
"Tidak, Bay. Hari sudah sore." Rosella bangkit sembari mengancingkan kemeja, kemudian merapikan roknya yang tampak sedikit kusut.
"Ayolah, sayang. Tetaplah di sini sebentar lagi. Aku sangat merindukanmu." Bayu kembali memeluk Rosella dari arah belakang.
"Tidak, Bay. Ini sudah sore, aku harus segera kembali ke sana, atau dia akan mencurigaiku." Rosella mencoba memberi pengertian.
"Kita sudah lama tidak bertemu. Aku begitu tersiksa menahan rindu padamu, Sella sayang." Bayu membalikkan arah tubuh Rosella hingga mereka berdua saling berhadapan. "Aku kesepian tanpamu di dekatku." Bayu memberi pelukan lembut pada Rosella.
"Ayolah, Bay. Jangan seperti ini. Bukankah kita sudah sepakat?" Rosella berusaha mengurai pelukan Bayu. Kakinya sibuk mengenakan heels hitam yang dibelikan Endo dua minggu yang lalu. Setelah selesai dengan sepatu, segera dirapikan rambut kusutnya dengan sisir milik Bayu yang tergeletak di atas nakas.
"Iya. Tapi Hans sudah menyuruhmu untuk mundur. Proyek itu, tetap mereka yang memenangkannya. Misi kita sudah gagal. Kau tidak perlu berada di sana lagi."
"Ya Tuhan, Bayu! Kita telah membahas itu semua." Tampak raut kesal di wajah cantik Rosella. "Aku pun melakukan ini semua bukan untuk diriku sendiri, tapi untuk kita berdua. Untuk masa depan kita," lanjutnya. "Kau tahu, bukan? Bukan hal yang mudah untuk masuk ke dalam rumah itu."
Bayu diam tak menyahut. Memang benar yang dikatakan kekasihnya itu. Tanpa kerja sama Hans dengan Paola mustahil bagi Rosella untuk bisa masuk ke kediaman Endo Devon Atmaja dengan semudah dan seaman itu. Hal itu tentu saja berkat nominal tidak sedikit yang harus Hans kirimkan ke rekening Paola.
"Dan sekarang kau menyuruhku ke luar tanpa membawa hasil apa-apa? Tidak, Bay. Tidak! Biarkan saja jika Hans sudah kalah dan mundur dari proyek itu. Tapi kita tetap harus pada rencana awal. Aku tidak ingin hidup miskin selamanya, Bay!"
Rosella menyambar handbag pemberian Endo di atas nakas, kemudian buru-buru ke luar dari kamar dan meninggalkan apartemen Bayu.
"Sella, tunggu! Biar aku mengantarmu!" teriak Bayu sembari memakai kaos putihnya dengan buru-buru, kemudian menyambar kunci mobil dan berlari menyusul Rosella yang sudah hampir masuk bilik lift.
"Maafkan aku, Sella sayang," ucap Bayu setelah lift bergerak turun.
Bayu terus mencoba mengambil hati Rosella. Setelah satu bulan lebih tak bertemu, rasa rindu dan sayang laki-laki itu pada Rosella begitu membuncah dan menggelaura. Berat rasanya melepas kekasih hatinya, apa lagi untuk kembali hidup seatap dengan laki-laki lain. Meskipun Rosella berjanji tidak akan ada cinta di antara mereka, namun egonya sebagai laki-laki sungguh sulit untuk menerima keputusan konyol Rosella itu. Lalu mau bagaimana lagi? Bayu begitu tergila-gila pada wanita cantik itu. Apa pun akan dilakukannya demi memiliki hati dan tubuh wanita itu.
Ya, hari ini Rosella sengaja datang menemui Bayu. Waktu yang tepat menurutnya, karena Endo sedang tidak ada di rumah. Sepertinya memang ada pekerjaan sangat penting yang harus laki-laki itu selesaikan, bahkan hingga sekedar mengabari pun Endo tak sempat. Di satu sisi Rosella senang karena bisa memanfaatkan kondisi ini untuk memadu kasih dengan Bayu. Tapi di sisi lain entah mengapa ada rasa kesal yang teramat karena terabaikan oleh laki-laki berwajah bule itu.
"Aku begini karena sangat mencintaimu." Suara Bayu kembali terdengar di telinga Rosella.
"Sudahlah, Bay. Aku tahu."
Walau bagaimana pun mereka telah menjalin hubungan lebih dari tiga tahun. Waktu yang cukup lama untuk memahami satu sama lain. Waktu yang tidak sebentar juga untuk membuat keduanya memiliki rasa saling terikat dan saling membutuhkan. Tak mudah bagi Rosella untuk membenci, apa lagi meninggalkan kekasihnya yang sudah seperti budak cinta itu.
"Aku akan lebih sering mengunjungimu." Rosella kembali bersuara.
"Bagai mana bisa? Kau bilang selama ini kau hanya terkurung di dalam rumah."
"Aku punya satu cara." Rosella menyeringai licik. "Ingat, jangan pernah menghubungiku. Aku lah yang akan menghubungimu."
"Iya, sayang."
Rosella melempar senyum manis sebelum Bayu mencium bibir merahnya dengan lembut.
___
Mobil Ringgo bergerak pelan memasuki pintu gerbang setinggi dua meter. Seorang penjaga datang mendekat saat laki-laki berjas hitam itu menghentikan mobilnya.
"Semua baik-baik saja?" tanya Ringgo tanpa mematikan mesin mobil.
"Dia ke luar rumah." Sang penjaga menjawab singkat.
"Sudah berapa lama?"
"Kurang lebih sejak empat jam yang lalu."
"Teruskan pekerjaanmu."
Sang penjaga mengangguk patuh. Sementara Ringgo kembali menginjak pedal gas untuk memarkir mobil di tempat semestinya.
Sesuai perintah Endo, sore ini Ringgo harus mengecek keadaan rumah yang sudah mereka tinggalkan sejak semalam. Akibat insiden yang dialami Echa di pesta Lisa semalam, Endo menarik Ringgo untuk berjaga di apartemen. Sebenarnya sudah ada Anna si gadis serba bisa untuk memenuhi segala kebutuhan Endo dan Echa selama berada di apartemen, namun Endo lebih tenang jika ada Ringgo juga di sana.
Ringgo langsung naik ke sebuah kamar di lantai dua. Mengganti setelan jasnya dengan kaos hijau kumal polos dan celana kolor selutut. Setelah selesai ia melangkah pelan menuju balkon, menyalakan sebatang rokok sembari mengedarkan pandangannya ke seluruh pekarangan rumah.
Sesaat kemudian laki-laki berperawakan tegap itu mengeluarkan ponsel dari celana kolor kumalnya, kemudian membuat panggilan.
"Semua berjalan sebagaimanamestinya." Hanya satu kalimat yang terucap setelah panggilannya tersambung.
__ADS_1
Ekor mata Ringgo menangkap kedatangan sebuah sedan hitam di ujung jalan. Tampak jelas dari tempat Ringgo berdiri, Rosella turun bersama seorang laki-laki yang kemudian buru-buru masuk ke dalam mobil setelah keduanya saling berciuman beberapa saat. Tak menunggu lama, Rosella berjalan cepat meninggalkan mobil yang telah mengantarnya. Lima menit kemudian wanita itu tiba di depan pintu gerbang dan segera masuk setelah seorang penjaga membukakan pintu untuknya. Sementara mobil sedan meluncur pergi menjauh.
Masih dari tempatnya berdiri, Ringgo menangkap kedatangan mobil sport putih. Meskipun masih jauh di perempatan depan, namun Ringgo tahu betul bahwa itu adalah mobil milik Disan. Ringgo segera membuang puntung rokoknya sembarangan, berjalan cepat ke sudut balkon mengambil tongkat pel dan sebotol pembersih lantai, kemudian buru-buru turun. Beberapa detik kemudian ia telah tampak sibuk mengepel lantai bagian bawah.
"Apakah Endo sudah pulang?" tanya Rosella begitu melangkah masuk dan mendapati keberadaan Ringgo.
"Belum, Nona," jawab Ringgo seperlunya.
"Sebenarnya kemana dia?" gumam Rosella. "Dia bilang ada pekerjaan penting yang harus diselesaikannya. Memangnya pekerjaan apa yang memakan waktu begitu lama hingga tak bisa pulang barang sekejab untuk melihat keadaanku?" Rosella kembali bergumam kesal, bertepatan dengan Disan yang melangkah masuk untuk menemui pemilik rumah.
Mendengar gumaman Rosella, Disan jadi tahu bahwa bosnya itu belum pulang dari semalam.
"Dia masih saja bersenang-senang," gumam laki-laki berlesung pipi itu dalam hati. Kedua sudut bibirnya tertarik ke atas selama dua detik.
Memangnya hal apa lagi yang bisa membuat si manusia es itu tersenyum selain mendengar bosnya tengah menjadi gila karena berbahagia? Yah, walaupun senyuman itu hanya selama dua detik. Tapi lumayan. Eh?
Tangan Disan bergerak pelan membetulkan letak kaca matanya sebelum melangkah mendekati Rosella.
"Endo menyuruhku datang kemari untuk menyampaikan padamu bahwa mungkin malam ini dia belum bisa pulang."
Rosella membalikkan tubuh semampainya ke arah Disan. Tak terkejut dengan keberadaan laki-laki sedingin es itu di belakangnya yang tiba-tiba, karena ia pun telah melihat mobil sport putih itu saat memasuki pintu gerbang.
"Kenapa?" tanya Rosella acuh.
"Masih ada pekerjaan yang harus diselesaikannya."
"Hingga dia mengabaikanku seperti ini?"
"Dia hanya memintaku untuk menyampaikan itu."
"Kenapa harus kau? Kenapa dia tidak menghubungiku dan mengatakannya langsung padaku?" tanyanya kesal.
"Menghubungimu? Aku bahkan yakin bahwa saat ini dia tak mengingatmu sama sekali," jawab Endo dalam diam.
"Sebenarnya apa yang sedang dia lakukan hingga seenaknya saja dia mengabaikanku seperti ini?" tanya Rosella lagi, setelah menunggu dan tak mendapat jawaban dari laki-laki berkaca mata di hadapannya itu.
Rosella menatap semakin kesal mendengar jawaban menusuk dari mulut Disan.
"Kau habis bepergian?" tanya Disan kemudian.
"Mau pergi," ralat Rosella. "Tapi tidak jadi karena terlanjur melihat wajah menyebalkanmu itu!"
Rosella segera beranjak pergi menuju kamarnya di lantai atas. Sementara Disan hanya melirik ke arah Ringgo sebelum berbalik dan segera angkat kaki dari rumah itu.
___
"Mari, Bunda." Suara Intan berhasil mengembalikan kesadaran Echa pada tempatnya. "Bunda juga ikut, biar bisa ikut memilih.
Echa pun menurut saja. Melangkah pelan dengan tangan kiri berada dalam genggaman hangat Endo.
"Wah, Kak Endo ... lihat, ini lucu sekali." Mendadak Echa tampak antusias saat melihat set tempat tidur anak bertema Hello Kitty di sudut ruangan.
Endo tersenyum kemudian menyusul Echa yang sudah lebih dulu menghampiri tempat tidur pink itu.
"Iya, sayang. Tapi kita belum tahu anaknya nanti laki-laki atau perempuan. Lagi pula ini kan tempat tidur untuk anak, sedangkan yang kita butuhkan adalah tempat tidur untuk bayi."
"Kak Endo benar," gumam Echa pelan. Tampak jelas rasa kecewa di riak wajah cantiknya. "Baiklah, setidaknya biarkan aku mengambil gambar di sini."
Endo menggeleng geli melihat Echa yang tiba-tiba saja berubah menjadi kekanakan dan sedikit norak hanya karena melihat karakter Hello Kitty.
"Bolehkah?" Endo meminta izin pada Intan.
"Tentu saja. Silahkan," jawab Intan dengan senyum menghias bibir.
"Ah, sial!" umpat Echa spontan. "Ponselku kan sedang rusak."
Echa menatap dengan binar penuh harap ke arah Endo.
__ADS_1
"Ah, benar-benar merepotkan." Endo pura-pura kesal dan keberatan meminjamkan ponselnya. Padahal sih ... happy banget.
"Tidak apa-apa, Ayah. Mungkin itu adalah bawaan bayi. Bayinya yang ingin foto-foto di situ." Intan turut menanggapi.
"Benar juga. Baiklah, sayang. Ayo segera berpose, biar kuambil gambarnya."
Lagi-lagi, Echa dibuat melongo oleh kedua orang di hadapannya itu.
"Bawaan bayi mereka bilang?" gumam Echa pelan, tanpa suara. "Bayi siapa memangnya," lanjutnya dengan mata mendelik kesal.
"Sayang, ayo cepatlah segera berpose," seru Endo dengan ponsel siap di tangan.
Echa segera beringsut, mencoba berbagai pose dan gaya sepuasnya. Mulai dari duduk, jongkok, tiduran, terlentang, sampai tengkurap. Bahkan Endo juga berhasil mengabadikan pose nyungsep saat Echa jatuh terjerembab karena tersandung bantal bayi yang terjatuh di lantai.
"Tak kusangka kau begitu photogenic," seru Endo dengan tawa geli yang tak kunjung reda.
"Bawa kemari ponselnya, biar kuhapus," balas Echa sembari berjalan mendekat, berusaha merebut ponsel dari tangan Endo.
Endo langsung mengangkat tangannya, tanpa bersusah payah menghindar untuk mengamankan ponsel. Dengan posisi seperti ini sudah pasti tubuh mungil Echa tidak akan bisa meraih ponsel itu dari tangan panjang Endo yang sesuai dengan postur tubuh tingginya.
"Ya sudah, terserah." Akhirnya Echa menyerah dan membiarkan Endo berjalan sendiri menghampiri Intan.
"Bagaimana dengan ayunannya, Ayah?" tanya Intan. "Kami memiliki beberapa model yang bagus dan menarik. Mungkin Ayah dan Bunda mau melihat dulu?" tawar Intan dengan senyum manis tertuju pada Echa.
"Boleh," jawab Endo antusias. "Ayo, sayang." Endo mengulurkan tangan kananya agar Echa segera mendekat.
Walau dengan setengah hati, Echa melangkah mendekati Endo. Berat rasanya meninggalkan kumpulan Hello Kitty yang tertata rapi dengan pernak-pernik serba pink itu.
"Ayo." Endo menggamit pergelangan tangan Echa agar gadis itu melangkah lebih cepat.
"Tapi, Kak." Tiba-tiba Echa menghentikan langkah kakinya. "Ngomong-ngomong kita beli ini semua untuk bayi siapa?" tanyanya kemudian. "Woah, jangan-jangan ...!"
Kedua mata bulat Echa melotot tak wajar. Dua alisnya pun turut naik ke atas tak semestinya. Mulutnya tercekat, benar-benar tak bisa menyelesaikan kalimat yang sangat ingin diucapkan.
"Apa?" tanya Endo dengan mata mendelik. "Aku tahu apa yang ada dalam otak absurdmu itu. Jangan berpikir macam-macam," hardik Endo tak terima. "Aku ini pemuda tampan, sukses, dan masih single," lanjutnya sembari memandang jengah ke arah mulut Echa yang menganga dengan dua bibir bibir mungil melambai-lambai minta ditampol.
"Oh ... syukurlah," gumam Echa.
"Eh?" Mata Endo terpicing mendengar ucapan Echa. Kenapa dia bersyukur? Belum sempat bertanya tetang apa maksud dari ucapan itu, Echa sudah terlanjur melontarkan pertanyaan.
"Lantas semua ini untuk siapa kalau bukan untuk bayi Kak Endo?" tanya Echa polos.
"Mia."
"Mia?"
"Istrinya Rudi."
"Jadi istrinya Pak Rudi sedang hamil? Kenapa Echa tidak tahu?"
"Memangnya kau pikir seakrab apa kalian?" komentar Endo dengan bibir mencebik mengejek.
"Hei, asal Kak Endo tahu, gosip-gosip apa pun di kantor bukanlah hal pelik yang bisa disembunyikan dari mulut dan telinga kami, para karyawan perempuan." Echa membela diri. "Apa lagi gosip yang berkaitan dengan bos ganteng seperti Pak Rudi," lanjutnya.
"Benarkah?"
"Tentu saja," jawab Echa penuh keyakinan.
"Hei, apakah tadi dia bilang Rudi itu tampan? Hah, menyebalkan!" umpat Endo dalam hati.
"Tapi kenapa kami tidak tahu kalau istri Pak Rudi sedang hamil ya?" tanya Echa bingung.
"Bahkan Rudi sendiri pun belum tahu kalau istrinya sedang mengandung."
"Kalau Pak Rudi belum tahu, kenapa Kak Endo malah tahu?" tanya Echa dengan wajah polosnya. "Woah ...! Jangan-jangan itu anak Kak Endo, ya?! Istri Pak Rudi selingkuh dengan Kak Endo ...!"
BERSAMBUNG ...
__ADS_1