LOCK DOWN

LOCK DOWN
Part 31. Kejutan untuk Echa 2


__ADS_3

Sorot mentari pagi memaksa menerobos masuk ke dalam kamar melalui celah tirai putih yang menutupi jendela kaca. Mengantarkan sinar hangatnya untuk menyinari si pangeran tidur.


Endo menggeliat pelan, kemudian memicingkan mata akibat sinar matahari yang mengenai tepat pada kedua netranya yang masih terpejam. Ia lebih memilih menoleh ke arah lain, menghindari silau yang dirasakan oleh kedua netra biru lautnya, kemudian melirik ke arah jam mungil berbentuk Hello Kitty di atas nakas. Ya, kalian benar, itu adalah jam weaker yang dipilihkan oleh Echa di toko jam depan kantor kemarin sore.


Pukul sepuluh tepat. Seharusnya Endo masih tertidur lelap saat ini, mengingat pukul lima pagi tadi ia baru menyelesaikan pekerjaannya.


Dengan malas-malasan laki-laki itu meraih ponsel yang tergeletak di sebelah jam weaker. Dibalasnya beberapa pesan masuk sebelum kemudian memeriksa room chat dengan kekasih hatinya.


[Echa: Pagi cinta. 06.05]


[Echa: Sudah bangun? 06.05]


[Echa: Ayo jogging di taman. 06.30]


[Echa: Sepertinya menyenangkan. 06.31]


Endo tersenyum, kemudian menekan simbol telepon untuk membuat panggilan. Namun diurungkan niatnya itu. Diketiknya beberapa kalimat balasan pada room chat dengan kekasihnya itu.


[Endo: Maaf, baru bangun. 10.07]


[Endo: Kau sedang apa, sayang? 10.08]


[Echa: Tumben Kak Endo bangun sesiang ini? 10.10]


[Echa: Sedang tidak enak badan? 10.10]


[Endo: Habis lembur semalaman. 10.11]


[Endo: Jam lima tadi baru ke luar dari ruang kerja. 10.11]


[Echa: Jangan terlalu memforsir diri, Kak. 10.12]


[Echa: Kesehatan Kak Endo jauh lebih penting. 10.13]


[Endo: Iya, sayang. 10.13]


[Endo: Kau sedang apa? 10.14]


[Echa: Baru selesai jogging. 10.14]


[Echa: Ini baru saja pulang. 10.14]


[Endo: Pulang? 10.15]


[Echa: Iya. Tadi jogging di taman. 10.15]


[Endo: Aku merindukanmu, sayang. 10.15]


[Endo: Kirimkan fotomu. 10.16]


[Endo: Aku ingin melihat wajah cantik kekasihku pagi ini. 10.17]


Dua menit kemudian, sebuah gambar masuk ke dalam room percakapan mereka. Tampak seorang gadis dengan wajah sedikit berpeluh tengah tersenyum manis memamerkan dagu terbelahnya. Kaos putih melekat sempurna di tubuh gadis itu. Sementara sebuah bandana dengan aplikasi bola bulu putih di kedua sisi menyerupai telinga kucing menjadikannya terlihat semakin imut dan menggemaskan.


Melihat foto itu, tanpa berlama-lama Endo langsung menekan ikon telepon.


"Halo, Kak. Ada apa?" Terdengar suara merdu menyambut pendengaran Endo.


"Apa-apaan itu? Apa yang kau pakai di tubuhmu?" semprot Endo.


"Memangnya apa yang Echa pakai?"


"Kao putih, celana pendek putih. Lalu apa lagi itu? Bandana putih?"


"Bukankah sudah Echa bilang, Echa baru selesai jogging. Memangnya Echa harus memakai apa kalau berolahraga? Kaftan?"


"Kau tampak begitu cantik dengan penampilan seperti itu."


"Lalu masalahnya dimana?"


"Ayolah, sayang ... kau tahu apa maksudku," keluh Endo. "Aku jadi semakin tergila-gila padamu."


"Itu masalah Kak Endo. Bukan masalah Echa." Suara Echa sudah mulai terdengar jengah.


"Hei, aku ini kekasihmu. Calon suamimu."


"Lalu apa mau Kak Endo?"


"Jangan pernah jogging di taman lagi tanpaku."


"Tadi Echa sudah mengajak Kak Endo, tapi Kakak tidak mau." Echa membela diri.


"Bukan tidak mau, sayang. Tapi tadi aku memang belum bangun."


"Lalu salah siapa jika begitu?"


"Ya pokoknya mulai sekarang jangan pernah lakukan apa pun di luar rumah sendirian tanpaku."


"Kenapa memangnya?"


"Kau selalu tampak cantik dalam style macam apa pun, sayang. Bagaimana jika mereka tertarik padamu dan menyukaimu?"


"Hah? Lebay!"


Echa langsung memutuskan panggilan dan meninggalkan Endo yang terbengong sendiri mendengar suara sambungan putus. Sedetik kemudian sebuah senyuman merekah di antara bibir laki-laki itu. Menyenangkan memang menggoda calon Nyonya Endo saat bangun tidur seperti ini.


Endo bangkit dari posisi duduknya, kemudian mengambil botol air mineral di atas nakas yang ternyata telah kosong. Ia pun memutuskan untuk ke luar dari kamar dan turun ke bawah.


"Selamat pagi, Tuan," sapa Anna saat melihat Endo masih acak-acakan hanya dengan kaos tanpa lengan dan celana pendek selutut.


"Iya, Anna. Selamat pagi," balas Endo sembari melempar senyum ramah ke arah asisten serba bisanya itu.


"Mau langsung sarapan saja, Tuan?"


"Tidak, nanti saja," tolak Endo dengan tangan kanan terulur membuka pintu lemari pendingin. "Aku masih ingin bermalas-malasan di kamar."


Ya, sepertinya dia memang masih ingin memejamkan matanya sebentar lagi.


"Apa Rosella sudah bangun?"

__ADS_1


"Belum, Tuan. Sepertinya semalam dia tidur terlalu larut."


Endo tak menyahuti ucapan Anna. Hanya tangannya saja yang tampak bergerak mengambil sebotol jus jeruk dari dalam lemari pendingin.


"Ada apa tuan?" Anna yang biasanya pendiam, memaksakan diri untuk bertanya.


"Apa?" Endo berbalik menghadap ke arah Anna dengan sebotol jus jeruk berada di tangan kanan. Memandang tak mengerti ke arah Anna.


"Sudah tiga hari ini saya perhatikan Tuan tampak berbeda."


"Berbeda? Apanya yang berbeda?" Endo meminum jus langsung dari botolnya.


"Tampak ... ceria dan penuh semangat. Apa Tuan sedang merasa senang?"


Endo kembali menenggak jusnya hingga tandas dan melempar botol kosong ke tempat sampah di sudut ruangan sebelum menjawab pertanyaan Anna.


"Mungkin akan lebih tepat jika kau bilang aku sedang dimabuk cinta."


Tangan Endo terulur merapikan kerah baju Anna yang sebetulnya memang sudah rapi dengan senyum menghias bibir.


"Kau tampak cantik sekali pagi ini Anna."


Endo segera berbalik dan melangkah pergi meninggalkan Anna yang terbengong dengan sikap absurd bosnya itu.


Sementara itu, di tempat lain Echa tengah menyibukkan diri dengan menyiram dan memotong beberapa daun kering dari tanaman yang menghias balkon rumahnya. Dia memang sengaja membuat taman mungil di balkon kamar yang tidak seberapa luas itu. Tempat itu lah yang menjadi lokasi favoritnya kala ingin melepas lelah dan penat hati.


Kali ini Echa ingin menambah dua pot bunga mawar merah di tamannya itu. Masih dengan kaos putih dan bandana yang sama, dilengkapi dengan apron, sarung tangan serta sekop kecil di tangan kanan, gadis itu memasukkan tanah dan pupuk ke masing-masing pot, kemudian menimbun akar dan sedikit pangkal batang mawar dengan tanah. Sebagai sentuhan terakhir, disiramnya mawar itu dengar air secukupnya.


Echa melepas sarung tangan kemudian duduk tenang dengan senyum puas menghias bibir. Menikmati secangkir teh manis buatan sendiri ditemani Chocho, boneka Hello Kitty jumbo berwarna cokelat.pemberian Endo, sambil menatap ke arah bunga-bunga yang tumbuh subur dan indah di bawah perawatan tangannya.


Setelah puas memandang hasil karya tanganya selama hampir satu jam, Echa segera memberesi seluruh peralatan berkebun. Setelah beres, dengan langkah ringan kedua kakinya terayun menuju wastafel.


"Drrrttt ... drrrttt ... drrrttt."


Tepat di saat sedang mencuci tangan, ponsel di dalam saku celana bergetar. Echa segera meraih ponselnya setelah mengeringkan kedua tangan dengan apron. Nama Tesha sebagai pemanggil tertera jelas di layar ponsel.


"Halo ...."


"Echa ...! Apa kabar? Lama tidak bertemu. Kangen ...!" Mendadak suara heboh Tesha mengisi ruang dengar Echa.


"Ih, berisik! Pelan sedikit kenapa?"


"Iya maaf. Karena terlalu senang akan bertemu denganmu, aku jadi seheboh ini."


"Bertemu? Apa maksudmu?"


"Tau tidak, sekarang aku sedang di mana? Di rumah Ismet ...!"


"Apa? Yang benar?" Kedua mata bulat Echa terbelalak tak percaya.


"Iya, Cha! Iya!"


"Wah ...! Berarti kita bisa bertemu dong ...!" Echa pun berteriak tak kalah heboh.


"Iya. Tidak sedang ada acara, kan?


"Tentu saja tidak! Untuk bertemu dengan kalian semua, meski ada ujian nasional sekalipun aku tidak akan perduli."


"Bagaimana kalau di apartemenku saja?" usul Echa penuh antusias.


"Boleh, boleh. Ah, tapi bukankah apartemenmu begitu jauh? Kita ambil tempat di tengah-tengah saja. Bagaimana?" Persetujuan Tesha berujung dengan ide yang ia usulkan sendiri.


"Hah, kenapa tidak langsung katakan saja bahwa kau malas untuk pergi ke luar dan menyuruhku mendatangimu di rumah Ismet?" tembak Echa sembari merutuk kesal.


"Hehehe ...." Tesha nyengir kuda di ujung sambungan, memamerkan deretan gigi rapinya yang tentu saja tak terlihat oleh Echa. "Aku lelah sekali, Cha. Aku baru tiba tadi pagi."


"Baiklah, baiklah. Aku yang akan mendatangimu. Pukul berapa kalian akan berkumpul?"


"Agak sorean, Cha. Karena hari ini Ismet harus masuk kerja, jam empat baru pulang."


"Ada siapa saja nanti?


"Ismet, Acong, Alex, Henky, Dito, Tesha, Wina, Tara, Bella, Ane, dan Rika."


"Wah, ramai sekali pasti. Tumben kalian kesini beramai-ramai begitu?"


"Ya, mumpung sedang libur," sahut Tesha. "Dan aku telah mempersiapkan kejutan untukmu."


"Benarkah? Ok, ok. Nanti sore aku pasti datang."


"Ok, sip. Ya sudah, aku tutup dulu teleponnya. Wina sudah memanggil, minta dibantu di dapur."


"Di dapur?"


"Iya, dia sedang membuat kue."


"Serius? Wina membuat kue?"


Echa benar-benar tak percaya bahwa sahabatnya yang gemar thaiboxing itu mau mendatangi, apa lagi melakukan aktifitas berbau dapur.


"Tidak percaya? Sama! Hahahaha ....!" Tesha tertawa terbahak-bahak. "Sudah ya, aku istirahat dulu."


"Ok, ok."


Echa menjauhkan ponsel dari telinga, kemudian menggeleng-geleng memikirkan Tesha, sahabat karibnya yang sama sekali tak berubah.


___


Endo menggeliat malas dalam buaian kasur empuknya. Namun ia memaksa tangan kanannya untuk bergerak meraih ponsel yang bergetar di atas nakas, menimbulkan suara getaran yang benar-benar mengganggu pendengaran.


"Halo ...."


"Kakak sedang tidur?" Terdengar suara merdu tambatan hatinya dari ujung sambungan.


"Iya. Pukul berapa sekarang?" jawab Endo dengan mata masih terpejam.


"Tiga lebih tiga puluh."


"Ada apa, sayang?"

__ADS_1


"Kakak temani Echa ke rumah Ismet, yuk."


"Ismet?" Kesadaran Endo belum terkumpul sepenuhnya.


"Iya. Teman SMA Echa itu loh."


"Oh ... yang jabrik itu ya?"


"Iya."


"Memangnya ada apa? Kenapa harus ke rumah Ismet?"


"Hari ini teman-teman SMA Echa pada kumpul di rumah Ismet."


"Reoni?"


"Ya, semacam itu lah."


"Oh ...."


"Kenapa hanya oh saja," hardik Echa. "Ayo cepat Kak Endo bersiap-siap. Ini Echa sudah siap loh, tinggal berangkat saja."


"Aku lelah sekali, sayang. Pukul lima pagi baru ke luar dari ruang kerja."


"Tapi kan Kak Endo sudah tidur seharian. Lumayan lama."


"Baiklah, Anna akan menemanimu," putus Endo. "Kau aman bersamanya."


Sambungan pun terputus. Echa sengaja mengakhiri panggilannya. Beberapa detik kemudian sebuah foto terkirim ke dalam gawai milik Endo.


Foto Echa dengan setelan tunik lace mocca lengan pendek dipadu dengan celana long pant. Rambut panjangnya yang dibuat ikal dibiarkan tergerai dengan sedikit bagian sisi ditarik ke belakang. Make up tipis yang disempurnakan dengan sentuhan warna semi burgundy pada rambut membuat ia tampak benar-benar cantik maksimal.


"Brengsek!" umpat Endo hanya dengan memandang foto itu sekilas.


Langsung diketuknya ikon telepon hijau agar tersambung dengan si pengirim foto.


"Halo, Kak Endo ganteng," sapa suara di seberang telepon. "Ya sudah, kalau begitu Kak Endo istirahat saja. Pasti masih lelah. Echa sudah memesan taksi."


"Tunggu aku lima belas menit!" perintah Endo tak terbantahkan.


Sambungan langsung terputus tanpa Echa sempat menjawab. Gadis itu hanya tertawa geli mendapati tambatan hatinya yang mendadak berubah pikiran. Sesuai dugaan, kekasihnya itu pasti akan panik hanya karena melihat penampilannya kali ini, walaupun hanya dalam foto sekalipun.


Sementara Endo bergegas masuk ke dalam kamar mandi, mengguyur tubuh seperlunya dan bergegas merapikan diri agar bisa segera menjemput kekasih hatinya.


Tiga puluh menit kemudian, Endo telah tampak duduk berdua dengan Echa di dalam mobil menuju rumah Ismet.


"Apa kau tidak memiliki baju yang jelek?" tanya Endo saat mobil sudah semakin dekat dengan rumah Ismet.


"Baju Echa tidak ada yang jelek, Kak," jawab Echa apa adanya. "Kakak tahu sendiri kan, semua baju yang Echa pakai adalah pilihan Mama."


"Hah, ya. Tante Nida yang seorang desainer terkenal itu. Menyebalkan!"


Echa tersenyum geli mendengar rutukan absurd kekasihnya itu.


"Depan kiri, Kak." Echa memberikan aba-aba. "Itu, Kak. Rumahnya depan mini market."


Endo melajukan mobilnya sesuai arahan Echa.


"Mereka sudah berkumpul rupanya," seru Echa saat mendapati teman-temannya tengah asyik bersendau gurau di teras rumah Ismet.


"Kau turunlah duluan. Peluk teman-temanmu dan luapkan rasa rindu kalian." Endo menghentikan mobilnya tak jauh dari tempat teman-tan Echa tengah berkumpul, sengaja agar Echa tak perlu berjalan jauh-jauh. "Aku akan memarkir mobil," lanjut Endo sembari melempar senyum penuh pengertian.


Echa segera turun setelah mengulas senyum manis untuk kekasih hatinya.


"Hai semua ...!" teriak Echa begitu turun dari mobil.


"Echa ...!" Seluruh teman Echa menyambut dengan heboh penuh antusias.


"Kangen ...!"


"Apa kabar kalian?"


"Kenapa baru datang? Kami menunggu lama." Tesha memeluk tubuh Echa dengan sangat erat. Ya, dibandingakan dengan teman yang lain, Tesha memang sosok sahabat karib yang paling mengerti dan paling dekat dengat Echa.


"Iya, maaf. Ada bayi besar yang harus kurayu dulu agar mau mengantarku kesini."


"Aku sangat merindukanmu." Wina, Tara, dan yang lainnya bergantian berpelukan melepas rindu dengan Echa.


"Hei, Bro. Kalian datang juga?"


Echa mengulurkan tangan kanan yang disambut Ismet, Acong, Alex, Henky, dan Dito dengan salam pembalap ala mereka secara bergantian.


"Apa kabar kalian? Lama tidak berjumpa."


"Kami masih sering berkumpul," sahut Acong.


"Kau lah yang tidak pernah bergabung dengan kami." Alex turut menambahi.


"Tapi ngomong-ngomong, siapa yang mengantarmu tadi?" Tara menyela.


"Tadi?" Echa balik bertanya. "Oh, iya. Ya Tuhan, karena terlalu senang bertemu dengan kalian, aku sampai melupakannya."


Echa berbalik, melongok ke arah di mana Endo memarkir mobilnya. Tampak laki-laki itu tengah turun dari mobil.


"Kak, cepatlah kemari," seru Echa sembari melambaikan tangan.


Endo berjalan dengan langkah lebar menghampiri Echa bersama teman-temannya.


"Hai, apa kabar?" sapa Endo hangat.


"Kak Endo ...," gumam Wina terbata.


"Kak Endo? Bagaimana bisa ...? Jangan-jangan kalian ...." Tesha tak kuasa menyelesaikan kalimatnya.


"Iya. Hehehe ...." Echa menjawab dengan cengiran.


Tak berapa lama sebuah motor sport hitam datang mendekat, kemudian berhenti, parkir sembarangan di halaman rumah. Seluruh pasang mata terpana melihat kehadiran dua orang pengendaranya yang mengenakan atribut serba hitam. Keduanya turun dari motor dengan gaya keren ala film action Hollywood.


"Marimar!" seru Echa begitu helm keduanya dilepas, menunjukkan wajah tampan pasangan kembar siam, Ello dan Gilang.

__ADS_1


Spontan Echa berlari menghambur ke arah Ello yang berjalan pelan beriringan dengan Gilang menghampiri teman-temannya yang telah terlebih dahulu berkumpul.


Sementara Endo berdiri diam dengan rahang mengeras dan kedua tangan terkepal erat melihat pemandangan di hadapannya.


__ADS_2