
Mobil sport biru berjalan memasuki pelataran kantor dengan kecepatan rendah. Feri, sang satpam bertubuh tegap, yang sudah tahu betul siapa pemilik mobil tersebut segera berjalan mendekat.
"Selamat pagi, Pak Endo," sapa Feri sembari membuka pintu di sisi kemudi.
"Ya, selamat pagi, Feri," sahut Endo sembari melangkah turun dari mobil. "Semua baik-baik saja, bukan?"
"Tentu saja, Pak Endo. Semua aman di bawah kendali saya," sahut Feri dengan bangga.
"Good job!" puji Endo sembari melempar kunci mobilnya yang dapat ditangkap dengan mudah oleh laki-laki berpotongan cepak itu.
"Semoga hari Anda menyenangkan, Pak," seru Feri yang kemudian buru-buru memarkirkan mobil bosnya setelah sang empunya hilang di balik pintu masuk.
Endo melangkahkan kaki dengan penuh wibawa disertai senyum hangat seperti biasanya. Senyumnya tampak semakin cerah mana kala netra birunya menangkap keberadaan Disan di depan meja resepsionis.
"Kau terlihat bersemangat sekali pagi ini," sapa Disan yang memang telah berdiri di depan meja resepsionis sejak duapuluh menit yang lalu. Entah apa yang tengah dibicarakannya dengan Innet pagi-pagi sekali.
Laki-laki berkacamata itu pun segera beranjak dan berjalan pelan menuju lift, menyamai langkah kaki Endo yang tampak berwibawa seperti biasanya.
"Selamat pagi, Pak," sapa salah seorang karyawan.
"Iya, pagi," sahut Endo dengan senyum ramahnya.
Disan segera mengulurkan tangan untuk menekan tombol lift. Tanpa menunggu lama pintu lift pun terbuka, keduanya pun segera melangkah masuk. Tangan kanan Disan kembali terulur.
"Kau cukup tidur malam ini, Disan?" tanya Endo tiba-tiba.
Seketika gerakan Disan terhenti, tangan kanannya menggantung di udara.
"Tentu," sahut Disan singkat sembari melirik aneh ke arah Endo dengan ekor mata yang tersembunyi di balik kaca mata minusnya.
"Ayo cepat," ucap Rudi yang tiba-tiba saja sudah turut berada di dalam bilik lift. Tangannya terulur menekan salah satu tombol. Lift pun bergerak naik perlahan.
"Cobalah sedikit saja tersenyum," ucap Endo pada Disan setelah beberapa saat ketiga orang di dalam bilik lift itu saling diam. "Kau pasti akan terlihat sedikit lebih tampan."
Seketika mata Rudi terpicing mendengar ucapan absurd bule di sebelahnya, bertepatan dengan laju lift yang terhenti.
"Menjijikkan!" gumam Rudi sembari bergidik ngeri, kemudian segera melangkah ke luar, diikuti Disan yang juga turut turun di lantai yang sama. Sementara Endo melanjutkan perjalanannya sendiri ke lantai berikutnya.
"Selamat pagi, Pak," sapa Novera disertai senyum manis begitu melihat kehadiran bosnya.
"Iya, selamat pagi, Nov," sahut Endo.
"Selamat pagi, Pak Endo." Echa turut menyapa dengan senyum secerah matahari pagi.
"Iya, selamat pagi, Cha," sahut Endo ramah, kemudian mandang kedua sekretaris pribadinya bergantian. "Cha," panggil Endo kemudian.
"Ya, Pak?"
"Kau ikut ke ruanganku. Ada sesuatu yang harus kau bereskan di sana."
"Baik, Pak."
Echa segera berdiri, kemudian bergegas mengikuti atasannya masuk ke dalam ruangan.
"Berkas ini," ucap Endo sembari menyerahkan map warna coklat ke tangan Echa. "Bawa kepada Rudi," lanjutnya. "Pastikan kau membawa berkas ini padaku lagi berikut dengan tanda tangan Rudi," lanjutnya lagi sembari menghenyakkan pantat di kursi kebesarannya.
"Baik, Pak," sahut Echa cepat. "Ada lagi?"
Wajah Endo terdongak mendengar pertanyaan Echa.
"Eh, maaf." Echa buru-buru meminta maaf setelah menyadari kesalahannya. "Baik, Pak. Akan segera saya antar ke ruangan Pak Rudi."
"Ya," sahut Endo singkat sembari membuka berkas di atas meja kerjanya.
"Tapi, Pak." Echa menghentikan langkahnya, kemudian berbalik.
"Ada apa?" Endo menghentikan aktifitasnya.
"Mmm ... ruangan Pak Rudi di sebelah mana, ya?" tanya Echa ragu.
Sesaat mata biru Endo terpicing. Sedetik kemudian seulas senyum manis menyembul di antara kedua bibirnya.
"Kau bisa tanyakan pada Novera," sahut Endo santai, kemudian kembali kepada kesibukannya lagi.
"Baik, Pak. Saya permisi."
Echa segera keluar setelah pamit undur diri. Sebenarnya gadis cantik ini bukannya tak tahu di mana letak ruangan Rudi, namun ia memang sengaja ingin memancing amarah bosnya pagi ini, yang ternyata berakhir dengan zonk.
"Tanda tangan?" Mata Rudi menyipit dengan tangan sibuk membolak-balik halaman berkas yang disodorkan oleh Echa. Sudut bibir laki-laki itu terangkat ke atas saat disadari tak ada satu pun tempat yang membutuhkan tandatangannya.
"Aku sudah selesai menandatanganinya," ucap Rudi sembari menyerahkan kembali berkas di dalam map coklat kepada Echa. "Katakan padanya supaya berhati-hati dalam permainan ini. Bisa-bisa dia sendiri yang akan terjebak di dalamnya."
"Baik, Pak. Akan saya sampaikan pada Pak Endo," ucap Echa sembari meraih berkas dari tangan Rudi. "Saya kembali ke ruangan Pak Endo lagi, Pak. Permisi," pamit Echa.
"Ya," sahut Rudi singkat.
Echa pun segera kembali ke ruangan Endo untuk menyerahkan hasil kerjanya.
"Pak Rudi juga berpesan supaya Bapak berhati-hati dalam permainan ini, bisa-bisa nanti Bapak terjebak di dalamnya."
Seketika Endo menghentikan aktifitasnya demi mendengar pesan yang disampaikan oleh Echa.
"Ada lagi?"
"Tidak, Pak. Hanya itu saja."
"Bagus," sahut Endo kemudian berdiri dari duduknya dan berbalik menghadap ke belakang tempat duduknya.
"Kau lihat buku-buku itu, bukan?"
Endo menunjuk ke arah tumpukan koleksi buku-bukunya yang tersusun rapi pada rak buku di belakang kursi kerjanya.
__ADS_1
"Iya, Pak."
"Susunannya sungguh sangat berantakan," ucap Endo sembari melipat kedua tangannya bersedekap di depan dada. "Membuat mataku sakit jika melihatnya," lanjutnya.
"Lalu? Apa harus dibuang, Pak?" tanya Echa polos.
"Tidak, Cha. Tidak perlu," sanggah Endo. "Kau cukup merapikannya saja."
"Saya?"
"Iya. Kau," sahut Endo sembari memandang tak habis pikir ke arah sekretarisnya itu. "Apa harus aku?"
"Tapi ...,"
"Susun buku-buku ini berdasarkan warnanya," potong Endo cepat. "Aku mau warnanya menjadi tersusun indah berurutan seperti pelangi."
"Tapi ... ini kan bukunya banyak sekali, Pak," keluh Echa.
"Semakin cepat kau memulainya, maka akan semakin cepat selesai juga."
"Pak, bukunya pun juga sudah disusun rapi sesuai barcod," protes Echa.
"Aku atau kau bosnya?" hardik Endo tak suka.
"Anda," jawab Echa lemah.
"Cepat kerjakan!"
"Tapi, Pak ...,"
Ucapan Echa terpotong saat tiba-tiba pesawat telepon di meja Endo berbunyi.
"Iya, Nov."
"Maaf, Pak. Saya hanya mengingatkan, Anda ada janji sarapan bersama Bapak Erik. Semuanya sudah siap."
"Ah, iya. Kau benar. Hampir saja aku lupa," sahut Endo. "Siapkan semua berkas yang diperlukan. Kita berangkat sekarang."
"Baik, Pak."
Sambungan pun dimatikan.
"Bapak mau pergi?" tanya Echa yang masih berdiri pada posisi semula.
"Ya," sahut Endo sembari menyambar ponsel dari atas meja, kemudian memasukkannya ke dalam saku celana. "Pastikan pekerjaanmu telah beres saat aku kembali ke mari nanti."
"Pekerjaan?" ulang Echa bingung.
Endo menunjuk rak buku dengan ujung dagunya.
"Apa?" tanya Echa tak habis pikir. "Bapak bercanda, bukan?"
"Pastikan susunannya rapi dan sesuai dengan apa yang kuinginkan," pungkas Endo sembari beranjak meninggalkan Echa yang terbengong sendirian di dalam ruangannya.
"Sejak sekarang." Tiba-tiba saja Rudi sudah berdiri tak jauh dari tempat Echa merutuki bosnya. "Mungkin," tambah Rudi.
"Pak Rudi," sapa Echa canggung. Merasa tak nyaman karena telah kedapatan memaki atasannya.
"Dimana dia?" tanya Rudi acuh, tak memperdulikan rasa canggung dan tak nyaman yang Echa rasakan.
"Dia?" Echa bertanya balik. "Jika yang Bapak maksud adalah Pak Endo, beliau sedang keluar bersama Novera. Ada pertemuan penting yang harus mereka hadiri."
"Kau panggil dia apa tadi?" tanya Rudi sembari mengambil duduk pada kursi di depan meja kerja Endo.
"Pak Endo," jawab Echa.
"Panggil saja dia Kak seperti biasanya. Dia akan lebih senang."
Echa mengernyit bingung. Diberanikannya menatap wajah laki-laki yang duduk acuh di hadapannya itu.
"Kenapa?" tanya Rudi tanpa dosa. "Heran kenapa aku bisa tahu bagaiamana panggilan sayangmu untuknya?" tembaknya tepat sasaran. "Aku bahkan juga tahu kau sangat menyukai tokoh kartun kucing itu."
"Hah?" tanya Echa tak percaya.
"Kau pikir memangnya siapa yang ketiban sial harus mengumpulkan pernak-pernik Hello Kitty untuk meghias kamarmu itu?"
Echa kembali menatap laki-laki di hadapannya itu dengan mata yang semakin membulat sempurna.
"Jadi Bapak tahu semuanya?"
"Aku sungguh sangat kesal harus melakukan semua itu demi kebahagiaan kalian," sungut Rudi tak terima. "Dan lebih kesal lagi saat mendengar kalian berpisah setelah penderitaan yang kualami hanya untuk kamar absurd itu."
Echa menggaruk tengkuknya yang tak gatal, merasa bersalah dengan kerepotan yang harus dilalui Rudi saat itu. Tapi memangnya siapa juga yang menginginkan perpisahan itu? Bukankah setiap orang selalu merencanakan dan menginginkan kebahagiaan dari suatu hubungan yang mereka jalani? Jika pada akhirnya harus bersedih karena perpisahan ... itu semua sudah berada di luar rencana bukan?
"Segera keluar dan bereskan pekerjaanmu," perintah Rudi akhirnya.
"Tapi, Pak ... yang ini saja belum saya mulai."
"Yang mana?"
"Kak Endo menyuruh saya menyusun buku ini berdasarkan warnanya."
"Hahahaha ...." Tiba-tiba saja suara tawa geli meluncur dari mulut Rudi. "Hah, ternyata kau belum benar-benar memahami Endo," gumamnya pelan di sela-sela tawa lebarnya. "Ya sudah, terserah kau saja," ucap Rudi akhirnya. "Semakin cepat kau memulainya, makan akan semakin cepat selesai juga."
"Tadi Kak Endo juga bilang begitu," sahut Echa polos dengan bibir mengerucut.
"Apa dia juga mengatakan bahwa kau tidak akan melalui masa magangmu dengan mudah?"
"Apa maksud Bapak?"
Rudi diam tak menjawab. Namun sesaat kemudian ia kembali tersenyum geli memandang wajah polos gadis belia di hadapannya itu.
__ADS_1
"Tak lama lagi, kaulah yang akan menjadi prioritas utamaku dan Disan."
Rudi pun beranjak dari duduknya kemudian melangkah pelan meninggalkan Echa yang masih terbengong tak mengerti.
"Cinta ... kenapa kau harus memilih kisah yang serumit ini," gumam Rudi sembari menutup pintu ruangan Endo, kemudian berjalan menuju lift, kembali ke ruangannya sendiri.
Sementara Echa lebih memilih untuk segera memulai menyelesaikan tugas konyol yang ditinggalkan Endo padanya.
Tiga jam kemudian, Endo melangkah masuk ke dalam ruangannya dengan senyum puas terselip di antara kedua bibirnya. Ya, pertemuannya dengan Erik beberapa saat yang lalu telah membuahkan kesepakatan kerja sama yang akan mendatangkan keuntungan milyaran rupiah untuk perusahaannya.
Sedetik kemudian, Endo terdiam terpaku di tempatnya berdiri.
"Apa-apaan ini?!" gumamnya kesal mendapati buku-buku koleksinya tersusun tidak jelas pada tempatnya.
Diedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan. Tatapannya terhenti pada sosok bersetelan kemeja putih dan rok hitam yang tertidur pulas di sudut sofa. Kepala gadis itu terdandar pada tangan sofa sebagai bantal. Sementara kedua tangan mungilnya mendekap erat bantal kursi yang berwarna senada dengan sofa tempat ia memejamkan mata.
Seulas senyum tersungging di bibir Endo, baru teringat bahwa ia sendiri lah yang menyuruh gadis itu untuk menyusun ratusan buku-buku miliknya berdasarakan urutan warna pelangi.
Tanpa sadar, kaki panjang itu melangkah mendekat. Diamatinya wajah sang putri tidur lekat-lekat. Setelah puas dengan aksinya, Endo pun segera kembali berdiri di posisinya semula.
"Ehem ...!"
Endo sengaja berdehem untuk mengusik tidur sekretaris cantiknya itu. Namun sayangnya Echa sama sekali tak terusik.
"Ehem ...!"
Endo kembali berdehem, dan Echa tetap bergeming. Akhirnya ia pun berjalan mendekat.
"Cha," panggil Endo pelan.
Tidak tega juga jika harus mengejutkan gadis itu.
"Cha," panggil Endo lagi. "Seberat itu kah pekerjaan yang kuberikan, hingga dia begitu kelelahan?" gumam Endo.
Tangan Endo terulur hendak mengusap pipi gadis di hadapannya itu. Namun tiba-tiba saja gerakan itu terhenti. Tangan kokohnya menggantung di udara. Ya, dia teringat, cara itu lah yang dulu selalu digunakannya untuk membangunkan gadis yang pernah mengisi hatinya itu. Gadis itu akan menggeliat pelan, kemudian memeluk tangan kokoh yang mengusap pipi halusnya itu dengan manja, sebelum akhirnya mata bulat itu mengerjab dan kemudian terbuka.
Endo kembali menarik tangan yang hampir menyentuh pipi lembut itu.
"Hei, Cha," panggil Endo sembari mencolek pundak Echa perlahan. "Hei, bangun!" Suara Endo lebih kencang.
Seketika mata Echa langsung terbuka. Gadis cantik itu pun tergagap.
"Eh, maaf. Maaf, saya tertidur, Pak," ucap Echa dengan suara masih tergagap.
"Enak sekali kau ya, tidur di jam kantor," hardik Endo.
"Maaf, Pak. Maaf," sahut Echa buru-buru.
"Sudah berapa jam kau tidur?" tanya Endo.
"Hanya beberapa menit, Pak," sahut Echa sekenanya.
"Nilai magangmu akan dikurangi sesuai dengan lamanya kau tidur di sofa ini tadi," ancam Endo.
"Eh?" Kedua mata Echa membulat mendengar pernyataan bosnya. "Jangan dong, Pak. Jangan," mohon Echa yang masih duduk di sofa sembari menggenggam tangan kanan Endo yang masih berdiri kaku di hadapan sekretarisnya itu. "Lagi pula saya tertidur karena kelelahan setelah mengerjakan tugas dari Bapak."
"Hei, kau menyalahkanku atas keteledoranmu di jam kerja?" tanya Endo sembari memasukkan sebelah tangannya yang bebas ke dalam saku celana.
"Bukan begitu, Pak. Bukan." Echa cepat-cepat menyanggah. "Hanya saja ... saya hanya kelelahan, hanya tertidur sebentar saja, tidak sampai lima menit. Tolong maafkan saya, Pak."
"Kenapa aku harus memaafkanmu?"
"Ya karena ... karena saya tidak sengaja melakukannya, Pak. Saya mohon jangan hancurkan nilai magang saya." Echa masih mencoba peruntungan. "Bagaimana kalau saya traktir Bapak makan?"
"Memangnya kau punya cukup uang untuk mentraktirku makan?"
"Ah, Bapak benar," gumam Echa sembari melepas tangan Endo dari genggamannya.
Ada rasa tak rela merayapi benak Endo. Tapi harus bagaimana lagi? Apa harus memaksa gadis itu untuk kembali menggenggamnya lagi?
"Minggu depan baru terima gaji," gumam Echa pelan.
"Itu pun kalau aku masih mau berbaik hati memberikan gaji pada karyawan magang yang teledor seperti dirimu."
Mendengar ucapan Endo, sontak Echa langsung berdiri, hingga Endo berjengit karena terkejut. Namun Endo hanya diam tak berani bersuara, bahkan nafasnya pun turut tertahan. Nyalinya menciut karena mendapat tatapan tajam dari kedua mata bulat gadis di hadapannya itu.
"Kalau begitu biar saya memasak untuk Bapak saja. Saya traktir Bapak untuk mencicipi hasil masakan saya," usul Echa tiba-tiba. "Saya masih punya beberapa bahan di kulkas untuk dimasak."
Kedua mata Endo membulat mendengar usulan absurd sekretarisnya itu. Namun cukup membuatnya lega dan mulai dapat bernafas normal kembali.
"Memakan hasil masakanmu yang aku tahu bahkan membuat telur dadar pun kau tak bisa?"
"Hehehe ...," sahut Echa dengan cengiran tanpa dosa.
"No, thanks!"
"Kak Endo masih ingat juga," sahut Echa dengan wajah memerah menahan malu, teringat kenangan saat ia memaksa Endo untuk memakana telur dadar gosong buatannya lima tahun yang lalu.
"Ya sudah, sekarang kau buatkan saja kopi hitam untukku," putus Endo akhirnya.
Senyum cerah pun seketika mengembang di antara kedua bibir mungil Echa.
"Baik, Pak," sahut Echa penuh semangat.
Echa segera beranjak untuk melaksanakan tugas dari bosnya.
"Hei, kenapa senyum-senyum?"
"Ternyata Bapak baik juga. Terimakasih ya, Pak, sudah mau memaafkan saya."
"Jangan senang dulu. Kau masih berhutang traktiran makan padaku."
__ADS_1
Seketika wajah cerah Echa berubah menjadi cemberut.
BERSAMBUNG ...