
Sebuah mobil sport biru berjalan perlahan memasuki pintu gerbang besi hitam setinggi dua meter. Pintu kembali tertutup setelah mobil itu berhasil melewati pos jaga kosong di belakang gerbang dengan tenang.
Suasana di dalam pekarangan rumah tampak gelap gulita. Hanya sinar rembulan dan pancaran dari lampu penerang di tepi jalan yang turut menyusup masuk, membantu pandangan mata si pemilik rumah yang baru saja tiba.
Endo memarkir mobilnya di halaman yang tak begitu luas itu dengan asal. Dimatikannya mesin mobil kemudian bergegas melangkah ke luar. Namun, bukannya segera masuk ke dalam rumah, ia justru berdiri diam di sebelah pintu mobil dengan sebatang rokok terselip diantara kedua bibirnya. Hujan lebat satu jam yang lalu, menyisakan hawa dingin yang menyapa kulit wajah tegasnya.
Kepalanya mendongak ke atas. Menatap ke arah jendela kaca salah satu ruangan di lantai dua. Ia yakin betul, saat mobilnya memasuki pintu gerbang, lampu di ruang kerjanya tersebut menyala terang. Namun kini, seluruh ruangan di rumah berkonsep minimalis itu menjadi gelap gulita.
Seharusnya lampu-lampu di rumah itu memang belum menyala, karena Anna, anak buah yang sekaligus merangkap sebagai asisten rumah tangga sedang ia tugaskan ke luar kota. Sementara Ringgo, tengah mengemban tugas yang ia berikan untuk mengecek keadaan proyeknya di Gorontalo. Sedangkan dirinya sendiri hingga selarut ini baru selesai kerja lembur di kantor.
Endo melempar puntung rokok ke tanah, kemudian memadamkannya dengan injakan kaki kanan yang beralaskan sepatu kulit hitam mengkilat. Detik berikutnya, ia melangkah pelan menuju pintu belakang dengan penuh kewaspadaan. Kaki panjangnya sedikit melompat sebelum menginjak lantai rumah.
Ya, Endo hafal betul, di depan pintu belakang terdapat sedikit tanah becek yang harus dihindari dengan sedikit lompatan jika tidak ingin masuk dengan alas kaki kotor oleh lumpur.
Endo berdiri diam sesaat, sengaja menahan langkah. Kedua bola matanya bergerak liar menyesuaikan penglihatan dengan pencahayaan dalam kegelapan .
Diarahkannya cahaya senter pada ponsel yang diambil dari kantong celana. Tepat sesuai perkiraan, tamu tak diundang telah masuk ke dalam rumah tanpa permisi melalui pintu belakang. Jelas terlihat olehnya, tiga pasang jejak alas kaki yang berbeda motif. Bukan hal yang sulit bagi Endo hanya untuk menghadapi tiga orang penyusup saja.
Endo kembali melangkah pelan menuju pintu yang menghubungkan ruangan yang dipijaknya itu dengan dapur basah. Dihentikan langkahnya sejenak, kemudian menyalakan sebatang rokok dengan tenang. Dihisapnya dalam-dalam racikan nikotin yang terjepit diantara jari tengah dan telunjuk kirinya, sebelum tangan kanannya meraba saklar di dekat pintu.
Seketika lampu menyala, menerangi ruangan bercat putih salju itu. Endo kembali mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Seluruh peralatan dan perabot dapur tertata rapi sebagaimanamestinya.
Dihisapnya kembali batang rokok di jari kiri setelah memastikan bahwa ruangan itu aman.
Endo kembali melangkah dengan tenang menuju lantai dua sembari menyalakan lampu di setiap ruangan yang dilewatinya.
Langkahnya terhenti tepat di depan pintu ruang kerja. Diulurkan tangannya untuk memutar handle pintu, kemudian melangkah masuk.
Tepat saat satu kakinya terayun masuk, ujung sebuah benda tajam yang dingin telah menyambut leher kanan, meninggalkan goresan luka di sana. Seorang laki-laki bertubuh tegap dengan tato kalajengking di sisi kiri leher keluar dari persembunyian di balik dinding sisi pintu dengan tangan kanan mengacungkan belati tepat di leher Endo.
Lampu ruang kerja itu mendadak menyala dengan terang benderang. Satu orang berkepala botak tampak berdiri dengan tangan kanan masih menempel pada saklar lampu.
Si laki-laki bertato menggerakkan mata, memberi tanda agar Endo mengangkat tangannya ke atas. Endo segera menuruti perintah laki-laki itu tanpa perlawanan.
"Mundur!" perintah laki-laki berkepala botak.
Endo berjalan mundur perlahan, keluar dari ruang kerja, diikuti Si Tato yang masih setia dengan todongan belatinya. Sementara Si Botak tampak menyelipkan map merah ke balik jaketnya, kemudian segera keluar dan menghilang di balik pintu ruangan yang lain.
"Berbalik! Merapat ke dinding!" perintah Si Tato.
Endo bergerak untuk melaksanakan perintah Tato. Namun bukannya berbalik, Endo justru berseru, "Lock down!"
Si Tato terkejut saat tiba-tiba terdengar bunyi "klik" bersahutan pada setiap jendela dan pintu keluar di rumah itu.
Tak membuang kesempatan, Endo melempar rokok yang masih terjepit di jari kirinya ke wajah Tato. Spontan laki-laki itu hilang kewaspadaan karena menghindari bara rokok yang mengenai kelopak matanya.
Endo memanfaatkan moment itu untuk menepis todongan belati di lehernya dengan tangan kanan. Tanpa membuang waktu, satu tendangan keras disarangkannya di perut Tato, hingga laki-laki bertubuh tegap itu jatuh terjungkal.
Satu kepalan tangan kanan kembali melayang mengenai rahang Tato yang tengah berusaha berdiri. Tubuh Tato terhuyung lemah. Tanpa mengulur waktu, Endo kembali menyarangkan tendangan kakinya tepat di perut, ditambah satu pukulan telak yang mengenai kepala, hingga Tato tersungkur tak sadarkan diri.
Endo duduk berjongkok di depan Tato, memastikan laki-laki itu telah benar-benar tumbang. Setelah memungut belati tak jauh dari tubuh yang tergeletak pingsan itu, Endo segera berbalik untuk mencari keberadaan Botak. Namun belum sempat kakinya melangkah, dilihatnya Botak tengah keluar dari salah satu kamar, datang mendekat dengan tinju yang siap melayang ke wajah Endo.
Tanpa membuang waktu dan tenaga, Endo melempar belati di tangannya. Tepat sasaran, belati menancap pada paha kiri Si Botak, hingga membuatnya jatuh tersungkur sembari meringis menahan sakit.
Dalam diam, Endo melangkah mendekat. Dicabutnya belati dari paha Si Botak dengan kasar, kemudian menjejak bekas luka itu dengan kaki kanannya.
"Argh ...!" teriak Botak menahan sakit akibat tekanan kaki Endo pada luka tusuk di pahanya.
__ADS_1
"Bugh!" satu pukulan mendarat di rahang persegi Si Botak.
Tanpa berlama-lama, Endo kembali melayangkan satu pukulan tangannya ke arah tengkuk Botak yang kemudian terkulai pingsan di tempat.
Endo menyapukan pandangan ke seluruh ruangan. Seluruh jendela dan pintu keluar, bahkan ventilasi di setiap dinding luar pun turut tertutup dan terkunci rapat. Bagaikan dikarantina, benar-benar tak ada celah sedikit pun bagi orang di dalam rumah itu untuk bisa ke luar, begitu juga sebaliknya.
Endo segera beranjak, bermaksud mencari satu lagi rekan penjahat yang telah masuk kedalam rumahnya. Sedetik kemudian tubuhnya berdiri menegang, teringat bahwa ada Rosella di salah satu kamar dalam rumah ini. Dan celakanya, ia melihat beberapa waktu lalu Botak keluar dari kamar yang ditempati Rosella.
"Sial!" geram Endo sembari bergegas menuju kamar gadis cantik itu.
Hanya dengan satu hentakan, pintu kamar Rosella terbuka lebar. Tampak gadis itu tengah berdiri kaku dan ketakutan di samping tempat tidur, dengan satu lengan kekar melingkar di leher jenjangnya. Sementara ujung dingin pistol kecil dengan peredam suara menempel di pelipis kanan gadis rapuh itu.
Endo diam terpaku di tempat dengan tatapan waspada. Sama halnya dengan laki-laki bertubuh kekar di balik punggung Rosella. Hanya saja, laki-laki itu menyeringai, menunjukkan kemenangan atas posisi dan kondisi yang lebih menguntungkan dirinya.
"Lepaskan dia!" perintah Endo dengan intonasi tenang. "Dan menyerahlah!" lanjutnya. "Percuma, kau tidak akan mungkin menang melawanku."
Endo melempar senyum tenang sembari membuka kancing jas navy yang masih melekat rapi di tubuhnya. Tidak sedikitpun ketakutan ataupun kecemasan tergambar di wajah tegasnya itu. Meskipun tatapan mata penuh kewaspadaan terus tersorot dari kedua netra birunya.
"Teruslah kau membual, Brengsek! Selagi kau masih bisa melakukannya," sahut Si Kekar lantang.
"Hei, Tuan. Apa kau lupa, ini adalah rumahku," hardik Endo dengan senyum terulas di bibir. "Daerah kekuasaanku," lanjutnya sembari memasukkan kedua tangan ke dalam kantong celana bahannya. "Dengan kata lain, kau sedang berada di dalam kandang musuh!"
"Kau pikir aku laki-laki pengecut yang akan ciut nyali hanya karena gertak sambalmu itu?!" bentak Si Kekar.
"Aku akan membiarkanmu pergi jika kau memilih untuk melepaskan gadis itu sekarang juga," sahut Endo dengan senyum tersungging di bibir. "Atau jika tidak ... aku tidak akan sungkan padamu," lanjutnya.
"Bedebah! Berani sekali kau meremehkanku!"
Endo menatap lekat-lekat kedua mata Rosella yang menyiratkan ketakutan luar biasa. Sejenak mata Endo mengerjab, kemudian melirik ke arah tangan kekar yang masih melingkar erat di leher wanita cantik itu.
Sedetik kemudian, Rosella nekad menggigit lengan tangan laki-laki bertubuh kekar itu sekuat tenaga.
"Argh ...! Brengsek!" maki Si Kekar terkejut sekaligus menahan sakit.
Karena terkejut, tanpa sengaja tangan kanannya menekan pelatuk hingga satu tembakan lolos ke sembarang arah. Tanpa membuang waktu, Endo segera menerjang tubuh laki-laki berotot itu sekuat tenaga.
Si Kekar jatuh terlentang dengan pistol terlepas dari genggaman tangan. Endo segera mendekat, kemudian melayangkan beberapa pukulan ke wajah laki-laki yang agaknya memang sedang sial itu.
"Kau masih menyayangi nyawamu?" tanya Endo sembari berjongkok dengan pistol hasil rampasan beralih tertodong ke pelipis pemiliknya sendiri.
"Aku akan membunuhmu," sahut Si Kekar dengan sisa tenaganya.
"Hah, jawaban yang salah," gumam Endo pelan, kemudian dilayangkannya satu pukulan tepat mengenai kepala penyusup itu yang berakhir dengan tak sadarkan diri.
Tatapan Endo beralih pada Rosella yang masih berdiri terpaku dalam diam. Sorot mata dan riak wajah gadis itu menunjukkan bahwa ia tengah mengalami guncangan yang hebat. Ya, memangnya wanita mana yang tidak akan terguncang jika berada di ujung pistol dengan leher terjerat lengan kekar seorang penjahat?
Endo segera beranjak dari tempatnya dan menghampiri Rosella yang masih menunjukkan ekspresi ketakutan luar biasanya.
"Kau baik-baik saja?"
Tak ada satu kata pun meluncur dari bibir Rosella. Namun gadis itu langsung menghambur dan membenamkan wajah pucatnya ke dada bidang laki-laki berwajah bule di hadapannya.
"Sudahlah, semua baik-baik saja," hibur Endo sembari mengusap kepala Rosella dengan lembut. "Kau aman sekarang."
Sesaat kemudian terdengar isakan lirih dari balik dada Endo.
"Hei, kenapa kau menangis?" tanya Endo cemas, sembari mendongakkan wajah cantik itu dengan kedua tangan kokohnya di antara kedua pipi tirus itu. "Sudah kukatakan bukan, semuanya baik-baik saja," lanjutnya. "Ada aku di sini. Tak ada yang perlu kau takutkan lagi."
__ADS_1
Kini wajah Rosella terdongak, menatap intens wajah tegas laki-laki yang memancarkan kelembutan di kedua netra birunya.
"Maaf ... maaf," ucap Rosella di antara isak tangisnya. "Maaf, aku telah membahayakanmu. Aku telah merepotkanmu. Kau jadi tertimpa banyak masalah karenaku."
"Hei, bicara apa kau ini?" hardik Endo lembut. "Aku baik-baik saja dan aku tidak merasa direpotkan olehmu," tambah Endo sembari menghapus air mata Rosella dengan kedua ibu jarinya.
Rosella memandang netra sebiru lautan itu lekat-lekat. Namun tak dapat dipungkiri, masih ada keraguan di benak gadis itu.
"Kau mengkhawatirkanku?" tembak Endo tepat sasaran.
"Aku takut jika anak buah Paola kembali menyerangmu lagi."
"Ya, kau benar," sahut Endo. "Yang membuat keributan tempo hari adalah anak buah Paola. Tapi aku sudah membereskannya," lanjutnya.
"Kau yakin?" tanya Rosella ragu.
"Tenanglah, uang selalu bisa menyelesaikan segalanya."
"Lagi?" tanya Rosella tak percaya. "Bukankah dulu kau sudah menebusku dengan nominal harga yang tak masuk akal?" lanjutnya. "Dan sekarang kau memberikan uangmu lagi padanya?"
"Sudahlah, aku hanya tak ingin kau kenapa-napa," sahut Endo. "Kami sudah sepakat, itu adalah yang terakhir kali. Jika dia masih berani bermain-main lagi dengan milikku, aku tak akan segan-segan menggulung bisnis haramnya itu."
Mulut Rosella tercekat mendengar penuturan Endo.
"Milikmu?" Ada nada tanya di sana, sebagai pertanda bahwa Rosella tengah meminta penjelasan.
Endo diam, tak menjawab. Meskipun ia tahu, gadis yang selalu merasa nyaman dalam dekapannya itu menanti serangkaian kata meluncur dari bibirnya.
"Mengapa kau begitu baik padaku?" tanya Rosella tak percaya. "Padahal aku ini bukan siapa-siapamu."
"Sejak aku mengenalmu dan memutuskan untuk menjagamu, maka sejak itu pula kau adalah bagian dari hidupku," ucap Endo sembari menatap lekat-lekat wajah cantik gadis di hadapannya itu.
"Tapi aku ...,"
"Ssst ...! Sudahlah. Buang rasa khawatirmu. Semua akan baik-baik saja," potong Endo menenangkan.
Sesaat Rosella menunduk, kemudian kembali menelusupkan wajahnya ke dalam dekapan hangat dada bidang Endo.
"Jika memang begitu, lantas kenapa Paola masih saja mengirim anak buahnya untuk mencelakaiku?" gumam Rosella.
"Tidak, kurasa kali ini ada orang lain yang menjadi dalang dari penyerangan ini," ucap Endo dengan rahang mengeras.
Sesaat kemudian, Endo mengurai dekapannya. Dituntunnya tubuh rapuh Rosella menuju tempat tidur.
"Sekarang istirahatlah. Aku harus segera membereskan semua kekacauan ini."
Tanpa menunggu jawaban Rosella, Endo segera menyeret tubuh Si Kekar keluar dari kamar beraroma feminin itu.
Dengan lincah Rosella turun dari tempat tidur. Kaki jenjangnya terayun menuju pintu. Sedetik kemudian Rosella tampak terdiam dalam keheningan dengan telinga menempel pada daun pintu kamarnya.
Sayup-sayup Rosella masih bisa mendengar suara Endo berbicara di telepon.
"Ada penyusup di rumahku. Selidiki! Aku ingin laporannya dalam dua hari!"
Tak ada lagi kalimat yang terdengar oleh Rosella. Mungkin Endo telah mengakhiri panggilannya dan berlalu dari depan kamar Rosella.
_______________________________
__ADS_1