick sedang mempermainkannya.


Kini Freya sudah sampai di depan pintu, ia menghela nafasnya kasar sebelum memutar handle pintu.


Ceklek. Pintu terbuka.


Freya melihat keadaan rumah yang begitu sepi.


"Pasti si benalu itu sedang tidur!!" Gumam Freya.


"Dasar benalu!! Bisa-bisanya ia tidur sedangkan mama ku sibuk mencari uang." Gumam Freya lagi.


Tak ingin mencari keberadaan suami brondong mamanya, Freya memilih untuk melanjutkan langkahnya naik ke lantai dua, dimana kamarnya berada. Kamar yang sudah empat bulan ini tidak ia tempati.


Ceklek. Freya memutar handle pintu kamarnya. Lalu masuk ke dalam kamar dan menutup pintu kamarnya dan mengunci pintu kamarnya, takut-takut ayah tirinya tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya saat dirinya tertidur dan mencoba memperkosanya kembali.


Bola mata Freya berkeliling melihat kamarnya, kamar yang sangat bersih dan rapih, padahal sudah empat bulan ia tidak menempati kamar itu.


Ia yakin sang mama lah yang membersihkan kamar itu.

__ADS_1


Freya yang sudah sangat rindu dengan ranjangnya, langsung menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang lalu memejamkan matanya, menikmati aroma kamar yang sangat ia rindukan. Di dukung rasa ngantuk yang luar biasa, Freya yang awalnya memejamkan mata hanya untuk menikmati suasana kamarnya, kini dirinya malah tertidur pulas.


*****


Sedangkan di lantai satu, Nick, ayah tiri Freya, ternyata sedang asyik menunggang kuda dengan pelayan di rumah mama Freya.


"Aah...mmmh...uuh..Nick.." desau Tere, nama si pelayan itu. Bahkan kini Tere si pelayan sudah berani memanggil suami majikannya dengan namanya, itu menandakan kalau hubungan terlarang Nick dengan Tere sudah terjalin lama.


"Uh...tubuh mu enak Te.." racau Nick sambil terus memompa pinggulnya untuk menghasilkan rasa nikmat.


"Rolling Te." Nick pun langsung memutar tubuh Tere. Sekarang Nick lah yang ada di bawah.


Tere pun mulai meliuk-liukkan pinggulnya.


Merasakan sesuatu ingin meledak dalam dirinya, Tere pun mempercepat gerakan pinggulnya.


"Ahhh...Tere.." racau Nick.


"Ssh..ah..Nick." Tere membalas racauan Nick.


"Apa kau sudah mau keluar?" Tanya Nick.


"Mmmh...uh...ah.." desau Tere sambil menganggukkan kepalanya.


Lima detik kemudian Tere pun membusungkan dadanya, karena sudah sampai di titik puncak kenikmatan.


Setelah selesai dengan pelepasannya, Tere pun mengambrukkan tubuhnya di atas tubuh Nick.


"Kita belum selesai Tere, jangan lemas dulu!!" Bisik Nick di telinga Tere.


Nick pun melepaskan jagung tua nya dari dalam mesin giling Tere, lalu membalikkan tubuh Tere hingga tengkurap, kemudian menaikkan sedikit bokong Tere agar memudahkannya kembali memasukkan jagung tuanya ke dalam mesin giling milik Tere.


"Aaakkh.." erang Tere saat jagung tua Nick kembali masuk ke dalam mesin gilingnya dari arah belakang


Nick pun kembali memompa pinggulnya agar jagungnya bisa tergiling nikmat di dalam mesin giling sehingga bisa menghasilkan bubur jagung.


Lima menit Nick memompa, akhirnya jagung tua milik Nick berhasil menyemburkan bubur jagung. Tapi sayangnya, bubur jagung itu harus tertampung dalam sarung karet yang sebelumnya Nick pasang pada jagung tuanya.


Setelah semua bubur keluar, Nick pun mengeluarkan jagung tuanya dari dalam mesin giling. Lalu melepas sarung karet kemudian mengikatnya sebelum ia melemparnya ke tempat sampah.


Nick pun membaringkan tubuhnya sejenak di samping Tere yang masih dalam posisi tengkurap karena lemas.


Bagaimana tidak lemas kalau ini adalah ronde ke tiganya melayani hasrat Nick.


Selepas mengantar Anne, mama Freya pergi ke kafe, Nick langsung mengurung Tere di dalam kamar Tere yang letaknya di dekat dapur.


Tere pun membalik tubuhnya hingga terlentang.


to be continued...

__ADS_1


*** Part ini atas bimbingan istri solehot💋💋. Makasih untuk istri solehot💋💋 yang sudah memberi bimbingan eksklusifnya. ***


__ADS_2