LOCK DOWN

LOCK DOWN
Part 29. Aku Merindukanmu


__ADS_3

Pandangan mata Echa menerawang jauh ke luar jendela kaca dengan tatapan kosong. Entah sudah berapa lama ia bertahan dalam posisi seperti ini.


Gadis itu duduk diam di depan jendela apartemen bersama Milea di dalam pelukan. Milea adalah sebuah boneka Hello Kitty jumbo warna pink, yang dibelikan Endo lima tahun yang lalu.


Echa masih ingat betul, saat itu tanpa sengaja ia bertemu dengan Endo setelah pulang sekolah. Karena sedang suntuk dengan kondisi rumah dan malas untuk pulang, ia menyetujui tawaran Endo untuk jalan-jalan sekedar having fun.


Mereka bersenang-senang, menghabiskan waktu hingga petang. Kemudian yang terakhir Endo membelikan sebuah boneka Hello Kitty warna pink berukuran jumbo.


"Kalo kangen tinggal peluk aja, Cha," ucap Endo waktu itu, masih di dalam toko boneka.


"Kangen sama siapa, Kak?" Echa bertanya polos.


"Ya sama gue lah. Kan yang beliin gue." Endo mendelik sewot yang waktu itu justru membuat tawa Echa berderai begitu saja.


Saat itu, Endo mengusulkan Milea sebagai nama boneka itu.


"Kenapa Milea, Kak?"


"Ato lo lebih suka kalo dikasih nama Lastri atau Marni aja?" Bukan menjawab, Endo justru balik bertanya.


Sudut bibir Echa sedikit tertarik ke atas mengenang kebersamaannya dengan laki-laki berwajah ramah itu.


Sesaat kemudian kedua bibir mungilnya bergerak samar, masih dengan tatapan yang sama.


"Cinta ... cinta ... cinta ...." Begitu gumamnya berulang-ulang.


Kedua tangannya bergerak pelan, memeluk Milea semakin erat.


"Benarkah aku yang menduakannya? Benarkah aku yang telah selingkuh?"


Kini Echa menatap pantulan dirinya pada jendela kaca. Seorang gadis dengan wajah sayu dan sangat kacau terlihat samar di sana.


"Kau benar, Nov. Aku telah dengan mudahnya menggantikan dia dengan laki-laki lain disaat bahkan dia pun belum menjelaskan apa pun padaku."


Echa berucap lirih dengan bibir bergetar.


"Aku yang tak memberinya kesempatan untuk menjelaskan apa pun. Aku yang tak membiarkannya memperbaiki semuanya. Kenapa aku begitu egois? Kenapa aku begitu tega melakukan semua ini padanya?"


Ingatan Echa melayang ke masa lima tahun yang lalu. Saat ia telah mengambil keputusan untuk bersama Ello dan lebih memilih melepaskan Endo.


Satu minggu setelah kepergian Endo ke Gorontalo, Echa mengajak Ello untuk bertemu di Evelon Cafe.


"Apa maksud omongan lo barusan?" Ello mencekal kedua bahu Echa dengan mata terbebalak tak percaya pada pendengarannya.


"Iya, Mar. Maaf." Echa menjawab dengan wajah tertunduk.


"Kenapa lo ngomong gitu? Bukannya hubungan kita baik-baik aja? Apa gue udah ngelakuin kesalahan sama lo?" Ello menyerang dengan pertanyaan-pertanyaan seperti yang sudah Echa duga sebelumnya.


"Bukan lo, tapi gue ...." Echa berusaha mendongakkan wajah sayunya. "Gue yang punya salah sama lo."


"Maksud lo?" tanya Ello masih tak mengerti.


"Gue ... bisa bo'ong sama lo. Tapi hati gue nggak." Echa memaksakan diri untuk menatap kedua mata remaja berpostur tinggi dan tegap di hadapannya.


"Ngomong yang jelas, Cha. Apa maksud lo?"


"Masih ada Kak Endo di hati gue."


Ello terhenyak mendengar ucapan singkat dari mulut Echa.


"Gue nggak bisa ngelupain dia." Echa kembali menambahkan.


"Baru satu minggu, Cha. Gue bisa maklum." Terdengar suara parau dari mulut Ello.


"Nggak, Mar. Gue bener-bener nggak bisa. Ternyata semuanya nggak segampang yang gue kira. Gue pikir, gue bakalan bisa lupain dia karena ada lo di sisi gue. Gue kira, gue bisa tanpa dia. Tapi ternyata gue salah, Mar." Tatapan Echa masih tertuju pada remaja di hadapannya.


"Kasih gue kesempatan, Cha. Seperti yang gue bilang, gue bakal bikin lo lupain dia."


Ello terus mencoba meyakinkan Echa.


"Nggak, Mar. Ini nggak semudah yang lo bilang."


"Mudah buat gue, asal lo ada kemauan, Cha. Kalo lo mo dukung gue."


"Lupain, Mar. Lupain cinta lo buat gue. Sebelum lo bener-bener sayang sama gue. Sebelum lo ngerasa nggak bisa tanpa gue. Sebelum semuanya terlambat."


"Terus lo sendiri mo ngapain? Coba lupain dia? Ato tetep nyimpen rasa cinta lo buat dia? Buat cowok brengsek itu?"


"Nggak tau."


"Gue bakalan nungguin lo, Cha."


"Jangan. Gue nggak mau lo kecewa. Jangan nungguin, apa lagi ngarepin gue, Mar." Mata Echa mulai buram.


"Gue tau lo masih cinta sama dia. Tapi semuanya nggak harus berakhir kayak gini, Cha." Ello mulai berteriak frustasi.


"Kisah kita memang harus berakhir, Mar. Sebelum lo merasakan sakit, kemudian hancur."


"Sekarang pun hati gue udah sakit, Cha."


"Dan gue nggak mau hati lo hancur," sahut Echa cepat.


"Cha ...."


"Udah, Mar. Gue rasa ini yang terbaik buat kita. Hubungan kita udah berakhir. Makasih buat perhatian dan kasih sayang yang lo kasih buat gue. Jaga diri lo, gue pergi."


Gadis berseragam putih abu-abu itu langsung berdiri setelah menyelesaikan kalimatnya. Ia pun buru-buru beranjak dari tempatnya.


"Cha," panggil Ello setelah beberapa langkah.


Echa menghentikan ayunan kakinya, namun sama sekali tak menoleh.


"Lo adalah cinta pertama gue, Cha."


Echa melirik ke arah Ello untuk beberapa detik. Tampak sorot kekecewaan dan kehilangan tergambar jelas di sana. Tanpa berucap satu kata pun, Echa kembali mengayunkan kakinya, melangkah menjauh.


Ya, ia telah mengambil keputusan untuk tidak mengizinkan Ello turut mengobati luka dan kesedihannya. Ia lebih memilih untuk menikmati kesakitan dan penyesalannya sendiri. Walau ia tak tahu entah sampai kapan.

__ADS_1


Echa menutup mata erat-erat, menikmati perihnya kenangan masa lalunya itu.


"Dulu aku kehilanganmu karena kebodohanku," gumam Echa lirih.


Seketika Echa tersentak dari dunia lamunannya saat tiba-tiba terdengar ponsel berbunyi. Ia pun melangkah pelan mengambil ponsel di atas nakas.


"Halo," sapa Echa tanpa semangat.


"Katakan, apa kau baik-baik saja?" tanya suara di seberang telepon terdengar cemas.


Echa menatap layar ponsel yang dipegangnya, memeriksa nama kontak yang memanggilnya. Ia mengenali suara penelepon sebagai Endo. Tapi ia merasa aneh ketika tiba-tiba laki-laki itu menanyakan keadaannya dengan intonasi cemas, sedangkan baru beberapa jam lalu mereka berpisah di depan pintu apartemen.


"Echa baik-baik saja, Kak," ucap Echa setelah kembali menempelkan layar ponsel pada telinga kanan. "Kenapa?"


"Berkali-kali aku mengirim pesan, tapi kau tidak membalasnya, bahkan dibaca pun tidak. Kupikir kau kenapa-kenapa. Aku sangat mencemaskanmu." Kalimat panjang Endo terdengar begitu jelas di telinga Echa.


Entah mengapa hati gadis itu terasa menghangat seketika. Tanpa sadar sebuah senyuman samar terulas di bibir mungilnya.


"Hei, kenapa kau diam saja? Ada apa denganmu?" Kembali terdengar suara dari seberang sambungan telepon. "Halo!"


"Iya, Kak. Iya," sahut Echa.


"Katakanlah sesuatu, jangan hanya diam saja. Kau pikir aku ini ahli nujum yang bisa tahu apa yang sedang kau rasakan dan kau pikirkan?" cerocos Endo.


Seketika kedua sudut bibir Echa tertarik, membentuk sebuah senyuman manis. Oh ... andai Endo melihatnya, dia pasti langsung jatuh terjengkang karena hilang keseimbangan.


"Iya, Kak."


"Hei, katakanlah sesuatu. Jangan hanya iya Kak, iya Kak saja. Kau pikir aku bisa tahu bagaimana keadaanmu hanya dengan dua kata itu? Kalau tahu akan begini jadinya, aku pasti sudah menyuruh Rudi untuk memasang CCTV di apartemenmu. Kau benar-benar membuatku hampir hilang kewarasan! Ah, iya. CCTV. Benar! Aku harus memasang CCTV di apartemenmu."


Echa tertawa geli tanpa suara dengan kehebohan yang terbaca dari suara Endo.


"Ringgo! Pasang CCTV di apartemen Echa malam ini juga!"


Kembali terdengar suara Endo yang berupa teriakan bernada perintah di ujung sambungan telepon.


"Hei, Cha. Halo! Cha!"


"Iya, Kak Endo."


"Hei, bicara lah. Jangan hanya diam saja. Memangnya apa yang sedang kau lakukan? Memeluk Milea? Astaga ...! Kalian bahkan berpelukan mesra disaat aku panik seperti ini?"


Hei, bagaimana dia bisa tahu?


"Sudah lah, Kak Endo. Jangan berlebihan."


"Berlebihan kau bilang?" hardik Endo dari seberang telepon. "Berkali-kali aku mencoba menghubungimu. Lihat jam berapa sekarang! Dan kau baru mengangkat telepon dariku stelah dua jam berlalu. Hah, aku bahkan sudah hampir meluncur ke apartemenmu tadi."


"Hanya dua jam, Kak. Kenapa Kakak seheboh itu?!"


"Karena tak biasanya kau seperti ini. Yang sudah-sudah, kau selalu merespon telepon dan pesan dariku dengan cepat."


"Maaf, Kak. Tadi Echa ketiduran."


"Mudah sekali kau mengucap kata maaf."


"Syukurlah kalau kau baik-baik saja," sahut Endo. "Hei, tunggu! Kau panggil apa aku tadi? Coba ulangi."


"Apa?" tanya Echa bingungm


"Ayo cepat ulangi."


"Memangnya Echa bilang apa?"


"Hei, ayo cepat katakan. Atau aku akan meluncur ke apartemenmu sekarang juga!" Terdengar suara ancan dari mulut Endo.


"Memangnya apa yang akan Kakak lakukan?"


"Aku akan menculikmu dan menyekapmu di apartemenku?"


"Begitu kah?"


"Ya. Begitu."


"Bagaimana caranya nanti supaya Echa bebas dari sandreaan Kak Endo? Berapa uang yang harus disiapkan untuk menebus Echa?" Echa mulai mengikuti permainan Endo.


"Tidak. Tidak perlu menyiapkan uang. Aku adalah penculik yang tak memerlukan uang tebusan."


"Kenapa begitu?"


"Karena aku akan menculikmu selamanya. Aku tak berniat untuk melepaskanmu."


"Terdengar sedikit mengerikan." Echa berkomentar dari ujung sambungan telepon.


"Itu belum seberapa, karena aku akan memenjarakanmu."


"Di mana?"


"Di dalam hatiku tentu saja! Ayolah, romantis lah sedikit, sayang!"


"Hahahaha ...!" Akhirnya lepas juga gelak tawa yang berusaha Echa sembunyikan semenjak tadi.


"Hei, kenapa kau tertawa? Apa itu artinya aku boleh berkunjung ke apartemenmu malam ini?"


"Apa hubungannya tertawa dengan izin berkunjung?" Echa memutar kedua bola matanya jengah.


"Kalau dalam duniaku semuanya selalu bisa dihubungkan, Cha."


"Ya ... ya ... ya. Dasar tuan pemaksa."


"Jadi bagaimana? Aku boleh meluncur sekarang?"


"Tidak!"


"Aku memaksa."


"Tidak!"

__ADS_1


"Ayolah, sayang." Endo terus merayu.


"Echa bilang tidak!"


"Aku sangat merindukanmu."


"Tetap tidak!" ucap Echa tegas". "Berhenti merengek-rengek, atau Echa tutup teleponnya!"


"Kenapa jadi dia yang lebih galak dariku ...," gumam Endo pelan, namun tetap terdengar oleh Echa.


"Echa dengar ...," komentar Echa dengan suara rendah.


"Hehehe ...." Endo nyengir ***** di ujung saluran.


Untung saja percakapan mereka ini lewat telepon. Jika tidak, mungkin Endo akan tampak mati gaya dengan tampang absurd-nya di hadapan Echa.


"Kau sudah makan?" Endo kembali bersuara.


"Kenapa memang?"


"Jika belum, aku akan langsung ke situ mengantarkan makanan untukmu."


"Tidak perlu repot-repot mengartar. Kirim saja dengan jasa Kerenfood."


"Aku tak bisa mempercayai mereka. Lebih baik aku sendiri saja yang mengantar."


"Dasar modus!"


"Hehehe ...." Endo menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Habisnya, mau bagaimana lagi? Aku begitu merindukanmu."


Kedua pipi Echa memerah mendengar ucapan Endo.


"Cha ... bicaralah." Endo kembali berbicara setelah menunggu beberapa saat Echa tak juga bersuara.


"Mmm ...." Tiba-tiba suasana terasa sangat canggung bagi Echa.


"Jawaban macam apa itu," keluh Endo. "Bicaralah. Jika aku tak boleh ke situ, setidaknya buat aku merasa senang dengan mendengar suaramu."


"Echa ... mmm ...."


"Ish ...! Kau membuatku ingin langsung terbang ke situ dan menciummu."


Seketika rasa hangat menjalari hati Echa dengan degup jantung menjadi lebih cepat.


"Cha ...." Suara Endo terdengar lembut di telinga. "Tentang yang kukatakan tadi siang, aku serius. Beri aku kesempatan sekali saja. Aku berjanji tak akan mengecewakanmu. Kau akan bahagia bersamaku."


Perlahan Echa mendongak, memandang pantulan wajahnya pada jendela kaca. Tampak jelas rona merah di kedua pipinya.


"Hei, bicaralah. Jangan diam saja." Endo mulai frustasi. "Bagaimana?"


"Itu ... mmm ... besok pagi Kak Endo jemput Echa."


"Jadi jawabannya akan kudapat besok pagi? Baiklah, aku tidak akan terlambat."


"Jangan lupa bawa bunga."


"Bunga?" Endo membeo.


"Iya. Kak Endo masih ingat kan Echa suka bunga apa?"


"Aku tidak akan mungkin lupa."


"Bagus lah.


"Dan satu lagi. Janga pernah bikin Echa kecewa lagi."


"Pasti!" jawab Endo mantap. "Tapi kira-kira apa jawabanmu. Cha?"


"Ya Tuhan, kenapa Kak Endo masih bertanya juga sih?" rutuk Echa mulai kesal lagi. "Sudah ah, Echa mau tidur."


"Loh, Cha! Cha!"


Tiba-tiba sambungan pun berakhir setelah Echa menyentuh ikon gagang telepon berwarna merah.


Endo menatap layar ponselnya sembari menggeleng-gelengkan kepala, kemudian tersenyum puas.


Sementara Echa langsung berjalan cepat ke tempat tidur. Berusaha meredakan degub jantung yang semakin menggila dan menyembunyikan semburat di kedua pipi di bawah bantal. Semenit kemudian, Echa bangkit dari posisinya. Masih tampak jelas rona merah mewarnai wajah mungilnya.


Tangan kirinya bergerak meraih ponsel di samping bantal. Dibukanya password yang mengunci layar. Benar saja, ada 15 panggilan masuk dan 17 pesan belum terbaca pada aplikasi bersimbol gagang telepon hijau dari Endo.


Dibacanya pesan-pesan itu satu per satu dengan senyum geli menghias bibir. Selesai dengan pesan belum terbaca, jari Echa terus bergerak lincah memanjat ke percakapan yang telah lama, lebih tepatnya lima tahun yang lalu.


[Kak Endo Ganteng 😘: Apa kau baik-baik saja, Sayang? 16.05]


[Kak Endo Ganteng 😘: Dua hari ini aku kehilanganmu. 16.05]


[Kak Endo Ganteng 😘: Kita harus bertemu untuk meluruskan kesalahpahaman di antara kita. 17.20]


[Kak Endo Ganteng 😘: Aku merindukanmu. 19.10]


[Kak Endo Ganteng 😘: Tidak adakah lagi cinta untukku? 20.00]


[Kak Endo Ganteng 😘: Seperti yang pernah kukatakan, aku akan tetap bertahan selama kau ingin aku untuk tidak melepaskanmu. 21.15]


[Kak Endo Ganteng 😘: Aku bersumpah, tidak akan pernah ada wanita lain di hatiku. Hanya kau yang kucintai. 21.16]


[Kak Endo Ganteng 😘: Besok aku pergi ke Sorong dengan penerbangan pertama. 23.55]


[Kak Endo Ganteng 😘: Untuk waktu yang cukup lama.23.55]


[Kak Endo Ganteng 😘: Cegahlah aku, maka aku akan tetap tinggal demi dirimu. 00.35]


Wajah Echa tampak sendu membaca pesan-pesan yang telah disimpannya selama lima tahun itu. Sedetik kemudian disorotnya chat lama dari Endo yang memang tak pernah dibalasnya, kemudian menekan tombol delete dengan cepat.


Sebuah senyum indah menyembul dari celah kedua bibir mungil milik gadis cantik itu.


BERSAMBUNG ...

__ADS_1


__ADS_2