
"Apa yang harus kulakukan agar kau tetap berada di sisiku, sayang?" tanya Endo lemah.
"Tidak ada," jawab Echa singkat.
Endo perperanjat mendengar jawaban singkat yang meluncur dari bibir mungil gadis yang sangat dicintainya itu. Kedua mata sipitnya terbuka lebar dengan tatapan tak percaya. Setelah dapat kembali menguasai diri, perlahan diseretnya kedua kaki menghampiri Echa yang masih berdiri menghadap jendela kaca. Seketika langsung dilipatnya kedua lutut hingga jatuh berlutut tepat di sebelah gadis itu.
Sontak Echa terkejut melihat apa yang dilakukan oleh sang kekasih. Kedua mata bulatnya terbelalak lebar seolah tak percaya dengan adegan live di depan mata itu.
"Apa yang Kakak lakukan?" gumam Echa bingung.
Endo diam tak menjawab. Kedua tangannya terjuntai lunglai di kedua sisi, dengan wajah menunduk menatap lantai dingin yang menjadi tumpuan kedua lututnya.
"Bangulah, Kak. Apa yang Kakak lakukan?" Echa kembali bersuara.
"Biarlah, Cha," sahut Endo tanpa bergerak sedikit pun. "Hari ini ... demi ketulusan cintaku padamu, kurendahkan diriku di hadapanmu. Kumohon, sayang ... beri aku satu kesempatan untuk menyelesaikan semua ini."
Tanpa sadar Echa kembali terisak, terharu dengan kejutan tak terduga dari sosok yang sangat dicintainya itu. Ia benar-benar tak menyangka bahwa seorang Endo Devon Atmaja bersedia berlutut demi belas kasihan darinya.
Sesaat kemudian Echa beringsut bergerak menghampiri Endo. Dengan tubuh sedikit membungkuk dipegangnya kedua lengan laki-laki itu agar segera bangkit dari posisi berlututnya.
"Bangunlah, Kak," ucap Echa pelan.
"Beri aku kesempatan, sayang. Beri aku waktu untuk mengungkap semua ini."
Endo yang berkeras memohon kepada Echa tetap bergeming pada posisinya. Melihat hal itu, perlahan Echa kembali menegakkan tubuh.
"Tanggal pernikahan yang telah disepakati tinggal dua bulan lagi," ucap Echa lirih.
"Satu bulan," sahut Endo mengajukan usul. "Hanya satu bulan," lanjutnya. "Berikan aku waktu satu bulan."
"Echa tidak mau mati hanya karena penantian," sanggah Echa cepat.
Gadis itu beringsut, membuat tubuhnya kembali menghadap ke arah jendela kaca.
"Satu minggu. Hanya satu minggu. Buktikan bahwa Kakak memang hanya dijebak."
Endo tersenyum lega mendengar ucapan gadis di hadapannya itu.
"Baik, sayang. Akan kubuktikan bahwa aku layak untuk menjadi suamimu."
"Bangulah, Kak," ucap Echa tanpa menoleh, tak kuasa melihat kekasih yang dicintainya berlutut memohon pada dirinya.
Endo segera bangkit. Diraihnya bahu kecil di hadapannya ke dalam rengkuhan kedua lengan kokohnya.
"Terimakasih, sayang," ucap Endo.
Senyum Endo semakin melebar saat ia merasa Echa membalas pelukannya dengan begitu erat.
"Aku akan segera menyelesaikannya, sayang. Aku akan membuat semuanya terang bagimu dalam waktu singkat," bisik Endo tepat di telinga kekasih mungilnya itu.
"Jangan lama-lama, Kak," bisik Echa parau.
"Tidak, sayang. Jangan cemas. Kau tenanglah. Aku akan menyelesaikannya hanya dalam hitungan hari."
"Janji?"
"Janji."
"Terimakasih, Kak Endo."
"Tidak, sayang. Jangan berterimakasih padaku. Anggap saja ini adalah hukuman yang harus kujalani untuk menebus semua kesalahan-kesalahanku selama kita bersama," tukas Endo cepat. "Hukuman yang memang harus kujalani untuk membersihkan diriku sebelum hari pernikahan kita."
Setelah menyelesaikan kalimatnya, Endo segera mengurai kedua tangan dari pelukan gadis bermata bulat itu. Dituntunnya tubuh mungil itu menuju tempat tidur.
"Duduklah dulu," ucap Endo sembari mendudukkan gadis itu di bibir kasur.
Kedua kaki Endo segera terayun menuju meja tak jauh dari pintu kamar. Diambilnya nampan berisi makanan yang diletakkan oleh Marni beberapa waktu yang lalu.
"Kudengar dari Tante Nida, kau belum makan dari kemarin," ucap Endo sambil turut duduk di sisi Echa. Diletakkannya nampan di atas nakas, kemudian berlanjut dengan kedua tangan yang sibuk dengan sepiring nasi.
"Kenapa bisa ada makanan di meja tadi?" tanya Echa bingung.
"Aku menyuruh Marni mengantarkannya ke kamarmu."
"Echa tidak melihat Marni datang."
"Tentu saja," sahut Endo sembari menyuapkan satu sendok nasi ke dalam mulut Echa. "Tadi kau terlalu fokus pada ketampanan wajahku, hingga tak menyadari kedatangan Marni," lanjut Endo sekenanya.
"Hei, Echa belum memaafkan Kak Endo!" Echa mengingatkan dengan kedua mata melotot. "Jadi jangan coba-coba sok perhatian, sok akrab dan berkelakar dengan Echa."
Endo memandang ke arah Echa dengan tatapan tak habis pikir. Ditariknya nafas dalam-dalam sebelum akhirnya membuangnya dengan kasar.
"Ya sudah kalau begitu," gumam Endo. "Nasinya untukku saja jika memang kau tidak butuh perhatian dariku," lanjutnya sembari menyuapkan nasi ke dalam mulutnya sendiri. "Aku sangat lapar. Tadi pagi belum sempat sarapan, langsung terbang ke sini," lanjut Endo dengan mulut penuh nasi.
"Hei, enak saja!" hardik Echa sembari merebut piring dari tangan Endo. Kedua tangan lemah itu pun lantas bergerak lincah bersama sendok, mengundang senyum lega di kedua bibir Endo.
Laki-laki bermata biru itu terdiam dengan senyum terulas di bibir, memperhatikan setiap gerakan Echa yang tengah sibuk dan lahap dengan sepiring nasi di tangan. Bahkan ia pun tersenyum geli saat melihat butir anak nasi yang tertinggal di sudut bibir kekasihnya.
"Ya Tuhan, kenapa aku bisa begitu tergila-gila pada gadis ini?" gumam Endo tanpa sadar.
"Eh? Apa, Kak?" tanya Echa bingung.
"Ah, tidak. Tidak apa-apa," elak Endo. "Hanya ada butir nasi di bibirmu," lanjutnya sembari mengusap bibir gadis itu dengan lembut. "Kau sudah selesai?"
"Iya."
"Bagus."
Endo mengambil satu gelas air putih, disodorkannya pada Echa yang diterima dengan tangan kanan dan langsung diminum gadis itu hingga hampir tandas.
__ADS_1
"Aku tidak bisa berlama-lama di sini," ucap Endo setelah menghabiskan air putih sisa dari Echa. "Aku harus pulang untuk segera membereskan masalah ini."
"Kenapa begitu buru-buru?" tanya Echa yang terdengar seperti rengekan di telinga Endo.
"Kenapa? Kau merindukanku?" Endo balik bertanya dengan wajah dibuat sepolos mungkin.
"Setidaknya tinggallah di sini sampai besok," ucap Echa pelan setelah terdiam beberapa saat.
"Hah, siapa suruh tadi menyambutku dengan amarah dan tangisan, bukannya menyambut kedatanganku dengan senyuman dan pelukan hangat?" tukas Endo cepat.
Echa diam tak menjawab, hanya memperlihatkan pipi berona merah dan mulut yang mengerucut lucu karena kesal sekaligus malu.
Tak ingin membuang waktu dan kesempatan, Endo langsung mencium bibir mungil di depan matanya itu tanpa aba-aba. Ciuman yang berawal dari rasa gemas, kini perlahan berubah menjadi ciuman lembut yang penuh perasaan.
Sementara itu, di mulut pintu salah satu kamar tampak Dicky tengah berdiri dengan wajah serius memperhatikan adik dan calon iparnya yang tengah bermesraan di dalam kamar. Pintu yang terbuka lebar membuat kemesraan keduanya tertangkap jelas oleh lensa netra laki-laki bersetelan kasual itu.
Perhatian Dicky terpecah saat ponselnya bergetar. Diraihnya benda tipis itu dari dalam saku celana dan segera menggeser ikon telepon hijau saat nama Rudi tertera pada layar.
"Mereka berbaikan, brengsek!" Satu kalimat langsung meluncur dari mulut Dicky begitu panggilan tersambung.
"Hahahaha ...!" Terdengar suara Rudi yang terbahak-bahak di ujung sambungan telepon. "Kau kalah, dude. Segera transfer uangmu ke rekeningku."
"Selanjutnya jangan lakukan apa-apa untuknya." Dicky kembali berbicara dengan tangan kanan memegang ponsel yang menempel di telinga, sementara tangan kiri berkacak pinggang di pinggang sebelah kiri.
"Apakah ini bagian dari taruhan?" tanya Rudi di ujung sambungan.
"Tidak," jawab Dicky. "Jika memang mencintai adikku, dia harus menyelesaikan masalah ini dengan tangannya sendiri."
"Terserah kau saja. Mungkin terkadang aku akan menjadi penjilat yang luar biasa brengsek saat dibutuhkan. Tapi yang jelas aku bukanlah penghianat." Suara Rudi terdengar datar.
"Apa maksudmu?" tanya Dicky tak mengerti.
"Bosku bukan kau, tapi dia," jawab Rudi santai.
"Hah, brengsek kau!"
"Hahaha ... Sudahlah, jangan terlalu menguras emosi seperti itu. Jika mereka sudah digariskan untuk berjodoh, memangnya kau bisa apa? Dengan atau tanpa bantuanku, mereka akan tetap bersama."
"Semoga saja kau benar," komentar Dicky singkat.
"Tentang apa? Aku adalah penjilat handal?"
"Aku hanya ingin melihat adikku bahagia," gumam Dicky pelan.
"Jika begitu maka lakukanlah satu hal yang mungkin tak pernah kau lakukan," sahut Rudi.
"Apa itu?"
"Berdoa," jawab Rudi tegas. "Ini hanya sekedar saran."
"Hei, Dicky. Apa kabar?" Tiba-tiba terdengar suara tak jauh dari tempat Dicky berdiri.
"Hahaha ... baiklah, teraserah kau saja." Endo kembali bersuara sambil melempar tawa khas yang sangat Dicky kenal.
"Kau mau kemana?" tanya Dicky berbasa-basi pada laki-laki dengan setelan jas kerja rapi itu.
"Bandara."
"Memangnya mau pergi kemana?"
"Pulang."
"Pulang?" Dicky mengulang ucapan Endo penuh keheranan. "Bukankah kau belum lama tiba?"
"Iya. Aku ikut penerbangan pertama pagi ini."
"Kupikir kau akan menginap di sini. Atau setidaknya tinggal di apartemenmu yang sudah lama kosong itu untuk beberapa hari ke depan." Dicky melangkah pelan mendekati Endo.
"Aku tak punya banyak waktu untuk bersantai di sini," sahut Edo. "Aku sangat sibuk."
"Ya, sebaiknya memang begitu."
"Kau tidak pergi ke kantor?" Endo ganti bertanya.
"Aku baru saja bangun," jawab Dicky singkat sembari memasukkan ponsel ke saku celana kirinya.
"Well ...," komentar Endo sekenanya.
"Semalaman aku tak bisa tidur karena suara-suara dari kamar Echa," gumam Dicky pelan.
"Kenapa memangnya?" tanya Endo sambil menoleh ke belakang.
Terlihat pintu kamar tempat dimana ia sempat bercengkerama dengan kekasihnya beberapa saat yang lalu tertutup rapat.
"Ada hantu di kamar itu?" Endo kembali bertanya sembari bergidik ngeri.
"Entahlah. Suara tangisan itu begitu memilukan dan mencekam, tetapi juga terdengar sedikit ... fals." Dicky mengedikkan bahunya cuek, kemudian berjalan pergi meninggalkan Endo yang terdiam melongo mendengar penuturan tak jelas dari calon kakak iparnya itu.
___
Endo berjalan beriringan dengan seorang wanita cantik menuju pintu kedatangan.
"Gabby, cepatlah sedikit." Endo sedikit berseru.
"Tadinya aku hanya berencana untuk mengecek keadaan restoranku saja di sana. Tapi yang terjadi adalah aku justru menghambur-hamburkan uangku hanya untuk baju-baju dan asesoris tak berguna ini," gerutu Gabby sembari menyeret koper lumayan besar di tangan kiri.
"Restoran?" tanya Endo tak mengerti.
"Aku baru memulai bisnis kulinerku di ibu kota," jawab Gabby singkat. "Jika kau tak keberatan, investasikanlah sedikit uangmu di restoranku."
__ADS_1
"Aku keberatan," jawab Endo tegas.
"Hah, kenapa kau begitu menyebalkan?" sungut Gabby yang terus berusaha menyamai langkah lebar Endo. "Kupikir sudah waktunya bagiku untuk memikirkan masa depan. Aku tidak ingin selamanya berada dalam dunia malam seperti ini dan berakhir dengan nasib yang menyedihkan. Bukankah langkahku ini sudah benar?"
Endo diam tak menjawab, sementara Gabby terus berjalan cepat di sisi laki-laki bersetelan jas hitam itu.
"Oh ya, kudengar beberapa waktu yang lalu Aldo datang ke sini."
Gabby terus saja mengoceh. Bahkan dengan sengaja dilingkarkan tangan kanannya di lengan kiri Endo agar tak tertinggal oleh langkah cepat laki-laki itu.
"Kenapa kau tidak memberi tahuku?"
"Apa Aldo memberi tahumu?"
"Tidak."
"Apa lagi aku."
"Hei, kenapa kau begitu menyebalkan?!" rutuk Gabby kesal. "Tapi kau juga terlalu mudah untuk dirindukan," sungutnya dengan gumaman pelan.
"Hahaha ...!" Akhirnya Endo tertawa mendengar kalimat garing yang Gabby ucapkan.
"Ngomong-ngomong ada perlu apa dia datang ke mari?" tanya Gabby tanpa menghiraukan tawa Endo.
"Kau tahu Rebecca?" Endo balik bertanya.
"Tentu saja," jawab Gabby. "Dia begitu terkenal di stage dunia malam. Banyak sekali laki-laki yang menginginkannya, namun tak seorang pun yang bisa mengungkap siapa dan bagaimana kehidupan nyata wanita itu. Sepertinya Lucas benar-benar ingin menjaga identitas wanitanya itu dengan baik."
Kening Gabby berkerut dengan kedua alis hampir tertaut. Tampak seperti sedang berfikir keras.
"Kau menginginkan informasi tentang dia?" Gabby kembali bersuara. "Hah, sayang sekali, kali ini aku tak bisa membantumu karena aku pernah memiliki kenangan buruk dengan Lucas."
"Aku akan menikahinya," ucap Endo tiba-tiba ketika langkah keduanya melewati pintu kedatangan.
"Siapa?"
"Rebecca."
"Hah? Apa?! Apa kau serius?"
Keduanya terus melangkah meninggalkan pintu kedatangan dan menuju kendaraan yang terparkir tak jauh dari jarak pandang mereka.
"Apa aku terlihat seperti sedang mengada-ada?"
"Tidak juga sih ...," jawab Gabby setelah melirik ke arah Endo. "Tapi bagaimana bisa?"
"Tentu saja bisa. Bahkan membuatmu berpaling dari Aldo pun hal yang mudah bagiku. Apa aku salah?"
Gabby hanya mendengus kesal tanpa bersuara. Diakui atau tidak, dia memang pernah tertarik pada laki-laki di sampingnya itu. Namun dia cukup waras untuk memangkas rasa tertariknya itu sebelum berubah menjadi cinta. Walau bagaimana pun sosok Aldo yang selengek'an dan terkadang urakan itu lebih bisa menawan hatinya.
"Lalu kapan pernikahan kalian itu?"
"Dua bulan lagi."
"Ah, aku harus segera membeli baju baru untuk menghadiri pesta pernikahanmu."
"Memangnya kau diundang?"
"Hei, kenapa kau begitu jahat padaku?!" hardik Gabby kesal. "Lagi pula di pesta itu nanti aku bisa bertemu dengan Aldo. Apa kau tidak senang?"
"Tentu saja tidak."
"Kenapa tidak?"
"Karena di sana juga akan ada kakak iparku," jawab Endo sembari membukakan pintu penumpang untuk Gabby.
"Hei, ayolah ... aku berjanji akan bersikap manis di pesta itu."
Endo tak menjawab. Hanya tersenyum kemudian mendorong paksa wanita cantik itu agar segera masuk ke dalam taksi.
Setelah menutup pintu dan memastikan taksi bertolak dari tempat itu, Endo langsung beranjak pergi menghampiri fortuner putih yang terparkir tak jauh dari tempatnya berdiri tadi.
"Aku heran, kenapa wanita itu selalu bersikap sangat anggun, elegan dan arogan pada siapa pun? Tetapi di hadapanmu, dia bisa begitu terbuka dan manja bagai remaja." Rudi bersuara tepat saat Endo masuk dan duduk di kursi penumpang.
"Entahlah, aku tak pernah tertarik untuk memikirkannya," sahut Endo tanpa minat.
"Bagaimana tadi?" tanya Disan dari kursi kemudi.
"Aku harus segera membongkar kedok Rosella," jawab Endo.
"Apa tugasku kali ini?" tanya Rudi yang duduk tenang di samping Disan.
"Tidak ada. Aku akan membereskannya dengan tanganku sendiri."
"Baguslah. Berarti aku tidak perlu menolak permintaan seseorang."
"Apa maksudmu?"
"Dicky memintaku agar tak turut campur dengan urusanmu kali ini. Dia ingin kau sendiri yang membereskan semua kerumitan ini."
"Bagaimana dia bisa tahu?"
"Kemarin sore dia meneleponku. Adiknya pulang tiba-tiba dengan mata sembab."
"Kenapa dia tidak menelepon dan langsung bertanya padaku saja?"
"Tentu saja karena kau pasti akan membela dirimu sendiri," sahut Rudi cepat.
___
__ADS_1
BERSAMBUNG ...