
Suasana di salah satu kamar hotel milik Lucas terasa begitu hangat dan ceria. Di dalamnya ada beberapa orang yag sedang berada di sana.
"Hah, akhirnya putri kesayangan Papa ini menjadi sarjana sekarang. Papa bangga, Cha."
"Iya ya, Pa," sahut Nida sembari tersenyum antusias memandang putri bungsunya. "Mama juga bangga dan benar-benar tidak menyangka," lanjutnya.
"Tidak menyangka?" ulang Echa. "Tidak menyangka bagaimana maksudnya, Ma?" tanya Echa bingung.
"Dulu Echa ini kan tidak pernah memperdulikan mata pelajaran. Kerjanya hanya bolos, main, dan tawuran. Sejujurnya Mama tidak yakin Echa bisa menyelesaikan studi sebagaimanamestinya." Nida berusaha menjelaskan.
"Mama ... jangan bicara seperti itu. Di sini kan ada Kak Endo. Malu ...," rengek Echa dengan wajah tertunduk sembari melirik ke arah Endo yang duduk tenang di sampingnya dengan seulas senyum manis di bibir.
Seketika tawa hangat pun pecah di salah satu kamar hotel milik Lucas itu.
"Kau pikir dia tidak tahu tentang kebengalan dan kenakalanmu selama sekolah?" Dicky turut menyahuti.
"Ayolah, Kak. Jangan membuatku tampak buruk di hadapannya ...." Echa kembali merengek manja ke arah kakaknya dengan kedua pipi memerah karena menahan malu.
Gelak tawa pun kembali pecah, memenuhi seluruh ruangan.
"Seharusnya kau banyak bersyukur. Masih ada orang yang bisa dengan begitu sabarnya menghadapi kau yang sangat bengal dan manja ini." Dicky kembali bersuara.
Sementara Endo hanya tertawa mendapati candaan keluarga kecil di hadapannya itu.
"Heran, kenapa harus ada orang-orang seperti kalian di dunia ini?" gumam Echa kesal. "Menjengkelkan!"
Seketika Endo terdiam melongo mendengar ucapan kekasihnya. Tak menyangka gadis di sebelahnya itu bisa mengucapkan kata-kata semacam itu.
Saat mereka tengah asyik bersendau gurau, tiba-tiba terdengar suara bel pintu berbunyi.
"Ah, itu dia sudah datang," seru Nida.
Wanita paruh baya itu pun segera bangkit untuk membuka pintu. Tampak pelayan kamar mendorong masuk meja kecil penuh makanan.
"Wah, banyak sekali pesan makanannya, Mah?" tanya Echa heran.
"Iya, Mama sengaja. Hari ini kita adakan pesta atas kelulusanmu di sini," jawab Nida dengan binar bahagia.
Seketika senyum antusias pun merekah dari kedua bibir Echa, mengundang senyum yang kemudian turut terulas di bibir Endo.
"Baiklah, Mama siapkan dulu ya," pamit Nida.
Nida segera beranjak, mendorong meja kecil beroda itu ke arah balkon kamar yang bisa dibilang lumayan luas. Dengan cekatan disajikannya makanan-makanan itu di atas meja balkon. Tak membutuhkan waktu lama, seluruh hidangan telah tersaji di atas meja.
"Ayo cepat kalian ke sini. Mumpung makanannya masih hangat," seru Nida memanggil semuanya sembari menuangkan jus jeruk dari dalam kemasan ke beberapa gelas.
Seluruh penghuni kamar itu pun segera mendekat kemudian mengambil tempat masing-masing dan mulai makan.
Acara makan-makan sebagai perayaan kelulusan Echa malam itu berlangsung penuh kebahagiaan dan keceriaan. Selain bahagia karena bungsu di keluarga itu telah menyelesaikan studinya, mereka juga senang akhirnya bisa berkumpul kembali dengan anak kesayangan. Ya, selama kuliah, gadis itu memang tak pernah sekali pun pulang ke rumah.
"Setelah ini, apa rencanamu?"
"Rencana?" Echa balik bertanya. "Echa ingin tetap di sini saja, Pa. Kebetulan Echa suda diterima kerja di salah satu perusahaan di sini," lanjutnya.
"Benarkah? Secepat itu? Di mana?"
"Di perusahaan Kak Endo," jawab Echa
"Hah, itu sih namanya pemanfaatan," celetuk Dicky di sela kunyahannya.
"Pemanfaatan bagaimana?" tanya Echa polos.
"Kau memanfaatkan Endo sebagai kekasihmu untuk bisa bekerja di sana. Kau tahu? Itu namanya KKN."
"Hah, yang benar saja. Echa bisa diterima kerja di sana memang karena kemampuan Echa. Bukan yang lain." Echa membela diri. "Kalau tidak percaya, kalian tanyakan saja langsung pada Kak Endo."
"Benar, Om, Tante. Selama magang di perusahaan saya, Echa menunjukkan hasil kerja yang bagus." Endo turut angkat bicara. "Dia cekatan, disiplin, dan cepat belajar."
Echa melirik ke arah Endo. Tak percaya laki-laki yang tengah duduk tenang itu bisa melontarkan pujian untuknya dengan begitu mudah.
"Memangnya apa posisimu di sana?" tanya Dicky.
"Sekretaris pribadi," sahut Echa.
"Sekretaris pribadinya Endo?" Dicky mempertegas.
__ADS_1
"Iya lah, memangnya siapa lagi?"
Mendengar jawaban Echa, ketiga anggota keluarga itu pun saling pandang, kemudian mendelik ke arah Endo yang hanya nyengir tanpa dosa.
"Tante benar-benar tidak menyangka, kita bisa bertemu dalam suasana seperti ini." Terdengar suara lembut Nida.
"Ya, mau bagaimana lagi, Echa adalah bawahan saya. Sebagai atasan yang baik, saya harus mendukung semua langkah positifnya. Termasuk yang baru saja saya lakukan ini, menghadiri acara wisuda dan berkumpul dengan keluarganya. Ditambah lagi, saya sangat mencintai putri Anda. Lantas jika sudah begini memangnya saya bisa apa?" sahut Endo.
Dicky melirik tajam ke arah Endo, kemudian mendengus kesal.
"Cukup adikku saja yang kau rayu, jangan pernah menjilat pada kedua orang tuaku juga," sindir Dicky yang disambut dengan gelak tawa oleh semua di dalam ruangan itu.
"Hai semua ...!" Tiba-tiba terdengar suara seorang laki-laki yang datang mendekat. "Masih ada sisa makanan dan minuman untukku?" tanyanya kencang.
"Kak Lucas ...!" teriak Echa penuh antusias, langsung berlari menghambur ke dalam pelukan Lucas.
"Hei, manis. Maaf, aku datang terlambat. Tadi ada beberapa hal yang harus kuselesaikan dengan segera." Lucas memeluk gadis mungil itu dengan erat.
"Padahal Echa berharap Kak Lucas datang ke acara wisuda itu," renget Echa manja.
"Maaf, sweety ...," ucap Lucas dengan sorot mata penuh sesal. "Baiklah, sekarang berikan keningmu karena aku akan menciumnya."
Lucas pun segera mencium gemas kening gadis manis itu. Sementara Endo berdiri kaku memandang adegan live di hadapannya. Tanpa sadar kedua tangannya tertepal erartm"
"Sial! Kau bahkan tak pernah menyongsongku dengan seantusias itu," rutuk Endo dalam hati.
"Tapi hei, kenapa kau ada di sini?" tanya Lucas yang baru saja menyadari keberadaan Endo di dalam kamar itu. "Aku tahu kau menjalin kerja sama bisnis dengan Om dan Tante Nida. Tapi untuk bisa berada di dalam kamar ini bersama mereka ... kurasa kau butuh alasan khusus." Lucas menatap curiga ke arah Endo.
"Aku .... Aku. Yah, aku memang berada di sini," jawab Endo mendadak canggung dan salah tingkah. "Echa mengundangku," lanjutnya.
"Echa?" ulang Lucas. "Benar kah?" Tatapan mata Lucas beralih pada Echa.
"Iya, benar," sahut Dea.
"Jadi kalian ini saling kenal?" tanya Lucas.
"Luke .... Begini ...."
Endo kembali bersuara. Dimasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
Kedua kaki Endo terayun pelan menghampiri Lucas yang masih berdiri merangkul pundak Echa.
"Karena suatu hal kami putus, dan sekarang kami bertemu kembali."
Endo menghentikan langkahnya tepat di hadapan Lukas. Sementara Lucas bergerak pelan mengurai rangkulannya dari pundak Echa.
"Aku sempat berfikir ini adalah takdir. Tapi tidak, bukan takdir ... melainkan jodoh. Kami memang berjodoh."
Endo memandang nanar ke arah Lucas yang masih berdiri di samping Echa, kemudian beralih menatap kegelapan di luar pintu balkon.
"Aku mencintainya, Luke. Aku mencintai Echa. Sangat mencintainya. Aku bahkan tak yakin bisa hidup tanpa dia di sisiku," ucap Endo tanpa mengalihkan pandangannya.
"Apa?" gumam Lucas tak percaya. "Bagaimana bisa kau menyembunyikan semua ini dariku? Bagaimana bisa semua ini terjadi tanpa sepengetahuanku?" Lucas menatap lurus ke arah Endo.
"Maaf Luke, maaf ...."
Tubuh Endo beringsut pelan, menghadap Lucas yang masih terbengong tak percaya.
"Aku tak bermaksud menikammu dari belakang. Aku tak bermaksud merebut ataupun mengambil milikmu. Hanya saja ... semua mengalir begitu saja. Maafkan aku ...," ucap Endo pelan penuh penyesalan.
"Lalu apa maumu sekarang?" tanya Lucas setelah berhasil menguasai hatinya.
"Aku mohon kau lepaskan Echa. Biarkan dia jadi milikku. Biarka dia bahagia bersamaku. Aku akan melamarnya ... menikahinya ... dan punya anak yang lucu-lucu dalam hidup kami, yang nantinya akan memanggilmu dengan sebutan om." Kali ini sorot mata Endo tampak begitu tajam.penuh harap.
"Kak Endo, apa maksud Kakak?" Akhirnya Echa angkat bicara. Dipandangnya bergantian wajah penuh kebingungan milik Lucas dan wajah penuh harapan sekaligus rasa bersalah milik Endo.
"Hei, tunggu sebentar," Dicky menginterupsi kemudian berjalan mendekat. Berdiri di antara Endo dan Lucas. "Tunggu ... tunggu. Aku mulai paham. Jadi, kau berteman baik dengan Lucas," ucap Dicky dengan pandangan ke arah Endo. "Kau merasa bersalah karena telah merebut Echa dari pelukan Lucas. Dan sekarang kau melakukan pengakuan dosa di hadapan Lucas. Betul begitu?"
Endo diam tak menjawab. Sorot mata yang yadinya tampak tajam kini terlihat kembali sayu tanpa nyawa. Sedetik kemudian ia menunduk pasrah, lalu kembali mendongak menatap kedua manik jenaka milik Dicky.
"Benar."
"Ya Tuhan, dasar konyol!" umpat Dicky jengah, kemudian tergelak tawa setelahnya.
Sementara Lucas hanya berdiri diam di tempat. Perlahan ketegangan di wajah tampannya mulai luntur dan hilang, bergati dengan senyum tak habis pikir yang berubah menjadi tawa geli di bibir.
__ADS_1
Melihat kedua laki-laki itu tertawa, wajah bersalah Endo berangsur menjadi ekspresi tak mengerti dan berubah bingung ketika Echa dan kedua orang tuanya juga tampak menggelak tawa terpingkal-pingkal.
"Hei, ada apa dengan kalian?" gumam Endo semakin bingung.
Bukan menjawab, Echa justru menghambur memeluk tubuh tegap Endo dengan erat.
"Kak Endo benar-benar akan melamar Echa?" tanya Echa kemudian.
"Tentu saja," sahut Endo sembari melirik ke arah Lucas. "Bukankah sudah kukatakan bahwa aku serius denganmu," lanjutnya.
"Kapan?" tanya Echa dengan wajah dihiasi semburat merah.
"Dulu ... aku pernah mengatakannya," jawab Endo.
"Maksud Echa lamarannya, Kak Endo."
"Jika Lucas sudah mengatakan iya, maka aku akan segera mendatangi kedua orang tuamu bersama Aldo," jawab Endo.
"Ayolah Kak Lucas, jangan hanya tertawa saja. Cepat katakan iya!" seru Echa sembari menoleh ke arah Lucas dengan binar di kedua matanya. Jangan lupakan kedua tangannya yang masih memeluk Endo dengan erat.
"Tidak mau." Lucas menjawab acuh.
"Echa memaksa!" seru Echa dengan wajah kesal yang disambut dengan gelak tawa oleh Lucas.
"Dasar tol*l!" ucap Lucas setelah berhasil menghentikan tawa. Kedua kakinya terayun ke arah Endo. "Justru aku akan sangat marah padamu jika kau sampai menyakiti hati adik sepupuku ini, lanjutnya dengan senyum tulus di bibir.
"Apa?" tanya Endo bingung. "Kau dan Echa ...."
"Iya, ayahku adalah Kakak dari Tante Nida. Jadi kami ini saudara sepupu," sahut Lucas cepat masih dengan senyuman terukir di bibir.
"Dulu Echa ngotot ingin mengambil kuliah di luar Kota Jakarta. Kami mengizinkannya ke sini karena ada family di sini. Lalu Tante mempercayakan penjagaan Echa pada Lucas." Akhirnya Nida turut berbicara.
"Walaupun kenyataannya dia gagal," sahut Dicky yang tampak seumuran dengan Lucas dan Endo.
"Ya," sahut Lucas lemah. "Bagaimana bisa aku sampai kecolongan seperti ini. Teman baikku menjalin hubungan dengan sepupuku sendiri, dan aku tak tahu ...," gumam Lucas sembari berjalan menjauh. "Hah, benar-benar menyebalkan!"
"Jika sudah begini, aku lah yang repot," gumam Dicky dengan wajah kesal. "Mama pasti akan terus memaksaku untuk cepat-cepat menikah juga," lanjutnya sembari melangkah ke luar kamar. "Dasar pasangan konyol. Bukan memberikan kebahagiaan, tapi malah memberikan kesulitan padaku."
"Tak terasa, putri Papa kini sudah dewasa. Sudah mau diminta oleh pria lain, malah. Akan menjadi milik laki-laki selain Papa."
"Papa, jangan bicara seperti itu. Echa jadi ingin menangis ...." Echa menghambur ke dalam dekapan papanya.
"Ya sudah, nanti kita bicarakan lagi," potong Nida. "Kami akan jalan-jalan ke luar. Mumpung sedang berada di sini," pungkasnya.
Keduanya pun segera beranjak pergi meninggalkan putri satu-satunya bersama laki-laki yang pernah masuk ke dalam kehidupan keluarga mereka lima tahun yang lalu.
"Jadi ... Kak Endo akan melamar Echa?" tanya Echa sembari melangkah pelan menghampiri Endo dengan senyum menggoda di bibir.
"Kau senang?" Endo balik bertanya sambil melempar senyum mautnya.
"Tentu saja senang," jawab Echa masih dengan senyum di bibir. "Kapan?"
"Secepatnya." Endo membuka kedua lengannya sebagai isyarat agar Echa segera mendekat dan menelusup ke dalam dekapannya.
"Pastikan, kapan?" sahut Echa setelah menghambur ke dalam pelukan Endo.
"Kau sudah tak sabar ingin menjadi Nyonya Endo, hum?" goda Endo.
"Memangnya Kak Endo sabar menanti berlama-lama untuk mendengar mereka memanggil Echa dengan sebutan Nyonya Endo?" Echa balas menggoda.
"Hah, kenapa kau begitu menyebalkan?" hardik Endo.
"Menggemaskan, Kak. Bukan menyebalkan," ralat Echa.
"Ya, gadis kecilku ini sudah mulai berani menggoda rupanya," ucap Endo dengan senyum terulas di bibir, sembari mengurai pelukan eratnya.
"Kak Endo sendiri yang mengajari." Echa menatap lekat-lekat kedua netra laki-laki yang masih memeluk pinggang rampingnya itu.
"Hahaha .... Baiklah, aku akan segera menghubungi Aldo. Terlalu berbahaya jika kubiarkan gadis penggoda ini terlalu lama berkeliaran di luar sana," putus Endo kemudian.
Sebuah senyum puas tersembul di antara kedua bibir mungil Echa. Gadis itu pun menjorokkan wajahnya ke depan, mencium sekilas bibir Endo.
Spontan kedua mata Endo terbelalak mendapat kejutan dari kekasih hatinya. Tanpa berpikir panjang langsung dibalasnya perlakuan kekasihnya itu dengan penuh kelembutan.
BERSAMBUNG ...
__ADS_1