
"Kenapa kau bicara seperti itu pada Pak Aldo?" Novera menyikut lengan Echa dengan kasar. "Tidak sopan."
"Siapa suruh dia usil di saat aku sedang suntuk seperti ini," elak Echa tak mau kalah.
"Bagaimana jika beliau menganggap serius omonganmu barusan dan betul-betul membatalkan lamaran pada keluargamu untuk adiknya?"
"Tidak akan," sahut Echa santai.
"Kenapa kau seyakin itu?"
"Karena aku tahu Kak Endo sangat mencintaiku," jawab Echa dengan senyum jumawa di bibirnya.
"Dasar abege, tingkat kepercayaan dirimu tinggi sekali," dengus Novera. "Besok lagi jangan pernah kurang ajar seperti itu pada kakak ipar." Novera memperingatkan. "Tapi ... memangnya apa yang sedang mengganggu pikiranmu?"
"Pemilik apartemen," sahut Echa.
"Setampan itu kah si pemilik apartemen itu, sampai-sampai kau mendua dari cinta Pak Endo?" tanya Novera dengan wajah serius.
"Kau ini bicara apa? Dasar ngawur!" hardik Echa kesal, yang dibalas dengan cengiran tanpa dosa oleh Novera.
"Tadi pagi dia datang meminta uang sewa," ucap Echa sembari mulai sibuk dengan keyboard kembali.
"Lalu?" tanya Novera.
"Aku tak punya uang," jawab Echa. "Dia memberiku waktu tiga hari untuk menyiapkan uangnya atau angkat kaki dari tempat itu."
"Bukan masalah yang rumit," komentar Novera santai.
"Iya, jika aku memiliki uang," sahut Echa cepat.
"Memangnya kemana gajimu selama ini?Kau tinggal memberikannya saja, bukan?" tanya Novera.
"Gajiku habis," jawab Echa singkat.
"Habis? Kau habis belanja besar-besaran? Memangnya apa saja yang kau beli? Kulihat tak ada yang baru." Novera menilik penampilan Echa dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Uangku habis untuk ...." Echa mendekat kemudian berbisik ke telinga Novera. "Membeli perlengkapan dan alat make up, juga buku resep dan bahan-bahan makanan. Hehehe ...."
Tawa Novera pecah seketika karena mendengar jawaban Echa. Ia merasa geli membayangkan betapa akan tersiksanya rekannya itu dengan seabrek alat make up yang ia yakin pasti gadis itu tak paham sama sekali. Belum lagi ratusan resep masakan yang harus dipelajarinya. Sedangkan ia tahu, gadis itu tak bisa memasak sama sekali. Bahkan antara gula dan garam pun, ia tak yakin gadis itu bisa membedakannya.
___
.
"Tidak, Om Endo tidak mungkin berbohong, Andres," ucap Endo dengan pandangan lurus menghadap layar ponsel.
"Bagaimana caranya?" tanya bocah empat tahun di dalam layar ponsel itu.
"Makanya datanglah ke mari. Om Endo akan mengajarkannya padamu dan membelikan mainan-mainan keren yang kau mau."
"Maaf, Om. Andres sedang sibuk."
Endo tertawa geli mendengar ucapan keponakannya yang seperti orang dewasa itu.
"Memangnya apa kesibukanmu?" tanya Endo akhirnya.
"Menemani adik bayi," sahut Andres sembari mencium bayi perempuan yang tengah digendong oleh ibunya.
"Tapi Om Endo sangat merindukanmu, Andres. Tak bisakah kau percayakan saja adik bayimu itu pada Mama agar kau bisa langsung datang ke rumah Om?" tanya Endo dengan wajah dibuat sememelas mungkin.
"Tidak," jawab Andres tegas.
"Ya sudah kalau begitu, Om Endo akan mencari keponakan baru saja," goda Endo. "Keponakan yang bisa menemani Om bermain robot dan pedang abadi setiap hari."
"Papa, Om Endo nakal!" teriak Andres tiba-tiba. "Dia ingin mencari keponakan baru!" lanjutnya yang tentu saja mengundang tawa seorang wanita yang tengah menggendong bayi di sampingnya.
"Hahaha ... Om hanya bercanda. Ok, jagoan. Sepertinya Om harus menyudahi percakapan kita karena pekerjaan. Sampaikan salam Om untuk Mama dan adik kecilmu, ya."
Endo mengakhiri video call setelah sang keponakan mengangguk sambil melambaikan tangan. Diserahkannya gawai warna hitam itu kembali pada Aldo.
"Kau jadi pergi hari ini?" tanya Endo pada kakaknya.
"Ya," sahut Aldo sembari menyisir rambut khas ala dirinya. "Bukankah tugasku di sini sudah selesai?"
"Ya."
"Sudah satu bulan aku berada di sini ... meninggalkan banyak pekerjaan di sana. Urusan bisnisku di sini pun juga sudah selesai."
Endo duduk diam di bibir tempat tidur, mengamati setiap gerakan kakaknya yang tengah sibuk packing.
"Terimakasih, Al," ucap Endo tulus.
"Untuk apa?" tanya Aldo tanpa menoleh.
"Kau telah menjadi sosok kakak yang baik bagiku."
"Berterimakasihlah kepada Tuhan, karena tak membiarkanmu hidup sebatang kara di dunia ini."
"Ya. Apa pun itu ... terimakasih," ucap Endo dengan wajah sedih. "Ringgo akan mengantarmu ke bandara," lanjutnya, mengalihkan rasa sedih yang tiba-tiba menyerbu ke dalam hati.
"Sepertinya tadi aku melihat kekasihmu itu datang ke mari."
Aldo sengaja mengalihkan topik pembicaraan sebab tahu betul apa yang dirasakan oleh adik satu-satunya itu. Satu-satunya anggota keluarga yang masih bisa bernafas.
"Tapi aku tidak melihatnya lagi. Apakah dia sudah kembali ke kantor?" Aldo kembali bersuara.
"Tidak, dia sedang membuat pekerjaan baru untuk Anna di dapur," sahut Endo.
Aldo menoleh, menatap tak mengerti ke arah adiknya.
"Dia sedang memasak di dapur. Entahlah, masakan apa yang dia buat. Yang jelas itu nanti akan membuat Anna terpaksa harus membereskan sisa-sisanya." Endo berusaha menjelaskan karena melihat tatapan tak mengerti dari kakaknya.
__ADS_1
"Karena bisa dipastikan dapur akan menjadi hancur dan porak-poranda setiap kali dia mengunjunginya?" tanya Aldo.
"Tepat sekali."
"Hah, aku beruntung sekali Leni bukan wanita seperti itu," gumam Aldo pelan. "Jaga kekasihmu itu baik-baik. Dia adalah gadis yang luar biasa."
"Luar biasa?" Endo menahan tawa mendengar pujian kakaknya untuk Echa.
"Kulihat hanya dia yang bisa membuatmu gila dan memaksamu jauh-jauh pergi ke Jakarta hanya untuk melamar anak orang."
"Kau benar. Aku sangat mencintainya." Endo tersenyum membenarkan ucapan kakaknya.
"Kak Endo ...!"
Tiba-tiba terdengar suara yang tak asing lagi di telinga kedua laki-laki itu, disusul dengan kemunculan sang pemilik suara.
"Echa mencari Kakak kemana-mana, ternyata ada di sini. Maaf, Echa langsung masuk, pintunya tidak ditutup."
"Iya, Cha. Ada apa?"
"Kuenya sudah jadi, Kak. Ini, silahkan dicicipi."
"Kue?" ulang Endo.
"Iya."
"Dicicipi?"
"Iya."
"Apakah Anna sudah mencicipinya?" tanya Endo setelah terdiam selama sekian detik.
"Sudah."
"Dia bilang apa?"
"Anna tidak bilang apa-apa. Menyebalkan bukan? Seharusnya dia memberikan pujian atas kue buatan Echa ini, walaupun hanya sedikit."
"Oh ... begitu ya?" tanya Endo dengan mimik wajah menyedihkan, karena ia merasa tahu betul apa yang Anna rasakan saat mencicipi kue buatan gadis di hadapannya itu.
"Ya, begitulah," jawab Echa. "Ayo dimakan, Kak."
"Lihatlah, di sini ada Aldo juga. Sebagai adik ipar yang baik seharusnya kau berikan kesempatan emas ini kepadanya. Biarkan dia yang mencicipinya terlebih dahulu," ucap Endo yang merasa mendapat ide brilian.
"Ah, Kakak benar," seru Echa dengan binar antusias, kemudian menoleh ke arah Aldo. "Ini Kak Aldo. Silahkan dicicipi dan berikan komentar membangun," ucap Echa sembari menyuapkan ke mulut Aldo.
"Bagaimana?" tanya Echa setelah Aldo mengunyah dan menelan kue buatannya, walaupun tampak dengan susah payah. Cara menelan yang pastinya menimbulkan kecurigaan tingkat tinggi di benak Endo
"So far so good," ucap Aldo akhirnya.
"Maksudnya?" tanya Echa dengan ekspresi tak mengerti.
"Lumayan," jawab Aldo. "Teksturnya lembut di lidah."
"Benarkah?" tanya Echa antusias.
"Ya. Walaupun masih ada sedikit kekurangan dalam hal rasa," sahut Aldo cepat.
"Setidaknya tekstur kuenya sudah bagus, walaupun rasanya belum sempurna." Echa menarik kesimpulan. "Baiklah, sekarang giliran Kak Endo."
Echa menyuapkan kue buatannya kepada Endo.
"Apa-apaan ini?" seru Endo di suapan pertamanya. "Sejak kapan cup cake rasanya asin?"
"Asin? Benarkah?" Ekspresi bingung tampak tergambar jelas di wajah Echa.
"Hoek ...!" Echa memuntahkan gigitan kue yang dicicipinya. "Benar-benar asin. Asin sekali! Hah, Echa pasti salah memasukkan bahan. Bukannya gula, tetapi malah garam."
Aldo tertawa terpingkal-pingkal mendengar ucapan calon adik iparnya. Sementara Endo hanya diam memasang wajah kecut karena merasa lagi-lagi telah dibodohi oleh kakaknya itu.
"Hei, tapi ... Kak Aldo?" Tiba-tiba pandangan Echa tertuju pada calon kakak ipar yang masih sibuk berusaha menyudahi gelak tawanya. "Benar ini Kak Aldo? Kenapa terlihat berbeda?"
Echa meneliti penampilan Aldo dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Kubilang juga apa, kami sangat berbeda," timpal Endo. "Aku jauh lebih tampan dari dia."
"Tidak, Kak," sahut Echa. "Kali ini Kak Endo salah."
"Apa maksudmu?"
"Kak Aldo yang keluar sebagai pemenang. Karena diakui atau tidak, dia memang lebih tampan dari Kakak."
"Hei, berani-beraninya kau memuji laki-laki lain di hadapanku!" hardik Endo dengan wajah kesal.
"Echa jadi tahu ... pantas saja Kak Leni lebih memilih Kak Aldo dari pada Kakak," ucap Echa tanpa menghiraukan kalimat yang baru saja Endo ucapkan. Kaki jenjangnya bergerak melangkah pergi meninggalkan kamar Aldo.
"Hei, berhati-hatilah dengan bicaramu. Aku bisa marah." Endo turut ke luar, berjalan mengekor di belakang kekasihnya.
"Kakak iparku itu ternyata memang benar-benar keren." Terdengar kembali suara nyaring gadis berpakaian santai dengan apron terikat di pinggang itu.
Aldo tersenyum sembari menggeleng-gelengkan kepalanya, geli bercampur bahagia mendengar perdebatan sang adik dengan calon istrinya yang masih terdengar jelas dari dalam kamar yang ditempatinya.
"Tutup mulutmu itu, Cha. Berhentilah meninggikan laki-laki lain di telingaku. Atau ...."
"Atau apa?" tanya Echa yang terdengar sebagai tantangan di telinga Endo.
"Atau aku sendiri yang akan membungkam mulut nakalmu itu," ancam Endo.
"Salahkah hanya mengatakan bahwa kakak iparku ganteng dan kerenmmph ...."
Aldo kembali tersenyum mengetahui apa yang terjadi setelah percakapan dua orang absurd itu tak terdengar lagi.
__ADS_1
"Gadis ini benar-benar sosok pengendali. Sepertinya memang akan sangat berbahaya jika Leni bertemu dengannya. Bisa habis aku dan Endo secara bersamaan oleh mereka berdua," gumam Aldo tak jelas. "Atau sebaiknya kugagalkan saja pernikahan mereka berdua sebelum terjadi kekacauan ...."
___
.
"Jadi kau lah yang ke luar sebagai pemenang?"
"Ini bukan tentang menang dan kalah," sahut Endo dengan senyum tersungging di bibir. "Aku benar-benar ingin memilikinya seutuhnya."
"Sebaliknya, anakku patah hati karena hal ini. Dia belum bisa berpaling dari gadismu itu."
"Aku sudah memberikan kesempatan. Tapi dia menyia-nyiakannya," sahut Endo santai.
"Echa sudah membicarakan semuanya dengan Lila, Kak." Tiba-tiba terdengar suara Echa yang datang mendekat. Tentang konsep pesta, baju, dan sebagainya sudah kami bicarakan."
"Bagus," sahut Endo dengan senyum di bibir. "Kemari lah."
Echa datang mendekat dengan senyum ceria di bibir.
"Kau masih ingat dengannya?"
Endo bertanya sembari menunjuk ke arah laki-laki di hadapannya dengan ujung dagu.
"Mmm ... sepertinya pernah berjumpa," gumam Echa dengan kening berkerut. "Tapi di mana ya?"
"Coba kau ingat lagi," jawab Endo. "Lima tahun yang lalu ...."
"Sebentar ...." Kening Echa semakin berkerut dengan dua bola mata bergerak jenaka. "Om Ega!" seru Echa beberapa detik kemudian. "Benar, bukan? Pantas saja Echa merasa wajah Om mirip sekali dengan seseorang. Ternyata Ello."
"Bagaimana kabarmu, Nak?" tanya Ega sembari melempar senyum ramah.
"Baik, Om," jawab Echa. "Lama kita tidak berjumpa."
"Jadi Event Organizer ini adalah milik Ega. Nanti dia lah yang akan turun tangan langsung mengurusi segala *****-bengek perihal pernikahan kita."
"Benar kah? Wah, senang sekali pernikahan Echa nanti akan berlangsung dengan sentuhan tangan Om Ega langsung."
"Kau sudah memilih dan membicarakan semuanya dengan Lila, bukan?"
"Iya, Om."
"Nanti aku akan mengurusnya bersama Lila. Jika ada hal yang perlu kita bicarakan lagi, kau bisa datang ke mari, atau kami saja yang akan datang ke kantormu."
"Baik, Om."
"Baiklah, sekarang kita bicarakan hal yang paling penting. Yaitu harga."
"Hah, kupikir kau akan menggratiskannya berikut voucher paket bulan madu sebagai kado pernikahan untukku."
"Gratis untuk pasangan yang telah membuat putraku patah hati?" tanya Ega dengan mata mendelik. "Yang benar saja. Jika perlu akau akan membebankan biaya padamu dua kali lipat dari tarif normalnya."
"Senang rasanya memiliki teman sebaik dirimu," ucap Endo tanpa senyum di bibir.
___
.
Disan bangkit dari kursi kebesarannya, kemudian berjalan pelan menghampiri Rosella yang sedari tadi hanya berdiri tanpa minat untuk bercakap-cakap dengan pemilik ruangan itu.
"Aku tahu kau mendapatkan misi untuk menyingkirkan Endo dari proyek hunian di Nusa Tenggara Timur."
Sesaat tubuh Rosella menegang mendengar ucapan Disan.
"Namun sungguh sangat menggelikan, bukannya menyingkirkan Endo, kau malah justru jatuh hati padanya."
Sebuah seringai mengejek terbit di antara kedua bibir laki-laki berkaca mata minus itu.
"Benar-benar menyedihkan."
Rosella menatap kesal ke arah Disan. Tak lama kemudian wajah kesal itu tersamar oleh seringai licik di bibir merahnya.
"Tak lama lagi aku akan menjadi Nyonya Endo," ucap Rosella sembari maju dua langkah hingga berdiri tepat di samping Disan, menghadap ke arah berlawanan. "Dan aku pastikan posisimu lah yang pertama kali akan kugeser dari sisi Endo," bisik Rosella tepat di telinga Disan.
"Jadi kau bermaksud untuk melenyapkanku? Kau menganggapku sebagai pengganggu dalam usaha sia-siamu itu? Sayang, aku tidak merasa tersanjung sama sekali."
"Kita lihat saja nanti," tantang Rosella.
"Kupastikan usahamu sia-sia."
"Sebaiknya kau ikut denganku. Karena usahaku untuk menghancurkanmu akan kumulai hari ini," ucap Rosella santai.
Tanpa menunggu jawaban dari Rudi, Rosella beranjak ke luar dari ruangan Disan menuju sudut lantai dan segera masuk ke dalam lift.
Beberapa menit kemudian Rosella ke luar dari bilik lift, meninggalkan Disan yang masih bergeming.
"Apakah Endo ada di dalam?" tanya Rosella pada Novera yang tengah sibuk di depan laptop kerjanya.
"Maaf, beliau sedang sibuk," sahut Novera sesopan mungkin.
"Di mana sekretaris yang satunya?"
Novera diam tak menjawab. Hanya tatapan tak suka yang ia layangkan.
"Jadi gadis itu sedang berada di dalam bersama Endo?" Rosella mengambil kesimpulan. "Bagus, justru akan lebih menarik."
Rosella menoleh ke arah Disan yang baru saja tiba di depan meja Novera.
"Show time," bisik Rosella sembari menggoda Disan dengan jentikan nakal di dagu laki-laki itu.
__________________________
__ADS_1
BERSAMBUBG ...