LOCK DOWN

LOCK DOWN
Part 25. Aku Masih Mencintaimu


__ADS_3

Kenapa kau harus berbohong padanya?" tanya Rudi dengan ekspresi kesal. "Seharusnya kau ceritakan saja apa adanya."


"Aku tak tahu harus memulai ceritanya dari mana."


Endo menjawab pertanyaan Rudi, tapi pandangan matanya tetap tertuju pada gadis manis yang tengah bercengkrama dengan Mia di dapur.


Setelah jalan-jalan dan makan malam di salah satu restoran milik Lucas, Echa dan Endo memutuskan untuk berkunjung ke rumah Rudi, sekaligus mengantarkan bingkisan berupa peralatan dan perlengkapan bayi yang telah mereka persiapkan sejak kemarin sore.


"Lagi pula, kupikir hanya akan membuang-buang waktu saja jika harus menceritakan padanya. Sedangkan aku tak ingin kehilangan moment indah bersamanya pada malam itu. Bisa-bisa semuanya rusak hanya karena kami membahas perihal mengenai Rosella." Endo berujar panjang lebar.


"Masih tidak mau mengaku bahwa kau jatuh cinta padanya?" Tangan Rudi bergerak menyalakan sebatang rokok, kemudian meniupkan kepulan asap ke udara bebas. "Terserah kau saja. Tapi jika ada apa-apa jangan mengeluh padaku," ucap Rudi lagi dengan ekspresi jengah.


Seketika Endo menoleh, kemudian tersenyum culas pada sahabat karibnya itu.


"Tenang saja, kau tetap menjadi orang pertama yang akan kucari," ucap Endo penuh keyakinan.


"Kalian sedang membicarakan apa?" Tiba-tiba saja Echa sudah berdiri di samping Endo dengan sepiring pisang goreng di tangan kiri. "Seru sekali sepertinya."


"Endo sedang jatuh cinta," sahut Rudi jahil saat Mia datang mendekat.


"Oh ya? Benarkah?" tanya Echa bersemangat, dengan kedua mata membulat. Tangannya bergerak lincah meletakkan piring di atas meja.


"Kau tahu dia jatuh cinta pada siapa?" Rudi melanjutkan kejahilannya sembari menarik pergelangan tangan Mia dan mendudukkan sang istri di atas pangkuan.


"Kuharap bukan padaku," sahut Echa cepat.


"Kenapa?" tanya Endo tak terima.


"Memangnya apa bagusnya dicintai sama Kak Endo?"


Seketika tawa Rudi dan Mia berderai mendengar jawaban lugas gadis berpenampilan kasual itu.


"Hei, aku tampan dan kaya raya," sahut Endo dengan wajah kesal.


"Kak Disan juga kaya raya. Bahkan dia jauh lebih tampan dari Kak Endo," sanggah Echa.


"Hei, apa maksudmu?" tanya Endo kesal. "Jadi kau menyukai Disan?"


"Echa single, Kak Disan juga single," sahut Echa santai. "Lalu masalahnya di mana?" Bukannya menjawab, Echa malah turut menggoda Endo. Seolah ia telah sepakat dengan Rudi untuk membuat laki-laki berwajah bule itu kesal dan keki.


"Tentu saja ada masalah," sahut Endo cepat.


"Hei, jangan bilang kalau Kak Endo memang jatuh cinta padaku," seru Echa dengan seringai mengejek di bibir.


Mendadak tawa lebar pecah dari mulut Rudi. Meledek Endo yang tengah memasang wajah kecut.


"Apakah itu artinya iya?" tanya Echa dengan wajah dibuat sepolos mungkin. "Ya Tuhan, kenapa nasibku sesial ini?" keluh Echa.


Semakin lama Rudi semakin terbahak-bahak. Bahkan laki-laki berahang tegas itu sampai harus memegangi perutnya karena terpingkal-pingkal.


"Tertawa saja sepuasnya. Aku akan memotong sembilan puluh persen gaji kalian," rutuk Endo kesal sembari berjalan cepat menuju mobilnya yang terparkir di halaman depan.


"Loh, Kak," panggil Echa. "Kak Endo kemana? Kak!"


Endo diam tak menyahut, namun kakinya terus berjalan.


"Yah, anak perawan gue ngambek," seru Echa sembari mengulurkan tangan kepada Rudi dan Mia bergantian untuk berpamitan.


"Hati-hati, ya," pesan Mia.


"Tentu," sahut Echa. "Dedek, baik-baik di dalam sana, ya," lanjutnya sembari mengelus perut Mia yang masih rata.


Echa langsung melesat pergi meninggalkan pasangan suami istri yang masih menyelesaikan sisa-sisa tawa mereka.


"Kak Endo," panggil Echa dengan teriakan. Kakinya terus terayun menyusul Endo yang sudah duduk di balik kemudi. Bahkan mesinnya pun sudah hidup, siap bertolak.


Setelah memastikan Echa duduk dengan aman di kursi sebelahnya, Endo segera tancap gas meninggalkan rumah Rudi.


"Besok Echa pulang ya, Kak." Suara Echa memecah kesunyian setelah hampir setengah jam keduanya terdiam tak saling bicara.


"Kenapa mendadak?" tanya Endo dengan kedua tangan menggenggam roda setir.


"Mendadak?" ulang Echa. "Tidak, Kak. Tidak mendadak. Tadi pagi Echa sudah menyampaikannya pada Kak Endo. Lupa?"


Kening Endo terkernyit, berusa mengingat-ngingat apa saja yang bereka berdua lakukan semenjak pagi.


"Benarkah? Aku hanya ingat kau begitu menikmati morning kiss yang kuberikan tadi pagi," ucap Endo akhirnya.


"Ih, Kak Endo! Serius sedikit kenapa sih?" hardik Echa dengan kedua pipi bersemu.

__ADS_1


"Aku pun juga serius," sahut Endo cepat. "Bukankah yang kukatakan itu benar?"


"Dan Kak Endo tahu benar bahwa yang Echa maksud bukan itu!" Echa berseru kesal dengan pipinya yang semakin memerah.


Endo tersenyum, kemudian tertawa geli melihat kekesalan Echa yang sedang tersipu malu.


"Baiklah. Tapi besok pagi kau berangkat ke kantor bersamaku," putus Endo akhirnya.


"Siap, Bos!" Tak ada penolakan atau pun kata protes yang ke luar dari mulut Echa.


Endo melirik ke arah gadis di sebelahnya itu, kemudian melempar senyum. Ternyata begitu damai jika tidak ada perdebatan.


Tak berapa lama, Endo memperlambat laju mobil birunya, kemudian berhenti di tepi jalan tak jauh dari apartemennya berada, dengan mesin tetap menyala.


"Jadi kau ingin ke mana?" tanya Endo kemudian. "Atau kita langsung pulang saja?"


Echa melirik arloji di pergelangan kirinya. Jam sebelas malam.


"Echa ingin jalan-jalan dulu. Menghirup udara malam," putus gadis itu akhirnya.


"Jalan-jalan ke mana?" tanya Endo sembari menoleh.


"Ke mana saja," sahut Echa dengan senyum di bibir. "Echa hanya butuh udara malam yang segar."


"Bukankah besok kau sudah mulai masuk kantor? Kau yakin bisa bangun tepat waktu?" Endo mengingatkan.


"Bukankah aku ini karyawan kesayangan orang nomor satu di tempatku bekerja?" Echa balik bertanya. "Aku tidak akan menyia-nyiakan keberuntunganku," lanjut Echa dengan senyum jumawa di bibir. Kemudian dengan sengaja disandarkan kepalanya di pundak Endo.


"Dikabulkan," sahut Endo sembari menjentik hidung mancung Echa, kemudian tancap gas sembari tertawa lebar mendapati keusilan gadis di sebelahnya itu.


Sepuluh menit kemudian mobil yang dikendarai Endo berjalan pelan memasuki area tanah lapang. Mobil berhenti ketika telah berada tepat di tengah-tengah area. Echa melongok ke luar jendela mobil. Terlihat rumput hijau terhampar di bawah pijakan roda mobil.


"Kenapa berhenti di sini?" tanya Echa bingung.


Endo mematikan mesin mobilnya. Tangan kanan Endo terulur menekan satu tombol. Seketika kap bagian atas mobil bergerak hingga terbuka. Masih belum menjawab pertanyaan Echa, tangan Endo kembali bergerak meraih korek dan sebungkus rokok di atas dashboard mobil. Segera dinyalakan dan dihembuskannya kepulan asap rokok ke udara bebas tanpa menoleh sedikit pun ke arah Echa.


"Lihatlah ke atas sana," tunjuk Endo ke angkasa luas.


Echa turut mendongak, memperhatikan arah kemana jari Endo menunjuk.


"Wah, indahnya ...," seru Echa spontan dengan binar takjub di kedua matanya. Indera penglihatnya benar-benar dibuat terpukau oleh langit yang terlihat begitu indah dengan taburan kelap-kelip bintang.


"Kau suka?" tanya Endo.


"Ya. Indah sekali, Kak," sahut Echa. "Echa tak menyangka langit bisa tampak seindah ini di malam hari."


Pandangan Echa tak beralih dari gugusan bintang yang dilihatnya. Kap atas mobil yang terbuka membuatnya leluasa menikmati keindahan langit yang terhampar luas memayungi alam semesta.


"Tidak setiap malam," sahut Endo turut menikmati hamparan lukisan alam di atasnya. "Terkadang bintang-bintang itu pun lebih memilih bersembunyi di antara awan mendung."


"Lihat yang di sebelah sana itu," seru Echa sembari menunjuk ke arah barat laut dengan telunjuk kanannya. "Dia menyala paling terang di antara yang lain," lanjutnya dengan binar antusias.


Echa menoleh ke arah Endo yang hanya diam tak berkomentar.


"Apakah benar memang dia yang paling besar di antara semuanya?" tanya Echa dengan tatapan ingin tahu ke arah Endo.


Endo tersenyum gemas memandang wajah polos Echa yang diliputi rasa penasaran. Perlahan ditegakkan duduknya hingga bisa memandang wajah cantik Echa dengan lebih leluasa.


"Entahlah," jawab Endo akhirnya. "Mungkin jarak bintang itu lah yang paling dekat dengan bumi, sehingga tampak begitu besar dan bercahaya," lanjutnya. "Tapi bisa juga karena ukuran yang sangat besar menjadikannya tampak paling bersinar di antara yang lain," lanjutnya lagi. "Entahlah."


"Indah sekali ya, Kak," ucap Echa kemudian. "Hmm ... udaranya juga segar. Benar-benar menyenangkan berada di sini," lanjutnya dengan kedua mata terpejam menikmati indahnya suasana malam itu, di tengah hamparan rumput hijau berpayung taburan kerlap-kerlip bintang.


Sementara Endo terdiam menikmati wajah cantik berbingkai senyum sempurna di depan matanya. Tanpa sadar tangan Endo terulur mengusap lembut sebelah pipi Echa, membuat mata itu kembali terbuka. Namun entah mengapa Echa membiarkan tangan kokoh itu tetap bergerak lembut di sebelah pipinya.


"Cantik sekali," gumam Echa sembari kembali menatap ke arah hamparan langit.


"Tapi tak secantik dirimu, sayang," sahut Endo lembut.


Echa mengerjabkan kedua mata bulatnya. Gadis itu diam tak menyahut, namun semburat merah tampak begitu kentara di kedua pipi.


"Kau tahu? Kau terlihat sangat cantik malam ini," puji Endo tulus.


"Berarti di kesempatan lain aku tampak jelek. Begitu maksud Kak Endo?" tanya Echa sembari menegakkan posisi duduknya. Wajah ayunya tampak cemberut kesal.


"Ayolah, kau mengerti apa yang kumaksud, sayang," sahut Endo dengan senyum tertahan. "Sepertinya aku memang harus sering-sering mengajakmu ke luar, agar aku juga bisa lebih sering menikmati kecantikanmu."


Tawa renyah pun meluncur dari mulut Echa. Ya laki-laki di sampingnya ini memang paling pintar membuat hatinya berbunga-bunga.


"Sekarang katakan, kenapa Kak Endo sering memanggil Echa dengan sebutan sayang?" tanya Echa setelah tawanya mereda.

__ADS_1


"Pertanyaan macam apa itu?" Endo balik bertanya. "Tentu saja itu karena aku memang menyayangimu."


"Benarkah?" Kedua pipi Echa memerah mendengar jawaban Endo yang begitu berterus terang. "Bagaimana dengan Rose?"


"Rose?" ulang Endo tak mengerti.


"Iya, apakah Kak Endo menyayanginya?"


"Tidak." Endo menjawab singkat pertanyaan aneh yang Echa lontarkan. Benar-benar tidak nyambung dan di luar konteks pembahasan.


"Tapi dia kucing yang lucu," tukas Echa cepat. "Kenapa Kak Endo tak menyayanginya?"


"Ya Tuhan, Echa ... kau pikir aku harus senang dan merasa nyaman tidur sambil memeluk seekor kucing? Begitu?" tanya Endo tak habis pikir.


"Ya, harusnya begitu," sahut Echa polos. "Echa juga begitu. Apa lagi kalau kucingnya mirip Hello Kitty," lanjut Echa absurd.


"Lebih baik memelukmu, Cha, dari pada memeluk kucing. Apa lagi Rose," potong Endo cepat.


Disaat Echa membayangkan Endo tidur memeluk kucing angora, justru Endo membayangkan dirinya memeluk Rosella. Bukankah itu sangat menyebalkan?


"Hah, brengsek! Yang kuinginkan adalah kau, Rebecca. Bukan Rosella!" umpat Endo dalam hati.


Echa tertawa melihat wajah masam Endo. Puas bisa membuat laki-laki itu merasa kesal.


"Iya. Iya, sayang. Sudah, jangan cemberut lagi," bujuk Echa sembari mengusap kedua pipi Endo yang terasa sedikit kasar karena jambang yang mulai tumbuh. "Tapi Kak Endo tampak menggemaskan jika sedang kesal dan cemberut seperti ini.


Mendengar kalimat itu, seketika sebuah senyuman menyembul dari balik kedua bibir Endo.


"Tapi bohong ...!" seru Echa kemudian sembari tertawa terbahak-bahak, yang mendapat balasan berupa gelitikan geli di pinggang rampingnya.


"Ampun, Kak. Ampun!" teriak Echa di sela tawa gelinya. "Ampun! Sumpah!"


"Sekarang baru kau memohon ampun?" seru Endo dengan wajah kesal sekaligus senang.


"Ampun, Kak. Sudah, geli, Kak! Geli!"


"Berani kau menggodaku?" ancam Endo dengan kedua tangan masih terus bergerilya.


Endo sengaja menarik tubuh mungil itu ke dalam dekapannya agar ia lebih leluasa untuk menggelitik.


"Ampun, Kak! Sudah, Kak! Geli, geli! Janji! Janji tidak iseng lagi!"


"Janji tidak iseng lagi?"


"Janji tidak iseng lagi."


" Janji tidak nakal lagi?"


"Janji tidak nakal lagi."


Endo menghentikan aksinya tepat setelah Echa mengucap janjinya. Sementara Echa diam tak berucap lagi. Gadis itu masih sibuk mengatur nafas yang masih ngos-ngosan dalam pelukan Endo.


"Lalah?" tanya Endo.


"Iya."


Echa menjawab tanpa bergerak sedikit pun.


"Sepertinya begitu nyaman berada dalam pelukanku, hum?" gumam Endo tepat di telinga Echa.


Seketika Echa beringsut, hendak melepaskan diri dari dekapan Endo. Namun laku-laki itu menahannya dan justru mendekap lebih erat.


"Diamlah," bisik Endo. "Aku tahu kau menikmatinya ... dan aku pun juga senang memelukmu seperti ini."


Keduanya bergeming dalam diam, hingga akhirnya perlahan Endo mengurai pelukan hangatnya. Ditangkupnya wajah cantik itu dengan kedua tangan kokoh. Tanpa banyak kata, diciumnya bibir gadis di hadapannya itu dengan penuh kelembutan.


Malam itu bintang dan rembulan bersinar terang seolah turut tersenyum mendapati debaran jantung dua insan yang semakin kencang dan menggila. Seolah turut yakin bahwa telah tiba saatnya bagi cinta kedua anak manusia itu untuk bersatu.


Hanya sebentar. Hanya ciuman singkat. Namun cukup meninggalkan bekas yang begitu menggelaura, merajai ruang hati keduanya.


Endo menempelkan keningnya sendiri di kening Echa sembari menangkup lembut pipi gadis itu dengan kedua tangan kokohnya.


"Aku merindukanmu, sayang. Selama lima tahun aku hidup dalam kegelisahan. Aku bagai orang bodoh dan ***** menjalani hari-hari sepiku. Baru kusadari bahwa semua itu karena dirimu," gumam Endo.


"Apa maksud Kak Endo?" tanya Echa gugup.


Kepala Endo bergerak pelan. Dijauhkan keningnya dari kening Echa yang kini tampak terkernyit. Tangan Endo masih pada posisi yang sama, menangkup lembut wajah cantik di depan matanya itu.


"Sepertinya aku memang harus menekan egoku ke tempat terendah untuk mengakui bahwa aku masih mencintaimu. Aku ingin kita bersama lagi. Kita buka lembaran baru. Kita mulai semuanya dari awal. Aku mencintaimu Rebecca ..."

__ADS_1


BERSAMBUNG ...


__ADS_2