
Endo berdiri diam di depan jendela lantai dua rumahnya. Pandangan dua bola mata biru lautnya melayang jauh menembus gelap malam menuju angkasa luas. Dari kedua netranya tampak jelas rembulan bersinar terang. Bintang pun juga berpijar menunjukkan kerlap-kerlip yang menyilaukan mata. Namun entah mengapa keindahan itu tak mampu menghibur rasa hatinya yang tengah gundah gulana.
Masih segar dalam ingatan bagaimana sakitnya ketika sebuah kalimat sakral meluncur dari bibir mungil sang kekasih sore tadi. Saat gadis itu menolak untuk meneruskan hubungan mereka.
"Lupakan Echa, Kak." Hanya kalimat itu yang terucap setelah gadis itu terdiam cukup lama dalam dekapan kedua lengan kokohnya.
"Tidak, Cha. Aku tidak akan sanggup," tukas Endo dengan suara lembutnya. Ada getaran yang kentara di sana.
"Harus, Kak!" sahut Echa cepat.
"Tidak, Cha. Aku sangat mencintaimu. Tak ada gadis lain yang kuinginkan selain dirimu," sanggah Endo di sela sesak yang terasa begitu menyiksa di dalam dada.
"Tapi ada janin tak berdosa di antara kita bertiga," balas Echa lemah. "Kakak harus bertanggung jawab atas janin itu," lanjutnya dengan berlinang air mata.
"Ini semua hanya jebakan, Cha. Aku dijebak olehnya."
"Jebakan yang akhirnya sengaja atau tidak telah membuahkan sebuah benih di dalam perut wanita itu," sahut Echa cepat. Terdengar nada sinis di sana.
"Cha, sumpah demi apa pun! Aku tak akan bisa melakukan hal seperti itu selain dengan dirimu."
"Tapi kenyataan berbicara lain, Kak," tukas Echa cepat. "Lupakan Echa. Mereka berdua lebih membutuhkan kehadiran Kakak."
"Tidak, Cha. Tidak! Kita berdua hanya butuh waktu untuk menelaah semua ini."
"Pergilah, Kak," bisik Echa parau. "Jangan pernah mencari Echa lagi, karena di antara kita berdua sudah tidak ada hubungan sama sekali."
"Baiklah, Cha. Aku pergi," putus Endo akhirnya. "Kau hanya butuh waktu untuk sendiri. Kita akan membicarakan hal ini besok setelah kau bisa berpikir jernih, bukan hanya berusaha mengusirku terus-menerus dari hatimu. Sedangkan kita berdua tahu itu tidak akan berhasil."
Tiba-tiba lamunan Endo menjadi buyar saat terdengar suara langkah kaki mendekat. Tubuh tegapnya beringsut, berbalik menghadap ke arah datangnya suara. Seorang wanita cantik sedang berjalan pelan dengan koper besar terseret di tangan kiri.
"Sedang apa kau di sini?" tanya Endo dengan tatapan dingin.
Agaknya wanita yang tengah hamil muda itu tak menggubris pertanyaan yang terlontar untuknya. Ia terus berjalan dan menghentikan langkah kakinya tepat di hadapan sang tuan rumah.
"Aku harus memastikan janin ini berkembang baik dan sehat sebagaimanamestinya. Satu-satunya tempat yang aman dan nyaman untuknya tak ada lain hanyalah rumah ini." Rosella menjawab dengan pandangan tepat ke arah Endo. Tak lupa seulas senyum manis disematkan di bibir penuhnya.
"Terserah kau saja." Endo berucap dingin tanpa minat. Sepertinya senyuman milik wanita itu tak mampu menyentuhnya sedikitpun.
"Kau tidak bisa mengusirku karena kau akui atau tidak, bayi ini tetap darah dagingmu."
Endo tak menghiraukan ucapan dan keberadaan Rosella. Ia segera berlalu meninggalkan wanita itu yang masih tetap berdiri dengan tangan kiri menggenggam erat pegangan koper besarnya.
"Aku tahu kau tidak menyukaiku." Rosella kembali bersuara, membuat Endo menghentikan langkah kakinya seketika. "Tapi aku akan menahannya dan berpura-pura bahwa kau sangat mencintaiku. Demi anak kita."
Endo berbalik menghadap Rosella, kemudian berjalan perlahan menghampiri wanita cantik berambut sepunggung itu.
"Aku tahu semua ini adalah bagian dari muslihatmu. Aku hanya perlu membuktikannya saja." Endo berucap dingin dan datar, nyaris tanpa emosi.
"Apa aku harus membuktikan bahwa ini adalah anak kita berdua?" tantang Rosella.
"Tak perlu repot-repot," tukas Endo sembari melirik wajah Rosella. "Aku bahkan sudah menikah dengan Echa sebelum kau bisa membuktikannya.
"Kenapa kau bersikap seperti ini padaku?" tanya Rosella dengan kedua mata mulai memanas.
"Menurutmu aku harus bersikap seperti apa?"
"Kau harus tahu, aku sangat mencintaimu, Endo. Aku mencintaimu dengan seluruh jiwa dan ragaku."
"Aku tahu."
Sesaat Rosella tersentak mendengar ucapan singkat yang terlontar dari mulut Endo.
"Lalu mengapa kau diam saja seolah tak mengerti apa-apa? Membiarkanku merana dengan kisah cintaku yang bertepuk sebelah tangan?" tanya Rosella dipenuhi rasa heran.
"Kau berharap aku membalas perasaanmu itu, sementara kau sendiri pun tahu siapa wanita yang kucintai? Kau konyol, Rosella!"
"Bagaimana bisa kau bicara sekejam itu padaku setelah kuserahkan semua milikku padamu, Endo?!" sentak Rosella sembari menahan sakit di hati sebisa mungkin. Tanpa sadar cairan bening telah menetes di kedua pipi mulus tanpa cacatnya.
"Milikmu?"
Rosella diam tak menjawab. Hanya wajah sayunya tertunduk menikmati sakit yang tiada tara di dalam hati. Sementara air mata terus menganak sungai di kedua pipi.
"Kau menyesal pernah menolongku?" tanya Rosella setelah lama tercipta keheningan di antara keduanya.
"Menyesal?" Sebuah seringai mengejek terlukis di bibir Endo. "Aku sudah tahu siapa kau sejak lama," lanjutnya. "Aku membiarkanmu tetap di dekatku karena ingin tahu apa tujuanmu sebenarnya selain proyek hunian di luar pulau itu," lanjutnya lagi.
__ADS_1
Tubuh Rosella menegang mendengar ucapan Endo.
"Membiarkanmu tinggal di rumahku ... tentu saja aku tahu resiko apa yang mungkin akan kutanggung."
Endo menatap lekat-lekat dua manik mata berbingkai bulu mata lentik di hadapannya itu.
"Akhirnya aku tahu ... kau menginginkanku. Aku hanya tak menyangka kau memilih menggunakan cara serendah ini untuk mendapatkanku."
Endo langsung berbalik dan melangkah pergi setelah menyelesaikan kalimatnya. Meninggalkan Rosella yang hanya bisa terdiam kaku di tempatnya.
"Kau jahat, Endo," gumam Rosella pelan, nyaris tanpa suara. "Kau kejam, Endo Devon Atmaja."
___
"Apakah dia belum datang?" tanya Endo dengan wajah panik dan gelisah.
Novera mendongak, memandang heran ke arah atasannya.
"Selamat pagi, Pak Endo." Akhirnya Novera memutuskan untuk menyapa atasannya itu seperti biasa.
"Semalam aku datang ke apartemennya ... kosong. Tadi pagi juga sama. Mungkin kau tahu dia bersembunyi dimana?" Laki-laki itu sama sekali tak berminat untuk menjawab sapaan sekretaris pribadinya.
Novera menatap dengan wajah semakin penuh keheranan.
"Kemarin aku datang ke apartemennya dan memastikan jika dia baik-baik saja. Tapi dia mengusirku dan tak mau bicara denganku sama sekali. Jika itu maksud dari tatapanmu," ucap Endo dengan rasa bersalah terlukis jelas di wajah.
Novera menghela nafas sesaat. Ia merasa masalah atasannya kali ini benar-benar rumit. Memangnya wanita mana yang bisa memaafkan perselingkuhan pasangannya yang hampir menikah hanya dalam hitungan hari lagi? Ditambah lagi penghianatan itu juga telah menghadirkan janin yang tak bersalah.
"Setidaknya kemarin aku masih melihatnya." Kedua bola mata Endo memandang nanar ke sembarang arah. "Dan aku tahu dia dalam kondisi tak baik-baik saja."
Ya, kemarin sepulang jam kantor Novera pun juga menyempatkan diri berkunjung ke apartemen gadis itu. Dia melihat dengan mata kepalanya sendiri betapa hancur dan menyedihkannya gadis itu.
"Dia meminta waktu padaku untuk menenangkan diri. Kupikir itu adalah hal terbaik untuknya," ucap Endo sendu dengan kedua mata menerawang. "Saat ini aku pun belum memiliki sesuatu untuk kutunjukkan padanya."
"Kemarin Echa bercerita bahwa pemilik apartemen memintanya angkat kaki jika tak bisa membayar uang sewa dalam tiga hari," ucap Novera lemah. "Sehubungan dengan masalah yang terjadi antara dia dengan Anda, mungkin dia memang memutuskan untuk meninggalkan apartemen itu."
Saat sedang berbicara dengan Novera, tiba-tiba ponsel Endo berbunyi. Segera diangkatnya panggilan itu saat nama Rudi tertera di sana.
"Ya," sapa Endo singkat.
Hanya satu kalimat dan panggilan langsung terpurus begitu saja.
"Siapkan penerbanganku ke Jakarta saat ini juga, Nov!" perintah Endo tegas. "Kosongkan jadwalku tiga hari ke depan!"
Laki-laki itu pun langsung beranjak pergi tanpa menunggu jawaban dari mulut sekretaris pribadinya.
___
"Akhirnya datang juga," sapa Nida begitu Endo turun dari mobil. Wanita itu tengah berjalan dari pintu depan menuju mobil yang sudah terparkir rapi di halaman rumah. "Baru saja datang?"
"Iya, Tante," jawab Endo sembari mengulurkan tangan kanannya.
"Dari kemarin ,setiba di sini Echa murung terus. Dia mengurung diri di kamar. Tiap Tante tanya apa ada masalah, dia selalu geleng."
Nida menatap kedua netra biru Endo, seolah mencari-cari jawaban atau sekedar petunjuk di sana.
"Apa kalian bertengkar?" tanya Nida akhirnya.
"Hehehe ... iya, Tante," jawab Endo sesantai mungkin. "Biasalah, namanya juga pasangan yang saling mencintai," lanjutnya dengan senyum jenaka memghias bibir.
"Tapi sebentar lagi kalian akan menikah, masa iya masih bertengkar seperti ini juga. Mana Echa malah sampai kabur ke sini segala. Pasti bukan masalah sembarangan. Sepertinya masalah kalian begitu pelik." Nida menatap lekat ke arah Endo. Tampak jelas kekhawatiran di wajah cantik itu.
"Orang bilang semakin mendekati hari H pernikahan maka ujiannya akan semakin sulit, Tante," sahut Endo dibuat setenang mungkin. "Percayalah, saya sangat mencintai Echa dan tak pernah sekali pun terlintas dalam pikiran saya untuk menyakitinya."
"Ya, Tante harap hubungan kalian akan segera membaik. Masalah kalian segera selesai dan hanya akan menyisakan kebahagiaan untuk semuanya."
"Aamiin. Terimasih, Tante."
"Ya sudah, sana masuk. Echa sedang melamun di kamar," ucap Nida. "Dari kemarin belum makan. Tapi bagus juga sih. Rumah ini jadi tetap tenang tanpa tingkah polahnya karena dia tidak bertenaga."
Tak urung Endo tersenyum juga mendengar kalimat terakhir Nida.
"Ya sudah, Tante berangkat dulu ya. Banyak pekerjaan di butik."
"Iya, Tante. Hati-hati."
__ADS_1
Nida beranjak masuk ke dalam mobil yang melaju meninggalkan halaman rumah beberapa detik kemudian. Sementara Endo juga dengan segera melangkah masuk ke dalam rumah mewah milik calon mertuanya itu.
"Selamat siang, Mister," sapa Marni sopan.
Asisten rumah tangga yang satu ini memang sudah terbiasa memanggil calon menantu di rumah ini dengan sebutan seperti itu sejak pertama kali laki-laki berwajah bule itu menginjakkan kaki di rumah ini.
"Nyonya baru saja berangkat ke butik. Kalau Tuan malah sudah pergi ke kantor sejak tadi pagi."
"Saya ke sini ada perlu dengan, Echa, Bi."
"Kalau Non Echa, sedang di kamar, Mister. Dari kemarin tidak mau ke luar kamar. Kata Nyonya sih sedang ada masalah atau apa begitu."
Endo tersenyum mendengar laporan yang terlontar dari mulut wanita paruh baya di hadapannya itu.
"Iya, Bi," sahut Endo kemudian. "Tolong Bibi siapkan makan untuk Echa ya. Nanti Bibi antar langsung ke kamarnya saja."
"Baik, Mister."
Keduanya pun segera beranjak pergi. Marni segera ke dapur menyiapkan apa yang calon majikannya inginkan. Sementara Endo naik ke lantai atas secepat kilat untuk menemui pujaan hatinya. Langkah kaki Endo terhenti begitu sampai di ujung anak tangga paling atas. Ia tak tahu kamar mana yang harus didatanginya. Namun sesaat kemudian Endo tersenyum saat melihat tulisan "zona cewek" warna pink tergantung di salah satu daun pintu. Endo pun segera melangkah mendekat.
Tangan kanan Endo terulur. Diketuknya daun pintu bercat putih itu pelan.
"Masuk, Ma. Tidak dikunci." Sebuah suara terdengar sangat lemah dari balik pintu.
Endo segera membuka pintu dan masuk ke dalam nyaris tanpa suara.
"Cha," sapa Endo sembari berjalan mendekat. Sengaja tak ditutupnya kembali daun pintu agar nanti Marni tidak kesulitan saat datang membawa nampan berisi makanan di kedua tangannya.
Echa diam tak menyahut. Namun tubuhnya sempat menegang akibat mendengar suara yang sangat familiar di dalam hati dan telinganya.
"Aku mencarimu," ucap Endo singkat. "Apa kabar?" Endo kembali bersuara dan tetap tak mendapat jawaban dari Echa. "Ah, tak seharusnya aku menanyakan kabarmu saat aku sendiri tahu bahwa kekasihku ini sedang tidak baik-baik saja."
Sementara Echa bergeming, tetap asyik menatap ke luar jendela kamar. Kaki panjang Endo terayun pelan, mendekati jendela yang sama.
"Kau tahu? Aku sangat mencemaskanmu. Tapi kini aku bisa bernafas lega setelah mengetahui kau berada di sini. Setidaknya kau berada di sekeliling orang-orang yang sangat menyayangimu."
Endo berdiri tepat di belakang Echa tanpa banyak bergerak.
"Kudengar kau memutuskan untuk meninggalkan apartemen itu. Apa kau tidak ingin kembali?" tanya Endo konyol. "Ah, bukankah kita akan segera menikah ... setelah menikah tentu saja kau akan tinggal bersamaku. Hah, dasar tol*l!
Sesaat wajah Endo tertunduk, kemudian kembali mendongak, turut menikmati bunga warna-warni yang tengah bermekaran menghias bingkai jendela kamar Echa.
"Sayang, tahu kah kau ...? Kau tampak begitu cantik hari ini," ucap Endo tulus dengan pandangan mata tertuju pada pantulan wajah Echa di kaca jendela. "Rasa-rasanya ingin sekali aku memakanmu bulat-bulat," goda Endo. "Bolehkah?"
"Lupakan hubungan kita, Kak." Tiba-tiba saja Echa bersuara, meski tanpa meoleh sedikitpun. "Lupakan Echa. Lupakan kita pernah bersama."
"Apa maksudmu, Cha?" Tangan kanan Endo terulur, menyentuh pundak gadis yang tetap membelakanginya itu.
Walau kemarin Endo telah mendengar kalimat yang sama, namun Entah mengapa laki-laki itu tetap merasakan sakit yang luar biasa saat kalimat itu kembali terucap.
"Echa sudah muak dengan semua ini, Kak. Echa ingin semuanya berakhir di sini, di kamar ini, saat ini juga."
"Tapi, Cha ... kau tahu aku sangat mencintaimu," potong Endo cepat.
"Ya, dan Echa pun juga tahu bahwa Kak Endo sedang bermain-main dengan perasaan Echa."
Kumpulan titik-titik bening di kedua bola mata bulat itu mulai mendesak memaksa untuk ke luar.
"Tidak, Cha. Tidak! Itu tidak benar."
Kaki Endo melangkah maju dengan kedua tangan terulur, memeluk erat gadis rapuh itu dari belakang.
"Seperti itu lah kenyataan yang ada di depan mata kita, Kak," sahut Echa cepat. "Ada janin tak berdosa yang menanti pertanggunjawaban Kak Endo."
Satu titik bening menetes dari kedua mata berembun milik gadis manis itu. Menimbulkan guncangan hebat yang mampu membuat pundak gadis itu bergetar.
Merasakan getaran itu, Endo mendongak. Aliran air mata di kedua pipinya pipi mulus itu terlihat jelas oleh Endo dari pantulan kaca jendela di depan mereka.
"Kita akhiri sampai di sini, Kak. Kita jalani hidup masing-masing. Echa tanpa Kak Endo, dan Kak Endo tanpa Echa."
Dengan kasar Echa mengurai kemudian menghempas dekapan kedua tangan kokoh Endo, kemudian berlalu meninggalkan laki-laki yang berdiri kaku di tempatnya tanpa menoleh sedikit pun.
___
BERSAMBUNG ...
__ADS_1