LOCK DOWN

LOCK DOWN
Part 38. Batal Lamaran


__ADS_3

"Kenapa kau ada di sini?" tanya laki-laki bersetelan jas hitam dengan wajah kesal.


"Sedang apa kau di sini?" balas laki-laki bersetelan jas navy dengan wajah tak suka.


"Kau masuk ke ruanganku tanpa permisi?!"


"Kau lah yang telah mengacak-acak ruanganku saat aku sedang tidak berada di tempat!"


"Hei, tunggu dulu. Baru saja kau datang bersamanya, Cha?" tanya laki-laki bersetelan jas hitam sembari memegang pundak Echa, kemudian kembali menatap kesal ke arah lawannya. "Dasar brengsek! Apa yang kau lakukan pada kekasihku?!"


"Hei, singkirkan tangan kotormu dari kekasihku. Bedebah!" balas laki-laki bersetelan navy sembari menghempaskan tangan lawannya dari pundak Echa.


"Dia kekasihku! Sialan!"


"Kau pikir aku mau berbagi kekasih denganmu? Dasar brengsek!"


"Apa kau bilang? Berbagi kekasih? Hentikan omong kosongmu dan enyah kau dari hadapanku!"


"Kau lah yang harus pergi. Keluar kau dari ruanganku!" Laki-laki bersetelan navy merangsek masuk ke dalam ruangan sembari menggamit pergelangan tangan Echa.


"Maaf, aku mengganggu sebentar."


Tiba-tiba Disan menginterupsi. Laki-laki berlesung pipi itu telah berdiri tegak di tengah mulut pintu yang tidak tertutup.


"Aku membawa berkas yang kau minta semalam, Endo." Disan kembali bersuara saat ketiga orang di dalam ruangan itu hanya bergeming, diam seribu bahasa, bahkan tidak sedikitpun bergerak dari posisi masing-masing.


Disan memandang kedua laki-laki berwajah mirip Endo itu bergantian, kemudian kembali mengayunkan kaki dengan tenang. Sementara Echa masih diam dengan lukisan kebingungan di wajah cantiknya. Sesaat kemudian sudut bibir Echa sedikit terangkat, hampir tak terlihat.


"Kita lihat saja, akan menjadi sebingung apa tuan sedingin kulkas ini nanti," gumam Echa pelan, nyaris tak terdengar.


"Aku letakkan di meja," ucap Disan.


"Hah, ternyata dia lebih memilih mencari aman," gumam Echa kecewa.


Setelah meletakkan berkas di atas meja, Disan segera berbalik, berjalan pelan melewati Echa. Tiba-tiba langkah kakinya berhenti tepat di hadapan laki-laki bersetelan jas navy yang masih menggenggam pergelangan tangan Echa.


"Selamat siang, Pak Aldo. Kudengar Anda sudah berada di kantor sejak tadi pagi. Maaf, baru sekarang bisa menemui Anda."


Seketika laki-laki itu pun terdiam canggung, memandang ke sembarang arah menghindari sorot kesal Endo dan tatapan tak percaya dari dua mata bulat milik gadis cantik di sisinya.


"Jadi kau masih bisa mengenaliku?" gumam Aldo sembari melirik ke arah Disan. "Padahal aku sudah memangkas dan mewarnai rambutku sama persis dengan milik Endo."


"Bahkan suara dan gerak-gerik kalian pun bisa kubedakan," sahut Disan tenang.


"Menyebalkan ...," gumam Aldo tak terima.


"Jadi ... Pak Aldo? Benarkah ini Pak Aldo?" gumam Echa dengan tatapan tak beralih sama sekali. "Kenapa kalian begitu mirip? Seperti kembar ...."


"Mmm .... Ya, sebenarnya aku hanya iseng saja." Aldo memandang ke arah Disan. "Adikku memintaku untuk datang kemari."


Disan melirik ke arah Endo. Ia tahu betul untuk keperluan apa laki-laki berpembawaan santai di hadapannya itu datang kemari.


"Oh ... baiklah. Jika membutuhkan sesuatu, jangan sungkan untuk menghubungiku. Aku permisi dulu. Semoga hari Anda menyenangkan."


Disan segera melangkah pergi setelah kembali berjabatan tangan dengan Aldo. Ia berpikir lebih baik cepat-cepat menyingkir bila tak ingin terlibat dalam pertikaian dua saudara aneh itu.


"Hei, lepaskan tanganmu dari kekasihku." Tiba-tiba Endo mendekat, kemudian menarik tangan Echa dari cekalan Aldo.


Aldo memandang jengah ke arah adiknya, kemudian beralih menatap lembut gadis cantik yang masih berdiri di sampingnya.


"Nona cantik, perkenalkan namaku Aldo. Aku adalah kakak dari bocah tak tahu malu yang sedang memegang tanganmu itu." Tangan kanan Aldo terulur, memperkenalkan diri dengan sopan.


"Oh, Pak Aldo. Senang bertemu dengan Anda," sahut Echa sembari menyambut tangan kokoh milik laki-laki di hadapannya.


"Tidak bisa kah kau bersikap biasa saja padaku?" tanya Aldo. "Kau terlalu formal."


"Bukankah memang begitulah seharusnya? Saya hanya karyawan di sini."


"Dan sebentar lagi kita akan menjadi keluarga," ucap Aldo sambil melempar senyum khasnya. "Panggil aku kakak saja."


"Baik, Kakak," sahut Echa sembari melempar senyum manisnya.


"Good girl," puji Aldo sembari mengusap pipi Echa dengan lembut.


"Ck, singkirkan tanganmu itu," ucap Endo kesal, walau tak lagi penuh emosi seperti sebelumnya.


Aldo tersenyum, kemudian diraihnya tangan kanan Echa dan dikecupnya punggung tangan halus itu dengan lembut.


"Senang berkenalan denganmu, Nona cantik. Aku pergi dulu," pamit Aldo setelah menyudahi kecupannya.


"Aku juga senang, Kak Aldo. Terimakasih untuk hadiahnya tadi."


"Sama-sama," sahut Aldo, yang pastinya mengundang rasa kesal dan penasaran dari wajah Endo.


"Sepertinya aku akan pulang dan beristirahat saja," gumam Aldo pada Endo. "Aku lelah setelah hampir seharian penuh menemani gadis cantik ini."


"Apa? Jadi kalian telah bersama-sama semenjak pagi?" tanya Endo tak percaya.


Aldo tak menjawab, hanya tersenyum mengejek ke arah Endo sembari melangkah pergi meninggalkan ruangan privat milik adiknya itu.


"Jadi benar kau pergi berdua dengan Aldo? Bahkan sejak pagi kau bersama-sama dengannya di kantor?"


Sayup-sayup masih terdengar oleh Aldo, kata-kata bernada kesal yang ke luar dari mulut Endo.


"Echa mengenalinya sebagai Kak Endo," sahut Echa santai. "Siapa suruh kalian begitu mirip?"


Endo menarik pergelangan tangan Echa untuk membawanya duduk di kursi sofa.


"Sebenarnya tidak juga," ucap Endo setelah keduanya duduk dengan nyaman. "Gestur dan gaya bicara kami berbeda. Aku juga lebih tinggi dua senti dibandingkan dia. Bahkan jika kau mengamati secara lebih seksama, akan banyak sekali perbedaan yang kau temukan di antara kami," ucap Endo "Hah, mereka selalu saja mengatakan bahwa kami sangat mirip. Menyebalkan!" lanjutnya kembali kesal.


"Ya Tuhan, sulit sekali dan terlalu bertele-tele jika harus mempelajarinya," sahut Echa. "Baiklah, katakan pada Echa satu saja perbedaan kalian yang paling menonjol."


"Kenapa kau masih menanyakannya juga? Tentu saja aku lebih tampan dan keren dari pada Aldo."


Echa mendengus jengah ke arah kekasihnya, kemudian lebih memilih untuk diam karena malas berkomentar.

__ADS_1


"Ngomong-ngomong hadiah apa yang dia berikan?"


"Satu set peralatan kosmetik lengkap," jawab Echa seperlunya.


"Seharusnya aku yang membelikannya untukmu."


"Apakah Echa harus membuangnya?"


"Tidak perlu," jawab Endo santai. "Kau boleh menggunakannya. Bukankah akan lebih hemat bagiku?"


"Hah, Kak Endo perhitungan sekali pada calon istrinya," protes Echa dengan senyum geli di bibir.


Gadis itu pun beringsut duduk mendekat, kemudian merebahkan kepalanya di dada bidang Endo dengan manja.


"Baiklah, sekarang katakan padaku tadi kau ke mana saja bersama Aldo?"


"Hanya makan siang saja, tidak lebih. Kenapa?"


"Tidak kenapa-kenapa," jawab Endo sembari memainkan jemari lembut Echa. "Tidak terjadi hal buruk, bukan? Kau tidak menjawab teleponku. Aku mengkhawatirkanmu."


"Tidak, Kak. Semua baik-baik saja sampai kalian bertemu di tempat ini."


Endo tersenyum mendengar jawaban yang meluncur dari mulut gadis cantik itu. Tiba-tiba saja tangan Endo di jemari Echa berhenti bergerak, dengan kedua mata membulat.


"Apakah Aldo menciummu?"


Sontak Echa bangkit dari posisi nyamannya, menegakkan punggung, kemudian segera menghadap ke arah kekasihnya.


"Hehehe ...." Echa meringis memperlihatkan deretan giginya setelah sempat tersenyum canggung pada laki-laki bermata biru laut itu.


"Sialan!" umpat Endo dengan kedua tangan mengepal erat.


"Jika kami telah berciuman, sudah pasti Echa tahu mana di antara kalian yang bernama Endo," ucap Echa kesal, kemudian bangkit dan beranjak pergi.


"Kau mau kemana?" tanya Endo saat melihat Echa berjalan menjauh. "Cha, aku belum selesai bicara. Berhenti dan kemarilah ...! Hei, aku ini bosmu! Echa, aku ini calon suamimu, bagaimana bisa kau mengabaikanku begitu saja .... Hei!"


Echa terus melangkah dan melenggang pergi meninggalkan Endo sendirian di dalam ruangannya.


___


Echa melangkah masuk setelah Anna membukakan pintu untuknya.


"Tolong kau taruh di piring. Tadi Kak Endo bilang ingin makan martabak manis bersama Kak Aldo."


"Baik," jawab Anna.


"Oh ya, buatkan teh susu untuk kami bertiga."


Echa menyerahkan bungkusan plastik putih kepada Anna, kemudian berjalan pelan menaiki anak tangga di ruang tengah. Ia memang sengaja ingin masuk ke dalam kamar Endo yang pernah menjadi kamar sementaranya dulu, bermaksud untuk mengambil DVD yang belum sempat ditontonnya.


"Kau sudah datang, sayang?"


Terdengar suara seorang laki-laki dari ujung anak tangga, tepat disaat Echa akan melangkah masuk ke dalam kamar.


Echa pun melempar senyum kemudian berjalan menghampiri laki-laki berpenampilan kasual dengan kaos putih itu, setelah menutup kembali pintu kamarnya.


"Hei, apa yang kau lakukan pada kekasihku?" Tiba-tiba terdengar suara dari salah satu pintu kamar. "Menyingkir darinya!" Laki-laki berkaos merah itu berjalan mendekat.


"Ya Tuhan ... lagi?" keluh Echa jengah.


"Apa-apaan kau ini?" tanya laki-laki berkaos putih.


"Kau yang apa-apaan! Mencium kekasihku sesuka hatimu! Kau sudah bosan hidup?!"


"Stop! Kalian berdua, diam!" teriak Echa kesal. "Sekarang katakan padaku, siapa di antara kalian yang bernama Endo!"


"Tentu saja aku," jawab keduanya bersamaan.


"Siapa di antara kalian yang norak dan tidak punya malu?"


"Dia," sahut keduanya bersamaan dengan ujung jari saling menunjuk.


"Hah, aku melontarkan pertanyaan yang salah. "Baiklah, apa warna favoritku?"


"Tentu saja pink! Memangnya apa lagi?" Lagi-lagi keduanya menjawab bersamaan.


"Anna! Cepat kemari!" teriak Echa kesal.


"Ada yang bisa saya bantu, Nona?" tanya Anna begitu sampai di hadapan Echa.


"Katakan padaku, yang mana di antara mereka berdua yang bernama Endo?!"


Sesaat Anna menatap kedua laki-laki itu bergantian, kemudian menunduk tak berani menjawab pertanyaan Echa.


"Tentu saja aku, sayang." Tiba-tiba laki-laki berkaos putih bersuara.


"Hei, bagaimana mungkin kau tak mengenaliku, Cha?" seru laki-laki berkaos merah.


"Akulah Endo, dan dia Aldo."


"Bohong! Dia Aldo, dan aku Endo."


"Ya Tuhan, aku bisa gila jika begini terus!" teriak Echa frustasi.


Tiba-tiba saja laki-laki berkaos merah itu mendekat dan tanpa aba-aba langsung mencium bibir Echa tanpa permisi.


"Hei! Bajing*n tengik! Beraninya kau mengganggu milikku!" teriak laki-laki berkaos putih penuh emosi sembari melangkah mendekat dengan kepalan tangan kanan siap melayang.


Tanpa berpikir panjang Echa langsung menarik tangan laki-laki yang baru saja menciumnya. Diseretnya laki-laki itu masuk ke dalam kamar yang pernah ditempatinya beberapa minggu yang lalu.


"Apa kau ini Kak Aldo?" tanya Echa setelah mengunci rapat pintu kamarnya. "Benar bukan, kau ini Kak Aldo?" Echa kembali bertanya dengan wajah serius.


"Bukan, aku Endo."


"Tidak. Kak Endo tidak mungkin melakukan hal bodoh dan norak semacam itu," sanggah Echa cepat.

__ADS_1


Laki-laki itu pun mendengus kesal mendengar ucapan Echa.


"Jadi mengakulah, kau ini adalah Kak Aldo."


"Bukan, aku benar-benar Endo," sanggah laki-laki itu.


"Baiklah, jika kau memang benar-benar Kak Endo, maka aku akan memukulmu dan mencincangmu dalam bentuk dadu kecil-kecil."


"Kenapa begitu?"


"Karena Kakak telah dengan tidaktahumalunya menciumku di tempat umum!"


"Tempat umum?" tanya Endo tak mengerti.


"Apa Kakak tidak melihat ada Anna juga di sana?"


"Ya Tuhan, sayang ... ini adalah apartemenku, bukan tempat umum. Kau adalah kekasihku, calon istriku. Lalu apanya yang salah dengan ciuman itu?"


"Echa tidak mau tahu! Pokoknya Echa malu, Kak!" teriak Echa kesal. "Seperti orang bar-bar saja berciuman di depan orang lain!"


"Ayolah, sayang. Mengertilah .... Situasinya memang sedang tidak kondusif, makanya aku terpaksa menciummu. Jika tidak, bisa-bisa nanti kau salah mengenali orang dan akan memeluk Aldo."


"Omong kosong!"


"Lagi pula kurasa itu bukan hal yang akan mengganggu Anna dan Aldo," gumam Endo tol*l, yang sudah pasti membuat Echa semakin kesal.


"Jangan lupakan! Echa akan mencincang Kak Endo menjadi bentuk dadu kecil-kecil!"


"Ah, jika demikian mungkin aku adalah Aldo."


"Owh, begitu? Jadi kau ini adalah Aldo yang telah dengan kurang ajarnya mengaku-ngaku sebagai Endo?" ucap Echa dengan tatapan tajam siap membuat perhitungan.


Seketika Endo terkesiap mendengar ucapan Echa. Tatapannya tak beralih dari Echa yang berjalan mendekat bersiap mencincang.


___


Novera mendongak begitu terdengar suara pintu lift terbuka. Sesosok laki-laki bersetelan jas dark grey berjalan penuh wibawa menuju ruangan nomor satu di lantai itu.


"Selamat pagi, Pak," sapa Novera.


"Pagi," jawab laki-laki itu sembari menebarkan senyum secerah mataharinya. Sepertinya dia memang sedang merasa sangat bahagia pagi ini.


Echa mendongak sekilas kemudian kembali menatap layar laptop di hadapannya, tak memperdulikan sosok tegap yang tengah berdiri di depan mejanya.


"Selamat pagi, cantik."


"Pagi, Kak," sahut Echa sembari melempar senyum seperlunya, kemudian kembali pada kesibukannya.


"Kenapa kau tidak menyapaku?" tanya laki-laki bermata biru laut itu.


"Karena aku tahu Kakak akan menyapaku duluan," ucap Echa datar.


Echa tetap sibuk menari-narikan jari-jari lentiknya di atas keyboard. Sama sekali tak menghiraukan laki-laki di hadapannya yang tengah tersenyum kesal mendapati dirinya yang mendapatkan perlakuan tak menyenangkan dari sekretaris pribadinya.


"Oh ya, aku membawakan sarapan untuk Kak Endo." Echa kembali berucap. "Sudah kuletakkan di meja," lanjutnya. "Jika Kakak belum sarapan," tambahnya lagi.


"Tentu saja. Aku akan menghabiskannya nanti."


"Bagus."


"Kau tahu? Kau tampak begitu cantik pagi ini."


"Ya Tuhan, tidak adakah tempat lain yang bisa dianggap layak untuk kalian saling merayu seperti ini?" keluh Novera tiba-tiba.


Echa mendongak, kemudian menoleh dengan tatapan kesal ke arah Novera, sama seperti yang dilakukan oleh laki-laki berparas bule itu.


"Sudahlah, Kak. Aku sedang sibuk, jangan menggangguku."


Echa kembali fokus pada keyboard dan layar laptop.


"Hanya memberikan pujian pada calon istri saja, apakah aku salah?"


"Sudahlah, Kak. Aku tahu ....."


"Hanya sebentar saja."


"Kak Aldo ...." Echa menggeram kesal.


"Kau tahu ini aku?" tanya Aldo tak percaya.


"Tentu saja." Echa mengalihkan pandangannya dari layar laptop kepada laki-laki di hadapannya.


"Bagaimana bisa?"


"Kak Endo selalu berpakaian rapi, tidak seperti ini. Lihatlah, Kak Aldo mengenakan setelan jas tanpa dasi di leher. Lalu ujung kemeja keluar dari pinggang celana. Itu saja sudah menjelaskan jika Kakak bukanlah Kak Endo."


"Kau tahu banyak tentang adikku rupanya."


"Penampilan seperti ini ... sungguh terlihat seperti don juan yang tak pernah mau melepas predikat playboy-nya."


"Belum jadi istri adikku, kau bahkan telah berani mengoreksi penampilanku ...," gumam Aldo kesal.


"Aku jadi penasaran ... seperti apa sosok Kak Leni itu? Bagaimana bisa dia terjerat laki-laki seperti ini?" Echa menunjukkan wajah penasaran yang kentara. "Atau jangan-jangan justru Kak Aldo lah yang terjerat olehnya? Sepertinya yang terakhir lebih masuk akal. Hahaha ...."


"Ternyata pilihan adikku ini adalah gadis yang menyebalkan juga."


"Satu lagi," sahut Echa cuek. "Kak Endo selalu mencacat masakanku, meskipun belum mencicipinya sekalipun. Dia tak pernah berjanji akan menghabiskannya seperti Kak Aldo tadi, karena tahu bahwa rasa masakanku selalu hancur."


Echa menghela nafas, kemudian menyandarkan punggunggungnya di sandaran kursi sembari melipat kedua tangannya bersedekap di depan dada.


"Entahlah, aku sendiri pun heran kenapa dia tidak bisa sebentar saja berpura-pura menyukai masakanku kemudian memujinya di hadapanku."


Aldo tersenyum geli mengamati tingkah absurd gadis di hadapannya itu.


"Sepertinya sekaranglah saatnya bagiku untuk berpikir ulang tentang rencana pernikahanku dengannya. Bukankah akan menyebalkan jika tinggal seatap dengan laki-laki seperti itu, Kak?"

__ADS_1


BERSAMBUNG ...


__ADS_2