LOCK DOWN

LOCK DOWN
Part 30. Kejutan untuk Echa


__ADS_3

"Semalam kau pulang jam berapa?"


Rosella menyodorkan piring berisi dua potong sandwich buatannya kepada Endo, kemudian mengambil selai cokelat di atas meja dan mengoleskannya pada lembaran roti tawar.


"Sudah cukup larut," jawab Endo sebelum menggigit sandwich di tangan kanannya. "Maaf, membuatmu menunggu," lanjutnya.


"Ah, tidak. Aku lah yang seharusnya minta maaf karena tak menyambut kedatanganmu," sahut Rosella dengan wajah merasa bersalah. "Entah mengapa kemarin rasanya penat dan mengantuk sekali, makanya aku sudah tertidur semenjak sore," lanjutnya sebelum mulai menggigit roti sarapan paginya sendiri.


"Iya, tak masalah," sahut Endo sembari melempar senyum di tengah kunyahannya, walau ia tahu betul wanita di hadapannya itu tengah berbohong. "Bagaimana keadaanmu sekarang?"


"Aku?" Rosella berhenti mengunyah. "Aku baik-baik saja," imbuhnya. "Ada apa?" Ia pun balik bertanya.


"Kau tidak ingin melakukan sesuatu?" tanya Endo setelah menghabiskan satu potong sandwich. "Maksudku, ya ... untuk masa depanmu."


"Katakan lebih jelas." Rosella kembali mengunyah.


"Kau tidak bisa seperti ini terus. Kau tidak bisa bersembunyi di belakangku terus."


"Kau mengusirku?" tanya Rosella tak percaya. Tampak rasa kecewa di binar matanya.


"Bukan seperti ini," sanggah Endo. "Dengar, kau masih muda. Masa depanmu masih panjang. Kau harus melakukan sesuatu, setidaknya kau akan merasa puas dan bahagia saat cita-citamu terwujud. Jika kau bersembunyi di sini terus, aku takut harapan dan cita-citamu itu hanya akan berakhir dengan ... bukan kegagalan, tapi kesia-siaan," lanjutnya. "Semakin hari kita akan semakin menua. Jangan sampai kau terlambat dan menyesalinya."


"Baiklah, aku mengerti," sahut Rosella berat. "Tapi aku tidak punya apa-apa. Bahkan sekedar tempat tinggal pun aku tak punya."


"Lalu?" Endo sengaja menampilkan ekspresi bingung tak mengerti.


"Beri aku pekerjaan," jawab Rosella kemudian.


"Pekerjaan? Tapi tak ada posisi yang kosong saat ini."


"Posisi apa saja aku mau." Air muka Rosella menampilkan mimik wajah memohon.


"Akhirnya aku dapatkan juga." Tiba-tiba terdengar suara Rudi yang baru ke luar dari ruang kerja Endo. "Sulit sekali menemukan berkas ini," lanjutnya dengan langkah lebar berjalan ke arah meja makan.


Endo dan Rosella diam tak menanggapi, hanya tatapan mereka saja tertuju tepat ke arah laki-laki bersetelan jas hitam itu.


"Apa?" tanya Rudi begitu menyadari tatapan keduanya. "Ada apa?" tanyanya bingung.


"Apakah saat ini ada kekosongan posisi di perusahaan kita?" Endo memberi isyarat agar Rudi segera duduk.


"Ada." Rudi menghenyakkan pantatnya, kemudian mengambil roti tawar dan selai cokelat di hadapannya.


"Bagus," sahut Endo. "Bagian apa?"


"Produksi." Rudi mengembalikan selai cokelat pada tempatnya, kemudian beralih mengambil selai kacang.


"Hah, yang benar saja," keluh Endo. "Aku tidak mungkin menempatkanmu di bagian itu." Perhatian Endo beralih pada Rosella.


"Tapi itu tak masalah bagiku," sahut Rosella cepat. "Kapan aku bisa memulai?"


"Hei, ada apa ini sebenarnya?"


"Rose ingin bekerja agar bisa ke luar dari sini dan hidup mandiri."


"Oh," sahut Rudi acuh, walaupun sebetulnya ia sangat senang mendengar kabar itu. "Biar dia jadi sekretaris Disan saja," usulnya kemudian.


"Memangnya Reka resighn?"


"Tidak," jawab Rudi sambil mengunyah roti selainya. "Tapi kulihat belakangan banyak sekali pekerjaan yang harus diselesaikannya. Bahkan Reka sedikit keteteran."


"Baiklah, nanti akan kubicarakan dengan Disan, Rose."


"Kapan aku mulai bekerja?" tanya Rosella antusias.


"Kapan saja kau siap."


"Bagaimana jika hari ini aku ikut denganmu ke kantor?" Rosella meminta pendapat.


"Ya sudah, aku menunggumu di sini. Cepatlah kau bersiap-siap, aku sudah hampir terlambat.


"Ok." Rosella beranjak dari tempat duduknya kemudian segera menaiki tangga menuju kamarnya.


"Kau yakin?" tanya Rudi dengan ekspresi ragu.


"Ayolah, aku baru saja mengusirnya dari rumahku. Apa aku cukup tak punya hati untuk membiarkannya menjadi gembel tanpa pekerjaan?"


"Kalau begitu kau buka saja panti sosial," sahut Rudi kesal.


Endo diam tak menyahut, lebih memilih meminum jus jeruknya hingga tandas.


"Ah, sial!" Tiba-tiba saja Endo mengumpat.


"Kenapa?"


"Aku janji menjemput Echa pagi ini," jawab Endo. "Rosella akan berangkat ke kantor bersamamu," putusnya kemudian.


"Tidak bisa. Aku akan langsung pulang menjemput Mia. Pagi ini dia ada jadwal periksa kandungan."


"Lalu bagaimana?"


"Ya sudah, bawa saja Rosella sekalian menjemput Echa," usul Rudi.


"Apa kau gila?!"


"Memang apanya yang salah?" Rudi menjawab tanpa beban.


"Bagaimana aku akan menjelaskan tentang Rosella padanya jika kami berangkat bersama?"


"Katakan saja kau menolong dan menampung Rosella di rumahmu," jawab Rudi.


"Dan kau pikir dia akan percaya?"


"Tentu saja tidak," sahut laki-laki bersetelan jas hitam itu santai.


"Itu dia masalahnya."


"Ya sudah, aku pergi dulu, Mia sudah menungguku."


"Hei, b*debah! Antar Rosella ke kantor dulu, baru setelah itu kau boleh mengantar Mia."


"Tapi aku bisa terlambat menjemput Mia," protes Tudi tak mau kalah.

__ADS_1


"Kau tidak akan mati hanya karena hal itu," sahut Endo cepat, bertepatan dengan Rosella yang ke luar dan menutup pintu kamarnya, kemudian bergegas menuruni anak tangga.


"Aku sudah siap," seru Rosella.


"Ada masalah yang harus kuselesaikan sekarang juga Rose," ucap Endo. "Kau bisa ke kantor bersama Rudi. Nanti dia yang akan menemanimu menemui Disan."


"Tapi ...," sanggah Rosella ragu.


"Aku sudah menelepon Disan. Aku duluan, sampai jumpa nanti di kantor."


___


"Kak Endo sudah menunggu lama?" Echa berbasa-basi saat dilihatnya Endo telah menunggu di depan gedung apartemen bersama Rinto.


"Mmm ... lumayan," sahut Endo dengan senyum hangat terulas di bibir. "Ayo."


"Duluan ya, Rin." Echa melemparkan senyum yang dibalas dengan anggukan oleh Rinto.


Endo menggamit pergelangan tangan Echa untuk segera menuju mobil yang hanya diparkirkannya di pelataran apartemen.


"Tunggu sebentar, sayang." Tiba-tiba Endo menginterupsi.


Seketika Echa menghentikan gerakan tangannya yang hendak membuka pintu penumpang bagian depan saat Endo mencegahnya.


"Ada apa, Kak?" Wajah Echa menampilkan raut bingung dengan kedua mata menyipit.


Bukan menjawab, tangan Endo justru terulur membuka pintu penumpang belakang. Tanpa banyak kata, tubuh laki-laki itu langsung membungkuk masuk. Beberapa detik kemudian tubuh tegap itu kembali berdiri tegak dengan rangkaian bunga lily putih di tangan kanan.


"Untukku?" tanya Echa dengan mata terbelalak.


"Aku tak pernah tahu bunga apa yang disukai oleh gadis lain. Aku hanya tahu bunga kesukaan satu gadis saja. Kau menyukai lily putih," sahut Endo memulai rayuan mulut manisnya sembari kenyodorkan buket bunga di tangan.


"Echa tidak menyangka Kak Endo akan benar-benar membawakan bunga." Echa berucap tak percaya.


"Jika kau meminta rembulan pun, maka akan kuberikan. Apa lagi hanya sekedar bunga lily, sudah pasti akan kusegerakan."


(Ya Tuhan, kondisikan mulutmu, Ndo! Kondisikan! Jangan buat anak orang jadi baper!)


"Ya, tapi semalam Echa hanya bercanda," sahut Echa dengan senyum bahagia terulas di bibir. "Jadi ... Echa anggap ini sebagai kejutan."


"Tapi ... kau benar-benar menerima cintaku, bukan? Tidak hanya bercanda?" tanya Endo dengan wajah serius.


"Kak Endo apa-apaan sih? Jangan suka godain Echa kenapa?"


Dengan senyum malu-malu Echa menunduk menyembunyikan rona merah di kedua pipinya.


"Jika bunga tadi kau anggap sebagai kejutan, maka aku akan memberikan kejutan kedua untukmu."


"Benarkah?"


Endo kembali membungkukkan badan ke dalam mobil. Sesaat kemudian Echa terbelalak dengan boneka Hello Kitty super jumbo warna coklat dalam dekapan Endo.


"Buat Echa?" tanya Echa dengan sorot antusias di kedua matanya.


Endo menjawab dengan anggukan disertai senyuman.


"Serius?" Echa kembali bertanya tidak percaya.


"Hah, sepertinya aku salah memilihkan hadian boneka ini untukmu," keluh Endo dengan wajah nelangsa.


"Maksud Kak Endo apa?" Echa mengintip wajah Endo dari balik leher boneka. Gadis itu menghentikan gerakan ekspresi uforianya, namun masih tetap memeluk boneka dengan erat.


"Dia yang akan kau peluk setiap hari, bukan aku."


"Ih ... Kak Endo apa-apaan, sih?" tukas Echa dengan mulut mengerucut. "Echa tidak akan mungkin melupakan pemberi boneka ini."


"Jadi aku akan lebih sering dipeluk dari pada dia?"


"Tentu saja?"


"Syukurlah, aku akan mendapat pelukan hangat dari gadis yang kucintai setiap hari."


"Aku yakin boneka ini akan kau peluk setiap malam."


Echa membuka mulutnya untuk menyanggah, namun kembali diam saat menyadari yang dikatakan Endo memang benar adanya.


"Jadi aku akan mendapat pelukan berkali-kali dalam sehari." Endo terus menggoda gadis cantik itu.


"Huh, menyebalkan," gumam Echa pelan. "Kalau bukan karena boneka ini, sudah Echa habisi Kak Endo sekarang!"


Endo meyeringai geli mendengar ancaman dari mulut hadis mungil itu.


"Kita bawa ke kantor?" Endo menawarkan.


"Tidak, Kak. Nanti justru malah akan membuat repot saat membawa pulang." Echa masih memeluk boneka setinggi 1,5 meter itu dengan posesif.


"Lalu?"


"Sebentar, ya. Biar Rinto saja yang urus."


Echa buru-buru mengeluarkan ponselnya untuk memanggil Rinto.


"Ponsel itu ...," gumam Endo saat Echa sibuk membuat panggilan.


"Rin, bisa ke sini sebentar? Aku butuh pertolonganmu."


Echa memandang Rinto di kejauhan yang berada di pos jaga seperti biasanya.


"Ya, cepatlah." Echa menyudahi panggilannya, lalu memyerahkan buket bunga pada Endo agar lebih leluasa memeluk boneka barunya.


"Ada yang bisa kubantu?" tanya Rinto begitu sampai di depan Echa dan Endo.


"Lihatlah, Rin. Bonekaku lucu, bukan?" Echa langsung berseru antusias. "Kak Endo yang membelikannya untukku."


"Kau emanggilku ke sini hanya untuk mengatakan bahwa bonekamu lucu? Yang benar saja," keluh Rinto kesal merasa dipermainkan.


"Bukan," sahut Echa geli. "Aku ingin menitipkannya padamu."


"Kenapa harus padaku?"


"Karena kau adalah petugas keamanan di sini."

__ADS_1


"Dan bukan tempat penitipan barang," sahut Rinto cepat.


"Hei, ayolah. Kenapa kau jadi sensitif begitu, Rin?"


"Ya ... baiklah-baiklah," sahut Rinto setengah hati. "Jangan lupa diambil. Jika tidak, bukan salahku bila besok pagi boneka ini sudah tidak ada di tempatku."


"Ashiaaap ...!" Echa berseru tengan telapak tangan kanan di depan pelipis, layaknya hormat tentara.


Tanpa berucap lebih lanjut, Rinto segera berbalik dan beranjak pergi kembali ke pos jaga, meninggalkan dua orang konyol yang sedang dimabuk cinta.


"Masalah sudah beres, kita bisa pergi sekarang," seru Echa dengan tangan kanan terulur untuk membuka pintu mobil.


"Hei, tunggu! Tunggu!" Tiba-tiba Endo menginterupsi.


"Ada apa, Kak?" tanya Echa bingung.


Tangan kanan Endo bergerak cepat membukakan pintu untuk Echa yang disambut dengan senyum manis oleh gadis itu.


"Terimakasih ...."


"Sama-sama," jawab Endo tak lepas dari senyum lembutnya.


"Echa benar-benar tidak menyangka akan mendapat kejutan seperti ini." Echa mulai membuka suara setelah Endo duduk dengan nyaman di balik kemudi.


"Kau senang?" tanya Endo dengan binar tak kalah cerahnya dengan Echa. Dibukanya kap atas mobil agar kesegaran udara dan sinar matahari pagi dapat menerpa kulitnya secara langsung.


"Tentu saja," jawab Echa cepat. "Terimakasih ya, Kak."


"Hanya terimakasih saja? Setelah aku melakukan semua itu untukmu?" tanya Endo dengan mimik wajah kecewa. "Hah, kau menyebalkan."


"Lalu Echa harus bagaimana?" Echa bertanya dengan kedua mata membulat bingung.


"Gantian, kau berikan sesuatu padaku," usul Endo.


"Baikah, Kak Endo menginginkan apa? Biar nanti Echa belikan," tawar Echa. "Tapi jangan yang mahal-mahal, ya. Kak Endo tahu sendiri kan, gajiku sebagai karyawan magang itu tidak seberapa."


"Hah. Kau benar-benar menyebalkan," gerutu Endo.


"Hahahaha .... Jangan kesal seperti itu, Echa hanya bercanda."


Echa terbahak-bahak mendapati wajah cemberut Endo dengan bibir yang mengerucut lucu.


"Baiklah, sekarang katakan Kak Endo ingin apa," ucap Echa kemudian setelah menunggu lama dan Endo tetap betah dengan aksi bibir mengerucutnya.


"Aku tidak mau jika hanya satu permintaan saja," tawar Endo.


"Lalu?"


"Tiga permintaan." Endo mulai kembali antusias.


"Ya, terserah Kak Endo saja."


Tidak biasanya gadis galak itu menurut begitu saja dengan aturan yang Endo buat.


"Sekarang sebutkan permintaan pertama Kak Endo."


"Apa ya ...."


Endo berpikir dengan tangan kiri mengusap-usap janggut yang mulai berjambang. Sementara tangan kanannya masih memegang roda kemudi, walaupun mobil belum bergerak meninggalkan pelataran apartemen.


"Ah, bagaimana jika kau cium aku saja?" usul Endo tiba-tiba.


"Idih, maunya ...!" hardik Echa seketika.


"Hei, itu adalah permintaan pertamaku," protes Endo.


"Iya, Echa tahu. Tapi tidak harus minta cium juga 'kan?"


"Huh ...." Endo melenguh kesal. Pandangannya beralih lurus ke depan dengan tangan mulai menyalakan mesin kemudian mengendalikan roda kemudi dan menginjak pedal gas perlahan.


Saat tengah berkonsetrasi dengan kemudi mobil untuk keluar dari area pelataran apartemen, tiba-tiba saja Endo merasakan sebuah kecupan di pipi kirinya. Seketika Endo menginjak pedal rem, kemudian memandang tak percaya ke arah gadis cantik di sampingnya yang tengah meringis canggung menahan malu dengan kedua pipi merah merona.


"Kau menciumku?" gumam Endo sembari mengusap pipi kirinya yang terasa basah. "Terimakasih, sayang."


Echa masih bergeming dalam posisinya yang sama. Menahan debaran jantung yang semakin menggila bagai genderang mau perang.


"Sayang ...."


Kedua tangan Endo terulur, mengusap lembut pipi gadis di sebelahnya itu dengan lembut. Dijentiknya dagu terbelah itu perlahan agar terdongak menatap ke arahnya. Dua netra sebiru laut milik Endo menatap lekat sepasang mata bulat dengan bulu mata lentik di hadapannya uang sesaat kemudian terlihat risau dan gelisah.


"Hei, kau kenapa, sayang?"


Endo kembali mengusap kedua pipi itu dengan sayang.


"Kau baik-baik saja?"


Kini tatapan Endo diwarnai sedikit kecemasan.


"Aku nervous, bod*h!" umpat Echa dengan kegugupan yang kentara.


Sontak Endo tergelak mendengar lata-kata yang baru saja didengar.


"Hahaha ... kau benar-benar menggemaskan." Ia pun segera memeluk gemas gadis manisnya itu masih dengan tawa berderai.


"Hei!" Tiba-tiba sebuah suara mengagetkan keduanya. "Tak bisakah kalian segera pergi dari sini saja?"


"Rinto?" Echa memandang ke arah petugas keamanan apartemaan itu sembari menahan malu.


"Kalian telah mengganggu keamanan di sini."


Rinto memandang keduanya dengan tatapan kesal. Ingin rasanya segera menghajar laki-laki bersetelan jas rapi itu. Sebagai petugas keamanan ia merasa bertanggung jawab atas kenyamanan di lingkup area apartemen itu. Tapi di sisi lain, ia pun tahu bahwa Endo Devon Atmaja bukan orang sembarangan di kota ini.


Tak mau memperpanjang masalah, Endo kembali menyalakan mesin mobilnya.


"Ok ... ok ..., kami pergi." Endo menyempatkan diri mengecup pipi Echa di hadapan Rinto sebelum tersenyum, kemudian menginjak pedal gas.


"Benar-benar menyebalkan!" gerutu Rinto menahan kesal.


___


BERSAMBUNG ...

__ADS_1


__ADS_2