
"Tak terasa waktu begitu cepat berlalu," gumam Endo pelan.
Laki-laki itu tengah merebahkan tubuh tegapnya di atas sofa di dalam ruangan kantor dengan menggunakan pangkuan Echa sebagai alas kepala.
"Seperti baru kemarin aku melihatmu untuk pertama kalinya di kota ini," ucapanya lagi.
Pandangan Endo menerawang lurus ke arah langit-langit ruangan. Sementara Echa tersenyum manis mendengar ucapan kekasihnya itu.
"Kau masih ingat waktu pertama kali kita bertemu?" tanya Endo sembari menikmati belaian tangan halus Echa di puncak kepalanya.
"Saat Echa memanggil Kak Endo dengan sebutan Om?" tanya Echa memastikan.
"Ah, kau menyebalkan. Dari begitu panjangnya durasi pertemuan pertama kita, kenapa harus hal itu yang kau ingat-ingat?" Endo tersenyum sembari menahan kesal mengingat apa yang Echa ucapkan.
"Hahaha ...." Echa turut tertawa mengenang awal jumpa pertama mereka. "Habisnya waktu itu Kakak terlihat begitu dewasa dengan setelan jas. Dan saat Echa bertemu dengan Kak Endo yang memakai setelan kasual ... terlihat berbeda jauh."
Endo mengulum senyum, kemudian mengusap pelan punggung tangan Echa yang tengah membelai puncak kepalanya dengan lembut.
"Kakak tahu tidak, waktu itu Echa benar-benar gugup dan takut." Echa kembali bersuara.
"Kau takut padaku?" tanya Endo heran. "Kenapa harus takut?"
"Echa pikir itu adalah Club kelas elite. Hanya orang-orang dengan kriteria tertentu yang boleh masuk, salah satunya adalah batas usia minimal." Echa mulai menjelaskan.
"Memang benar," sahut Endo dengan mata terpejam.
"Waktu itu Echa tertangkap basah oleh Kak Endo. Echa pikir Kakak akan melaporkan pada petugas keamanan."
Tangan kanan Echa masih bergerak pelan mengusap puncak kepala Endo dengan lembut.
"Aku tidak seroyal itu pada mereka," sahut Endo sekenanya, masih dengan mata terpejam.
"Benarkah?" tanya Echa sembari tertawa geli mendengar jawaban absurd Endo.
"Kau cantik," sahut Endo. "Dari pada menyerahkanmu kepada mereka, aku lebih memilih untuk mengajakmu berkenalan saja," lanjutnya.
"Begitukah? Jadi Kak Endo sudah mengagumi kecantikan Echa sejak jumpa pertama?" tanya Echa antusias.
"Dan juga polos," sahut Endo cepat. "Hanya mulutmu saja yang galak, padahal kenyataannya kau begitu polos."
Echa memasang ekapresi kecut di wajah cantiknya. Dia berfikir bahwa polos dan bodoh adalah dua hal yang hanya berbeda tipis.
"Setelah pertemuan kita waktu itu, aku bahkan pergi ke club setiap malam hanya untuk berjumpa denganmu. Tapi kau tak pernah muncul," sahut Endo disertai senyuman yang terulas di bibir. "Sampai akhirnya tanpa sengaja aku melihatmu di tepi jalan, masih dengan seragam sekolah," lanjutnya. "Saat itu kau sedang bertengkar dengan kekasihmu."
"Bukan kekasih, Kak. Mantan," ralat Echa tak terima. "Dia hanya mantan. Tidak lebih."
"Ya, apa pun itu," sahut Endo. "Aku merasa sangat senang waktu itu, karena bisa bertemu denganmu, kemudian sekaligus memungutmu dari jalanan."
"Memungut? Hah, Echa merasa seperti sampah saja," sungut Echa pura-pura kesal.
Endo tersenyum mendengar intonasi kesal Echa yang justru terdengar lucu di telinganya.
"Echa juga. Echa senang bertemu dengan Kak Endo waktu itu." Gadis itu kembali bersuara.
"Aku tak menyangka kita akan terpisah," sahut Endo.
"Dan untungnya kita bertemu lagi lima tahun kemudian."
Endo tersenyum mendengar ucapan kekasihnya itu. Didongakkan kepalanya hingga terlihat jelas wajah ayu yang tengah menatap kedua netra birunya dengan lembut.
"Bolehkah aku minta ciuman darimu?" tanya Endo.
Seketika Echa memutar kedua bola matanya jengah mendengar permintaan yang menurutnya konyol, dari mulut laki-laki bernetra biru itu.
"Satu saja, sayang," rayu Endo.
"Tidak."
"Ayolah ...." Endo terus merayu tak mau menyerah.
Echa menggeleng dengan senyum geli tertahan.
"Baiklah, kalau begitu seperti biasanya, biar aku saja yang menciummu," ucap Endo sembari bangun dari posisi berbaringnya. "Jangan berteriak, ya," ancam Endo.
Tanpa membuang-buang waktu segera diciumnya gadis pujaannya itu dengan penuh kelembutan.
"Sabar, Kak Endo. Tanggal pernikahan kita tinggal satu bulan lagi," ucap Echa seraya berusaha menghindari ciuman-ciuman gemas dari Endo.
"Satu bulan terasa begitu lama bagiku," keluh Endo dengan mulut mengerucut lucu, mengundang gelak tawa dari mulut Echa.
__ADS_1
"Satu bulan akan terasa sangat singkat jika dibandingkan dengan berapa lama kita terpisah," sahut Echa setelah mampu mengendalikan tawanya.
___
.
"Jangan lupa jaga kesehatan, Bu," ucap Dokter Handa dengan wajah yang selalu berbingkai senyum manis itu.
"Iya." Rosella mengangguk patuh. "Terimakasih, Dokter. Saya permisi dulu."
Rosella melangkah ke luar dari ruang praktik Dokter Handa dengan senyum bahagia. Sesaat kemudian dihentikan langkah kakinya, lalu duduk di bangku ruang tunggu.
Dikeluarkannya sebuah ponsel dari dalam handbag untuk membuat panggilan cepat
"Di mana dia?" tanya Rosella begitu panggilan terjawab.
Wanita cantik itu kembali memasukkan ponselnya ke dalam handbag setelah mendapat jawaban dari seberang telepon. Lalu ia pun bangkit dan berjalan dengan terburu-buru menuju sebuah mobil yang telah menunggunya di pelataran klinik.
Setelah Rosella membisikkan sesuatu pada sopir, mobil pun langsung melaju dengan kecepatan sedang, menerobos jalanan beraspal yang padat oleh para pengendara, baik roda dua maupun roda empat. Dua puluh menit kemudian mobil berhenti di pelataran sebuah gedung perkantoran. Mobil tersebut segera berlalu setelah memastikan Rosella turun dan langsung berjalan masuk ke dalam gedung.
Seorang laki-laki bersetelan jas serba hitam tampak menyipitkan mata saat melihat kehadiran Rosella di gedung itu. Ia pun segera mengambil ponsel dan menghubungi seseorang, sementara pandangannya tak terlepas dari sosok cantik dengan dress biru selutut itu.
"Baik." Laki-laki itu mengakhiri panggilannya, kemudian bergegas mengekor di belakang Rosella memasuki bilik lift.
"Silahkan, Nona," ucap laki-laki itu dengan tangan kanan terulur mempersilahkan, setelah pintu lift terbuka di salah satu lantai.
Rosella menoleh, kemudian mengedarkan pandangan ke seluruh bilik. Ia kembali menoleh ke arah laki-laki di sampingnya itu saat tak ditemukan siapa pun selain mereka berdua.
"Tujuanku bukan lantai ini," jawab Rosella dengan wajah bingung.
"Atasan saya ingin bertemu dengan Anda," sahut laki-laki itu tegas.
Rosella terdiam selama beberapa detik, kemudian segera melangkah meninggalkan bilik lift setelah paham dengan situasi yang sedang terjadi. Ia pun berjalan tenang menuju ruangan seseorang yang dulu juga pernah menjadi atasannya.
"Masuk." Terdengar suara dingin dari dalam ruangan setelah laki-laki bersetelan serba hitam itu mengetuk pintu.
"Silahkan," ucap laki-laki itu setelah membukakan pintu. Ia pun segera menutup pintu dan berlalu pergi setelah Rosella masuk.
Rosella berjalan pelan menghampiri pemilik ruangan itu. Langkah kakinya terhenti tepat di depan meja yang tampak masih sama seperti enam minggu yang lalu, saat terakhir kali ia menginjakkan kaki di tempat ini.
"Jadi, ada apa ini?" Rosella memutuskan untuk memulai percakapan setelah keduanya saling diam untuk beberapa saat.
"Silahkan duduk," sahut pemilik ruangan tanpa menjawab.
"Justru itu yang membuatku penasaran. Bagaimana bisa kau memiliki muka untuk datang ke tempat ini lagi setelah mengacaukan hubungan Endo dengan Echa di depan mataku."
"Sedangkan sejauh yang kutahu urusanku bukanlah urusanmu, Bapak Disan yang terhormat," sahut Rosella jumawa.
"Akan selalu menjadi urusanku jika itu menyangkut Endo Devon Atmaja," sahut Disan tenang. "Katakan apa tujuanmu datang ke mari," lanjutnya.
"Dan jika aku keberatan?" Rosella balik bertanya.
"Pergilah dari sini. Kau bukan lagi bagian dari tempat ini," jawab Disan tenang.
"Sayang sekali, aku memutuskan untuk mengabaikan ucapanmu," sahut Rosella cepat.
Disan bangkit dari kursi kebesarannya, kemudian berjalan pelan menghampiri Rosella yang sedari tadi lebih memilih untuk tetap berdiri.
"Aku tahu kau mendapatkan misi untuk menyingkirkan Endo dari proyek hunian di Nusa Tenggara Timur."
Sesaat tubuh Rosella menegang mendengar ucapan Disan. Ia tak menyangka bahwa laki-laki itu telah mengawasi dirinya dengan sebaik itu.
"Namun sungguh sangat menggelikan, bukannya menyingkirkan Endo, kau malah justru jatuh hati padanya."
Sebuah seringai mengejek terbit di antara kedua bibir laki-laki berkaca mata minus itu.
"Benar-benar menyedihkan."
Rosella menatap kesal ke arah Disan. Beberapa detik kemudian wajah kesal itu tersamar oleh seringai licik di bibir merahnya.
"Tak lama lagi aku akan menjadi Nyonya Endo," ucap Rosella sembari maju dua langkah hingga berdiri tepat di samping Disan, menghadap ke arah berlawanan. "Dan aku pastikan posisimu lah yang pertama kali akan kugeser dari sisi Endo," bisik Rosella tepat di telinga Disan.
"Jadi kau bermaksud untuk melenyapkanku? Kau menganggapku sebagai pengganggu dalam usaha sia-siamu itu?" sahut Disan tanpa menoleh. "Sayang, aku tidak merasa tersanjung sama sekali."
"Kita lihat saja nanti," tantang Rosella.
"Kupastikan usahamu sia-sia," sahut Endo dengan senyum di sudut bibirnya.
Rosella membalas dengan senyuman manis khas miliknya.
__ADS_1
"Sebaiknya kau ikut denganku," ucap Rosella santai. "Karena usahaku untuk menghancurkanmu akan kumulai hari ini," lanjutnya.
Tanpa menunggu jawaban dari Disan, Rosella beranjak ke luar dari ruangan itu menuju sudut lantai dan segera masuk ke dalam lift.
Tak membutuhkan waktu lama, beberapa menit kemudian Rosella ke luar dari bilik lift, meninggalkan Disan yang masih bergeming di dalamnya.
"Apakah Endo ada di dalam?" tanya Rosella pada Novera yang tengah sibuk di depan laptop kerjanya.
"Maaf, beliau sedang sibuk," sahut Novera sesopan mungkin.
"Di mana sekretaris yang satunya?"
Novera diam tak menjawab. Hanya tatapan tak suka yang ia layangkan.
"Jadi gadis itu sedang berada di dalam bersama Endo?" Rosella mengambil kesimpulan. "Bagus, justru akan lebih menarik," lanjutnya.
Rosella menoleh ke arah Disan yang baru saja tiba di depan meja Novera.
"Show time," bisik Rosella sembari menggoda Disan dengan jentikan nakal di dagu laki-laki itu.
Rosella berjalan tenang menuju pintu ruangan nomor satu di lantai itu. Ia berhenti dan terdiam sejenak tepat di depan pintu. Setelah melirik ke arah Disan yang lebih memilih tetap berdiri di depan meja Novera, ia segera masuk tanpa mengetuk pintu. Sengaja dibiarkannya daun pintu tetap terbuka agar laki-laki berkaca mata minus bisa menyimak apa pun yang terjadi nanti.
Rosella langsung menerobos masuk, mengejutkan pemilik ruangan yang kebetulan tengah bercengkerama bersama kekasihnya dengan mesra.
"Apa-apaan ini? Berani-beraninya kau masuk tanpa permisi ke dalam ruanganku!" bentak Endo yang masih dipenuhi rasa terkejut.
"Endo, kau harus bertanggung jawab," ucap Rosella dengan wajah bingung dan panik.
"Bertanggung jawab?" tanya Endo dengan kening terkernyit. "Untuk apa?" Perlahan diuraikannya dekapan hangat dari tubuh Echa.
"Untuk sesuatu yang sudah kau lakukan padaku tentunya," jawab Rosella yang mulai menitikkan air mata.
"Apa maksudmu?" tanya Endo sembari bangkit dari posisinya.
Kedua tangan Rosella gemetar, berusaha membuka tas yang dibawanya untuk mengambil sesuatu yang akan ditunjukkannya pada Endo. Karena panik, seluruh isi di dalam tas itu justru tumpah di atas lantai. Dengan gugup, buru-buru dipungutnya amplop putih di antara barang-barang yang tercecer.
"Aku hamil, Endo," ucap Rosella dengan suara bergetar, setelah berhasil memegang amplop yang dimaksudnya.
"Apa?" tanya Endo masih dengan wajah bingung. "Lalu apa hubungannya denganku?"
"Aku hamil anakmu, Endo," ucap Rosella singkat.
Endo terdiam dengan lidah kelu tak mampu berbicara. Namun wajah tegasnya masih mengisyaratkan rasa terkejut, bingung, dan tak mengerti.
"Kenapa drama seperti ini luput dari perhitunganku? Sial!" umpat Disan dengan wajah kesal.
"Apa-apaan ini?!" seru Echa yang sedari tadi hanya diam menyimak dalam ketidakmengertian.
"Hasilnya positif," ucap Rosella dengan tangan kanannya terulur sedikit gemetar menyodorkan amplop putih ke arah Endo. "Enam minggu," lanjutnya pelan.
Tangan Endo terulur ragu meraih amplop putih yang Rosella sodorkan. Dengan cepat Echa mengambil dan membuka amplop tersebut. Kedua matanya menatap nanar tulisan yang tertera pada lembaran kertas di dalam amplop tersebut.
"Kuakui ... aku telah jatuh cinta padamu. Aku sangat mencintaimu, Endo. Tapi bukan berarti aku senang jika harus menanggung hal seperti ini sendirian, meskipun ini adalah darah daging laki-laki yang kucintai."
"Kak, apa ini, Kak?" tanya Echa dengan wajah panik dan gelisah. "Ada apa ini sebenarnya?"
Echa mengguncang bahu kokoh Endo dengan tenaga lemahnya. Sementara kertas itu masih tergenggam erta di tangan kiri.
"Kak Endo, katakan semua ini salah, Kak!" seru Echa dengan mata mulai berembun. "Katakan bahwa wanita ini sedang berhayal untuk memiliki Kak Endo."
"Aku tahu kalian akan segera menikah," ucap Rosella tanpa menghiraukan Echa yang tampak sangat frustasi. "Tapi bayi ini lebih membutuhkanmu sebagai ayahnya."
"Tidak, Rose. Tidak. Hentikan omong kosongmu!" seru Endo dengan tatapan tajam terhunus pada wanita di hadapannya itu.
"Malam itu ... malam terakhir kali aku datang ke rumahmu," gumam Rosella dengan suara bergetar menahan gejolak di dalam dada. "Kau telah mengambil segalanya dariku."
Endo terdiam, mencoba mencerna kata-kata yang terlontar dari mulut Rosella.
"Kak, apa itu benar?" tanya Echa dengan mata berkaca-kaca.
Endo diam tertunduk.Tak kuasa menjawab pertanyaan Echa, ataupun sekedar memandang kedua bola mata bulat milik gadis yang dicintainya itu.
"Apa itu benar, Kakak telah tidur dengannya?"
Sesaat Endo mendongak dengan kedua mata tertutup rapat. Kemudian kembali tertunduk lagi, menghindari bertatapan dengan kedua mata kekasihnya.
"Baiklah, Echa mengerti." Echa mengangguk samar dengan linangan air mata.
Gadis itu pun segera melangkah pergi meninggalkan ruangan itu tanpa menoleh lagi. Bahkan ia pun tak perduli saat tanpa sengaja menabrak Disan yang berdiri di ambang pintu, terus memandangnya dengan tatapan kasihan.
__ADS_1
__________________________
BERSAMBUBG ...