LOCK DOWN

LOCK DOWN
Part 46. Akhirnya Sah


__ADS_3

Malam semakin larut. Para tamu undangan sudah pamit undur diri sejak berjam-jam yang lalu. Hanya tertinggal beberapa kolega, kerabat, serta teman dekat saja.


Echa berdiri di samping Endo dengan senyum bahagia di bibir. Pesta pernikahan dua sejoli itu telah berlalu menyisakan kenangan indah di hati keduanya. Sangat melelahkan memang, namun juga begitu membahagiakan. Memangnya hal besar apa lagi yang mereka inginkan selain saling bersanding satu sama lain?


Polesan riasan wajah Echa kali ini tampak begitu mewah dan sungguh mempesona. Hiasan layaknya mahkota tersemat menutup dari ujung dahi hingga mampu menyembunyikan anak rambut yang biasanya nakal terjuntai liar kemana-mana, membuat wajah mungilnya tampak bersinar begitu cerah malam ini.


Rambut hitam sepunggungnya pun disanggul dan dipenuhi dengan hiasan berupa bunga melati yang dirangkai sedemikian rupa hingga menutupi seluruh bagian rambut. Juga terdapat rangkaian bunga-bunga melati yang terselip di belakang telinga, menjuntai indah melewati pundak hingga bawah dada. Kebaya pengantin berlengan panjang warna cream pastel dengan juntaian ekor panjang hingga belakang lutut yang sangat indah dipadu dengan kain batik halus dan bulatan mutiara yang menghias tepian ekor menjadikannya tampak semakin cantik dan elegan.


Malam ini Echa benar-benar terlihat begitu mempesona bagai ratu seluruh dunia. Banyak mata laki-laki terhipnotis akan kecantikannya. Namun tak sedikit juga wanita yang merasa iri dengan penampilannya malam ini.


Tatapan Echa beralih pada pengantin pria yang telah sah menjadi suaminya sejak beberapa jam yang lalu. Laki-laki itu tengah asyik bercengkerama dengan seorang bocah empat tahun yang tertawa manja dalam gendongan bahu tegapnya.


"Dasar begundal!" Tiba-tiba saja sepasang suami istri datang mendekati Endo. "Akhirnya kau laku juga," seru sang laki-laki sembari menepuk pundak Endo pelan.


"Hei, apa-apaan kau ini, Erik? Kau pikir dia akan menjadi bujang lapuk seperti dirimu dulu?" hardik Aldo yang tiba-tiba saja sudah ada di belakang Erik bersama seorang wanita cantik yang tengah menggendong bayi mungil di kedua tangannya.


"Lima tahun dia menunggu datangnya dewi cinta bagai orang bod*h. Berharap sang dewi akan mengembalikan kekasih berseragam putih abu-abu SMA-nya dulu," sahut Erik.


"Dan sekarang kekasih putih abu-abu itu telah sah menjadi miliknya selamanya," timpal Aldo.


Echa dan Endo, keduanya tersenyum malu-malu mendengar kelakar kedua laki-laki yang memiliki posisi penting di hati Endo.


"Kenapa kau harus muncul?" tanya laki-laki berwajah Korea tertuju pada Echa. "Seharusnya kau muncul lima atau tujuh tahun lagi."


"Dan aku akan menjadi bujang lapuk seperti dirimu, Derri?" sahut Endo cepat. Sementara Echa hanya tersenyum menanggapi ucapan Derri sebelumnya.


"Hei, jaga bicaramu," sahut Derri tak terima. "Sekarang aku telah memiliki seorang istri yang sangat cantik," lanjutnya sembari merangkul pinggang wanita cantik di sisinya dengan posesif.


Seluruh mata tertuju ke arah istri Derri.


"Kiara ...," gumam Erik. "Jadi kalian masih bersama? Belum bercerai?"


"Hei, apa maksudmu membicarakan tentang perceraian?" hardik Derri benar-benar tak terima.


Istri Erik maju ke depan, menghampiri bocah dua tahun dalam gendongan Derri.


"Hei, cantik, apa kabar? Masih ingat dengan Tante Sukma?"


Sukma melempar senyum hangat beberapa saat, kemudian mengulurkan tangan untuk menggendong bocah itu.


"Dulu kupikir Kiara tak akan tahan menjadi istrimu dan kalian akan segera bercerai dalam waktu singkat." Erik kembali berucap.


"Apa kalian tidak melihat, istriku sedang mengandung anak kedua kami?" tanya Derri setelah putri cantiknya berpindah ke dalam gendongan Sukma.


"Berapa bulan?" tanya Aldo.


"Kemungkinan bulan depan dia akan lahir ke dunia," sahut Kiara.


"Ya Tuhan, putrimu saja baru berusia dua tahun, kemudian sekarang istrimu sudah hampir melahirkan lagi?" Endo turut nimbrung dengan ekspresi tak percaya.


"Hei, apa kau tidak bisa sedikit saja menahan hasratmu itu?" hardik Erik pada Derri.


"Oh my ... ternyata dia tak tahu apa itu alat kontr*s*psi," seru Aldo tak habis pikir ke arah Derri yang kemudian ditanggapi dengan tawa yang pecah di tengah obrolan itu.


"Hehehe ...." Sementara Derri hanya nyengir kuda sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Sekarang hanya tersisa kau, Rom." Aldo berujar kepada Romi yang sedari tadi hanya turut tersenyum tanpa ikut angkat bicara. "Kapan kau akan menikah?"


"Sudahlah, jangan pikirkan aku," jawab Romi. "Aku akan menikah jika waktunya tiba.


"Jangan terlalu lama. Kami penasaran bagaimana wajah anakmu kelak." Aldo kembali berucap.


___________


.


Tangan kanan Echa terulur, kemudian jari telunjuk menyentuh tombol mute untuk menghentikan pemutaran video. Sesaat kemudian terdengar helaan nafas dari gadis mungil itu. Terdengar berat, namun juga lega.


"Kemarin Echa sempat berpikir Rose akan nekad terbang kemari untuk mengacaukan pernikahan kita, Kak." Echa bergumam masih dalam posisi yang sama, tengkurap dengan dagu tertumpu pada paha Endo yang tengah duduk bersandar pada headboard tempat tidur.


"Sudah kubilang bukan, kau hanya terlalu khawatir," timpal Endo. "Dia tidak akan mungkin menjadi segila itu."


"So ... kapan Kak Endo mengusirnya dari rumah Kakak?" tanya Echa kemudian sambil kembali mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruang kamar serba pink-nya yang disulap menjadi kamar pengantin yang begitu indah.


"Hal itu aku serahkan pada Rendi," sahut Endo yang tengah bertelanjang dada sembari menerima ponsel dari tangan Echa kemudian meletakkannya di atas nakas. "Kurasa dialah orang yang bisa menyeret Rosella dari rumahku. Seharusnya saat ini wanita itu sudah tidak ada lagi di sana."


Endo terdiam sejenak sebelum kembali melanjutkan ucapannya.


"Sejujurnya ... aku tak punya cukup keberanian untuk mengusirnya."


Laki-laki yang tengah bertelanjang dada itu menghela nafas berat.


"Apa maksud Kak Endo?" Perlahan tangan Echa bergerak menarik selimut hingga sebatas leher untuk menutupi pundaknya yang terekspos.


"Aku tak tega, Cha. Walau bagaimanapun karena dia lah aku jadi semakin yakin dengan hubungan kita. Aku bahkan sempat merasa takut kehilanganmu. Aku jadi sadar betapa berartinya kau bagiku."


"Begitu?"


"Ya. Dia adalah orang yang diutus Tuhan untuk menyadarkanku tentang betapa pentingnya hadirmu di dalam hidupku."


Mendengar ucapan Endo, kedua sudut bibir Echa tertarik ke atas. Ia pun kembali beringsut, turut duduk bersandar kemudian merebahkan kepala di dada bidang suaminya.


"Ngomong-ngomong, siapa tadi? Rendi?"


"Ya. Apa kau masih ingat padanya? Kalian pernah bertemu saat pertama kali kita berjumpa di kota ini."

__ADS_1


"Benarkah?"


"Dia bilang pernah menyukaimu, tapi kau telah menolaknya mentah-mentah," sahut Endo sembari melempar senyum.


"Ah, entahlah. Echa tidak ingat. Hanya Kak Endo saja yang memenuhi ingatan Echa."


"Hei, sejak kapan kekasihku ini pandai menggombal?" Tangan Endo bergerak mencubit puncak hidung Echa.


"Sejak cinta Kak Endo membuat Echa gila," sahut Echa sembari melempar senyum termanisnya.


"Wah ... wah ... wah, apa-apaan ini? Ada yang salah dengan dirimu?"


"Sudahlah, Kak Endo jangan banyak bicara," hardik Echa seketika, kemudian memeluk pinggang Endo dengan erat.


Sesaat Endo terdiam mendapat perlakuan mesra dari istrinya itu. Dikecupnya puncak kepala gadis itu dengan sayang, kemudian membalas pelukan itu dengan belaian lembut pada kepala sang istri.


"Katakan, apa yang kau rasakan?" Suara Endo kembali terdengar setelah keduanya saling diam menikmati perlakuan masing-masing untuk beberapa saat.


"Tidak ada," jawab Echa tanpa merubah posisi duduknya. "Hanya lega ... tetapi juga tegang."


"Lega?"


"Ya. Akhirnya masalah ini mendapatkan titik terang."


"Bukan karena aku telah menjadi milikmu seutuhnya?"


"Termasuk itu juga."


"Lalu kenapa harus tegang?"


"Ya ... tegang saja," sahut Echa canggung.


"Aku mengerti apa yang kau maksud."


Endo tersenyum penuh arti, kemudian mengusap kedua pipi Echa dengan lembut.


"Sudahlah ... jangan gugup, apa lagi malu. Kini aku adalah suamimu dan kau adalah istriku."


Tangan kanan Endo bergerak untuk meraih tubuh mungil istrinya ke dalam pelukan.


"Apa Kak Endo tidak merasakan hal yang sama?"


"Gugup maksudmu?" Endo balik bertanya.


"Iya."


"Tidak."


"Hah ... tentu saja tidak. Kakak kan sering berhubungan dengan banyak wanita," ucap Echa sembari melepas pelukannya dari tubuh Endo.


"Bukankah memang begitu kenyataannya?"


"Mereka yang datang padaku, bukan aku."


"Tapi Kak Endo menanggapinya."


"Aku hanya tidak ingin mereka kecewa."


"Jawaban macam apa itu?"


"Bukankah tidak baik membuat orang lain kecewa dan sakit hati?" Endo balik bertanya sambil memggenggam kedua tangan Echa.


"Teori dari mana?"


"Hei, sudahlah. Jangan memancingku seperti ini. Kau tahu bukan, melihat wajah kesal, penasaran, ceria dan menggemaskanmu dalam waktu bersamaan adalah kelemahanku," hardik Endo mengingatkan. "Aku bisa saja langsung menerkam dan menelanmu bulat-bulat saat ini juga."


Spontan Echa menarik kedua tangannya dari genggaman Endo. Ia pun beringsut menjauh, walau hanya sepuluh senti, tapi setidaknya ia telah berusaha.


"Hahaha ...." Tawa Endo berderai mendapati sikap istri barunya itu. "Kemarilah, lebih rapat lagi seperti tadi."


Tangan kiri Endo kembali meraih pinggang Echa, kemudian dirapatkan dengan dirinya sendiri yang masih duduk tenang tanpa merubah posisi.


"Kau jangan pernah menjahiliku dengan cara seperti itu lagi. Karena itu percuma dan hanya akan membuang tenagamu saja."


Tangan kiri Endo memeluk erat pinggang Echa. Sementara tangan kanannya menggenggam erat jemari-jemari bercat kuku merah itu.


"Kau tidak akan menemukan satu wanita pun yang pernah menjalin hubungan denganku. Hanya kau ... hanya denganmu."


"Arsela?" ucap Echa singkat dengan nada bertanya yang terdengar jelas di telinga Endo.


"Dia hanya cinta monyet di bangku SMA. Sudah sangat lama," sahut Endo. "Hei, bagaimana kau bisa tahu?"


"Magda?"


"Dia hanyalah masa lalu. Kau pun tahu itu."


"Miranda?"


"Dia sangat cantik dan menarik. Mau bagaimana lagi?"


Echa menatap kesal, namun ditahannya.


"Rosella?"


"Hah ... dia hanya kucing betina yang sangat manis."

__ADS_1


"Apa maksud Kak Endo?"


"Dia hanya kucing betina yang sering menawarkan ikan asin untukku."


"Hah, dasar laki-laki menyebalkan!" rutuk Echa sembari bangkit dari posisinya kemudian bergegas pergi meninggalkan Endo.


"Hei, sayang," panggil Endo yang buru-buru bangkit dan mengejar kekasihnya. "Ayolah sayang, aku hanya bercanda."


Tangan kanan Endo terulur, menggapai tangan gadis yang terus melangkah di hadapannya itu. Ditariknya tangan itu dengan sekali sentakan hingga tubuh mungil di hadapannya itu tertarik dan berakhir jatuh di dada bidangnya.


"Apa kau sedang cemburu?"


Endo mulai bersuara setelah berhasil mengungkung gadis yang hanya mengenakan tanktop dengan pundak model tali pasta itu ke dalam dekapannya.


"Mereka hanya masa lalu, sayang. Masa lalu yang tak penting untuk diungkit-ungkit lagi. Seperti halnya dirimu yang memiliki kenangan pahit dalam hidup maupun kenangan manis bersama kekasihmu dulu, aku pun juga sama. Tapi aku tidak akan mengungkit dan mempermasalahkan itu semua, karena aku memiliki dirimu yang sekarang. Dirimu yang memang tidak bisa terlepas dari kenangan apa pun yang pernah terjadi dahulu, karena suka dan duka di masa lalumu itulah yang bisa membuatmu menjadi seperti sekarang. Bukankah lebih baik jika kita memikirkan tentang hari ini dan hari esok saja? Hari esok kita yang masih panjang. Hari esok kita menuju kehidupan yang bahagia."


"Ya, Kakak benar," gumam Echa pelan. "Maafkan Echa ya, Kak. Awalnya tadi hanya berniat bercanda saja."


Endo tak menjawab. Hanya tersenyum penuh arti, kemudian memberi hadiah berupa kecupan di kening gadis cantik itu.


"Tapi bagaimana dengan Gabby?" tanya Echa tiba-tiba.


"Gabby?" Endo balik bertanya. "Sudahlah, tidak perlu dipikirkan. Dia mendekatiku hanya demi Aldo. Itu saja."


"Apa dia tidak tahu kalau Kak Aldo sudah beristri?"


"Tentu saja dia tahu," jawab Endo. "Dia bahkan hadir juga di pesta pernikahan Aldo saat itu."


"Benarkah?"


"Dengan derai air mata tentu saja. Kau tahu? Aku bahkan harus menemani dan menenangkannya selama dua hari dua malam. Menyebalkan, bukan?" Endo berucap dengan ekspresi kesal sekaligus iba.


"Kenapa bisa begitu?" tanya Echa dengan wajah penasaran. "Apakah Kak Aldo jauh lebih baik dari pada Kak Endo sehingga dia sampai berani menyiksa dirinya sendiri seperti itu?"


"Lebih baik dariku? Tentu saja tidak," sanggah Endo cepat. "Itu karena dia adalah laki-laki gampangan. Itu saja," lanjut Endo songong.


Sementara tanpa mereka sadari, seseorang di balik pintu tengah mati-matian menahan tawa akibat ucapan absurd laki-laki bernetra biru laut itu.


"Gampangan? Tidak. Menurut Echa itu keren."


"Keren dimananya?"


"Kak Aldo masih tetap bisa menjaga pesonanya di mata para wanita meskipun telah memiliki dua anak dengan Kak Leni. Dan lebih kerennya lagi ... Kak Aldo bisa membuat para wanita itu tak berkutik dan tetap menjaga cinta serta kekaguman mereka tanpa berani mendekati lagi. Bukankah itu keren?"


"Hah, kata-katamu terlalu panjang dan berbelit-belit," protes Endo. "Katakan, apa sekarang kau juga ikut-ikutan tergila-gila pada Aldo seperti mereka?"


"Kalau iya, memangnya kenapa? Apa salahnya?"


"Tentu saja salah. Kau adalah istriku."


"Baru saja."


"Justru tidak boleh."


"Ayolah, Kak. Bersikap longgarlah sedikit."


"Apa maksudmu?"


"Echa hanya ingin melewati masa-sama tegang dan gugup seperti ini saja."


"Lewati saja dengan berbelanja," seru Endo kesal. "Aku akan memberikanmu kartu kredit tak terbatas."


"Berbelanja?" tanya Echa dengan ekspresi meremehkan. "Sedangkan Kakak tahu, itu bukan gaya Echa."


"Lalu?"


"Bermain-main atau berkencan dengan beberapa pria sepertinya lebih menyenangkan."


"Hei, apa-apaan kau ini?!"


"Semakin banyak gebetan akan semakin menyenangkan. Begitu kira-kira yang diucapkan salah seorang teman Echa."


"Memangnya siapa gadis ingusan yang berani meracuni pikiranmu dengan doktrin aneh seperti itu? Sebutkan satu nama, akan kuhajar dia."


"Tesha ...," seru Echa sembari ngeloyor pergi ke luar kamar meninggalkan Endo.


"Tapi dia jago berkelahi," timpal Endo juga dengan seruan.


"Hajar saja!" teriak Echa tak perduli. "Seperti yang Kakak bilang tadi," lanjutnya.


"Hei, awas saja ya jika kau berani macam-macam di belakangku," ancam Endo sembari berjalan tergesa-gesa mengikuti langkah Echa yang telah mencapai anak tangga.


Tiba-tiba saja langkah kaki Endo terhenti saat ekor matanya berhasil menangkap bayangan seseorang yang sedang berdiri di sisi pintu kamar.


"Rudi?" Tampak ekspresi heran di wajah Endo. "Sedang apa kau di sini?"


"Pekerjaanku sudah selesai," jawab Rudi. "Jadi aku langsung ke sini saja. Aku ingin berpamitan sekaligus memberikan ucapan selamat kepadamu."


"Maksudku kenapa kau berdiri di sini? Bukankah kau bisa menelepon dan menungguku di bawah saja?"


"Dicky bilang aku boleh memanggilmu langsung ke mari saja," jawab Rudi santai. "Tak kusangka aku malah menemukanmu sedang berciuman panas dengan sekretaris pribadimu itu," lanjut Rudi kesal. "Apa kau tak tahu apa gunanya pintu?"


"Hah, kau sungguh sama menyebalkannya dengan istriku!" rutuk Endo kesal.


Endo pun berlalu, kembali menyusul Echa tanpa menghiraukan keberadaan Rudi.

__ADS_1


TAMAT


__ADS_2