
Pagi yang cerah. Secerah hati gadis yang tengah berjalan santai keluar dari dalam bilik lift di sebuah gedung apartemen sederhana. Kaki jenjang gadis itu melangkah ringan menuju pelataran yang tak cukup luas.
"Pagi, Cha," sapa Rinto, satpam apartemen yang selalu siap siaga dalam 24 jam itu.
"Pagi, Rin," sahut Echa sembari melempar senyum hangatnya.
"Hei, ayolah ... jangan panggil aku dengan nama itu. Orang yang tidak tahu akan mengira aku ini bukan laki-laki tulen," keluh Rinto dengan muka masam.
"Tapi nama itu begitu cocok untukmu," sahut Echa tak mau mengalah. "Terdengar seperti ... apa ya? Laki-laki yang berhati lembut."
"Ah, kau menyebalkan," rutuk Rinto melihat Echa yang berusaha menggambarkan dengan ekspresi berlebihan.
"Lagi pula panggilan Rin tidak selalu untuk Rina dan Rini."
"Lantas?" Rinto tampak mulai tertarik.
"Bisa saja untuk Rinto," sahut Echa sekenanya.
"Ya tentu saja, itu kan memang namaku," hardik Rinto mulai kesal.
"Tidak, tidak. Masih ada yang lain. Bisa saja untuk Karin, Rindu, Ririn, atau yang lain."
"Hah, penjelasanmu sama sekali tidak membantu, Cha," sungut satpam bertubuh tegap itu.
"Cha ... Cha ... Cha!" hardik Echa dengan wajah masam. "Panggil aku kakak! Aku setahun lebih tua darimu!"
"Hei, cinta itu tidak memandang usia, Cha," tukas Rinto cepat. "Jika kau menjadi istriku, maka kau akan menjadi tanggung jawabku, meskipun usiamu lebih tua dariku."
"Pagi-pagi sudah bawa-bawa cinta. Aku ingin sarapan bubur ayam, bukan sarapan cinta," tukas Echa.
"Hahaha ... kau masih sama. Sama galaknya seperti biasa. Tapi lama tidak berjumpa, kau tampak semakin cantik saja," puji Rinto dengan senyum terkeren yang dimilikinya.
"Tapi sayang, aku tak punya uang receh untuk imbalan atas pujianmu itu," sahut Echa cepat.
"Uang kertas juga boleh, Cha."
"Kertas kasbon mau?" tanya Echa dengan wajah mulai kesal. "Tapi memangnya kau kemana saja? Beberapa hari ini aku tak pernah melihatmu."
"Aku bertukar shift dengan Faizal, Cha," jawab Rinto. "Ibunya sedang sakit, maka ia harus menemani setiap malam," lanjutnya.
"Kasian sekali dia," gumam Echa pelan.
"Mau berangkat ke kampus?" tanya Rinto kemudian.
"Tidak, Rin. Hari ini tidak ada konsultasi. Aku akan langsung berangkat ke tempatku magang."
"Tidak membawa motor?"
"Dengan rok span seperti ini?" Echa balik bertanya. No, thanks."
Rinto tersenyum mendengar ucapan gadis di hadapannya itu. Diamatinya sosok di hadaoannya itu dari ujung rambut hingga ujung kaki. Ia tahu betul, meskipun tergolong cantik, tapi Echa bukanlah gadis feminin yang terbiasa berdandan dan berpenampilan girly seperti gadis-gadis seusianya.
"Kenapa kau melihatku seperti itu? Ada yang aneh?" tanya Echa penasaran.
"Kau ini benar-benar tidak mengerti fashion ya?"
"Apa maksudmu?"
"Lihatlah dirimu," sahut Rinto. "Kemeja putih berhias pita di kerah, rok hitam pendek model span, wedges hitam dan rambut dicepol ke atas. Benar-benar terlihat feminin. Tapi ranselmu itu ... tidak adakah satu saja benda di dalam kamarmu yang lebih bisa dianggap sebagai tas dari pada benda di punggungmu itu?"
"Sejak kapan kau menjadi satpam yang nyinyir seperti ini?" hardik Echa kesal.
"Ya Tuhan, stylist-lah sedikit, Cha. Hah, jangan-jangan aku salah jatuh cinta padamu."
"Hei, jaga bicaramu," sungut Echa semakin kesal.
"Maaf, Kak Echa, ya?" Tiba-tiba terdengar suara seorang laki-laki menyebut nama gadis cantik itu.
Echa menoleh. Tampak seorang laki-laki berdiri tepat di belakangnya.
"Iya," sahut Echa. Ojek yang saya pesanan, ya?" tanya Echa pada laki-laki berjaket hijau itu dengan ramah.
"Iya, Kak," jawab laki-laki itu. "Mari, Kak. Motor saya di sebelah sana." Laki-laki itu menunjuk ke arah tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Aku cabut dulu ya, Rin," pamit Echa sembari melambaikan tangan.
"Ok, sayang. Hati-hati di jalan," pesan Rinto. Tangan laki-laki itu terangkat, membalas lambaian Echa disertai senyum hangat.
Tak butuh waktu lama, sepuluh menit kemudian ojek yang mengantar Echa telah berhenti di depan gedung tempat du mana gadis itu masih harus menyelesaikan program magangnya sampai dua bulan ke depan.
"Terimakasih, ya." Echa menyerahkan helm dan beberapa lembar uang kepada tukang ojek bersetelan rapi itu.
"Sama-sama, Kak," balas laki-laki itu sebelum Echa berbalik dan mengayunkan langkah menuju pintu masuk gedung megah di hadapannya.
"Pagi, Cha," sapa Feri dengan senyum ramahnya.
"Pagi, Pak Feri," sahut Echa tak kalah ramah.
"Sudah ganti lagi yang mengantar?" kelakar Feri garing.
"Namanya naik ojek, ya ganti-ganti lah Pak pengemudinya," sahut Echa dengan senyum geli.
"Cha, baru datang?" Sebuah suara memecah perhatian Echa.
__ADS_1
"Eh, Pak Samuel," sahut Echa sedikit terkejut mendapati Samuel yang tiba-tiba sudah berdiri di sisinya. "Iya, Pak."
"Lama tidak bertemu, bagaimana kabarmu?" tanya Samuel sembari melangkah pelan.
"Saya baik, Pak," jawab Echa setelah tersenyum sebagai tanda pamit kepada Feri, kemudian turut berjalan pelan menyamai langkah Samuel. "Sesekali saya berkunjung ke kubikel Dion juga, Pak," ucap Echa lagi. "Tapi tidak pernah bertemu dengan Bapak."
"Seminggu ini aku memang sangat sibuk," sahut Samuel sambil terus melangkah menuju lift. "Pak Endo memberiku tugas untuk mengecek beberapa proyek di Malang."
Echa hanya ber-oh-ria menanggapi penjelasan Samuel. Tanpa sengaja ekor mata bulatnya menangkap keberadaan Disan yang tengah berurusan dengan Innet di meja resepsionis. Tubuh Disan berhadapan dengan Innet, namun Echa merasa bola mata laki-laki berkaca mata itu terus mengekori seluruh gerak-geriknya.
"Minggu depan mungkin aku harus ke Malang lagi." Tangan Samuel terulur menekan tombol di sisi pintu lift khusus. "Ada beberapa masalah yang harus kubereskan di sana."
"Berapa lama, Pak?" tanya Echa berbasa-basi.
"Entahlah," jawab Samuel sembari melangkahkan kaki memasuki bilik lift. Tangannya kembali terulur menekan tombol setelah Echa turut berdiri tepat di sisinya. "Mungkin satu minggu, satu bulan, atau bisa juga lebih."
"Serumit itu masalah di sana?" Echa kembali berbasa-basi. Kebetulan hanya mereka berdua lah yang berada di dalam bilik lift itu.
Samuel menoleh, menatap gadis bersetelan putih hitam di sampingnya itu, namun tak berminat untuk menjawab pertanyaan yang terlontar.
"Akhir pekan ini apakah kau ada acara?" tanya Samuel kemudian.
"Tidak, Pak," jawab Echa setelah beberapa saat terdiam mengingat-ingat. "Memangnya ada apa, Pak?"
"Aku ingin mengajakmu ke luar," jawab Samuel dengan senyum menawan menghias bibir.
"Ke luar, Pak?" ulang Echa.
"Ya," sahut Samuel. "Sekedar jalan-jalan."
"Seperti kencan begitu?" tanya Echa to the point.
Mendengar pertanyaan Echa, sesaat tampak kegugupan mewarnai riak wajah Samuel. Namun dengan cepat laki-laki itu bisa kembali menguasai dirinya.
"Mungkin kita bisa nonton film atau apa pun yang kau sukai," ucap Samuel kemudian.
"Boleh, Pak," sahut Echa. "Saya sedang free kok."
"Free?" ulang Samuel.
"Belum ada schadule hank out. Hehehe ...," sahut Echa disertai cengiran menghias wajah cantiknya bertepatan dengan pintu lift yang terbuka.
"Baiklah, nanti aku akan meneleponmu." Samuel segera berjalan ke luar setelah tersenyum gemas memandang wajah Echa.
"Eh, tapi, Pak." Tiba-tiba Echa yang masih berada di dalam bilik lift mencekal pergelangan tangan Samuel yang telah melangkah ke luar. "Bapak yang traktir, kan?"
Seketika Samuel berbalik dan gerakannya pun terhenti. Begitu juga dengan Echa. Keduanya terdiam saling pandang untuk beberapa saat. Hingga suara deheman membuyarkan keduanya.
"Ehem ...!"
"Pak Rudi," gumam Echa dengan kedua mata melotot terkejut.
Rudi diam tak menyahut. Hanya matanya terpicing memandang tangan kanan gadis cantik di hadapannya. Seketika itu Echa baru menyadari bahwa tangannya masih mencekal pergelangan tangan milik Samuel.
"Maaf," ucap Echa sambil melepas genggaman tangannya, kemudian memandang Samuel dan Rudi bergantian dengan canggung.
"Minggir. Kalian menghalangi jalanku," ucap Rudi acuh.
Dengan canggung Echa mundur satu langkah, sementara Rudi langsung masuk ke dalam bilik lift dan menekan tombol hingga pintu tertutup. Echa terdiam, berdiri canggung, merasa terjebak dalam kesunyian di dalam bilik lift.
"Kau menyukainya?" Tiba-tiba Rudi bersuara.
Echa menoleh ke arah Rudi, kemudian menengok ke belakang serta sisi yang lain, memastikan bahwa di dalam bilik lift itu hanya ada mereka berdua, dan pertanyaan itu benar-benar ditujukan padanya.
"Apa maksud Bapak?" tanya Echa bingung.
"Kau menyukai Samuel?" Rudi kembali bertanya.
"Hei, yang benar saja, Pak. Mana mungkin saya suka pada Pak Samuel?"
Rudi menoleh ke arah gadis di sisinya.
"Kenapa tidak mungkin?"
"Kenapa harus mungkin?" Echa balik bertanya.
"Hah, kau mulai berani padaku," ucap Rudi dengan wajah kesal.
"Eh? Maaf, Pak. Saya tidak bermaksud begitu." Echa buru-buru meminta maaf saat menyadari telah berucap tidak pantas pada atasannya.
"Samuel laki-laki baik-baik, single, mapan dan termasuk dalam kategori tidak buruk," ucap Rudi mengabaikan permintaan maaf Echa.
"Sebut saja tampan, Pak," sahut Echa. "Apa susahnya?" gumamnya pelan, hampir tanpa suara.
"Haruskah aku memuji fisik seorang laki-laki?" Rudi balik bertanya dengan ekspresi jijik. "Konyol!"
"Eh?" Echa menoleh, memandang atasan nyentriknya itu dengan tatapan tak habis pikir.
"Tanganmu ...," ucap Rudi lagi. "Jangan terlalu mudah menyentuh laki-laki selain Endo," lanjut Rudi.
Echa menoleh, menunjukkan ekspresi bingung, tak paham dengan apa yang dimaksud oleh laki-laki berahang tegas di sampingnya itu. Belum sempat Echa bertanya, pintu lift telah terbuka, menampilkan Endo dan Disan yang tengah bercakap serius dengan Novera di meja sekretaris.
"Kalian datang bersama?" tanya Endo yang memandang intens ke arah dua orang yang baru tiba di lantai teratas itu.
__ADS_1
"Ya," sahut Rudi sembari berjalan mendekat diikuti Echa di belakangnya. "Kami memang baru saja selesai berkencan," lanjut Rudi sekenanya.
"Tidak, Pak. Bukan seperti itu," sanggah Echa cepat. "Kami hanya kebetulan saja datang bersamaan."
"Ya, aku melihatnya," sahut Endo dengan senyum hangat di bibir sembari memasukkan dua tangannya ke dalam saku celana. "Ada beberapa tugas yang harus kau kerjakan," lanjutnya. "Kau bisa menanyakannya pada Novera.
"Baik, Pak," sahut Echa kemudian buru-buru mengambil duduk di tempat semestinya.
"Rudi, ada sesuatu yang harus kau jelaskan padaku." Endo berucap sambil berjalan mendahului Rudi dan Disan menuju ruangannya.
Hari itu ketiga petinggi penting perusahaan mengurung diri di dalam ruangan teratas gedung. Entah hal penting apa yang mereka bicarakan hingga membutuhkan waktu yang begitu eksklusif.
"Sebenarnya ada masalah apa? Kenapa hingga jam makan siang pun mereka bertiga masih betah berada di ruangan Pak Endo?" Echa bergumam sembari membereskan peralatan kerjanya.
"Ada masalaha dengan pembangunan hunian di NTT," jawab Novera juga dengan tangan yang cekatan merapikan barang-barang di atas meja kerjanya. "Tapi sepertinya bukan hanya itu saja. Ada hal lain juga yang mereka duskusikan," lanjutnya. "Ah sudahlah, tidak perlu dipikirkan. Ayo kita turun, aku sudah lapar."
Echa berdiri dari duduknya bertepatan dengan terbukanya pintu ruang kerja Endo. Kedua sekretaris itu pun kembali duduk di kursi masing-masing, berjaga-jaga kalau-kalau atasan mereka membutuhkan sesuatu.
"Kalian tidak beristirahat?" tanya Endo yang berjalan bersisisan dengan Rudi dan Disan.
"Iya, Pak. Ini baru mau turun," jawab Novera.
"Ayo," ucap Endo lagi saat melewati meja sekretarisnya.
Keduanya pun segera beranjak dari tempat duduk kemudian berjalan mengekor menuju lift dan turun bersama-sama.
Kelimanya langsung berpencar ke tujuan masing-masing begitu keluar dari bilik lift.
"Hai, Cha," sapa Dion yang berjalan mensejajari langkah Echa. "Beberapa hari ini aku tak melihatmu."
"Ada beberapa pekerjaan mendesak yang harus segera kuselesaikan, Yon," sahut Echa.
"Bahkan hanya untuk sekedar istirahat makan siang pun tak sempat?" tanya Dion menunjukkan wajah prihatin.
"Pak Endo mentraktirku dan Novera," jawab Echa. OB yang membelikan makan untuk kami," lanjutnya sembari terus melangkah.
"Makan di kantin?" tawar Dion kemudian.
"Ya. Aku sedang tidak punya banyak uang untuk makan di restoran."
"Ya sudah ayo. Kali ini biar aku yang mentraktirmu." Dion terus melangkah dengan senyum di bibir.
Keduanya pun berjalan beriringan menuju kantin perusahaan.
"Siapa dia?" tanya Endo dengan pandangan tak lepas dari sekretaris magangnya di kejauhan.
"Karyawan magang," jawab Disan singkat. Sedang sengaja ingin menjahili bosnya.
"Kau tahu apa yang kumaksud," ucap Endo dengan ekspresi tak suka. "Berarti mereka teman kuliah?"
"Tidak juga," sanggah Disan. "Mereka mahasiswa dari kampus yang berbeda. Keduanya baru saling kenal setelah sama-sama magang di sini.
"Mereka tampak begitu dekat," gumam Endo.
"Jika yang kau maksud adalah cinta, ya. Laki-laki itu menyukai Echa." Intonaai Disan terdengar datar.
"Bagaimana dengan Echa?"
"Kau sudah tahu apa jawabanku," sahut Disan tanpa ekspresi.
"Ya, kau benar. Hanya laki-laki sepertiku lah yang mampu menggetarkan hati gadis itu," sahut Endo songong, kemudian berjalan diikuti Disan yang sempat menggelengkan kepala atas kenarsisan bosnya yang kelewat batas itu.
___
"Bagaimana, kau suka?" tanya Endo setelah meminum air putihnya.
"Ya, aku senang sekali," jawab Rosella dengan senyum bahagia menghias bibir. "Sudah lama sekali aku menginginkannya. Tapi kau terus saja sibuk."
"Maaf," sahut Endo dengan senyum di bibir.
"Terimakasih, hari ini kau membelikanku begitu banyak barang," ucap Rosella setelah menelan suapan terakhirnya.
"Karena kulihat kau sangat menyukainya," sahut Endo disertai senyuman.
"Setelah ini kita kemana lagi?" tanya Rosella antusias.
"Kau masih belum lelah setelah berjalan-jalan seharian?" tanya Endo tak percaya.
"Lelahku akan langsung hilang begitu melihat wajahmu," sahut Rosella.
"Benarkah?" Tawa Endo berderai mendengar ucapan Rosella.
"Kenapa tertawa?"
"Aku jadi berfikir," ucap Endo di sela tawanya. "Jangan-jangan kau menyukaiku," lanjutnya masih berusaha menghentikan tawanya.
Tangan kanan Endo terulur meraih gelas teh manis di hadapannya. Diminumnya seteguk, kemudian dikembalikannya lagi ke atas meja.
"Katakan, apa kau mencintaiku, Rose?" tanya Endo dengan wajah serius.
Rosella terhenyak mendengar pertanyaan Endo. Tak menyangka akan mendapat pertanyaan seperti itu dari laki-laki tampan di hadapannya.
Keduanya terdiam dan saling menatap cukup lama. Hingga tiba-tiba saja sebuah senyuman menyembul di antara kedua bibir Endo.
__ADS_1
"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan, aku hanya bercanda," ucap Endo kemudian. "Ayo kita pergi. Kau sudah selesai bukan?"
BERSAMBUNG ...