LOCK DOWN

LOCK DOWN
Part 15. Pak Endo Menyukai Samuel?


__ADS_3

Pukul tujuh lewat empat puluh menit, suasan lobi begitu ramai. Para karyawan mulai berjubel di dalam lift untuk menuju ke meja kerja masing-masing. Endo berdiri di depan meja resepsionis bersama Disan yang entah sedang membicarakan apa dengan Innet. Sementara Endo sendiri sibuk dengan gawai di tangan kirinya.


Tanpa sengaja ekor mata Endo menangkap kedatangan sebuah sedan hitam yang berhenti beberapa saat tepat di depan pintu masuk. Echa turun perlahan dari jok penumpang depan, kemudian mobil kembali berjalan.


"Pagi, Cha," sapa Feri ramah.


"Pagi, Pak Feri," sahut Echa tak kalah ramah.


Meskipun hanya mahasiswi magang, namun Echa terbilang familiar di antara para karyawan perusahaan itu. Mungkin karena pembawaannya yang selalu ramah dan melempar senyum bersahabat kepada siapa pun. Atau mungkin karena wajahnya yang menarik? Entahlah.


"Tumben yang nganter bukan cowok bermotor seperti biasanya," komentar Ferri, satpam bertubuh tegap dengan wajah mirip Ariel Noah.


"Ssstt ... itu tadi Pak Samuel," sahut Echa sembari berbisik. "Berani-beraninya Pak Feri menyama-nyamakan!" hardik Echa.


Tanpa sadar sudut bibir Endo terangkat melihat kehadiran Echa. Atau lebih tepatnya ia tersenyum karena melihat penampilan gadis itu.


Kemeja putih salur lengan pendek tertutup outer berupa blazer warna peach dipadu dengan rok payung warna hitam. Dilengkapi dengan tas ransel dan sepatu sport warna putih. Ah ... sejak zaman masih sekolah gadis itu memang suka membuat style sendiri dalam berpakaian. Tapi anehnya mau berpenampilan dengan model apa pun, tetap saja akan tampak menarik dan menggemaskan di mata Endo. Ditambah lagi rambut sepunggungnya yang terurai indah, membuat gadis itu tampak semakin cantik mempesona.


Tunggu! Rambut terurai? Hei, rambutnya terurai? Benarkah? Demi apa, gadis itu begitu berani mengurai rambutnya di tempat seperti ini? Apa dia lupa dengan ancaman yang Endo serukan kemarin sore?


Wajah Endo berubah masam menyadari pemandangan tak jauh dari tempatnya berdiri. Tanpa menunggu lama ia pun segera beranjak untuk menghampiri sekretaris pribadinya itu. Namun baru tiga langkah kakinya berjalan, tiba-tiba saja Samuel muncul dan mengahampiri Echa dengan senyum cerahnya.


"Ayo, Cha," seru Samuel begitu sampai di hadapan Echa.


Seketika langkah Endo terhenti melihat Echa melempar senyum manisnya kemudian berjalan beriringan dengan Samuel menuju pintu lift. Keduanya berjalan ringan sambil tertawa riang saling lempar gurauan. Ya, pagi ini memang mereka berangkat ke kantor bersama. Samuel sengaja menjemput Echa mengingat kemarin kaki gadis itu mengalami cidera saat mereka menikmati akhir pekan bersama.


Tanpa mereka sadari, dua pasang mata mengamati kedekatan keduanya dari kejauhan. Endo menatap tajam ke arah dua orang yang terus saja berjalan saling mengumbar tawa itu. Sementara Disan hanya menatap kepergian keduanya dengan sorot mata datarnya.


"Apa mereka menjalin hubungan?" tanya Endo datar.


"Ya," jawab Disan datar.


"Apa?! Mereka sepasang kekasih?!" tanya Endo dengan mata melotot.


"Bukan," tukas Disan. "Hanya jalinan hubungan pertemanan."


Endo menoleh, menatap kesal pada Disan.


"Kau ingin mati, ya?!" hardik Endo kesal, kemudian langsung melangkah pergi meninggalkan Disan yang berhasil menyembunyikan senyum gelinya.


Disan pun segera melangkah lebar mengikuti Endo menuju lift khusus petinggi perusahaan dengan langkah dan wajah datar seperti biasa.


Disan turun di lantai tempat di mana ruangannya berada. Sementara Endo terus naik hingga lantai teratas.


Echa duduk diam di kursi memperhatikan Novera yang tengah sibuk merapikan tatanan rambutnya. Pandangannya teralih pada pintu ruangan Endo yang masih tertutup rapat. Ya, tentu saja tertutup rapat. Bukankah penguasa ruangan itu masih berada di lantai bawah bersama manusia es berkaca mata?


Saat di lobi tadi, secara tak sengaja ekor mata bulatnya menangkap keberadaan Endo di meja resepsionis. Biasanya laki-laki itu selalu tersenyum ramah kepada siapa pun. Namun tidak kali ini, wajahnya tampak begitu datar dan dingin.


"Ada apa dengannya?" gumam Echa dalam hati.


Ingatan Echa kembali pada peristiwa di taman kemarin sore.


"Kemarin ... apa aku begitu keterlaluan?" gumamnya lagi masih dalam hati. "Sepertinya aku memang terlalu kasar padanya. Apakah aku harus meminta maaf?"


Saat sedang sibuk dengan pikirannya, pintu lift terbuka, menampilkan seorang bule tampan berpostur tinggi dan tegap dengan setelan jas navy yang melangkah ke luar dengan langkah penuh wibawa.


"Selamat pagi, Pak Endo," sapa kedua sekretaris itu bersamaan saat sang bule melewati meja kerja mereka.


"Ya, pagi," sahut Endo datar, tanpa senyum hangat seperti biasanya.


Kedua sekretaris itu pun saling pandang, menyadari ada yang tidak beres dengan atasannya.


"Echa, ikut ke ruanganku!" perintah Endo tegas sembari terus melangkah.


"Ada apa?" tanya Echa pada Novera tanpa suara.


Novera hanya mengedikkan bahunya sebagai tanda bahawa ia pun juga tak paham dengan apa yang terjadi.


"Apa dia memang masih marah atas perlakuan tak sopanku di taman kemarin sore?" gumam Echa dalam hati. "Mau bagaimana lagi, kemarin aku memang sedikit keterlaluan padanya," gumamnya lagi menyadari kesalahan yang telah diperbuat. Tiba-tiba saja rasa bersalah merayap mengisi rongga dada gadis itu.


Echa segera berdiri, mengekori atasannya dengan was-was dalam diam.


Endo masuk ke dalam ruangan, meletakkan tas kerjanya di atas meja, kemudian duduk tenang di kursi kebesarannya.


"Duduk," perintahnya pada Echa sembari memandang wajah cantik itu dengan tatapan datar. "Bagaimana kakimu?" tanyanya setelah Echa duduk di hadapannya.


"Sudah lumayan, Pak. Ini sudah bisa pakai sepatu, meskipun sepatu kets," jawab Echa sembari nyengir kuda.


"Bagus," sahut Endo datar.


Hari ini, Endo memang sengaja berangkat ke kantor lebih pagi untuk memastikan bahwa luka lecet pada kaki gadis di hadapannya itu telah membaik dan dia baik-baik saja.

__ADS_1


"Kenapa? Bapak mengkhawatirkan saya?" tanya Echa dengan senyum tersembul di kedua bibir.


Mata Endo terpicing menanggapi pertanyaan Echa. Tangan kirinya bergerak teratur mengetuk-ngetukkan bolpoint pada permukaan meja.


"Kau belum sarapan?" Endo balik bertanya tanpa mengubah ekspresi wajahnya.


"Belum, Pak," jawab Echa cepat.


"Ya, terlihat jelas," sahut Endo sambil lalu.


"Maksud Bapak?" tanya Echa dengan ekspresi bingung.


"Bicaramu ngawur," jawab laki-laki itu sambil menggeleng dengan ekspresi prihatin.


Echa kembali nyengir kuda menanggapi ucapan atasannya itu sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Saya tidak sempat sarapan karena Samuel menjemput saya terlalu pagi, Pak," ucap Echa malu-malu.


Endo melengos, tak berminat menanggapi ucapan Echa barusan.


"Ayo, kau ikut denganku."


Endo beranjak dari duduknya dan buru-buru melangkah ke luar meninggalkan Echa yang masih terbengong di tempatnya.


"Kemana, Pak?" tanyanya bingung.


"Temani aku sarapan," sahut Endo datar.


Echa pun cepat-cepat beranjak dari duduknya, kembali mengekor di belakang Endo.


"Hari ini ada meeting penting yang harus kuhadiri, Nov?" tanya Endo pada Novera. Sementara Echa meraih ponselnya di atas meja, kemudian memasukkan ke dalam saku blazer.


"Ada, Pak. Pukul dua siang kita harus ke Horizon Hotel untuk meeting dengan pihak PT Jaya Abadi."


"Siapkan semuanya, Nov. Aku tak ingin ada sedikit pun cacat di meeting kali ini."


"Baik, Pak," jawab Novera sigap.


"Kami akan ke luar dulu sebentar."


"Baik, Pak."


Endo pun segera melangkah menjauh menuju lift diikuti Echa di belakangnya.


Dengan sigap Echa segera melebarkan langkahnya menyamai langkah Endo.


___


Echa memejamkan matanya menikmati makanan dalam mulutnya.


"Hmm ... this is so good," gumamnya sembari mengunyah perlahan.


Wajah Endo terdongak, pandangannya terhenti pada kedua mata di hadapannya yang terpejam. Ia benar-benar tak bisa melewatkan moment kali ini. Tatapannya turun ke bawah bertepatan saat gadis di hadapannya itu menjilat bibir pink-nya masih dengan mata terpejam.


Seketika tenggorokan Endo kering, mulutnya tercekat. Ingin rasanya turut menjilat bibir ranum itu.


"Shit!" umpat Endo dalam hati.


Ingatannya kembali ke masa lima tahun yang lalu saat bibir indah di hadapannya itu berada dalam lumatan lembutnya.


Tiba-tiba mata Echa terbuka, hingga sorot netra mereka saling bertemu. Untuk beberapa saat keduanya terdiam saling menatap.


Netra biru itu masih meneduhkan seperti dulu. Namun selalu akan berubah tajam pada waktu-waktu tertentu. Benar-benar membuat Echa merasa nyaman dan betah berada di dalam kungkungannya.


Sementara Endo tak dapat mengalihkan pandangannya. Mata bulat dan bulu mata lentik itu benar-benar menggugah kenangan panas yang berusaha dikuburnya sejak lima tahun yang lalu.


Tiba-tiba Echa memutus tatapannya, kembali menunduk memandang menu yang terhidang di hadapannya. Sementara Endo segera meraih gelas teh di hadapannya dan menenggaknya hingga tersisa separuh.


"Rasanya enak sekali, Pak." Echa kembali membuka percakapan dengan senyum terulas di bibir.


"Hanya bubur ayam, apa istimewanya?" sahut Endo setelah sempat melempar senyum beberap detik.


"Saya tidak menyangka Bapak bisa tahu tempat bubur ayam seenak ini," komentar Echa kemudian kembali menyuap bubur ke mulutnya.


"Aku selalu tahu tempat makan yang enak," sahut Endo. "Jika kau ingat," lanjutnya.


Echa terdiam sesaat, kemudian kembali mengunyah makanannya.


"Ya, saya masih ingat," ucapnya pelan.


Sudut bibir Endo terangkat, merasa mendapat angin segar menyadari bahwa kenangan gadis di hadapannya telah tertarik ke masa-masa kebersamaan mereka.

__ADS_1


"Kau membawa kendaraan ke kantor?" tanya Endo kemudian.


"Tidak, Pak," sahut Echa sembari meraih gelas teh manisnya.


"Nanti biar aku mengantarkanmu pulang," ucap Endo di sela kunyahannya.


"Tidak perlu repot-repot, Pak. Nanti saya pulang bersama Samuel, karena tadi pagi dia bilang akan mengantarkan saya pulang."


Seketika nafsu makan Endo hilang. Diletakkan sendoknya di atas piring, meninggalkan bubur ayam yang masih tersisa separuh porsi.


"Sudah sejauh mana hubungan kalian?" tanya Endo dengan wajah masam.


"Semalam Samuel menyatakan perasaannya pada saya. Tapi saya belum mengambil keputusan. Mungkin saya akan mempertimbangkan saran Bapak," terang Echa.


"Saranku?" ulang Endo tak mengerti.


"Membuka hati untuk Samuel," jawab Echa polos.


Endo menggeram tanpa suara di tempatnya. Rahangnya mengeras dengan kedua tangan terkepal erat di atas paha. Entah mengapa ia merasa kesal mendengar ucapan Echa barusan.


Tangan kokohnya terulur meraih gelas di hadapannya. Cepat-cepat diminum sisa teh manisnya hingga tandas.


"Cepat selesaikan makanmu. Kutunggu di mobil," ucap Endo datar sembari berdiri dan bergegas pergi.


"Loh, Pak! Pak Endo!" panggil Echa bingung. "Pak! Pak Endo!"


Dengan asal-asalan Echa membereskan barang-barangnya kemudian segera berlari menyusul Endo yang masih setengah jalan menuju mobilnya yang terparkir di tepi jalan.


"Bapak kenapa meninggalkan saya?!" seru Echa sembari menghambur berpegangan pada lengan kiri Endo.


Sontak Endo menoleh, memandang gadis itu tanpa berkedip. Entah mengapa, Endo merasa seperti ada perasaan aneh yang menelusup ke dalam ruang hatinya. Sementara Echa tak menyadari tatapan itu karena masih ngos-ngosan mengatur nafas.


"Sepertinya kau senang sekali menempel padaku," ucap Endo dengan nada mengejek, namun tetap wajah datarlah yang ditampilkannya.


"Ah, maaf, Pak. Maaf," seru Echa sembari melepas pegangan tangannya. "Maaf, saya tidak sengaja, Pak," ucapnya lagi sambil melempar senyum tak enak pada atasannya.


Entah mengapa, Endo yang biasanya tampil full dengan senyum hangat menghias wajah tampannya, sejak pagi tadi tampak begitu datar dan dingin. Sebaliknya, Echa yang biasanya bersikap galak dan jutek pada Endo, pagi ini justru begitu banyak melempar senyum untuk laki-laki itu


Tanpa menggubris ucapan Echa, tangan Endo terulur membuka pintu mobil di hadapannya.


"Masuk!" perintahnya singkat.


Tanpa banyak kata Echa langsung menelusup masuk dan duduk di jok sebelah kemudi. Sementara Endo segera berjalan memutari kap mobil untuk masuk dan duduk di balik kemudi.


"Pak," panggil Echa sebelum Endo memutar kunci mobilnya.


Endo menoleh tanpa bersuara.


"Mmm ... saya mau minta maaf, Pak," ucap Echa dengan senyum terulas di bibir.


Sesaat Endo terdiam terpesona, menikmati senyum manis berbingkai wajah cantik dan rambut tergerai indah yang ditujukan padanya.


"Pak," panggil Echa lagi, karena tak mendapati tanggapan dari atasannya itu.


"Ya," sahut Endo singkat sembari mengalihkan pandangannya lurus ke depan.


"Saya mau minta maaf untuk kejadian kemarin," ucap Echa masih dengan posisi yang sama.


Endo menoleh, kembali memandang makhluk cantik di sisinya itu dengan pandangan datar.


"Waktu di taman kemarin ... sepertinya sikap saya pada Bapak sangat keterlaluan," ujar Echa dengan mimik wajah serius. "Tidak seharusnya saya bersikap sekasar itu. Maaf, ya, Pak," ucapnya tulus.


"Apa-apaan gadis ini? Aku bahkan tidak pernah repot-repot mengingat-ingat bahwa ia pernah melakukannya," gumam Endo dalam hati.


Endo mampu melupakan bahwa Echa telah bersikap semenyebalkan itu padanya. Tapi entah mengapa semalaman ia tak bisa tidur karena membayangkan gadis di sisinya itu berkencan dengan Samuel.


"Bapak memaafkan saya?" suara merdu Echa kembali mengisi ruang dengar Endo.


Lagi-lagi Endo mengalihkan pandangannya, menatap lurus ke depan.


"Kau tak perlu minta maaf," sahut Endo akhirnya. "Jauhi saja Samuel," lanjutnya. "Itu sudah cukup menebus kesalahanmu padaku."


"Menjauhi Samuel? Memangnya kenapa, Pak?" tanya Echa tak mengerti. "Bapak cemburu?"


Mendengar pertanyaan Echa barusan, Endo melirik ke arah gadis itu dengan ekor matanya. Entah mengapa, tiba-tiba saja ada rasa kesal, bahagia dan gugup merambat bersamaan ke dalam dirinya.


Sesaat kemudian tiba-tiba kedua mata bulat Echa membeliak lebar. "Bapak menyukai Samuel?!" seru Echa dengan mata melotot, namun bibir melongo, benar-benar tak percaya.


Endo memicingkan matanya jengah ke arah Echa. Mendadak rasa bahagia dan gugupnya sirna, terwakili oleh rasa kesal yang menggerogoti dirinya dengan kejam.


Tanpa minat menjawab pertanya yang Echa lontarakan, Endo segera menyalakan mesin mobilnya. Ia pun seger menginjak pedal gas agar busa cepat-cept bertolak dari tempat itu.

__ADS_1


BERSAMBUNG ...


__ADS_2