
Endo berjalan pelan sembari menggamit pergelangan tangan Rosella. Setelah seharian menemani gadis itu jalan-jalan, ia memutuskan untuk menghabiskan sisa waktunya hari ini di taman. Ya, ia memang telah mulai lelah, namun tampaknya gadis itu masih sangat menikmati kebersamaan mereka.
"Kenapa kita kesini?" tanya Rosella.
Langkah kaki Endo terhenti, namun tangan Rosella tak lepas dari genggamannya. Sementara sebelah tangan yang lain masuk ke dalam kantong celana selutut yang dipakainya.
"Kita habiskan sisa waktu hari ini di sini," jawab Endo santai. "Tidak masalah, bukan?"
Rosella tersenyum dan mengangguk mengiyakan ide laki-laki bertubuh tegap itu.
"Kenapa ramai sekali?" gumam Endo pelan, kemudian mengedarkan pandangannya ke segala arah. "Ah, aku lupa, setiap akhir pekan tempat ini memang selalu ramai," gumamnya lagi. "Kau ingin pergi ke tempat lain?" tanya Endo kemudian.
"Tidak. Tidak apa-apa. Tempat ini pun juga bagus," tolak Rosella cepat.
"Ya sudah."
"Hei lihat, ada sebuah kursi kosong di sana," seru Rosella dengan telunjuk kanan menunjuk ke satu arah. Keduanya pun melangkah menuju kursi yang Rosella maksud.
"Ah ... akhirnya," gumam Endo sembari menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Perlahan mata sipit itu terpejam, menikmati hembusan angin sore dalam ketenangan.
"Kau lelah?" tanya Rosella setelah cukup lama saling diam.
"Lumayan," jawab Endo singkat.
"Mau kupijat?"
"Boleh," jawabnya lagi masih dengan mata terpejam.
Rosella meraih tangan kokoh Endo sebelah kanan, kemudian dipijatnya dengan penuh kelembutan.
"Bagaimana?" tanya Rosella setelah beberapa saat.
"Sebenarnya kakiku yang terasa pegal," jawab Endo pelan.
Rosella tertawa geli mendengar jawaban Endo, kemudian beralih memijit tangan kiri.
"Boleh aku menanyakan sesuatu?"
"Tanyakanlah." Kedua mata Endo masih tetap terpejam.
"Kau ... apa ada seorang gadis di hatimu saat ini?" tanya Rosella ragu.
Endo memicingkan matanya ke arah Rosella. Namun gadis itu tak menyadarinya, ia tengah sibuk memijat sembari memandangi tangan kokohnya dengan penuh perhatian.
"Ya," jawab Endo akhirnya.
"Cantik?"
"Wanita yang di dekatku, semuanya cantik-cantik," sahut Endo ambigu sembari memandang, menerawang jauh ke angkasa karena posisi kepalanya yang mendongak saat bersandar di punggung kursi.
"Bagaimana denganku?"
"Sudah pernah kukatakan, bukan? Kau cantik," sahut Endo jujur.
"Berarti aku layak untuk berada di sisimu?" tanya Rosella lagi.
Endo tersenyum. Digenggamnya tangan lembut yang tengah memijit telapak tangannya itu dengan hangat, kemudian kembali dipejamkan kedua matanya
"Kenapa diam?" tanya Rosella kemudian setelah lama Endo diam tak menjawab. "Jawablah."
"Pertanyaanmu sungguh konyol," sahut Endo.
Rosella mengerjabkan kedua matanya, tak mengerti apa yang dumaksud oleh laki-laki di sisinya itu.
"Kita bahkan sudah berciuman," ucap Endo lagi dengan entengnya, namun berhasil mengirimkan gelenyar aneh di hati dan semburat merah di kedua pipi Rosella.
Perlahan kedua mata Endo terbuka. Ia pun beringsut, menegakkan tubuh dari sandaran kursi dan membetulkan posisis duduknya. Dilihatnya, gadis di sisinya itu tengah menunduk dengan kedua pipi merona.
"Kenapa?" bisik Endo tepat di telinga Rosella yang berhasil membuat gadis itu tercekat dan gugup setengah mati karena hembusan hangat nafas Endo yang menerpa kulit.
Tangan kanan Endo terulur. Ditangkupnya pipi sebelah kiri gadis itu, kemudian dengan lembut didongakkan dan diarahkannya ke wajahnya sendiri hingga keduanya saling menatap dalam jarak yang begitu dekat.
"Kenapa?" bisik Endo lagi sembari mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka hampir bersentuhan.
Dengan jarak sedekat itu, seluruh tubuh Rosella menegang. Bahkan jantungnya kini tengah berdetak begitu kencang menyadari dirinya sedekat itu dengan Endo.
"Kau menyukaiku?" Endo kembali bertanya saat Rosella masih berusaha menormalkan detak jantungnya. Jangankan menjawab pertanyaan yang Endo lontarkan, bahkan untuk sekedar bernafas pun ia merasa kesulitan.
Rosella kembali menunduk setelah berhasil memalingkan wajahnya dari tatapan tajam netra biru Endo. Keduanya terdiam cukup lama, dan Endo masih berada pada posisi yang sama.
"Dia yang ada di hatimu itu ... siapa namanya?" tanya Rosella kemudian setelah lama mereka saling diam.
"Iya, Sam. Kakiku terasa sakit." Tiba-tiba terdengar suara yang begitu familiar di telinga Endo sebelum ia sempat menjawab pertanyaan gadis di sampingnya itu.
"Echa," gumam Endo sembari menoleh ke kiri dan kanan sisinya.
"Echa?" ulang Rosella terkejut dan tak percaya. Tampak jelas raut kecewa tergambar di wajah cantiknya.
Endo tak menggubris. Hanya tubuhnya saja yang bergerak, mulai beringsut menghadap ke posisi yang seharusnya.
__ADS_1
"Mau kugendong?" Kembali terdengar suara di telinga Endo.
"Tidak, tidak. Tidak perlu."
"Baiklah, kita duduk dulu saja di bangku itu."
Kedua mata biru Endo bergerak liar mencari asal suara. Tak jauh dari tempatnya duduk tampak gadis yang sangat dikenalnya itu berjalan pelan menuju salah satu bangku kosong.
"Itu benar-benar Echa," gumam Endo tanpa suara. "Dengan ... Samuel?!" seru Endo sembari bangkit dengan mata membeliak tak percaya menatap keduanya. "Apa-apaan ini? Apa yang mereka lakukan?!"
"Kau kenapa?" tanya Rosella bingung. "Ada apa?"
Endo menoleh, memandang Rosella hanya dalam hitungan detik.
"Tunggu di sini sebentar, aku segera kembali," pesan Endo seraya buru-buru beranjak pergi meninggalkan Rosella seorang diri.
"Mau kupijat kakinya, Cha?" tawar Samuel penuh perhatian.
"Tidak. Tidak usah, Pak Samuel."
"Hei, sudah kubilang, panggil aku Samuel saja," ralat Samuel.
"Eh, iya. Maaf, Sam," sahut Echa cepat-cepat dengan intonasi rasa bersalah.
"Sepertinya kau kelelahan," komentar Samuel.
"Sebenarnya tidak juga," sanggah Echa. "Aku sudah terbiasa jalan kaki," lanjutnya. "Hanya saja ... aku belum terbiasa dengan heels," lanjutnya lagi dengan malu-malu.
Kedua tangan gadis itu terulur melepas sepatu di kakinya, menampilkan beberapa luka lecet di kedua kaki yang tadinya terbalut oleh heels warna hitam.
"Ya Tuhan ... jika memang begitu, lantas kenapa kau memaksakan diri?" tanya Samuel gemas.
Echa tak menjawab. Hanya senyum canggung dan malu yang terbit di antara kedua bibirnya.
"Pasti sakit sekali," komentar Samuel kemudian.
Echa masih tak menjawab, hanya rona merah tipis tercetak di kedua pipinya.
"Dengar, Cha," ucap Samuel sembari menggenggam lembut kedua tangan Echa. "Aku menyukai apa adanya dirimu," lanjutnya dengan wajah serius. "Kau dengan gayamu, kau dengan style-mu. Tidak perlu berusaha menjadi orang lain."
"Menikmati angin sore?" Tiba-tiba saja terdengar suara yang tidak asing di telinga mereka.
"Pak Endo," gumam keduanya setelah menoleh dan mendapati bos besar mereka tengah berdiri di sisi bangku.
"Ya," sahut Samuel sembari bangkit dari duduknya.
"Sama seperti yang kalian lakukan. Menikmati suasana sore yang cerah," sahut Endo dengan senyum ramah di bibir.
"Kami benar-benar tidak menyangka akan bertemu dengan Bapak di sini," ucap Samuel kemudian.
Endo hanya tersenyum menanggapi ucapan Samuel.
"Kakimu kenapa?" tanya Endo pada gadis cantik yang memilih tetap duduk di bangku itu.
Senyum ramah di bibir Endo mulai pudar. Pandangannya beralih ke kedua kaki Echa yang tampak memprihatinkan. Ingin rasanya segera duduk jongkok dan meniup luka-luka di kaki itu untuk menyalurkan kenyamanan pada sang gadis. Namun ia tak senekad itu, kemudian buru-buru mengurungkan niat konyolnya.
"Kakinya sedikit lecet, karena heels yang dipakainya, Pak," sahut Samuel. "Apakah Bapak buru-buru?" tanya Samuel kemudian.
"Kenapa?" Endo balik bertanya.
"Jika tidak keberatan, saya minta tolong Bapak temani Echa dulu sebentar. Saya akan membeli plaster untuk luka lecet di kakinya itu."
"Sial! Berani sekali kau memerintahku?!" umpat Endo dalam hati.
"Baiklah, tidak masalah," ucap Endo akhirnya disertai dengan senyum hangat.
"Tidak perlu, Sam," cegah Echa cepat.
"Kau tunggulah sebentar. Aku tidak akan lama," ucap Samuel, kemudian bergegas melangkah pergi meninggalkan Echa dan Endo berdua.
"Jadi kalian berkencan, hum?" tanya Endo to the point dengan seringai di sudut bibirnya begitu Samuel pergi.
"Maaf, itu bukan urusan Bapak," sahut Echa dengan wajah dibuat seramah mungkin.
"Kau bahkan memanggilnya dengan nama saja," ucap Endo sembari melempar pandangannya ke sembarang arah. "Sedekat itu kah kalian?" tanyanya kemudian.
"Maaf, Pak. Itu pun juga bukan urusan Bapak," sahut Echa lagi sembari memaksakan wajah ramah.
"Berani sekali kau berucap tak soan seperti itu padaku," hardik Endo dengan ekspresi datar.
Echa diam tak menjawab, hanya bibirnya sibuk meniup-niup luka lecet di kedua kaki.
Perhatian Endo turut beralih ke arah kaki Echa. Entah mengapa tiba-tiba rasa kasihan dan tak tega terbit di dalam hatinya.
"Biar aku saja, Cha," gumam Endo dalam hati sembari menekan kuat-kuat keinginannya untuk turut meniup dan memberikan kenyamanan pada luka lecet di kaki gadis itu.
Echa terus saja meniup lembut luka-luka di kakinya tanpa memperdulikan Endo yang masih terus berdiri di tempatnya, seolah laki-laki itu tak pernah ada di sana.
"Makanya, tidak perlu sok-sok'an memakai heels segala jika memang tak terbiasa." Kata-kata seperti itu lah yang akhirnya keluar dari mulut Endo dengan wajah yang berubah menjadi berekspresi kesal.
__ADS_1
"Hei, apa urusannya dengan Bapak?" hardik Echa dengan kepala mendongak memandang heran ke arah bosnya.
"Tentu saja ini menjadi urusanku. Kau adakah sekretaris pribadiku," sahut Endo sekenanya.
"Apa hubungannya kakiku yang lecet dengan posisiku sebagai sekretarisnya?" gumam Echa pelan, nyaris tanpa suara.
"Kau bahkan memakai dress dan mengurai rambutmu untuknya," ucap Endo lagi. "Menggelikan!" lanjutnya dengan seringai mengejek.
Echa kembali mendongak, menatap kesal ke arah Endo yang memandang ke sembarang arah.
"Sini, bawa sini tasmu!" seru Endo akhirnya.
Endo merebut sling bag kuning dari pangkuan Echa. Dibukanya tas itu, kemudian mengacak-acaknya sesaat.
"Pakai!" perintah Endo sembari mengeluarkan ikat rambut hitam dari dalam slingbag milik gadis di hadapannya itu.
"Apa maksudnya ini, Pak?" tanya Echa tak mengerti.
"Pakai dan ikat rambutmu! Atau tidak akan memberikan nilai untuk program magangmu!" ancam Endo dengan wajah serius.
"Apa hubungan mengikat rambut dengan nilai magang," gumam Echa pelan, sementara tangan kanannya meraih ikat rambut dari tangan Endo.
"Aku mendengarnya," sahut Endo datar.
Echa melengos dengan mulut mencibir. Tanpa berkata lagi, segera diikat rambut sepunggungnya itu dengan asal. Hingga beberapa rambut nakal masih tampak menjuntai, lolos dari ikatan yang dibuat oleh gadis itu.
Rahang Endo mengeras menatap hasil karya gadis di hadapannya itu. "Kenapa sama saja? Hah, brengsek!" umpatnya dalam hati.
"Dengar, kau hanya boleh mengurai rambutmu itu di depanku saja," ucap Endo kemudian. "Selebihnya tidak!"
Echa mendongak, memandang tak mengerti ke arah bosnya yang aneh itu.
"Karena saya adalah sekretaris Bapak?" tanya Echa kemudian.
"Ya, karena kau adalah sekretaris pribadiku."
"Apakah itu bagian dari kontrak kerja?"
"Akan menjadi bagian dari kotrak kerja," sahut Endo cepat. "Dan sebagai syarat agar kau bisa mendapatkan nilai magangmu."
Tiba-tiba Echa menegakkan tubuhnya yang sedikit membungkuk, merasa jengah dengan ucapan bosnya itu.
"Ya, terserah Bapak saja," gumam Echa akhirnya, dengan acuh tanpa minat.
Echa sedikit beringsut, membenarkan posisi duduknya hingga terasa lebih nyaman.
"Kalian berkencan?" tanya Endo seraya menekan egonya mati-matian, menanyakan sesuatu hal yang sebenarnya memang bukan urusannya.
"Seperti yang Bapak lihat," jawab Echa sekenanya.
Rahang Endo mengeras mendengar jawaban gadis itu. Dikepalkan kedua tangannya kuat-kuat untuk mengusir emosi yang mulai berkecamuk.
"Ayo, aku akan mengantarmu pulang," ucap Endo kemudian.
"Tidak usah, Pak. Samuel membawa mobil," tolak Echa terang-terangan.
Kedua tangan Endo kembali terkepal erat, sementara telinganya terasa panas mendengar gadis di hadapannya itu memanggil Samuel hanya dengan nama saja.
"Akan terlalu lama menunggu Samuel kembali," ucap Endo ngotot. "Lagi pula bagaimana kau akan berjalan dengan kondisi kaki lecet seperti itu."
"Bukankah sudah saya bilang, Samuel membawa mobil. Jadi saya tidak perlu berjalan kaki seperti yang Bapak pikirkan." Echa tak kalah ngotot.
"Aku bisa menggendongmu. Kau tak perlu berjalan hingga ke tempat parkir." Endo bersikeras.
"Kalau masalah itu, Samuel pun juga tidak akan keberatan menggendongku," sahut Echa menandingi.
"Owh, jadi kau lebih senang berada dalam gendongan laki-laki itu?" tanya Endo yang terdengar seperti tuduhan.
"Apakah di dalam gendongan Bapak akan terasa lebih baik?!" serang Echa dengan emosi yang benar-benar telah berada di ubun-ubun.
Endo diam memejamkan mata. Kedua tangannya terkepal erat dengan rahang mengeras dan gigi gemeletuk menahan emosi. Ingin rasanya meninju sesuatu untuk melampiaskan kobaran api di di hatinya saat ini.
Echa memandang lekat-lekat atasannya yang telah benar-benar menguras kesabaran itu. Namun perlahan rasa sesal merayapi hatinya, melihat bagaimana wajah atasannya itu sekarang. Ia tahu betul bahawa saat ini laki-laki itu berada dalam mode emosi tingkat dewa, dan semua itu karena dirinya. Namun gadis itu pun juga tahu bahwa saat ini laki-laki di hadapannya itu sedang berusaha keras untuk menahan luapan emosinya.
"Ayolah, Pak. Mengertilah," Echa mulai frustasi dengan kekonyolan bosnya. "Aku pergi bersama Samuel, bagaimana mungkin aku meninggalkannya begitu saja dan pulang dengan Bapak?" lanjutnya, terdengar jengah dan semakin kesal. "Lagi pula, memang di mana salahnya jika dia yang menggendongku?" lanjutnya. Kali ini hanya dengan gumaman yang tak terdengar jelas. Echa benar-benar tak mengerti mengapa atasannya yang biasanya terlihat cool dan sering mengumbar senyum, tiba-tiba menjadi begitu menyebalkan sore ini.
"Maaf, terlalu lama, ya?" Tiba-tiba Samuel muncul dengan kantong plastik di tangan. "Maaf jadi merepotkan Anda, Pak Endo," lanjut Samuel dengan sopan.
Endo diam, berbalik, kemudian segera pergi tanpa menjawab.
"Akan kubersihkan lukamu dulu," ucap Samuel setelah memandang kepergian atasannya itu sekilas.
"Ya."
"Tahan ya, mungkin akan sedikit perih."
Masih terdengar jelas di telinga Endo, percakapan kedua orang yang ditinggalkannya dengan perasaan kesal itu.
BERSAMBUNG ...
__ADS_1