LOCK DOWN

LOCK DOWN
Part 35. Tentang Kucing Betina


__ADS_3

Echa mendorong kasar tubuh Endo yang bergeming di hadapannya dengan sekuat tenaga, hingga laki-laki berperawakan tegap itu jatuh terjengkang ke luar bilik lift. Namun dengan tangkas Endo segera kembali bangkit dan mencoba meraih kedua tangan kekasihnya yang tetap berdiri tegak.


"Berhenti!" seru Echa tepat saat Endo hendak melangkahkan kaki kembali ke dalam bilik lift.


"Cha ...." Endo memandang Echa dengan tatapan memohon.


"Jauhi aku. Menjauhlah dariku," ucap Echa dingin. "Setidaknya tetaplah di tempatmu!"


"Sayang, percayalah. Aku tidak ada hubungan apa pun dengannya." Endo mulai bersuara.


"Kau pikir aku percaya?" hardik Echa sembari menahan emosi. "Jika kalian saja sudah tinggal di bawah satu atap, aku tak bisa membayangkan apa saja yang sudah kalian lakukan bersama," lanjutnya sinis.


"Tidak, sayang. Tidak seperti itu," sergah Endo


"Lupakan aku," potong Echa cepat. "Mungkin ini bisa disebut sebagai nasib buruk, tetapi aku bisa terima nasib burukku ini."


"Cha ... Echa sayang, dengarkan aku."


"Tidak ada yang perlu kudengar. Bukti telah ada di depan mata," potong Echa cepat.


Endo tak menggubris ucapan Echa dan segera melesat merangsek masuk ke dalam bilik lift.


"Kenapa kau mengikutiku?!" teriak Echa kencang. "Untuk apa kau mengikutiku? Untuk menyakitiku lagi? Kau ... laki-laki paling jahat yang pernah kukenal! Aku membencimu! Aku membenci ...!"


Ucapan Echa terhenti ketika tiba-tiba Endo mendekap erat tubuh rapuh dan mencium bibir mungil itu. Tiga pasang mata menatap tanpa berkedip adegan live di hadapannya yang kemudian terhalang oleh pintu lift yang bergerak menutup.


Sementara itu di dalam lift, Echa memberontak, berusaha melepaskan diri dari dekapan tangan dan lengan kokoh Endo, namun nihil. Jangankan melepaskan diri, bahkan menghindar dari ciuman panjang Endo pun ia tak mampu, karena semakin ia memberontak, maka semakin kuat juga laki-laki itu menekan tengkuknya dari belakang.


Akhirnya Echa hanya bisa diam. Hanyut dalam dekapan hangat laki-laki yang dicintainya bersama luka yang menyayat hati.


Beberapa saat kemudian, saat dirasa Echa telah tenang dan tak lagi panik penuh emosi, Endo menyudahi ciumannya. Hanya tersisa dua lengan kokohnya yang terus mendekap erat tubuh Echa yang terkulai lemah dalam diam.


Untuk waktu yang lama keduanya bergeming, larut dalam pikiran masing-masing. Hanya bilik lift yangnterus bergerak turun mengantar keduanya ke lantai basement.


"Kau pernah memberikan cinta padaku." Suara Echa terdengar lirih. "Lalu dengan seenaknya kau pergi meninggalkanku disaat aku telah menyerahkan seluruh hatiku padamu. Lalu kau datang kembali, mengusik hidupku dan menawarkan kembali rasa yang pernah kau beri. Dengan bodohnya aku menerima semua itu. Dengan bodohnya aku percaya semua itu. Ternyata kau hanya mempermainkanku. Kau mainkan aku dan akan mengehempaskanku ketika kau merasa bosan. Kau jadikan aku mainan di antara mainan-mainan lain yang bisa kau hampiri dan kau mainkan kapan saja sesuka hatimu. Kau pikir siapa dirimu?" Kaca-kaca bening mulai pecah dah mengalir membasahi kedua pipi gadis cantik itu.


Perlahan tangan lemah Echa bergerak, memeluk tubuh tegap Endo yang masih terus setia dengan dekapan hangatnya.


"Apa kau tahu bagaimana sakitnya aku?" "Kurasa kau pun juga tak akan perduli, bukan?"


Mulai terdengar isakan lirih dari bibir Echa. Sementara Endo membiarkan gadis itu memeluk tubuh tegapnya dengan semakin erat.


"Kuakui, aku sangat mencintaimu. Tapi bukan berarti hatiku bisa kau sakiti."


Echa kembali berucap sembari mengurai kedua tangannya tepat di saat lift khusus petinggi perusahaan itu terbuka di lantai basement.


"Pergi, tinggalkan aku. Kau miliknya, bukan milikku."


Didorongnya tubuh tegap itu pelan, seolah ada rasa tak rela, tetapi harus melepasnya. Kemudian ia pun segera ke luar dari dalam bilik lift dan berjalan pelan meninggalkan Endo yang masih bergeming.


Tak berapa lama, langkah Echa terhenti saat dua lengan kokoh kembali mendekap dari balik punggung rapuhnya.


"Berhentilah," terdengar suara milik sesorang yang selalu bersayam di dalam hati, berbisik lirih tepat di telinga. "Jika kau memang memiliki cinta sebesar itu, berhentilah."


Echa diam bergeming. Hanya nafasnya saja yang terhembus lemah dengan wajah tertunduk. Sementara Endo terus mendekap erat tubuh gadis yang dicintainya. Tak diperdulikannya beberapa pasang mata yang menatap aneh ke arahnya di area parkir gedung kantornya itu.


"Dulu atau pun sekarang aku tak pernah menghianatimu. Dulu atau pun sekarang aku tak pernah menduakanmu. Dulu atau pun sekarang aku tak pernah mempermainkanmu. Hanya saja, dulu dengan bodohnya aku membiarkanmu pergi meninggalkanku dalam kesalahpahaman. Sedangkan kini ... aku tak ingin hal bodoh itu terulang lagi."


Perlahan Endo beringsut, berdiri di hadapan Echa dengan tatapan memohon.


"Kumohon ... beri aku kesempatan. Beri aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya."


Dua tangan kokoh Endo terulur, menggendong tubuh lemah Echa ala bridal style. Sementara Echa hanya diam pasrah membiarkan Endo melakukan apa pun yang ingin dilakukannya. Toh, melawan dan memberontak pun juga akan percuma jika berhadapan dengan tubuh tegap dan kokoh itu.


Kedua kaki panjang Endo melangkah menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari tempat mereka tadi berdiri. Didudukkannya tubuh kekasihnya itu di kursi depan sebelum dirinya turut duduk di balik kemudi dan langsung melesat membawa mobilnya pergi menembus hiruk pikuk jalan yang mulai gelap karena mentari telah lama tenggelam. Tak lama berselang, laju mobil pun berhenti.


"Sayang ...." Endo menyentuh pundak Echa yang sedari tadi hanya diam bersandar pada punggung jok mobil sepanjang perjalanan.


Gadis itu sedikit tersentak, kemudian menoleh tanpa minat ke arah Endo. Ya, selama dalam perjalanan pikiran gadis itu memang kosong, sengaja tak ingin membiarkan otaknya memikirkan apa pun, meskipun itu tak berhasil.

__ADS_1


Echa menegakkan badan, kemudian mengedarkan pandangan ke sekeliling. Tampak gelap di seluruh penjuru mata angin. Kedua netra gadis itu pun melebar, mempertajam penglihatan di tengah kegelapan semesta. Perlahan disadarinya, ia sedang berada di tengah alam bebas, semacam bukit. Di sebelah kiri dan kanan hanya ada semak-semak dan pepohonan menjulang. Di belakang tampak jalan sepi terlihat oleh mata. Echa yakin jalan itu lah yang dilalui oleh mobil mereka untuk menujunke tempat ini.


Echa kembali meluruskan pandangannya. Tampak bintang-bintang bersinar terang memayungi kerlap-kerlip lampu di bawah sana. Seolah titik-titik cahaya lampu itu adalah pantulan dari taburan bintang yang bersinar terang di atas sana.


"Bagaimana perasaanmu saat ini, sayang?" terdengar suara lembut Endo di telinga.


Echa diam tak menjawab. Hanya pandangannya saja yang teralih, menoleh ke arah asal suara tanpa minat.


"Indah, bukan?"


Echa masih tak menjawab, beralih menatap kerlip lampu yang tampak terhampar indah di bawah sana.


"Baiklah, aku akan menceritakan semuanya padamu. Aku tak ingin kesalahpahaman ini menghantui kita berdua."


Tangan kiri Endo terulur, menggenggam tangan Echa di atas pangkuan.


"Dengar, sayang, sebenarnya aku tahu hal ini pasti akan terjadi. Meskipun aku tak menyangka kau akan seterluka ini."


Endo berbicara dengan pandangan lurus ke depan, menatap hamparan titik lampu yang jauh di bawah sana.


"Sebenarnya kami tak saling mengenal satu sama lain. Aku menolongnya saat ia lari dari kejaran Paola." Endo memulai ceritanya.


"Paola?" ulang Echa.


Sudut bibir Endo terangkat ke atas. Seketika merasa lega mendapati Echa telah mulai mau merespon ucapannya.


"Ya, kau mengenalnya?"


"Ya. Kak Lucas kenal baik dengannya."


"Luke?" ulang Endo. Tanpa sadar rahang tegasnya mengeras mendengar Echa menyebut nama laki-laki itu. Ia tahu bahwa Lucas memang mengenal Paola dengan baik. Tapi ia tak tahu bagaimana hubungan sahabatnya itu dengan kekasihnya sekarang.


"Lalu apa hubungannya dengan Paola?" tanya Echa setelah menunggu lama, Endo tak juga bersuara.


"Menurut cerita dari Rosella, ayah tirinya memaksa supaya ia bekerja pada Paola." Endo kembali bersuara setelah mampu mengesampingkan masalah Lucas dari pikirannya.


"Kenapa tidak menolak?"


"Dijual begitu maksudnya?" Echa mempertegas.


"Ya, semacam itu," sahut Endo. "Malam itu aku bertemu dengannya saat ia berusaha lari dari Paola."


"Paola adalah wanita yang berbahaya. Lalu bagaimana cara Kak Endo menolongnya?"


Tanpa sepengetahuan Echa, Endo kembali tersenyum mendapati gadis kesayangannya itu sudah kembali memanggil dengan sebutan seperti biasanya.


"Dengan uang tentu saja." Endo kembali menjawab pertanyaan Echa. "Uang memang bisa membereskan banyak hal."


"Seharusnya tidak semudah itu. Paola akan tetap mencari cara untuk mendapatkannya kembali." Echa terus berkomentar.


Tangan Endo terulur, kemudian atap mobil pun terbuka. Udara segar langsung berlomba-lomba menyeruak masuk. Tangan kiri Endo kembali bergerak, meraih sebungkus rokok dan korek api di atas dashboard. Dinyalakannya satu batang, kemudian segera dihisap dalam-dalam dan dihembuskannya hingga menimbulkan polusi di tengah-tengah udara segar itu.


"Oleh sebab itu, aku membiarkannya tinggal di rumahku," sahut Endo kemudian. "Jadi karena alasan itu lah dia tinggal di rumahku."


"Kenapa waktu itu Kak Endo harus berbohong?"


"Tentang kucing betina?"


Endo balik bertanya. Ditatapnya wajah polos milik gadis yang tengah duduk tenang di sampingnya itu dengan kelembutan.


"Mmm ... sebenarnya waktu itu aku begitu senang bisa sedekat itu lagi denganmu. Jadi ketika kau menanyakan perihal Rose aku memutuskan untuk tidak menceritakannya padamu. Aku tak ingin moment kebahagiaan kita terganggu karena aku harus meluangkan waktu panjang untuk menjelaskan tentang Rose. Sedangkan itu bukanlah hal yang penting di dalam hubungan kita."


"Jadi begitu ...."


Echa mendongak, kemudian menatap canggung ke arah Endo.


"Tadinya begitu," sahut Endo cepat, membuat Echa bingung dengan kalimatnya yang menggantung itu.


"Maksud Kak Endo?"

__ADS_1


"Sebelum kami menemukan bukti bahhwa ia sengaja di kirim ke dalam kehidupanku."


"Apa? Apa maksudnya?" tanya Echa bingung.


"Dulu dia dikirim seseorang berkaitan dengan salah satu proyek hunian yang kutangani di luar pulau. Bahkan mereka sempat membobol keamanan rumah di saat anak buahku kutugaskan untuk mengurus hal lain yang lebih penting. Artinya mereka tahu betul jika keamanan di rumahku sedang lemah, dan semua itu pastinya mereka ketahui berkat informasi dari Rosella."


"Tapi Kak Endo ...."


"Aku baik-baik saja," potong Endo dengan senyum terulas di bibir.


Tangan Echa terulur, memeriksa keadaan tubuh Endo, memastikan bahwa laki-laki itu benar-benar baik-baik saja. Jari-jari lentik itu beralih ke ke rahang tegas yang telah mulai ditumbuhi jambang tipis. Diusapnya pipi kiri laki-laki itu dengan lembut.


"Tapi setelah perkara itu selesai, dia tak juga ditarik dari kehidupanku. Itu yang membuatku tak mengerti."


"Berarti ada hal lain yang belum diselesaikannya." Echa menyimpulkan.


"Sudahlah, tidak perlu sekhawatir itu," tukas Endo cepat.


Endo beringsut, melepaskan jas kerja yang masih menempel di tubuhnya, kemudian dipakaikannya di pundak Echa.


"Sayang, maafkan aku yang telah tak jujur padamu," bisik Endo. "Bukan tak jujur sebetulnya. Hanya saja ... aku merasa itu bukanlah hal yang penting dalam hubungan kita."


Diraih dan digenggamnya kedua tangan lembut yang sudah terbiasa mengusap pipinya dengan sayang.


"Demi Tuhan, aku tak bermaksud menyembunyikannya darimu, apa lagi bermain gila di belakangmu. Jika saja aku tahu akan jadi serumit ini bagimu, aku pasti sudah menceritakan semuanya sejak awal. Maafkan aku, sayang."


"Sudahlah, Kak. Ini hanya salah paham," sahut Echa tenang. "Salah paham yang tercipta akibat kebodohan Kak Endo," lanjutnya.


Kedua mata Endo membulat mendengar ucapan yang terlontar dari mulut Echa barusan. Namun ia diam tak menjawab, hanya mendengus kesal mendapati kekasihnya yang mulai berani.


"Echa pikir memang begitu lah resikonya menjadi kekasih seorang Endo Devon Atmaja."


"Wow, gadisku ini ... ternyata sudah mulai pintar menusuk musuh hanya dengan kata-kata," sindir Endo dengan wajah kesal.


Echa melirik ke asal suara kamudian menatapnya tajam. Sesaat kemudian seulas senyum manis tersembul dari kedua bibir mungil itu.


"Echa cinta sama Kak Endo," bisik gadis itu setelah mengecup sebelah pipi Endo.


Endo tersenyum, kemudian mengacak puncak kepala Echa dengan gemas. Dirangkulnya pundak gadis itu sembari menikmati indahnya kerlap-kerlip cahaya di atas dan di bawah cakrawala.


"Bagaimana hubunganmu dengan Luke sekarang?" Sesaat kemudian terdengar suara Endo di antara senyumnya.


"Kami baik-baik saja," sahut Echa polos. "Dia akan datang di upacara wisuda besok."


Mendengar jawaban Echa, senyum di wajah Endo pun sirna seketika.


"Begitu kah? Dia juga?" tanya Endo sembari menoleh ke arah Echa.


"Mama yang memaksanya."


"Bahkan hubungan mereka sudah sedekat itu?" gumam Endo dalam hati.


"Tante Nida menyetujui hubungan kalian?" tanya Endo kemudian.


"Apa maksud Kak Endo? Tentu saja. Kenapa tidak?" Echa balik bertanya. "Selama kuliah di sini, Kak Lucas lah yang menjaga Echa. Dia memberikan apa pun yang Echa butuhkan, meskipun Echa tak memintanya."


Rahang Endo mengeras. Tanpa sadar kedua tangannya pun terkepal erat.


"Kak Endo, Kakak menyakiti Echa ...." Terdengar suara kesakitan dari mulut Echa.


Seketika Endo tersadar, sebelah tangan Echa masih berada dalam genggamannya. Dilepaskannya tangan halus itu tepat saat Echa kembali bersuara.


"Kak Endo mengenal Kak Lucas?"


"Aku mengenalnya dengan baik," sahut Endo tanpa senyum. "Tapi aku tak pernah tahu dia memiliki hubungan denganmu. Hingga hari itu, di pertemuan pertama kita di pesta peresmian restoran malam itu, aku mendengar dari orang-orang bahwa kau adalah milik Lucas," lanjut Endo pelan.


"Kak Lucas tidak pernah cerita," sahut Echa tenang.


"Apakah aku telah merebutmu dari Luke?" tanya Endo kemudian dengan sorot rasa bersalah sekaligus penuh harap.

__ADS_1


BERSAMBUNG ...


__ADS_2