
Endo memacu mobil sport biru kesayangannya dengan kecepatan sedang. Wajah tampan dengan senyum bersahabat yang sering membuat para gadis tergila-gila, sejak tadi pagi tak terlihat sama sekali. Entah kemana perginya senyum hangat itu.
Di sebelahnya duduk seorang sekretaris cantik dengan rambut melambai-lambai tertiup angin, menikmati udara segar di pagi yang cerah itu. Ya, mobil sport dengan kap terbuka milik atasannya itu membuat helaian rambut indah terurainya menjadi bergerak-gerak liar saling beradu untuk turut terbang menikmati udara bebas yang penuh dengan guyuran sinar hangat mentari pagi itu.
Gadis bermata bulat itu hanya terdiam dengan pikirannya sendiri sepanjang perjalanan. Tak ada satu kata pun terucap dari bibir mungilnya. Hanya kedua alisnya saja bergerak-gerak lucu hampir tertaut.
"Kau kenapa?" tanya Endo di sela keterdiaman mereka.
"Tidak, Pak," sahut Echa setelah menoleh dengan ekspresi terkejut mendengar suara atasannya yang tiba-tiba.
"Kau seperti sedang memikirkan sesuatu, Cha," ucap Endo sembari menoleh dengan kedua tangan tetap berada di roda setir.
"Bapak memperhatikan saya?" tanya Echa dengan ekspresi keheranan.
"Katakan apa yang kau pikirkan," sahut Endo tanpa menggubris pertanyaan yang ditujukan padanya.
"Ah, tidak, Pak," sahut Echa. "Saya hanya ... saya hanya sedang berpikir, apakah benar bapak ini abnormal?"
Kedua mata Endo mendelik, tak paham dengan apa yang dimaksud oleh sekretaris cantik tetapi absurd di sebelahnya itu.
"Apa benar Bapak menyukai Samuel? Bagaimana bisa?" tanya Echa lebih seperti sedang bergumam pada dirinya sendiri.
Endo tersentak mendengar kalimat yang baru saja keluar dari mulut sekretarisnya. Mimik wajah datarnya berubah kesal. Cengekraman tangan di roda kemudi menjadi semakin menguat. Jika yang di sebelahnya itu adalah Disan atau Rudi, mungkin sudah langsung dibunuhnya saat itu juga.
Echa melirik ke arah Endo dengan ekor mata bulatnya. Laki-laki itu tampak kesal .Terlihat jelas kedua mata biru itu melotot dengan kilatan merah, siap menerkam apa saja yang ada di hadapannya.
Sudut bibir Echa sedikit terangkat melihat apa yang terjadi pada atasannya itu. Moment langka yang benar-benar tidak boleh dilewatkan. Ya, Echa memang belum pernah sekali pun melihat wajah kesal, apa lagi penuh amarah milik laki-laki yang kini tengah menggenggam roda setir di sampingnya itu. Sejak awal kenal hanya wajah tampan bersahabat dan senyum hangat yang selalu menyempurnakan penampilan laki-laki yang pernah mengisi hatinya itu.
"Tapi jika memang iya, saya rela mengalah, Pak," lanjutnya lagi dengan sengaja. "Saya akan mundur saja demi kebahagiaan Bapak dengan Samuel."
Echa memasang wajah murung. Pura-pura merasa berat dan sedih dengan keputusan yang baru saja diucapkannya.
"Ciiittt ...!" Tiba-tiba Echa dikejutkan dengan mobil yang berhenti mendadak. Endo menginjak rem sedalam yang ia bisa, hingga kening penumpang di sebelahnya terbentur dashboard tanpa sengaja. Benar-benar di luar perkiraan gadis itu.
Tiada angin, tiada hujan, tiba-tiba Endo meraih tengkuk gadis di sisinya dan mencium bibir mungil itu secepat kilat tanpa permisi. Semua terjadi begitu cepat, tanpa gadis itu sempat menyadari situasi tersebut, apa lagi menghindarinya.
"Apa-apaan ini?!" hardik Echa sedetik kemudian sembari mendorong tubuh Endo dengan sekuat tenaga.
Kedua mata bulat Echa tampak berkilat merah penuh amarah. Walaupun hanya sebuah ciuman sekilas, namun cukup membuatnya syok dan mampu menyulut emosinya hingga ke ubun-ubun.
"Agar mulutmu itu berhenti mengoceh," sahut Endo santai namun tetap dengan wajah datar. "Kita bahkan pernah menguntai kenangan indah bersama, bagaimana mungkin kau bisa berpikiran seperti itu tentangku?" hardiknya kesal.
"Dasar kau laki-laki tidak bermoral!" umpat Echa masih dengan mata berkilat dikuasai amarah. "Jangan mentang-mentang kau adalah atasanku, lantas kau bisa seenaknya berlaku tidak sopan padaku!"
"Tidak sopan? Tidak sopan bagaimana? Kau yang memulainya. Kau yang mulai tidak sopan padaku dengan mengatakan hal-hal tidak masuk akal dan telah melukai harga diriku sebagai laki-laki!" hardik Endo dengan serentetan kata-kata panjang.
"Kau! Dasar kau laki-laki brengsek!" umpat Echa lagi.
"Sudahlah, kita anggap saja impas," sahut Endo santai.
"Impas katamu?" ulang Echa dengan mata berapi-api
"Ya, impas. Kau telah menginjak harga diriku sebagai laki-laki, dan aku memulihkan kembali harga diriku dengan ciuman itu," sahut Endo.
"Mudah sekali kau berkata seperti itu!" hardik Echa tak terima.
"Seharusnya bukan hanya ciuman sekilas seperti itu, tetapi ciuman yang lebih dalam agar kau tahu di mana kau harus memposisikan dirimu." Endo menyahuti bentakan Echa dengan santai.
"Sialan! Kau telah mencuri ciuman dariku!"
"Mencuri ciuman?" ulang Endo pura-pura polos.
"Ya Yuhan, aku benar-benar tak percaya, ciuman pertamaku direnggut oleh bos mesum seperti dirimu dengan cara rendahan seperti ini," rutuk Echa konyol. "Aku membencimu, bos mesum!" teriak Echa kesal.
Endo tertawa lebar mendengar apa yang diucapankan oleh sekretaris absurd di sampingnya itu. Sedari pagi, baru kali ini lah akhirnya terlihat tawa renyah menghias wajah tampannya itu.
"Hei, kita bahkan pernah melakukan lebih dari itu. Kita pernah memiliki ciuman panas bersama," sahut Endo dengan seringai di bibirnya.
"Apa maksudmu?" tanya Echa tak mengerti.
"Malam itu ...," jawab Endo menggantung.
"Malam itu?" tanya Echa penasaran. "Apa?"
"Hari disaat kau terbangun di salah satu kamar di rumahku ...," sahut Endo, sengaja menggantungkan kalimat yang akan diucapkannya.
__ADS_1
Echa terdiam beberapa detik mengingat-ingat dan mencerna apa yang dimaksud oleh bos mesumnya itu. Sedetik kemudian gadis itu terkesiap dengan mulut dan kedua mata membulat.
"Malam itu ...," gumam Echa terbata.
"Iya, malam itu," sahut Endo santai.
"Jadi malam itu ...," gumam Echa lagi dengan suara pelan.
"Iya, malam itu," sahut Endo lagi dengan seringai di bibir.
Spontan Echa menutup bibirnya dengan kedua tangan. Pandangan matanya kosong menatap ke sembarang arah. Tak siap menerima informasi yang baru saja diterimanya.
"Apa kau ...." Bibir Echa tercekat, tak kuasa melanjutnya pertanyaannya.
"Sayangnya tidak," potong Endo pura-pura kecewa. "Sayangnya aku tidak melakukan sampai sejauh itu padamu," lanjutnya. "Dan aku menyesal."
"Menyesal karena menciumku?" Echa meminta kejelasan.
"Menyesal karena tak melakukan lebih jauh padamu," jawab Endo dengan senyum jahil di bibirnya. "Aku tidak keberatan mengulangnya lagi jika kau ingin mengenang kembali bagamana rasanya."
"Hah, persetan kau Endo Devon Atmaja!" umpat Echa dengan suara sekencang mungkin sembari mendorong Endo dengan sekuat yang ia biaa.
"Hahaha ...!" Bukannya marah, kesal, atau merasa bersalah, Endo justru senang menerima perlakuan kasar gadis cantik itu. Tawa lepas Endo pun berderai begitu saja. Dilemparkan pandangannya ke sembarang arah tetap sembari tertawa karena tak tahan melihat wajah syok gadis yang tengah terduduk kesal di sampingnya itu.
Ya, Rencana Echa untuk menjahili dan membuat kesal Endo berakhir dengan posisi berbalik. Gadis itu lah yang kini terdiam kesal, bahkan dipenuhi dengan emosi dan amarah.
"Aku tidak keberatan melakukannya denganmu lagi agar kau bisa kembali teringat bagaima rasanya," goda Endo lagi.
Echa hanya diam mengerucutkan bibir dengan kedua pipi merona menahan malu. Gadis itu tahu, sejauh apa pun ia mendebat, tetap laki-laki itu lah yang akan tertawa senang karena telah berhasil membuatnya merasa malu luar biasa.
Endo kembali menyalakan mesin mobilnya. Dipacunya kendaraan tersebut dengan kecepatan sedang menembus jalanan yang mulai terbebas dari jebakan arus pelajar dan pekerja yang berlomba-lomba untuk segera tiba di tempat tujuan masing-masing.
Echa masih diam dengan mulut mengerucut kesal. Sementara Endo menikmati perjalanannya sambil bernyanyi kecil menirukan Just Give Me A Reason Milik Pink feat Nate Ruess.
Sepuluh menit kemudian, mobil menepi, kemudian berhenti di pelataran sebuah toko asesoris tak jauh dari kantor Endo berada.
"Loh, kenapa kita berhenti di sini, Pak?" tanya Echa bingung. "Kantor kita kan masih lurus sedikit?" lanjutnya.
"Kau tunggu di sini sebentar," sahut Endo dengan senyum mengembang di bibir.
Endo segera keluar dari mobil, melangkah lebar melewati pintu toko. Hanya dalam lima menit laki-laki bersetelan jas navy itu sudah tampak kembali berjalan menghampiri Echa yang masih setia menanti di dalam mobilnya.
"Ini," ucap Endo sembari menyodorkan paparbag kecil kepada Echa.
"Apa ini, Pak?" tanya Echa sembari meraih paperbag itu dari tangan Endo.
"Bukalah," perintah Endo.
Dengan penuh penasaran Echa membuka dan mengeluarkan isi dalam paperbag.
"Ikat rambut?" tanya Echa tak mengerti.
Beberapa ikat rambut dengan berbagai macam model indah tersaji di atas telapak tangan halus gadis itu. Termasuk di dalamnya empat buah jepit rambut dengan karakter Hello Kitty berwarna pink.
"Ternyata dia masih mengingat bahwa aku sangat menyukai karakter ini." Sudut bibir Echa terangkat ke atas.
"Rapikan rambutmu!" perintah Endo dengan wajah serius.
Echa bergeming. Dipandangnya laki-laki yang telah duduk nyaman di jok sampingnya itu dengan tatapan bingung.
"Sudah kukatakan, bukan? Kau hanya boleh menggerai rambutmu di hadapanku saja, tidak yang lain," bisik Endo pelan.
"Tadi pagi saya tidak sempat menggunakan hair dryer, Pak. Jadi terpaksa rambut ini saya gerai saat berangkat ke kantor. Rencananya mau saya betulkan di toilet setelah tiba di kantor. Tapi belum sempat ke toilet, Bapak sudah mengajak saya ke luar," jelas Echa panjang kali lebar.
Tubuh Endo beringsut pelan. Dicondongkan wajah tegasnya itu hingga hidung mancungnya hampir bersentuhan dengan hidung Echa.
"Kuulangi sekali lagi," sahut Endo tanpa menggubris penjelasan Echa barusan. "Kau hanya boleh menggerai rambutmu di hadapanku saja, tidak yang lain!" ucap Endo penuh penekanan di setiap kata dengan ekspresi datar dan tegas.
"Yes, Sir," sahut Echa tanpa sadar.
Tubuhnya sedikit condong ke belakang menghindari tekanan dari Endo.
"Good girl," puji Endo dengan seringai puas di sudut bibir.
Endo kembali memundurkan wajahnya, memberikan ruang pada Echa agar dapat kembali pada posisi duduknya semula.
__ADS_1
"Nanti begitu sampai kantor akan langsung saya rapikan di toilet, Pak," ucap Echa kemudian.
"No. Sekarang," sahut Endo datar.
Echa kembali mengeluarkan isi di dalam paperbag. Dipilihnya salah satu jepit rambut berhias rangkaian bunga hitam berputik merah dengan jaring cepol hitam di bawahnya. Dengan cekatan kedua tangan Echa bergerak, malakukan apa yang bosnya perintahkan.
"Bagaimana jika begini?"
Echa sengaja menghadap lurus ke depan agar Endo dapat melihat cepolan rambutnya dari samping. Gadis itu memamerkan hasil karyanya sembari melempar senyum manis dan kerlingan genit pada bos aneh di sampingnya itu.
Endo mengernyitkan kening, terdiam selama beberapa detik.
"Cantik," gumam Endo pelan tanpa sadar.
"Barusan Bapak bilang apa?" tanya Echa masih dengan lirikan dan senyum manis di bibir.
Sesaat Endo diam tak menjawab, kemudian menyembulkan senyum mengejek di detik berikutnya.
"Kau mencoba menggodaku? Sungguh kau tak pantas sekali merayuku seperti itu," ledeknya dengan kedua mata menyipit.
Echa hanya mencebik, kemudian kedua bibirnya mengerucut lucu, membuat Endo tak henti-hentinya tertawa.
Setelah yakin gadis di sisinya telah duduk dengan nyaman, Endo kembali menyalakan mesin mobilnya.
"Satu lagi," ucap Endo tiba-tiba. "Senyum dan kerlingan seperti itu tadi, jangan pernah kau berikan kepada siapa pun selain aku," lanjutnya tegas.
"Kenapa begitu?" tanya Echa tak habis pikir.
"Ya memang begitulah peraturannya," sahut Endo cepat.
"Huh, banyak sekali peraturan-peraturan konyol yang harus kupatuhi hanya untuk magang di tempatmu saja!" keluh Echa pelan.
"Aku mendengarnya," sahut Endo dengan seringaian menghias bibir sembari menginjak pedal gas dan bertolak meninggalkan satu-satunya toko asesoris yang pernah dimasukinya.
"Kenapa saya merasa perlakuan Bapak sepanjang pagi ini seperti laki-laki yang sedang jatuh cinta?" gumam Echa di tengah perjalanan.
"Apa maksudmu?" sahut Endo santai.
"Bapak memperlakukan saya seperti seorang kekasih," sahut Echa. "Begitu posesif."
"Hahaha ...!" Endo tertawa lebar mendengar asumsi yang Echa sampaikan. "Jangan terlalu besar kepala. Jika memang ada yang akan jatuh cinta di antara kita, itu adalah kau."
Endo kembali tertawa lebar mendapati sekretarisnya yang mencebik keki. Selanjutnya gadis itu pun memasang wajah cemberut sepanjang perjalnana menuju kantor.
Tepat pukul sepuluh, keduanya tiba di area kantor. Endo keluar dari mobil kemudian menyerahkan kuncinya kepada Feri.
"Kalian pasangan yang serasi," ucap Feri setelah membukakan pintu untuk Echa.
"Kau cari mati?!" sahut Echa tak terima karena disebut serasi dengan bos yang telah membuatnya kesal bukan kepalang.
Feri terbengong mendengar ucapan kasar Echa yang tak seperti biasanya. Sementara Endo justru tertawa geli sembari berjalan santai meninggalkan Feri bersama mobil kesangannya.
Echa segera turut beranjak mengikuti langkah bosnya sembari terus melirik tajam ke arah Feri. Semenit kemudian, keduanya telah berada di dalam bilik lift menuju lantai paling atas dari gedung kantor itu.
"Apa kau melupakannya?" Tanya Endo tiba-tiba, setelah keduanya cukup lama saling diam terjebak dalam keheningan.
"Apa maksud Bapak?" tanya Echa tak mengerti.
"Ciuman lima tahun yang lalu," sahut Endo vulgar. Kedua tangannya bergerak masuk ke dalam kantong celana bahan yang dikenakan. "Atau mungkin kita bisa melakukannya lagi agar kau bisa kembali mengingatnya."
"Kuperingatkan, lupakan semua itu. Berhentilah menggodaku!" hardik Echa dengan wajah masam. "Kau tidak perlu mengarang cerita menyesatkan seperti itu hanya untuk menggodaku, memancing rasa kesalku, atau pun membuatku merasa bersalah!"
"Hah, baiklah," ucap Endo mengalah akhirnya, tepat di saat pintu lift terbuka. "Setidaknya kau yakin jika ciuman pertamamu adalah denganku," lanjut Endo pelan sembari melangkah ke luar dari bilik lift.
"Sekali lagi kuperingatkan! Jangan menyebar gosip!" ancam Echa sembari melangkah lebar mengejar atasannya yang berjalan santai penuh senyum dengan gaya jumawa.
"Apa aku harus menceritakan ini pada Novera?" tanya Endo tanpa menoleh. "Ah tidak, semua karayawan. Mungkin akan menjadi trending topic bulan ini," lanjutnya. "Bagaimana jika semua karyawan tahu? Termasuk Samuel?"
"Kau ingin mati, ya?!" bentak Echa kencang sembari menghentikan langkahnya, hingga Novera turut menoleh, memperhatikan keduanya dengan tatapan tak mengerti, bingung, dan heran berbaur menjadi satu.
Sementara Endo justru terus melangkah sambil tertawa lebar menuju ruangannya. Laki-laki itu benar-benar menikmati wajah kesal dan bentakan kasar dari gadis cantik yang telah dua bulan ini magang di perusahaannya itu.
Sepertinya sifat keduanya telah kembali normal. Endo dengan tawa dan senyum di bibirnya, sedangkan Echa dengan wajah cantik namun jutek dan kasar, khususnya kepada sang atasan.
BERSAMBUNG ...
__ADS_1