LOCK DOWN

LOCK DOWN
Part 2. Sosok dari Masa Lalu


__ADS_3

Malam belum begitu larut. Rebecca turun perlahan dari live music stage diiringi suara tepuk tangan riuh rendah dari para penikmat suara merdunya. Dua single lagu yang sangat akrab di telinga berhasil ia bawakan dengan apik malam ini.


Rebecca, nama panggung yang sudah sangat familiar bagi para pengunjung Matrix Cafe, salah satu kafe mewah kelas atas di kota ini. Tak banyak orang yang tahu siapa dan bagaimana kehidupan pribadi sosok wanita berparas cantik ini.


Sebagai pengisi acara tetap, Rebecca bukanlah nama yang asing di kalangan para pengunjung. Secara fisik, dia adalah sosok wanita cantik dengan bentuk tubuh proporsional yang tidak perlu diragukan lagi talent-nya dalam hal tarik suara. Suaranya merdu dan sungguh nikmat didengar. Seharusnya dengan suara sebagus itu dia sudah memiliki beberapa single atau album sendiri. Namun ternyata ia lebih senang memperdengarkan suara emasnya di sini. Entahlah.


Wanita berkulit putih bersih ini terkenal dengan arogansinya yang tidak pernah mau dekat dengan pengunjung, bahkan dengan sesama pengisi acara lain sekalipun. Namun herannya, begitu banyak pengunjung yang mengidolakan dan menantikan penampilannya.


Adakah orang yang tidak suka dengannya? Banyak! Iming-iming segepok uang yang dijanjikan para lelaki yang ingin berkenalan lebih jauh pun selalu mental di hadapan wanita itu. Akhirnya mereka hanya bisa menelan ludah. Dan kalian pikir, memangnya siapa yang berani menggagu milik Lucas Atmawijaya?


Malam ini Lucas tengah mengadakan pesta untuk pembukaan sebuah restoran mewah atas nama dirinya. Ya, dia memang sosok pemuda sukses bertangan dingin yang menjadi incaran para wanita. Memiliki hotel dan restoran mewah di beberapa kota pada usia duapuluh delapan tahun, bukankah itu bisa memasukkannya dalam kategori laki-laki sukses di usia muda?


Menyebalkannya, Rebecca memiliki hubungan yang sangat dekat dengan laki-laki bertangan dingin itu. Apakah dia adalah kekasih Lucas? Entahlah, tak ada seorang pun yang tahu. Agaknya, Rebecca memang ingin dikenal atas talenta yang dimiliki, bukan karena hubungannya dengan Lucas. Namun sepertinya memang begitu, mereka memiliki hubungan khusus. Sehingga tak ada satu pun orang yang berani berkutik jika berhadapan dengan wanita bermulut pedas itu.


Rebecca masih berjalan dengan langkah pelan menjauh dari live music stage. Mini dress merah dipadu dengan boots hitam di atas lutut dan sarung tangan berbentuk jaring menjadikan wanita itu tampak feminin dan fighter dalam waktu bersamaan.


Wanita itu berjalan pelan menuju salah satu meja di sudut kafe. Rambut emas yang dibiarkan tergerai menutupi pundak yang terekspos tampak berkilau indah diterpa cahaya lampu penerangan. Jangan lupakan, bibir mungil yang disapu dengan lipstik merah gelap, menjadikan dia tampak semakin memikat.


"Oh, shit!" maki Rebecca saat tanpa sengaja ia menabrak seorang laki-laki yang tengah berdiri dengan segelas minuman di tangan kiri. Celakanya minuman itu tumpah dan mengenai bagian depan bajunya.


"Apa kau tak punya mata?!" Bukan Rebecca namanya, jika ia melepaskan pembuat masalahnya begitu saja.


"Maaf, Nona," ucap laki-laki itu masih dengan gelas minuman di tangannya.


Gelas itu tampak kosong karena seluruh isinya telah tertumpah ke baju Rebecca. Sementara gadis itu menunduk kesal menatap dress kesayangannya yang basah dan tercium aroma manis serta legit dari sana. Padahal setelah ini, ia masih memiliki acara lagi dengan beberapa temannya. Sedangkan ia tak membawa baju lain sebagai ganti.


"Maaf, maaf!" hardik Rebecca. "Kau pikir untuk apa harus ada polisi jika semua urusan bisa selesai hanya dengan permintaan maaf saja?!" semburnya lagi sembari meraih sekotak tisu di meja terdekat.


Ya Tuhan, Rebecca ... apa kau berencana untuk memenjarakan laki-laki ini hanya karena menumpahkan minuman ke bajumu?!


"Tapi sedari tadi aku berdiri di sini, Nona. Kau yang menabrakku," ucap laki-laki itu tenang.


Hei, bagaimana mungkin si pembuat kacau ini bisa berbicara setenang itu setelah melakukan kesalahan pada Rececca? Semua orang tahu, wanita cantik di hadapannya itu adalah kesayangan pemilik tempat ini. Apakah laki-laki itu memang terlalu bodoh untuk sekedar menentukan bagaimana seharusnya bersikap pada milik Lucas Atmawijaya?


"Hei, kau berani menyalahkanku?!" hardik Rebecca sembari mendongak, menatap tajam ke arah laki-laki yang tengah bergerak mengambil kotak tisu di meja yang lain.


Kalian pikir Rebecca mau mengakui kekacauan itu sebagai kesalahannya? Nonsens! Bahkan untuk sekedar memaafkan saja merupakan hal yang mustahil baginya untuk malam ini.


Beberapa pengunjung mulai mendekat. Tak sampai satu menit Rebecca dan laki-laki itu telah berada di tengah-tengah kerumunan para pengunjung yang penasaran dengan apa yang telah terjadi di antara keduanya.


"Maaf, Nona. Aku tidak bermaksud mengotori gaunmu, apa lagi menyalahkanmu. Baiklah, aku akan membantumu membersihkannya."


Tangan laki-laki itu terulur dengan gulungan tisu di tangan.


"Dengan tangan kotormu itu?" sahut Rebecca sembari menepis tangan laki-laki di hadapannya itu dengan kasar. "Kau hanya akan mengotori dan merusak gaunku!" hardik Rebecca lagi. Sementara ia menunduk fokus pada tangan yang sibuk membersihkan noda pada bajunya sendiri dengan segulung tisu.


"Baiklah, aku akan menggantinya. Berapa yang harus kubayar? Aku akan mentransfernya sekarang."


Mendengar ucapan merendahkan dari laki-laki itu, sontak telinga Rebecca memanas.


"Lancang sekali!" hardik Rebecca penuh emosi. "Kau pikir aku semiskin itu, hingga harus mengemis padamu untuk mengganti semua ini?!"


Rebecca mendongak, menatap laki-laki di hadapannya yang tengah menunduk ke arah layar ponsel, mengetuk aplikasi untuk melakukan transaksi pengiriman uang melalui e-banking.


"Ya Tuhan, Nona. Kau sungguh sangat merepotkan," ucap laki-laki itu masih dengan intonasi tenang. "Sekarang katakan apa maumu," lanjutnya.


Akhirnya laki-laki itu pun kembali menutup aplikasi yang telah dibukanya dan memasukkan ponselnya kembali ke dalam kantong. Ia pun turut memandang ke arah wajah wanita di hadapannya itu hingga tatapan mereka saling bertemu.


Detik itu juga, Rebecca terhenyak dalam posisi berdirinya. Bagai telah terserang aliran listrik ribuan volt, jantung wanita itu berdetak kencang dengan rasa hangat mulai menjalari seluruh tubuh.

__ADS_1


Kedua matanya membulat sempurna menatapa tajam ke arah dua netra biru yang terpancar bening di hadapannya. Bibirnya kelu, tak mampu berucap. Ia terpaku dalam diam di tempat untuk waktu yang cukup lama.


Dia mengenali laki-laki itu. Ya, Rebecca mengenali laki-laki yang tengah berdiri di hadapannya itu. Bukan hanya kenal, bahkan mereka pernah saling menyayangi, saling berbagi, dan saling mengisi hati satu sama lain.


Ya, tidak salah lagi. Itu memang benar-benar dia.


"Kak, Endo ...," gumam Rebecca tertahan. Hanya kalimat itu yang mampu terucap, tidak yang lain.


Terlihat jelas olehnya, laki-laki di hadapannya itu tersentak saat ia menyebut namanya.


"Echa ...."


Tanpa menunggu aba-aba, Rebecca segera berbalik dan bergegas menerobos pergi meninggalkan kerumunan yang melingkari dirinya dengan Endo.


Rebecca terus berjalan cepat, bahkan setengah berlari menjauh dari para pengunjung yang telah kembali pada aktifitas dan kesenangan masing-masing.


"Cha, Echa ...." Terdengar jelas di telinga, laki-laki itu berjalan cepat mengejar sambil memanggil namanya.


Dengan langkah lebar Rebecca menyelinap dan bersembunyi di balik pintu dapur. Mata bulatnya mengintip melalui celah kecil. Tampak jelas olehnya Endo yang tengah celingak-celinguk mencari keberadaannya.


Gagal dengan pencariannya, Endo segera beranjak pergi meninggalkan tempat semula ia berdiri.


Sesaat kemudian, setelah yakin keadaan telah aman, perlahan Rebecca melangkah keluar dari persembunyiannya. Kakinya pun segera terayun pergi meninggalkan keramaian pesta yang baru saja dimulai.


___


Tepat pukul empat pagi, Endo bertolak dari tempat dimana Lucas menggelar pesta mewahnya. Pesta pembukaan restoran itu sendiri telah usai sejak pukul sepuluh lalu. Namun bagi Endo dan teman-teman, pesta yang sebenarnya justru baru saja dimulai setelah itu. Kapan lagi empat sekawan itu bisa berkumpul bersama jika bukan pada peristiwa semacam ini?


Lucas Wiratmaja, pebisnis muda yang memiliki beberapa hotel dan restoran mewah di beberapa kota. Dikenal sebagai laki-laki bertangan dingin yang bisa melakukan apa pun pada siapa pun yang berani mengusik kesenangannya.


Noah Putra Subrata, anak tunggal dari pengusaha meuble yang kwalitas produksinya telah dipercaya di berbagai belahan dunia. Dia lah donjuan para gadis-gadis yang merupakan pewaris satu-satunya atas segala sesuatu yang dimiliki oleh orang tuanya.


Endo Devon Atmaja, seorang yatim piyatu yang memperoleh kesuksesan dalam bisnis properti atas dukungan kakak satu-satunya.


Keempatnya telah bersahabat semenjak duduk di bangku STM. Meskipun mereka telah sibuk dengan pekerjaan dan urusan masing-masing, namun mereka tetap menjalin komunikasi hingga kini.


Lima menit lewat dari pukul lima, mobil sport biru milik Endo melewati pintu gerbang sebuah rumah di pinggiran kota. Rumah bergaya klasik yang terlihat asri dengan berbagai macam bunga yang terawat dengan baik di sebelah kiri halaman. Di antara bunga-bunga indah tersebut terdapat sebuah kolam ikan. Tidak begitu luas, namun pilihan tata desainnya menjadikan kolam tersebut tampak cantik dengan beberapa ekor ikan koi warna-warni yang berenang hilir mudik menjelajahi habitatnya


Endo segera turun setelah berhasil memarkir mobilnya di tepi kanan halaman yang memang didesain tidak begitu luas tersebut. Sesaat kemudian tangan kanannya terulur melewati jendela mobil. Diraihnya smart phone hitam miliknya dari atas dashboard, kemudian segera membuat panggilan.


"Tut .... Tut .... Tut ...." Tak ada jawaban.


"Tut .... Tut .... Tut ...." Tak ada respon.


"Tut .... Tut .... Tut ...." Tak ada tanggapan.


Endo mengecek status pada aplikasi chatting-nya sebelum melakukan panggilan lagi. Tertera keterangan di sana bahwa Rudi baru saja online sekitar sepuluh menit yang lalu.


"Tak mungkin dia tertidur secepat itu," gumam Endo pelan.


Dibuangnya puntung rokok dari jepitan jari kirinya dengan asal, sebelum melangkah menuju pintu masuk. Beberapa detik kemudian, kaki panjang laki-laki bersetelan jas navy itu telah berdiri tegak tepat di depan pintu masuk.


Tanpa aba-aba, Endo langsung menggedor pintu di hadapannya itu dengan sangat kencang. Setelah sepuluh detik berlalu ponsel Endo meraung, pertanda ada panggilan masuk.


Endo pun menghentikan gedorannya, dan segera mengangkat panggilan telpon dengan seringai di bibir.


"Hentikan, Br*ngs*k! Atau akan kubunuh kau sekarang juga!" terdengar sura kencang penuh emosi dari seberang telepon.


Endo kembali menyeringai, kemudian mengakhiri panggilan itu.

__ADS_1


Rudi menyambar kaos pada standing hanger di balik pintu dan buru-buru keluar dari kamar dan langsung menuju pintu depan.


"Br*ngs*k! Apa-apaan ini?!" protes Rudi penuh emosi, setelah kembali menutup pintu di belakangnya.


"Aku ada sedikit keperluan denganmu," sahut Endo dengan wajah tanpa dosa.


"Tidak bisakah kita bicarakan nanti saja?" Rudi menatap kesal dari tempatnya berdiri. "Kau mengganggu aktifitas pagiku!"


"Hahaha ... kau bisa melanjutkannya nanti," saran Endo tanpa rasa bersalah.


"Kau pikir Mia akan mau mengerti? Gara-gara kelakuan bar-barmu ini, sudah bisa kupastikan dia akan mengacuhkanku hingga seminggu ke depan. Sial!" umpat Rudi kesal.


Endo memamerkan seringai jahat di bibirnya. Sepertinya akan menyenangkan menggoda Rudi yang telah terganggu di tengah aktifitas ranjangnya.


"Hei, sudahlah. Kau tidak perlu menunjukkan wajah sebahagia itu padaku," tukas Endo tetap dengan seringai jahil di sudut bibirnya.


Amarah Rudi langsung naik ke ubun-ubun. Namun berusaha diredamnya kembali mengingat lawan bicaranya saat ini adalah bos yang selama ini menjamin kelangsungan keuangannya. Bahkan karena kebaikan bosnya itu juga lah sekarang dia memiliki dua kafe atas namanya sendiri.


"Baiklah, tidak bisakah kita bicarakan nanti di kantor saja?" usul Rudi sembari berusaha mati-matian menekan emosinya. "Tuan Endo Devon Atmaja?" lanjut Rudi dengan penuh penekanan di setiap kata.


"Permohonan ditolak," sahut Endo seenaknya. "Aku tidak bisa menundanya lagi."


"Katakan padaku, kau ada perlu apa?" tanya Rudi dengan wajah terpaksa.


"Mandi dan segeralah bersiap-siap. Kita langsung berangkat ke kantor."


"Apa? Baru semalam aku tiba di Solo, dan pagi-pagi buta begini kau langsung menyuruhku bekerja?"


"Hei, sudahlah. Biasa saja, tidak perlu menunjukkan uforia sebahagia itu. Aku bos yang baik, bukan?"


"Baik? Sinting, iya!" sungut Rudi menahan kesal.


"Hei, Endo," sapa Mia yang tiba-tiba saja sudah berdiri di belakang Rudi. "Tidak biasanya kau kesini pagi-pagi sekali. Ada hal yang penting?"


Wanita bersetelan santai itu tampak semakin cantik saja setelah berapa bulan tidak saling bertemu. Pagi ini wajahnya juga tampak sangat segar. Sepertinya dia memang baru saja selesai mandi.


"Ya, ada hal urgent yang harus segera kami tangani," sahut Endo. "Bagaimana kabarmu Mia? Lama tidak bertemu," tanya Endo kemudian.


"Aku baik-baik saja," jawab Mia. "Masuklah, aku akan membuatkan kopi untuk kalian."


"Terimakasih, tapi aku sedang buru-buru, Mia. Mungkin lain kali," ucap Endo dengan senyum manis di bibir.


"Sayang sekali," sahut Mia dengan tatapan kecewa.


"Sudahlah, cukup sampai di sini saja acara temu kangen kalian," potong Rudi. "Katakan padaku, ada apa?" tanyanya dengan wajah serius.


Melihat wajah kedua laki-laki itu berubah menjadi serius, Mia tahu diri dan segera pamit ke belakang.


Endo memandang ke sembarang arah tanpa meperdulikan wajah penasaran yang ditunjukkan Rudi.


"Aku melihatnya," ucap Endo singkat.


Rudi terhenyak mendengar kalimat singkat yang dilontarkan Endo. Ia tahu betul apa maksud dari ucapan bosnya itu.


"Ternyata dia yang mendekat ...," gumam Rudi sembari menatap sembarang arah.


Dia tahu hal itu pasti akan terjadi, namun tidak menyangka akan secepat ini dan dalam keadaan seperti ini.


BERSAMBUNG ...

__ADS_1


__ADS_2